Chapter 22 of 25

Chapter 22: Kecemburuan Permaisuri

1.4k words

Pintu kamar Permaisuri Xiulan terbuka, menyambut Xiao Yuchen dengan keheningan yang tak biasa. Cahaya lembut dari lentera istana memancar redup, menciptakan bayangan panjang di dinding. Permaisuri berdiri di dekat jendela, membelakangi Yuchen, siluet anggunnya tampak tegang. Udara terasa berat, dipenuhi aura yang bukan kemesraan biasa mereka. Hati Yuchen mencelos sedikit. Permaisuri jarang sekali menunjukkan kerentanan seperti ini. Wajahnya yang selalu tenang kini terlihat murung, garis halus kekhawatiran terlihat samar di antara alisnya. Yuchen melangkah mendekat, merasakan firasat buruk. Sebuah firasat tentang badai yang akan datang. "Ibunda memanggilku?" Yuchen bertanya, suaranya pelan, mencoba memecah kesunyian yang mencekik. Ia menunduk hormat, sorot matanya menyelidik punggung sang permaisuri. Aroma melati dari parfumnya terasa lebih pekat malam ini, seolah menyelimuti kesedihan yang tak terucap. Permaisuri Xiulan perlahan berbalik. Matanya, yang biasanya memancarkan kehangatan dan kekuasaan, kini terlihat redup, dibayangi oleh sesuatu yang gelap. Bibirnya yang biasanya tersenyum tipis kini terkatup rapat, membentuk garis lurus yang tegas. Ia tidak segera menjawab, hanya menatap Yuchen dengan pandangan yang sulit diartikan. "Yuchen," ucapnya akhirnya, suaranya serak, nyaris berbisik. "Duduklah." Ia menunjuk sofa brokat di sudut ruangan. Yuchen duduk, merasakan jantungnya berdebar kencang. Ia tahu ini bukan panggilan biasa. Ini adalah sebuah interogasi. Rasa bersalah mulai merayapi benaknya, meskipun ia yakin tindakannya sepenuhnya demi Permaisuri. Menghadapi Yuchen, Permaisuri Xiulan menyilangkan lengannya di dada, postur tubuhnya kaku dan protektif. "Aku mendengar banyak hal, Yuchen." Suaranya meninggi sedikit, meski masih terkontrol. "Rumor menyebar di istana. Kau dan Dayang Lily..." Ia berhenti, menelan ludah, seolah nama itu saja sudah pahit di lidahnya. "Kau menghabiskan terlalu banyak waktu dengannya." Bola matanya memicing, menuntut penjelasan. Merasa terdesak, Yuchen mengumpulkan pikirannya. "Ibunda, izinkan aku menjelaskan," katanya, mencoba terdengar tenang dan meyakinkan. "Lily hanyalah alat. Sebuah... jembatan." Ia bangkit, mendekati Xiulan perlahan, tatapannya memohon pengertian. "Untuk lebih dekat dengan Yang Mulia Kaisar. Untuk mengetahui apa yang terjadi di balik pintu kamarnya, siapa saja yang dia percayai, dan rencana-rencana apa yang mungkin dia miliki. Lily adalah dayang kepercayaannya. Aku harus mendapatkan informasinya." Permaisuri Xiulan mendengarkan, namun ekspresinya tidak melunak. Malah, kerutan di keningnya semakin dalam. Ada kecemburuan yang jelas di matanya, sebuah kilatan tajam yang membuat hati Yuchen mencelos. Bukan hanya kecemburuan seorang wanita terhadap wanita lain, tetapi juga kecemburuan seorang permaisuri yang merasa wilayahnya terancam, apalagi setelah Dayang Mei mendapati Lily di kamarnya dengan Yuchen. Ia merasa sakit melihat itu, sakit karena telah membuat wanita yang paling ia kagumi dan cintai merasa terkhianati. Senyum tipis dan pahit tersungging di bibir Xiulan. "Informasi?" Ia mendengus pelan. "Atau kau menikmati sentuhan lembutnya?" Nada suaranya tajam, seolah mengiris udara. "Apakah kecantikan Lily begitu mempesona, hingga kau rela mengabaikan kehormatanku, demi 'informasi' itu?" Kata 'informasi' diucapkannya dengan penekanan sinis. Yuchen bisa melihaturat di lehernya menegang, menunjukkan betapa marahnya dia sebenarnya. Permaisuri melangkah maju, tangannya mencengkeram kain di lengannya sendiri, buku-buku jarinya memutih. Matanya berkaca-kaca, tetapi ia menahan air mata itu dengan keras kepala. Yuchen merasa bersalah, sebuah beban berat menekan dadanya. Ia tidak pernah ingin membuat Xiulan merasakan sakit seperti ini. Namun, di balik rasa bersalah itu, ada secercah kebahagiaan. Xiulan peduli. Sangat peduli. Kecemburuan ini adalah bukti perasaannya terhadap Yuchen, bukti bahwa Yuchen memang penting baginya. "Tidak, Ibunda. Demi Dewa, tidak pernah," Yuchen bersumpah, melangkah lebih dekat, meraih tangan Xiulan yang gemetar. Kulitnya terasa dingin. "Tidak ada wanita lain yang bisa mempesonaku seperti dirimu." Ia membelai punggung tangan Xiulan dengan ibu jarinya, mencoba menyalurkan kehangatan dan ketulusan. "Setiap sentuhan, setiap pandangan, setiap bisikan mereka... semuanya terasa hambar dibandingkan dirimu." Ia menatap mata permaisuri dalam-dalam, berharap tatapannya bisa menyampaikan semua yang tak terucap. Permaisuri Xiulan menarik tangannya dengan sentakan kecil, masih enggan sepenuhnya percaya. "Lalu mengapa aku mendengar bisikan di istana? Mengapa Dayang Mei melaporkan melihatmu terlalu sering di dekat kamarnya?" Suaranya bergetar. "Apakah kau tidak memikirkan konsekuensinya? Jika Kaisar tahu, kita berdua..." Ia tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya, membayangkan nasib buruk yang menanti mereka. "Justru karena itu, Ibunda," Yuchen menyela, suaranya melembut, penuh bujukan. "Aku harus sangat berhati-hati. Aku harus mendapatkan kepercayaan Lily agar dia lengah. Agar dia mau berbicara. Aku bahkan harus berpura-pura tertarik padanya untuk membuat dia merasa istimewa. Ini adalah sandiwara, Ibunda. Sebuah sandiwara berbahaya yang aku mainkan hanya demi dirimu, demi masa depan kita." Ia menangkup wajah Xiulan, ibu jarinya membelai pipinya yang halus, merasakan kehangatan yang perlahan kembali. Menatapnya lekat, Yuchen merasakan denyutan di bawah kulitnya. Ia bisa melihat keraguan di mata Xiulan, bercampur dengan kerinduan yang mendalam. "Percayalah padaku, Permaisuriku," bisiknya, bibirnya nyaris menyentuh bibir Xiulan. "Mataku hanya untukmu. Hatiku hanya untukmu. Setiap detak jantungku memanggil namamu." Ia menarik napas dalam, merasakan aroma melati bercampur dengan aroma tubuh Xiulan yang memabukkan, memicu hasrat yang selalu membara di dalam dirinya. Xiulan memejamkan mata sesaat, seolah mencoba mencerna kata-kata Yuchen, mencoba memisahkan kebenaran dari kebohongan. Kemudian, ia membuka matanya lagi, pandangannya masih penuh pertanyaan. "Bagaimana aku bisa percaya?" gumamnya, suaranya nyaris tak terdengar. "Rumor itu... mereka menyakitiku, Yuchen. Mereka membuatku bertanya-tanya... apakah aku tidak cukup?" "Kau lebih dari cukup, Ibunda," Yuchen meyakinkan, suaranya dalam dan penuh gairah. Ia mendekat, menyatukan kening mereka. Kehangatan kulitnya merambat, perlahan melunturkan dinginnya ketidakpastian. "Kau adalah ratu di hatiku. Ratu atas segalanya. Tidak ada yang bisa menandingimu." Ia mulai mencium lembut keningnya, lalu turun ke pelipisnya, sentuhan bibirnya menghantarkan sensasi listrik yang membangunkan setiap saraf. Perlahan, sentuhan itu bergerak ke bawah, melewati tulang pipinya, sebelum akhirnya menempel pada bibir Xiulan. Sebuah ciuman lembut pada awalnya, penuh permohonan dan penyesalan. Lalu, ciuman itu semakin dalam, bibir mereka saling melumat, lidah Yuchen bermain-main di tepi bibir Xiulan, meminta akses. Xiulan, awalnya ragu, akhirnya menyerah. Bibirnya sedikit terbuka, membiarkan lidah Yuchen masuk, menjelajahi setiap lekuk rongga mulutnya dengan gerakan memabukkan. Ciuman lidah Yuchen selalu berhasil membangkitkan birahi terdalamnya. Sebuah erangan pelan lolos dari tenggorokan Xiulan, sebuah tanda bahwa benteng pertahanannya mulai runtuh. "Kau satu-satunya, Permaisuriku," Yuchen berbisik di sela ciuman, napasnya hangat di wajah Xiulan. "Selamanya kau satu-satunya." Tangannya melingkari pinggang Xiulan, menarik tubuhnya lebih dekat, merapatkan setiap inci kulit mereka. Ia bisa merasakan lekuk tubuh sang permaisuri yang ramping, pinggulnya yang berisi, dan gundukan payudaranya yang menekan dadanya. Hasratnya melonjak, membakar setiap sel tubuhnya. Jari-jari Yuchen bergerak lincah, membelai punggung Xiulan, naik ke tengkuknya, lalu turun lagi, memijat lembut otot-otot yang tegang. Sentuhannya sangat efektif. Xiulan mendesah, kepalanya sedikit mendongak, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih dan mulus. Yuchen segera mengambil kesempatan, menciumi lehernya dengan penuh gairah, menghisap kulit lembutnya hingga meninggalkan tanda merah yang samar. "Aku hanya ingin kau," bisiknya lagi, suaranya sarat dengan kerinduan yang tulus. Xiulan terengah-engah, tubuhnya melengkung ke belakang, menyerah pada sentuhan Yuchen. Jari-jarinya mencengkeram jubah sutra Yuchen, menariknya lebih dekat seolah ingin menyatu. Kecemburuan yang tadi membakar kini perlahan digantikan oleh gelombang gairah yang tak terbendung. Sensasi yang ditimbulkan Yuchen begitu kuat, begitu adiktif, membuatnya melupakan sejenak semua keraguan. Bagaimana mungkin ia meragukan pria yang bisa membuatnya merasa begitu hidup, begitu diinginkan? "Yuchen..." desahnya, namanya terucap seperti doa. "Aku... aku tidak tahu lagi apa yang harus kupercayai." Namun, tubuhnya berkhianat. Pinggulnya mulai bergerak gelisah, menekan kejantanan Yuchen yang mulai mengeras di balik kain. Yuchen merasakan kontolnya yang super besar menegang, berdenyut-denyut ingin menerobos kain pembatas, ingin bersatu dengan kehangatan sang permaisuri. Ia memisahkan diri dari ciuman leher Xiulan, mengangkat dagu sang permaisuri, memaksa matanya untuk bertemu pandang dengannya. "Lihat aku, Ibunda," Yuchen berkata, suaranya rendah dan menguasai. "Lihat betapa aku menginginkanmu. Betapa gila aku tanpamu." Ia menunduk, bibirnya berbisik di telinga Xiulan. "Kontolku hanya bereaksi padamu. Hanya ingin menerobos masuk ke dalammu, mengisi setiap inci keberadaanmu dengan diriku." Sebuah rayuan nakal yang selalu berhasil memicu gairah Xiulan. Xiulan menggigil, napasnya memburu. Pipi dan lehernya memerah, efek dari ciuman dan bisikan Yuchen. "Kau... kau mesum," desisnya, namun tidak ada kemarahan dalam suaranya, hanya gairah yang membara. "Bagaimana bisa aku percaya pada kata-katamu, sementara rumor itu..." Ia mencoba mempertahankan sedikit harga dirinya, sedikit keraguan, namun tubuhnya sudah sepenuhnya menyerah pada Yuchen. "Rumor adalah angin, Ibunda," Yuchen memotong, mencium lembut bibir Xiulan lagi, sebuah ciuman yang lebih dalam, lebih menuntut. "Tapi sentuhan ini, gairah ini, adalah api. Api yang hanya menyala untukmu." Tangannya turun, membelai lembut paha bagian dalam Xiulan, sentuhan ringan yang membuat sang permaisuri tersentak. "Aku bisa membuktikannya padamu, Permaisuriku. Sekarang. Malam ini." Yuchen tersenyum tipis, senyum penakluk yang tahu betul kekuatan rayuannya. Ia merasakan kehangatan yang perlahan menyelimuti mereka, menepis dinginnya kecemburuan yang tadi ada. Xiulan menatap Yuchen dengan mata menyipit. Bola matanya yang indah masih memancarkan keraguan, namun di dalamnya, ada nyala api gairah yang siap membakar. Ia menarik napas dalam, membasahi bibirnya yang bengkak karena ciuman Yuchen. Kemudian, sebuah pertanyaan tajam meluncur, menembus udara yang tegang. "Apakah kau yakin? Karena rumor mengatakan kau sangat dekat dengan Lily. Buktikan padaku bahwa aku satu-satunya."

End of Chapter 22

Chapter 22: Chapter 22: Kecemburuan Permaisuri - Anak Angkat Permaisuri | Novel AI Studio