Chapter 25 of 25

Chapter 25: Serangan Mendadak

1.1k words

Gairah memuncak, kemudian runtuh. Bukan karena klimaks yang usai, tetapi karena suara dentuman keras yang kini mengguncang seluruh paviliun. Yuchen merasakan tubuh Xiulan menegang di atasnya, erangan kesenangan di bibirnya seketika berubah menjadi napas tertahan. Getaran itu terasa nyata, lebih dari sekadar guntur di kejauhan. Sebuah gemuruh lain menyusul, lebih dekat, disusul oleh suara dentingan logam yang tak salah lagi. Pedang beradu. Jantung Yuchen berdebar kencang, bukan lagi karena ekstasi yang memudar, melainkan karena alarm. Pekikan samar terdengar dari luar, tipis namun jelas di tengah hening yang tiba-tiba melingkupi momen intim mereka. Suasana romantis itu hancur, terkoyak oleh realitas yang kejam. Xiulan terhuyung turun dari pangkuan Yuchen, kakinya goyah. Wajahnya yang tadi merona merah karena kenikmatan kini memucat pasi. Matanya yang lebar menatap Yuchen, dipenuhi kebingungan dan ketakutan yang baru muncul. "Apa itu?" bisiknya, suaranya serak. Air di bak mandi masih beriak, memantulkan ketidakpastian. Yuchen bergerak cepat. Dalam satu gerakan lincah, ia keluar dari bak, tubuhnya yang basah meneteskan air ke lantai marmer. Ia tak peduli pada air atau pada kondisi kontolnya yang masih berdiri tegak. Prioritasnya berubah drastis. "Aku tidak tahu," jawab Yuchen, meraih jubah sutra yang tergeletak di bangku. Gerakannya sigap, tangannya gemetar sedikit saat ia melilitkan kain lembut itu di pinggangnya, menutupi kejantanannya yang baru saja mencapai puncak. Suara teriakan kini lebih jelas, bercampur dengan desing pedang yang semakin intens. Bukan lagi suara di kejauhan. Ini ada di dalam istana. Ini ada di dekat mereka. Permaisuri Xiulan dengan panik meraih jubahnya sendiri, jari-jarinya dingin saat berusaha mengikat talinya. Ketergesaan membuat tangannya kaku, ikatan itu terasa sulit dijangkau. Wajahnya mengeras, ekspresi kebingungan berganti menjadi tekad yang dingin. "Ini bukan latihan," ucap Xiulan, suaranya rendah, penuh kepastian yang menusuk. "Seseorang menyerang istana!" Seketika, perut Yuchen terasa mual. Kemarahan meletup dalam dirinya, panas dan tajam. Siapa yang berani mengganggu ketenangan istana? Siapa yang berani mengganggu momen sucinya dengan permaisuri? Pembuluh darah di pelipisnya berdenyut, rahangnya mengeras. Yuchen melangkah maju, memegang erat lengan Xiulan. "Kita harus pergi," katanya, suaranya berat. "Kita harus mencari tahu apa yang terjadi." Napas Xiulan tersengal. "Tidak. Kita tidak bisa." Matanya berkedip, mencoba memahami situasi. "Jika ini serangan sungguhan, kita harus aman dulu. Aku… aku Permaisuri. Aku target." Kilatan ketakutan muncul di matanya, namun ia berusaha keras mengendalikan diri. Ketakutan dingin merayapi punggung Yuchen. Realitas itu menghantamnya. Xiulan, wanita yang baru saja mengerang di bawahnya, adalah permaisuri. Target utama dalam setiap pemberontakan. Rasa marah yang tadi membakar kini bercampur dengan tekad yang membaja. Yuchen tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Permaisuri. Tekad itu mengalir dalam setiap serat tubuhnya. Ia akan melindungi wanita ini, bahkan jika harus mengorbankan nyawanya sendiri. Bunyi derap kaki terdengar mendekat. Bukan derap kaki yang teratur dari penjaga istana. Ini lebih seperti langkah-langkah panik, berat, dan tanpa koordinasi. Suara jeritan seorang wanita yang nyaring memecah udara, kemudian terputus tiba-tiba. Xiulan tersentak, tangannya mencengkeram lengan Yuchen lebih erat. Kuku-kukunya yang panjang menancap di kulit Yuchen. Ia tidak merasakan sakitnya. Fokusnya hanya pada ancaman yang semakin nyata. "Pintu keluar terdekat ada di mana?" tanya Yuchen, suaranya mendesak. Ia melirik sekeliling ruangan mandi yang mewah, mencari jalur evakuasi. Sebuah jendela kecil di pojok terlihat, mungkin mengarah ke taman tersembunyi. "Terlalu berisiko," jawab Xiulan, menggelengkan kepala. "Taman mungkin sudah dikuasai. Kita harus menunggu penjaga. Mereka akan datang." Kata-katanya terdengar seperti harapan kosong. Penjaga? Jika ini serangan mendadak, penjaga mungkin sudah kewalahan atau bahkan sudah tumbang. Suara pertempuran di luar semakin riuh, mengalahkan suara air yang masih menetes dari tubuh Yuchen. Ia bisa mendengar suara benturan keras, jeritan pria dan wanita, dan ledakan samar yang mungkin berasal dari ledakan bubuk mesiu. Ini bukan sekadar keributan kecil. Ini perang. "Jangan bergerak dari sini," Yuchen berkata pada Xiulan, mendorongnya pelan ke belakang salah satu tirai sutra yang menjuntai di sudut. Tirai itu tebal, berwarna merah marun, bisa memberikan sedikit perlindungan visual. "Apa yang akan kau lakukan?" tanya Xiulan, matanya melebar. Ada nada perintah dalam suaranya, namun terselubung ketakutan yang mendalam. "Aku akan melihat," jawab Yuchen singkat. Ia tahu ia tidak bersenjata. Ia hanya seorang kasim, seolah. Tapi ia bukan kasim biasa. Ia memiliki kekuatan, kecepatan, dan tekad yang lebih dari cukup untuk melindungi. Yuchen melangkah ke arah pintu utama kamar mandi, telinganya menajam. Bunyi derap kaki semakin dekat, di luar pintu. Jantungnya berdebar, memompa darah ke seluruh tubuhnya. Adrenalin membanjiri indranya, mengalahkan sisa-sisa gairah dari beberapa saat yang lalu. Pintu itu terbuat dari kayu jati tebal, dihiasi ukiran naga. Mungkin bisa menahan beberapa saat. Tapi ia tahu, jika penyerang benar-benar berniat masuk, pintu itu hanya akan menjadi penghalang sesaat. Ia berbalik, melihat Xiulan yang bersembunyi di balik tirai, matanya yang besar mengintip dengan cemas. Yuchen memberikan tatapan meyakinkan, mencoba mengirimkan pesan bahwa ia akan baik-baik saja, bahwa ia akan melindunginya. Suara berisik di luar pintu berhenti tiba-tiba. Hening yang mencekam menggantung di udara, lebih menakutkan daripada suara pertempuran itu sendiri. Yuchen menahan napas, otot-ototnya menegang, siap untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi. Kemudian, sebuah bantingan keras terdengar. Bukan pintu yang dibuka, melainkan sesuatu yang menghantamnya dengan paksa. Engsel pintu berderit, kayunya retak. Debu halus berjatuhan dari kusen. Xiulan mengeluarkan suara kecil, tersembunyi di balik tirai. Yuchen mengacungkan jarinya ke bibir, memberi isyarat agar dia diam. Ia melangkah mundur sedikit, mencari sesuatu yang bisa digunakan sebagai senjata. Tidak ada apa-apa. Hanya ornamen-ornamen keramik dan perak yang rapuh. Tidak ada pedang, tidak ada tombak. Ia benar-benar tidak bersenjata. Ini membuatnya merasa frustrasi, marah, dan tidak berdaya. Bantingan kedua, lebih keras. Engsel pintu melepaskan diri dari bingkainya. Kayu retak dengan suara memekakkan telinga. Pintu itu nyaris tidak tertahan lagi. Yuchen mengambil posisi siap, tinjunya terkepal. Jika mereka menerobos masuk, ia akan bertarung dengan tangan kosong. Ia akan menggunakan setiap inci kekuatan yang ia miliki. "Permaisuri!" sebuah suara serak, panik, dan terengah-engah terdengar dari balik pintu yang hampir runtuh. Itu bukan suara musuh. Itu suara seorang penjaga, seorang prajurit. Suara itu dipenuhi rasa putus asa dan keterkejutan. Pintu itu akhirnya menyerah. Dengan suara menggelegar, pintu kayu itu terlempar ke dalam ruangan, menabrak dinding dan meninggalkan lubang besar di baliknya. Debu beterbangan, bercampur dengan uap air yang masih mengepul dari bak mandi. Sesosok tubuh terhuyung masuk, menabrak kusen pintu yang roboh. Seorang prajurit. Seragamnya compang-camping, berlumuran darah yang mengering dan darah segar yang masih menetes. Matanya membelalak ketakutan, napasnya terengah-engah seolah baru berlari maraton. Ia memegang pedang yang patah di satu tangan, genggamannya longgar. Wajahnya pucat pasi, kotor oleh debu dan keringat. Ia terlihat seperti hantu, sebuah gambaran mengerikan dari kekacauan di luar. "Permaisuri!" teriak prajurit itu lagi, suaranya pecah, matanya mencari-cari di sekeliling ruangan, sampai akhirnya menemukan siluet Xiulan yang gemetar di balik tirai. Ia menjatuhkan pedangnya yang patah, jatuh berlutut, hampir tersungkur. "Kita diserang!" raungnya, suaranya penuh keputusasaan dan horor. "Kaisar... dia menghilang!"

End of Chapter 25