Chapter 2 of 25
Chapter 2: Anugerah Sang Permaisuri
972 words
Udara pagi menusuk kulit, membawa aroma embun dan tanah basah. Yuchen mengayunkan pedang kayunya, setiap gerakan mengalir mulus, presisi yang diasah selama sepuluh tahun terakhir. Usianya kini lima belas, namun tubuhnya terasa lebih matang, lebih kuat dari kebanyakan pemuda seusianya. Otot-ototnya terbentuk sempurna di bawah jubah latihan tipis. Keringat membasahi pelipisnya, menetes ke dagu yang tegas.
"Sistem: Kemahiran Pedang meningkat 0.5%. Stamina +0.2." Suara dingin, familier, berbisik di benaknya. Yuchen tersenyum tipis. Sistem itu, "Anak Angkat Permaisuri", telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya.
Sepuluh tahun. Sepuluh tahun sejak kecelakaan kereta kuda itu. Sejak ia terbaring di ranjang, diselimuti ketakutan, dan mendengar suara asing pertama kali. Awalnya, ia kira itu mimpi buruk, halusinasi demam. Namun, 'anugerah' yang tak terhitung jumlahnya telah membuktikan sebaliknya.
Bukan hanya kemahiran pedang. Fisiknya meningkat pesat. Daya tangkap otaknya tajam. Bahkan, ia merasa indranya lebih peka, menangkap detail yang orang lain lewatkan. Sistem itu memberinya peningkatan tersembunyi, tak terlihat, namun fundamental. Membuatnya tumbuh menjadi pemuda yang memesona, tampan, dengan aura yang sulit diabaikan.
Setiap misi sampingan, setiap pencapaian kecil, selalu disertai notifikasi dan imbalan. Mulai dari meningkatkan 'daya tarik' saat ia tersenyum pada dayang istana, hingga 'kecerdasan' saat ia memecahkan teka-teki. Ini seperti permainan, dengan Yuchen sebagai karakternya yang terus berevolusi.
Sentakan tajam tiba-tiba mengguncang benaknya. Sebuah alarm mendadak, lebih kuat dari apa pun yang pernah ia rasakan sebelumnya. "BEEP!" Sistemnya berteriak, suaranya kini mendesak, penuh urgensi.
"Sistem: Target utama terdeteksi. Permaisuri Xiulan. Misi Utama: Pikat dan taklukkan Permaisuri Xiulan. Waktu tersisa: tak terbatas. Hadiah: tak terhingga. Hukuman kegagalan: kematian." Kata-kata itu berkedip-kedip di pandangan mentalnya, merah menyala, berdenyut seperti detak jantungnya sendiri.
Napas Yuchen tercekat. Pedang kayunya terlepas dari genggaman, jatuh dengan bunyi "pluk" di tanah. Permaisuri Xiulan? Target utamanya? Jantungnya berdebar kencang, memukul rusuknya seperti genderang perang. Antara antisipasi yang membakar dan ketakutan yang dingin.
Ia melirik ke arah paviliun utama. Dari sana, di balik tirai sutra tipis yang bergerak lembut oleh angin, ia bisa merasakan tatapan. Sebuah tatapan yang terasa familier, namun kini membawa beban makna yang baru.
---
Permaisuri Xiulan tersenyum tipis. Jari-jemarinya yang ramping membelai kain sutra tirai, matanya tak lepas dari sosok Yuchen di halaman latihan. Pemuda itu telah tumbuh begitu banyak. Dari anak kecil yang kurus dan ketakutan, menjadi seorang pemuda yang memancarkan kekuatan dan pesona yang tak bisa disembunyikan.
Lima belas tahun. Usia yang sempurna. Matanya memicing, mengamati setiap gerakan tubuh Yuchen. Kelincahan itu, kekuatan itu. Betapa ia telah merencanakan ini. Setiap sentuhan, setiap kata-kata manis yang ia berikan pada Yuchen kecil, semua adalah investasi. Investasi yang kini siap menuai hasilnya.
Senyumnya melebar. Sebuah rencana matang, tersembunyi di balik kelembutan dan perhatian seorang ibu angkat. Ia tidak akan pernah membiarkan Yuchen jatuh ke tangan wanita lain. Tidak setelah ia membentuknya, mengasuhnya, untuk dirinya sendiri.
Perlahan, Xiulan mundur dari jendela, membiarkan tirai jatuh kembali. Panas menjalari tubuhnya memikirkan apa yang akan terjadi. Ada sensasi geli yang menyenangkan di ulu hatinya. Ia memanggil dayangnya dengan gerakan tangan.
"Siapkan sebuah hadiah untuk Yuchen," bisiknya, suaranya merdu namun penuh perintah terselubung. "Jubah sutra terbaik, yang paling mahal. Dan juga, siapkan pena dan kertas. Aku ingin menulis surat untuknya."
---
Yuchen menghela napas panjang. Pikiran tentang misi utama masih berputar-putar di kepalanya. Permaisuri Xiulan. Wanita yang telah merawatnya, yang selalu memberinya kehangatan dan kasih sayang. Bagaimana ia bisa...? Dan kenapa sistem ini memberikan misi seperti itu?
Ia memungut pedang kayunya, mencoba melanjutkan latihan. Tapi konsentrasinya buyar. Setiap ayunan terasa berat, dipenuhi pertanyaan dan sensasi aneh. Apakah Permaisuri juga merasakan hal yang sama? Atau ini hanya permainan kejam dari sistem?
Siang itu, Yuchen menghabiskan waktunya dengan gelisah. Ia bertemu beberapa dayang istana, yang seperti biasa, tersipu malu melihat ketampanannya. Sistem sempat memberitahunya tentang 'efek pesona' yang meningkat, namun Yuchen hanya mengangguk acuh tak acuh. Pikirannya dipenuhi gambaran Permaisuri.
Apakah ia benar-benar harus melakukan itu? Menaklukkan Permaisuri? Wanita yang ia hormati sebagai ibunya? Sebuah sensasi campur aduk muncul di dadanya. Ada rasa bersalah, tentu saja. Tapi jauh di lubuk hatinya, ada percikan api. Sebuah gairah yang belum pernah ia rasakan, membakar perlahan.
Sore menjelang. Matahari mulai terbenam, mewarnai langit dengan jingga dan ungu. Yuchen memutuskan untuk kembali ke kamarnya, berharap ketenangan bisa membantunya berpikir jernih. Langkahnya terasa berat, setiap langkah dipenuhi dengan pertimbangan moral dan dorongan primal yang aneh.
Saat ia memasuki kamarnya, suasana terasa berbeda. Ada kehangatan aneh yang menyelimuti. Sebuah wewangian lembut, seperti bunga anggrek yang baru mekar, memenuhi udara. Yuchen mengerutkan kening. Dayangnya tidak pernah menggunakan pewangi sekuat ini.
Matanya menyapu ruangan. Di atas mejanya, yang biasanya hanya berisi gulungan buku dan pena, kini tergeletak sebuah kotak kayu mewah. Permukaan kotak itu diukir dengan detail rumit, dihiasi permata kecil yang memantulkan cahaya redup.
Yuchen melangkah mendekat, jantungnya berdetak tak keruan. Aroma anggrek semakin kuat di dekat kotak itu. Ia menyentuh permukaan kotak, kulitnya merasakan kehalusan kayu yang dipoles dengan sempurna. Ada rasa ingin tahu yang kuat, bercampur dengan firasat aneh.
Perlahan, ia membuka tutup kotak. Sebuah jubah sutra berwarna biru gelap terhampar di dalamnya, lembut dan berkilau, seolah ditenun dari malam itu sendiri. Jahitan emas membentuk pola naga yang elegan di kerah dan manset. Itu jelas jubah termahal yang pernah ia lihat.
"Jubah ini..." Yuchen bergumam, takjub. Ia mengangkat jubah itu, merasakan kelembutan kainnya di antara jari-jarinya. Beratnya ringan, namun terasa sangat mewah. Ini pasti hadiah dari seseorang yang sangat penting.
Matanya menangkap sesuatu di bawah jubah. Sebuah gulungan perkamen kecil, diikat dengan pita sutra merah. Ia meletakkan jubah itu kembali ke kotak dan mengambil gulungan perkamen. Jemarinya gemetar saat ia membuka ikatannya.
Tulisan tangan yang anggun, familiar, terukir di atas perkamen. Ini adalah tulisan tangan Permaisuri Xiulan. Nafasnya tertahan. Ia membaca perlahan, setiap kata terasa seperti detak jantungnya sendiri.
"Yuchenku," demikian bunyi surat itu, "Engkau telah tumbuh menjadi pemuda yang begitu mengagumkan. Aku bangga padamu. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan, sesuatu yang sangat penting. Temui aku di Paviliun Anggrek saat bulan purnama penuh."