Chapter 3 of 25
Chapter 3: Misi Pertama: Ranjang Terlarang
1.2k words
Jantung Yuchen berdebar kencang di balik jubah sutra barunya. Sutra hitam itu terasa lembut di kulitnya, namun tidak mampu menenangkan kegelisahan yang merayapi setiap serat sarafnya. Angin malam berbisik, membawa aroma melati dan kegelisahan yang mendalam. Bulan purnama bersinar terang, menerangi jalan setapak menuju Paviliun Anggrek, seolah menjadi saksi bisu atas langkah-langkahnya yang ragu. Ini bukan sekadar panggilan biasa. Permaisuri Xiulan. Di Paviliun Anggrek. Sendirian. Pikirannya berputar. Sebuah misi yang gila, mengerikan, namun pada saat yang sama, memikat tak tertahankan. Kontolnya sudah terasa berdenyut, mengeras hanya dari antisipasi, dari imajinasi liar yang membakar otaknya. Apakah ini kutukan atau anugerah dari sistem? Ia tidak tahu. Namun, tubuhnya sudah merespons, tanpa persetujuan logikanya. Semakin dekat ia melangkah, semakin kuat aroma anggrek yang memenuhi udara, bercampur dengan wewangian musk yang lembut, memabukkan. Setiap langkah terasa berat, seperti ia berjalan di atas pisau bermata dua. Satu sisi adalah kehormatan dan kesenangan tak terhingga, sisi lain adalah kehancuran mutlak jika ketahuan. Pintu Paviliun Anggrek sedikit terbuka, memancarkan cahaya lentera yang hangat, mengundang. Mengundang ke dalam jebakan, atau ke dalam surga? Xiao Yuchen menarik napas dalam, menekan kegugupan yang melilit perutnya. Ia mendorong pintu, dan masuk. Suara engsel berderit pelan, lalu hening kembali. Ruangan itu bermandikan cahaya remang-remang dari lentera-lentera sutra yang tersebar. Aroma anggrek, kini lebih pekat, menusuk indranya, terasa seperti membelai setiap helaan napasnya. Lantai kayu yang dipoles mengilap memantulkan bayangan samar. Meja rendah di tengah ruangan dipenuhi piringan buah-buahan eksotis dan sebotol arak beras. Matanya menjelajahi ruangan, mencari sosok yang memanggilnya. Permaisuri Xiulan. Ia berdiri di dekat jendela, membelakangi Yuchen, siluetnya yang ramping terlihat jelas di balik tirai tipis yang berkibar lembut ditiup angin. Gaun tidurnya… ya Tuhan. Itu bukan gaun tidur biasa. Kain sutra tipis berwarna merah marun itu nyaris transparan. Membungkus lekuk tubuhnya dengan sempurna, memperlihatkan garis pinggang yang ramping, bokong yang bulat penuh, dan paha yang jenjang. Yuchen menelan ludah. Pandangannya terpaku, tak bisa berpaling. Rambut hitam panjangnya tergerai indah hingga ke pinggang, sebagian kecil diikat dengan pita emas, menambah kesan elegan sekaligus menggoda. Ia berbalik. Wajahnya… Permaisuri Xiulan. Lebih cantik dari yang pernah ia lihat. Bibirnya, merah delima, sedikit terbuka, seolah siap untuk mengucapkan sesuatu, atau menerima. Matanya, seperti kolam gelap yang memantulkan cahaya lentera, menatap Yuchen dengan intensitas yang membuat jantungnya melompat. Ekspresi di wajahnya adalah campuran dari harapan, antisipasi, dan sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang Yuchen tidak berani namakan. Gairah. “Yuchen… kau datang.” Suaranya lembut, merdu, seperti melodi yang menghipnotis. Kata-katanya terasa seperti sentuhan ringan di kulitnya, membuat bulu kuduknya meremang. Yuchen tidak bisa bicara. Tenggorokannya tercekat, hanya mampu mengangguk pelan. Kakinya terasa seperti terpaku ke lantai. Pada saat itu juga, sebuah suara menggelegar di benaknya. DING! MISI DIMULAI: Ngentot Permaisuri! Waktu: Malam ini! Hadiah: Poin Sistem 500, Hadiah Khusus ‘Jaminan Kehamilan’. Kegagalan: Penalti Level -5! Suara sistem itu begitu keras, begitu jelas, sampai rasanya gendang telinganya akan pecah. Misi itu… Misi itu nyata. Kontolnya berdenyut. Bukan lagi sekadar berdenyut, melainkan menegang keras, sekeras batu, dan terasa panas, sangat panas, hampir menyakitkan. Darah memompa ke sana, membuatnya terasa penuh, sesak di balik jubah sutranya. Campuran ngeri dan gairah yang tak tertahankan melanda dirinya seperti badai. Ngeri karena ini adalah ibunya, ibu angkatnya, Permaisuri Kaisar. Gairah karena… karena tubuhnya sudah sepenuhnya merespons keindahan dan undangan terselubung dari wanita di hadapannya. Ia ingin. Ia ingin sekali. Keringat dingin membasahi punggungnya. Permaisuri Xiulan melangkah maju, perlahan, setiap gerakannya anggun dan sensual. Gaun tidurnya yang tipis bergoyang lembut, memperlihatkan lebih banyak lekuk tubuhnya. Payudaranya yang montok, perutnya yang rata, dan bentuk pangkal pahanya yang menggoda. Setiap langkah adalah siksaan, setiap gerakannya adalah godaan visual yang membuat kontol Yuchen semakin tegang. “Kau terlihat… tampan malam ini, Yuchen.” Senyum tipis terukir di bibirnya. Senyum itu tidak seperti senyum ibu yang biasa ia lihat. Itu adalah senyum seorang wanita yang tahu kekuatannya, yang tahu apa yang ia inginkan. Yuchen merasakan pipinya memanas. Ia berusaha keras untuk menjaga matanya tetap pada wajah Permaisuri, bukan pada lekukan tubuhnya yang mengundang. Namun, itu adalah perjuangan yang sia-sia. Matanya terus saja turun, memindai setiap inci tubuh yang tersembunyi namun terlihat jelas di balik kain tipis itu. Ia bisa melihat puting payudara Permaisuri yang menonjol samar di balik kain sutra, dan itu membuat hasratnya melonjak lebih tinggi. “Permaisuri…” Suaranya serak, nyaris tak terdengar. Ia merasa seperti anak kecil yang tertangkap basah melakukan sesuatu yang nakal, namun di saat yang sama, ia merasakan dorongan primal yang tak bisa ia kendalikan. Permaisuri Xiulan kini berdiri di hadapannya, hanya beberapa langkah. Aroma tubuhnya, campuran anggrek, musk, dan sesuatu yang murni wanita, menyeruak ke hidung Yuchen, memabukkannya. Ia mengangkat tangannya, jemarinya yang lentik dan berkuku rapi menyentuh dagu Yuchen, mengangkat wajahnya perlahan agar mata mereka bertemu. Sentuhan itu seperti percikan listrik. Tubuh Yuchen menegang, kontolnya berdenyut lagi, lebih kuat dari sebelumnya. Permaisuri Xiulan menatapnya dalam-dalam, seolah membaca setiap pikiran kotor yang berkecamuk di benaknya. Tidak ada kemarahan, tidak ada penolakan. Hanya… pemahaman. Dan sesuatu yang lain. Keinginan. “Anakku…” Bisiknya, suaranya kini lebih rendah, lebih intim. “Apakah kau tahu mengapa aku memanggilmu kemari malam ini?” Yuchen menggelengkan kepala, meskipun jauh di lubuk hatinya, ia sudah tahu jawabannya. Atau setidaknya, ia mulai memahami. Otaknya memerintahkannya untuk lari, untuk menolak, untuk memohon pengampunan. Tapi tubuhnya… tubuhnya tidak mendengarkan. Kontolnya yang keras terasa seperti menekan jubahnya, seolah ingin membebaskan diri. Permaisuri Xiulan tersenyum tipis lagi, senyum misterius yang memancarkan daya pikat yang tak tertandingi. Ibu jari rampingnya mengusap lembut bibir bawah Yuchen, gerakannya sangat sensual, sangat menggoda. Yuchen merasakan panas menjalar dari bibirnya, ke seluruh tubuhnya, langsung ke pangkal kontolnya. Ia menelan ludah lagi, merasakan lidahnya bergerak tak nyaman di dalam mulut. Sensasi itu… itu seperti ia telah menunggu ini seumur hidupnya. Menunggu sentuhan ini, tatapan ini, undangan ini. “Aku… aku merasa kesepian, Yuchen.” Katanya, suaranya bergetar halus. “Sudah terlalu lama aku tidak merasakan… kehangatan. Sentuhan.” Matanya beralih dari mata Yuchen, menatap kosong ke kejauhan, seolah mengenang sesuatu yang menyakitkan. Lalu tatapannya kembali ke Yuchen, penuh permohonan. “Kau tahu, Yuchen. Seorang wanita… butuh seorang pria.” Permaisuri Xiulan mengangkat tangan satunya, kini kedua tangannya menangkup wajah Yuchen. Jemarinya yang lembut membelai pipinya, ibu jarinya mengusap sudut bibirnya. Tubuh Yuchen menggigil halus. Ia tidak bisa lagi menahan hasratnya. Ngeri itu berangsur-angsur tenggelam, digantikan oleh gelombang gairah yang membakar. Ia ingin merasakan bibir itu. Ia ingin merasakan tubuh itu. Ia ingin memenuhi misi terkutuk ini. Sistemnya sudah memberinya izin, bahkan memerintahkannya. Dan tubuhnya… tubuhnya sudah sangat siap. Ia bisa merasakan denyutan di kontolnya menjadi lebih cepat, lebih intens. Permaisuri Xiulan mendekatkan wajahnya. Napas hangatnya menyapu bibir Yuchen. Aroma tubuhnya kini terasa membanjiri indranya, membuatnya pusing karena hasrat. Matanya yang gelap menatap Yuchen dalam-dalam, mencari jawaban, mencari persetujuan. Bibir merah delima itu berjarak hanya beberapa inci dari bibir Yuchen. Ia bisa merasakan panasnya, memimpikan rasanya. “Kau sudah dewasa, Yuchen.” Bisiknya lagi, suaranya serak karena emosi. “Bukan lagi anak kecil yang kubesarkan.” Bibirnya hampir menyentuh bibir Yuchen, memberikan janji akan kenikmatan yang luar biasa. Yuchen menutup matanya, menyerah pada sensasi yang menguasainya. Ia tidak bisa menolak. Ia tidak akan menolak. Tidak lagi. Permaisuri Xiulan mengulurkan tangannya, jari-jari rampingnya menyentuh pipi Yuchen, dan berbisik, “Apakah kau siap untuk menjadi… laki-laki sejati bagiku, anakku?”