Jantung Yuchen berdebar kencang. Ia mengamati raut Permaisuri Xiulan, matanya masih memancarkan keraguan, meski sedikit mereda setelah penjelasannya. Kecemburuan yang membara itu nyata. Ia harus bertindak, dan ia harus bertindak sekarang.
"Permaisuri," Yuchen melangkah mendekat, suaranya rendah dan penuh bujukan. "Tidak ada wanita lain yang bisa menyaingi keindahan atau pesonamu. Lily hanyalah… bidak." Kata-katanya mengalir lembut, setiap suku kata diisi dengan ketulusan yang dibuat-buat, namun terasa begitu nyata.
Ia meraih tangan Xiulan, jari-jarinya membelai punggung tangan sang permaisuri. Kulitnya halus, hangat. Sebuah getaran halus menjalari tubuh Xiulan.
"Apakah benar begitu?" Xiulan berbisik, tatapan matanya mencari kepastian di mata Yuchen. Keraguan masih menggantung, namun kini ada sedikit harapan yang terpancar.
"Tentu saja," Yuchen menegaskan, mendekat lagi. Aroma melati dari parfum Xiulan memabukkan indranya. "Aku bersumpah hanya kamu yang ada di hatiku. Hanya kamu yang memenuhi pikiranku, siang dan malam." Jemarinya bergerak naik, memijat lembut pergelangan tangan Xiulan.
Senyum tipis akhirnya merekah di bibir Xiulan. Sebuah senyum yang jarang terlihat, penuh dengan kerentanan yang memikat. "Tapi... kau menghabiskan begitu banyak waktu bersamanya." Nada suaranya sedikit mengeluh, sentuhan manja yang membuat Yuchen merasakan gejolak dalam dirinya.
"Itu semua hanya untukmu," Yuchen membalas, suaranya lebih serak dari yang ia duga. "Untuk melindungimu. Untuk memastikan tempatmu aman. Aku tidak akan pernah mengkhianati kepercayaanmu, Permaisuri."
Xiulan menatapnya, matanya berbinar. Ia menarik tangannya dari genggaman Yuchen, lalu mengulurkannya lagi, kali ini untuk menyentuh pipi Yuchen. Sentuhan itu ringan, namun menghantarkan gelombang kehangatan ke seluruh tubuhnya. "Kau... sungguh akan membuktikannya?"
"Dengan segenap jiwaku," Yuchen meyakinkan, memegang tangan Xiulan yang menyentuh pipinya. "Aku akan membuktikan bahwa setiap sentuhanku, setiap napasku, adalah milikmu seorang."
Permaisuri Xiulan mengangguk perlahan, matanya menunduk malu-malu, lalu kembali menatap Yuchen dengan tatapan yang semakin dalam. "Ikut aku." Suaranya nyaris tak terdengar, sebuah bisikan yang lebih dari cukup untuk membuat jantung Yuchen berdebar tak karuan.
Ia berbalik, melangkah anggun menuju pintu samping yang belum pernah Yuchen perhatikan sebelumnya. Pintu itu mengarah ke sebuah koridor sempit, remang-remang, menuju bagian pribadi istana yang tersembunyi.
Yuchen mengikutinya tanpa ragu. Langkahnya terasa ringan, namun setiap ototnya menegang. Ini adalah saatnya. Kesempatan yang ia dambakan, kesempatan untuk memenuhi misinya, untuk merasakan permaisuri sepenuhnya.
Lorong itu berakhir di sebuah ruangan yang luas, dipenuhi uap. Aroma rempah dan bunga melati yang kuat memenuhi udara. Ruangan mandi pribadi sang permaisuri. Kolam air hangat mengepul di tengah, dihiasi kelopak mawar merah dan putih yang mengambang indah. Lilin-lilin beraroma menyala di setiap sudut, menciptakan cahaya temaram yang romantis.
Xiulan berhenti di tepi kolam, membalikkan badan menghadap Yuchen. Pipinya sedikit merona, namun tatapannya tegas. Ia mengangkat tangannya, jemarinya perlahan mengaitkan kancing pertama pada jubah luarnya yang terbuat dari sutra tipis berwarna ungu muda.
Perlahan, jubah itu meluncur turun dari bahunya yang lembut. Yuchen menahan napas. Sutra itu tersangkut sebentar di lekukan pinggulnya, lalu jatuh ke lantai dengan desiran lembut, meninggalkan tubuhnya yang terbalut gaun dalam tipis, juga berwarna senada.
Gaun dalam itu, terbuat dari kain sifon yang hampir transparan, memeluk setiap lekuk tubuhnya dengan sempurna. Payudaranya yang montok, pinggangnya yang ramping, dan pinggulnya yang berisi, semua tercetak jelas di balik kain tipis itu. Yuchen merasakan kontolnya menegang, berdenyut panas di balik celananya.
Pandangan Yuchen tak bisa lepas dari tubuhnya. Setiap detail memanggil, setiap lekuk mengundang. Ia melihat putingnya yang mencetak jelas di balik kain, perutnya yang rata, dan garis V yang samar di bawah sana. Matanya terpaku pada kaki jenjangnya yang indah.
Xiulan mengangkat tangannya lagi, kali ini untuk melepaskan ikatan di belakang leher gaun dalamnya. Gerakannya anggun, lambat, seolah sengaja memancing reaksi dari Yuchen. Gaun itu pun meluncur turun, menampakkan tubuh telanjang Permaisuri Xiulan secara utuh.
Tubuhnya adalah mahakarya. Kulitnya seputih pualam, mulus tanpa noda. Payudaranya penuh dan bulat, putingnya yang kecil namun menonjol berwarna merah muda. Perutnya rata, dan di bawahnya, gundukan memeknya yang ditumbuhi bulu halus yang rapi, tampak begitu mengundang. Pusat kewanitaannya terlihat bengkak, seperti kelopak bunga yang sedang mekar, basah dan memerah.
Yuchen merasakan darahnya berdesir, memompa keras di setiap nadinya. Kontolnya, yang sudah tegang, kini terasa seperti batu, mengganjal di dalam celananya, menuntut untuk dibebaskan. Panjangnya yang 25 cm terasa semakin membengkak, berurat, dan siap meledak.
Ia berjalan maju, satu langkah demi satu, matanya tak pernah lepas dari Xiulan. Permaisuri berdiri tegak, membiarkan Yuchen mengagumi setiap inci tubuhnya, meski semburat merah di pipinya semakin jelas. Ada gairah yang membara di matanya, kerinduan yang sama dalamnya dengan yang Yuchen rasakan.
Xiulan melangkah perlahan menuju kolam, kakinya yang jenjang melangkah anggun. Ia tidak langsung masuk, melainkan berdiri di tepi, membiarkan uap hangat menyentuh kulitnya. Yuchen kini berada tepat di belakangnya. Aroma tubuh Xiulan, kini bercampur dengan wewangian air mandi, semakin memabukkan.
Ia mendekat, melingkarkan lengannya di pinggang ramping Xiulan. Kulitnya terasa lembut dan hangat di bawah sentuhan tangannya. Yuchen merasakan perutnya bergejolak. Ia menekan tubuhnya ke punggung Xiulan, merasakan payudaranya yang kenyal menempel di lengannya, dan gundukan memeknya yang basah menyentuh pangkal pahanya.
"Permaisuri..." bisiknya, suaranya parau oleh gairah. Ia menunduk, bibirnya menyentuh tengkuk Xiulan, merasakan kelembutan kulitnya. Lidahnya menjulur, menjilati kulit leher Xiulan yang halus, perlahan, dari bawah telinga hingga ke tulang selangka.
Sebuah desahan lembut lolos dari bibir Xiulan. Tubuhnya sedikit menegang, lalu melunak dalam pelukan Yuchen. Ia memiringkan kepalanya, memberikan akses lebih mudah bagi Yuchen untuk menjelajahi lehernya. Aroma tubuhnya yang memabukkan menyeruak, memenuhi indra Yuchen.
"Kau begitu indah," Yuchen berbisik lagi, lidahnya kini bermain-main di belakang telinga Xiulan, mengirimkan gelombang kenikmatan yang membuat Xiulan menggigil. "Sangat, sangat indah. Tidak ada yang bisa menandingimu."
Xiulan mendesah lagi, lebih dalam dari sebelumnya. "Yuchen..." panggilnya pelan, seperti sebuah doa. Sentuhan Yuchen membangkitkan sesuatu yang telah lama tersembunyi dalam dirinya.
"Aku akan membuktikan cintaku padamu, Permaisuri," Yuchen berjanji, suaranya rendah dan penuh tekad. Ia merasakan memek Xiulan yang basah menekan pahanya, berdenyut-denyut menuntut lebih. Kelembaban itu menembus celananya, menyentuh kulit kontolnya yang tegang, mengirimkan sengatan listrik ke seluruh tubuhnya.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mulai menggerakkan jari-jarinya. Tangannya yang besar dan kuat bergerak ke punggung Xiulan, mulai memijat dengan sentuhan ahli. Jemarinya menelusuri tulang punggungnya, menekan titik-titik tertentu yang membuat Xiulan mengerang pelan.
Otot-otot di punggung Xiulan yang tegang perlahan mengendur di bawah pijatan Yuchen. Ia memijat bahu Permaisuri, lalu turun ke bagian tengah punggung, melingkar ke pinggang. Setiap sentuhan memancarkan kehangatan, seolah tangan Yuchen adalah sumber api yang membakar.
"Oh... Yuchen..." Xiulan terengah, suaranya bergetar. Kenikmatan itu begitu kuat, begitu mendalam. Pijatan itu tidak hanya meredakan ketegangan fisik, tetapi juga ketegangan emosional yang ia rasakan. Jari-jari Yuchen begitu lihai, seolah mereka tahu persis di mana harus menekan, di mana harus membelai.
Yuchen terus memijat, ibu jarinya bergerak melingkar di sepanjang tulang belakang Xiulan. Ia bisa merasakan tubuh permaisuri bereaksi terhadap setiap sentuhannya. Payudaranya menekan lengannya lebih keras, memeknya berdenyut di pahanya, basah kuyup. Ia tersenyum tipis. Ini baru permulaan.
Ia menjatuhkan ciuman ringan di bahu Xiulan, lalu kembali ke lehernya. "Apa yang kau rasakan, Permaisuri?" bisiknya, suaranya penuh godaan, napasnya yang hangat menerpa kulit Xiulan.
"Nikmat... sangat nikmat..." Xiulan bergumam, matanya terpejam. Ia bersandar sepenuhnya pada tubuh Yuchen, membiarkan dirinya tenggelam dalam sensasi yang diberikan pemuda itu. "Belum pernah aku merasakan yang seperti ini..."
Yuchen menggeser tangannya lebih jauh ke bawah, memijat lembut bokong Xiulan yang padat dan kenyal. Ia merasakan pantatnya yang bulat dan kencang bergetar di bawah sentuhannya. Jemarinya bermain-main di lekukan antara bokong dan paha, memicu geli dan gairah yang baru.
"Aku akan memberimu kenikmatan yang belum pernah kau bayangkan, Permaisuri," Yuchen berbisik di telinganya, lidahnya menjilat daun telinga Xiulan. "Aku akan membuatmu melupakan segalanya, kecuali aku. Kecuali sentuhanku. Kecuali cintaku."
Xiulan menggeliat pelan, punggungnya melengkung sedikit, menekan tubuhnya lebih erat ke Yuchen. "Lakukan..." Ia mendesah. "Lakukan apa saja yang kau inginkan padaku, Yuchen."
Pijatan Yuchen semakin intens, kini ia berfokus pada area punggung bawah dan bokong. Jemarinya yang kuat menekan dan meremas, membuat otot-otot Xiulan berkedut senang. Ia bisa merasakan Permaisuri Xiulan semakin basah, kelembaban di antara pahanya semakin nyata.
Ia menarik napas dalam, bibirnya kembali menyentuh leher Xiulan, menjilat dan menghisap lembut, meninggalkan jejak kemerahan yang samar. "Aku ingin... memastikan kau tahu seberapa besar aku mencintaimu," Yuchen berbisik, suaranya berat dengan gairah yang tak tertahankan.
Xiulan membalikkan badan, menatap Yuchen dengan tatapan memabukkan, matanya berkabut oleh nafsu yang membakar. "Kalau begitu, tunjukkan padaku. Buktikan seberapa besar kau mencintaiku... di sini dan sekarang."