Chapter 24 of 25

Chapter 24: Mandi yang Penuh Dosa

1.4k words

Udara lembap memeluk kulit. Uap panas mengepul, mengaburkan pandangan, namun tak sanggup menyembunyikan gairah yang membakar di antara mereka. Permaisuri Xiulan terengah, matanya terpejam, kepalanya bersandar lemas di bahu Yuchen yang kokoh. Napasnya memburu, melengkungkan punggungnya saat sentuhan Yuchen melesat lebih dalam, mengobrak-abrik inti dirinya. Tangan Yuchen bergerak. Jemarinya yang panjang dan kuat menjelajahi lekuk tubuh Xiulan, memijat setiap inci sensitif. Sensasi elektrik menjalar, membuat otot-otot sang permaisuri berkedut. Air hangat di sekitar mereka terasa seperti selimut, membasuh rasa malu yang tersisa, menggantinya dengan keinginan purba yang tak terbendung. Memeknya berkedut. Setiap sentuhan jari Yuchen memicu gelombang desahan dari bibir Xiulan yang sedikit terbuka. Keharuman melati dari air mandi berpadu dengan aroma tubuh mereka, menciptakan ramuan memabukkan yang mengisi paru-paru Yuchen. Keinginan untuk mengklaimnya membuncah. Yuchen menatap wajah Xiulan, pipinya memerah, kelopak matanya bergetar. Dia tahu permaisuri ini, wanita yang selama ini dihormati dan disegani seluruh istana, kini sepenuhnya di bawah kendalinya. Napasnya memberat. Yuchen merasakan gairahnya sendiri membakar, kontolnya yang sudah super keras dan berdenyut-denyut terasa seperti besi panas. Ia ingin lebih. Ingin menenggelamkan dirinya dalam kelembutan permaisuri, ingin mendengar jeritannya yang murni, lepas dari segala aturan istana. Perlahan, Yuchen menarik diri dari ciuman leher Xiulan. Ia menunduk, bibirnya menyapu telinga sang permaisuri. “Permaisuri,” bisiknya, suaranya serak dan dalam, “Biarkan hamba membawa Anda ke surga.” Tubuh Xiulan menegang. Sebuah getaran melintasinya, antara rasa takut dan antisipasi liar. Matanya terbuka sedikit, menatap Yuchen dengan tatapan yang bercampur aduk: kaget, memohon, namun juga penuh hasrat yang tak bisa disangkal. “Yuchen…” Suaranya nyaris tak terdengar, sebuah bisikan yang terbawa uap. Tangannya mencengkeram bahu Yuchen, kuku-kukunya sedikit membenam ke kulit. Permaisuri itu ingin menolak, namun tubuhnya mengkhianatinya, merespons setiap sentuhan sang anak angkat. Tekad Yuchen semakin kuat. Memuaskan permaisuri adalah segalanya. Itu adalah pembuktian kesetiaan, kekuatan, dan keberaniannya. Ia harus menanamkan benihnya, mengikat permaisuri padanya, selamanya. Dengan gerakan halus, Yuchen mulai mengangkat Xiulan. Tubuh sang permaisuri terasa ringan dalam dekapannya, kulitnya yang basah terasa licin, namun genggamannya mantap. Air memercik saat Yuchen menggeser posisinya, memindahkan Xiulan dari pelukannya ke posisi yang ia inginkan. Permaisuri itu mendesah. Kakinya yang ramping melingkari pinggang Yuchen secara refleks, mencari pijakan, namun Yuchen menahannya. Air hangat mengalir dari tubuh mereka, menetes kembali ke bak mandi, menciptakan riak kecil. Perlahan, Yuchen memposisikan Xiulan. Ia mengangkatnya lebih tinggi, memutar tubuh permaisuri itu hingga punggungnya bersandar pada tepi bak mandi. Dinginnya marmer menghentakkan kesadaran Xiulan, namun panas dari tubuh Yuchen segera menggantikannya. Kakinya terentang. Paha Xiulan terentang lebar, lututnya sedikit menekuk, kakinya menyentuh dasar bak. Ia kini duduk di tepi, tubuh bagian atasnya condong ke belakang, disangga oleh lengan Yuchen yang kuat. Pemandangan memeknya yang basah, bengkak, dan merah muda terbuka sepenuhnya di hadapan Yuchen. Permaisuri itu terkesiap. Wajahnya merona pekat. Ia mencoba menutup diri, namun lengan Yuchen menahannya, jemarinya membenam lembut di pinggulnya, memaksa tubuhnya tetap terbuka, menerima. Yuchen mencondongkan tubuh. Ia menatap lekat-lekat ke dalam mata Xiulan. “Izinkan hamba,” bisiknya, suaranya mengandung janji sekaligus perintah. Tatapan tajam Yuchen menembus pertahanan terakhir sang permaisuri. Xiulan menelan ludah. Jantungnya berdebar kencang, memukul rusuknya seolah ingin keluar. Kepalanya sedikit miring ke samping, sebuah isyarat pasrah yang tak terucapkan. Nafasnya tercekat, menanti apa yang akan terjadi selanjutnya. Kontol Yuchen berdenyut. Ia melihat memek Xiulan yang sudah sangat basah, mengundang. Urat-urat di permukaannya menonjol, menunjukkan betapa penuh darah dan tegangnya batangnya. Aroma khas gairah wanita menguar, bercampur dengan wangi sabun dan bunga. Dengan satu dorongan lembut, Yuchen menyesuaikan posisinya. Ia mengarahkan ujung kontolnya yang tebal ke bibir memek Xiulan yang basah dan bengkak. Kontak pertama terasa seperti sengatan listrik, gelombang panas menyapu tubuh permaisuri. Xiulan memekik. Matanya kembali terpejam rapat, bibirnya mengerucut, menahan desahan yang lebih keras. Tubuhnya bergetar, otot-otot kakinya menegang secara refleks. Ia mencengkeram tepi bak mandi dengan jari-jari gemetar. Perlahan, Yuchen mendorong masuk. Sedikit demi sedikit, inci demi inci, kontolnya yang panjang dan tebal menembus masuk, merobek sisa-sisa kesucian yang mungkin masih ia pertahankan. Dinding memeknya terasa panas, lembut, dan melilit erat, seolah ingin menelannya bulat-bulat. Desahan panjang lolos dari bibir Xiulan. Sebuah desahan yang dalam, memuaskan, bercampur dengan suara air yang memercik pelan di sekitar mereka. Air memercik ke wajah Yuchen, ke dada telanjang Yuchen, terasa panas dari tubuh sang permaisuri. Kontolnya masuk sepenuhnya. Yuchen merasakan kedalaman memek Xiulan, dinding-dindingnya yang basah memeluk erat, menekan setiap urat di kontolnya. Sensasi itu hampir membuat lututnya lemas, sebuah kenikmatan murni yang tak tertandingi. “Ah…” erang Xiulan, suaranya pecah. Kedua tangannya kini mencengkeram bahu Yuchen, kuku-kukunya memutih saat ia menancapkan genggamannya. Kepalanya mendongak, lehernya melengkung, memperlihatkan garis jenjang yang indah. Yuchen menunggu. Ia membiarkan tubuh permaisuri terbiasa dengan ukuran dan kedalamannya. Napasnya memburu di leher Xiulan, mencium aroma kulitnya yang hangat dan beruap. Ini adalah puncaknya, momen di mana ia benar-benar mengambil alih. Perlahan, Yuchen mulai menggerakkan pinggulnya. Dorongan pertama terasa dalam, pelan, dan stabil. Air di bak mandi berguncang lembut, riak-riak kecil terbentuk dari setiap hentakan. Dinding memek Xiulan menggesek kontolnya, memicu sensasi yang luar biasa. “Mmmm…” Xiulan memejamkan mata. Kepalanya menggeleng samar, rambutnya yang basah bergerak mengikuti irama. Ia merasakan setiap inchi kontol Yuchen memasukinya, memenuhi setiap rongga, menekan titik-titik sensitif di dalamnya. Dorongan kedua. Lebih dalam. Lebih kuat. Yuchen merasakan dirinya tenggelam dalam kehangatan permaisuri. Setiap tarikan dan dorongan terasa seperti penegasan, sebuah deklarasi kepemilikan. Ini bukan lagi hanya tentang gairah, tapi juga tentang kekuasaan. Ritme mulai terbentuk. Dalam dan stabil, Yuchen menggenjot Xiulan. Pinggulnya berayun, menciptakan gerakan maju-mundur yang membanjiri permaisuri dengan gelombang demi gelombang kenikmatan. Suara gesekan kulit dan percikan air memenuhi ruangan. “Aah… Yuchen!” Xiulan menjerit. Jeritan itu tidak lagi tertahan, sebuah ekspresi murni dari ekstase yang melandanya. Tubuhnya menggeliat, lengkungan punggungnya semakin tajam, seolah berusaha bertemu dengan setiap dorongan Yuchen. Kontol Yuchen terasa seperti terbakar. Dinding memek Xiulan yang lembut melilitnya, meremasnya dengan kelembutan yang mematikan. Setiap kali ia menarik diri sedikit, lalu mendorong masuk lagi, ia merasakan hisapan kuat yang membuatnya nyaris kehilangan akal. Keringat menetes dari dahi Yuchen. Ia menunduk, bibirnya menyapu tulang selangka Xiulan, mengecup kulitnya yang basah dan asin. Ia ingin melihatnya hancur dalam kenikmatan, ingin mendengar namanya diucapkan dalam setiap desahan dan jeritan. Permaisuri itu terengah. Napasnya putus-putus, matanya kini terbuka lebar, menatap langit-langit berukir dengan pandangan kosong. Wajahnya merah padam, bibirnya bengkak, dan air mata kenikmatan mulai mengalir di pelipisnya. “Lebih… lebih dalam!” pintanya, suaranya serak dan gemetar, melupakan semua tata krama dan kehormatan. Ia hanya ingin sensasi ini, sensasi yang diberikan Yuchen, sensasi yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Yuchen mengangguk. Ia mempercepat tempo, dorongan-dorongan menjadi lebih cepat, lebih ganas, namun tetap dengan kedalaman yang mematikan. Kontolnya menghantam titik G Xiulan berulang kali, membuat sang permaisuri melengkung dan menggeram. Jeritan Xiulan semakin keras. Tangannya kini mencengkeram rambut Yuchen, menariknya ke bawah, seolah ingin menyatu dengannya. Kakinya bergetar tak terkendali, jari-jari kakinya melengkung kuat. Ia benar-benar berada di ambang batas. Pikiran Yuchen dipenuhi kepuasan. Ia telah berhasil. Permaisuri, wanita yang begitu kuat dan berkuasa, kini merintih di bawahnya, memohon lebih. Ini adalah bukti kesetiaannya yang tak tergoyahkan, buktinya bahwa ia mampu memenuhi setiap hasrat terdalam sang permaisuri. Hasratnya untuk menanam benih semakin kuat. Yuchen menggenjot lebih cepat, lebih dalam, merasakan dinding memek Xiulan berkedut-kedut di sekeliling kontolnya yang tebal. Ia membayangkan spermanya membanjiri rahim permaisuri, menciptakan keturunan yang akan mengikat mereka selamanya. “Aaaah! Yuchen! Aku… aku…” Suara Xiulan memekik, pecah di udara. Kakinya melilit pinggang Yuchen, menariknya lebih dekat. Permaisuri itu mencapai puncaknya. Tubuhnya menegang sepenuhnya, melengkung keras, lalu bergetar hebat saat gelombang kenikmatan mengguncangnya. Matanya membelalak, mulutnya terbuka lebar, menjerit-jerit tanpa suara, hanya embusan napas panjang. Yuchen mengerang. Melihat dan merasakan Xiulan mencapai klimaks yang begitu dahsyat, memicu gelombang gairah yang sama dalam dirinya. Ia merasakan tekanan di pangkal kontolnya, panas yang membakar, dan sensasi tak tertahankan untuk melepaskan semuanya. Dengan beberapa dorongan terakhir yang bertenaga, ia membenamkan kontolnya sedalam mungkin, merasakan seluruh tubuh Xiulan berkedut di sekelilingnya, meremas setiap tetes hasrat dari dirinya. Ia memuntahkan semua benihnya, merasakan cairan panas membanjiri rahim permaisuri, mengalir ke dalam tubuhnya yang hangat. Keduanya terengah. Yuchen ambruk sedikit, menumpukan berat badannya pada Xiulan, bibirnya menyapu leher sang permaisuri yang basah oleh keringat. Ia bisa merasakan jantung Xiulan berdebar kencang di bawah telapak tangannya. Permaisuri itu terkulai, sepenuhnya lemas, namun senyum tipis tersungging di bibirnya, mata terpejam, menikmati sisa-sisa kenikmatan yang masih menyapu tubuhnya. Yuchen merasa puas. Ia telah melakukannya. Ia telah menaklukkan Permaisuri, memenuhi hasratnya, dan membuktikan dirinya. Saat mereka mencapai klimaks, suara gemuruh tiba-tiba terdengar dari luar, seolah-olah istana sedang diserang.

End of Chapter 24