Chapter 21 of 25

Chapter 21: Lily dan Rahasia

2.2k words

Ketukan keras itu menusuk kesunyian. Jantung Xiao Yuchen berdebar kencang, memukul rusuknya seperti genderang perang. Kontolnya yang tegang berdenyut sakit, menuntut pelepasan yang kini terlarang. Melirik Lily, ia melihat ketakutan yang sama di mata gadis itu. Wajahnya memucat, bibirnya sedikit terbuka. "Sial," bisiknya, suara tercekat. Lily bergerak cepat. Kain tipis yang tadi hampir terlepas kini ditarik menutupi tubuhnya, meski tak sepenuhnya menyembunyikan payudaranya yang masih memerah dan basah. "Sembunyi!" perintahnya, mendorong Yuchen ke balik tirai tempat tidur. Yuchen tersentak, merasakan dinginnya lantai. Ia bergegas masuk ke balik kain tebal, berjongkok meringkuk. Napasnya memburu, telinganya menajam. Suara langkah kaki semakin mendekat. "Lily? Kau di dalam?" Sebuah suara wanita terdengar dari balik pintu, terdengar agak mendesak. Tangan Lily gemetar. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Wajahnya yang tadi penuh gairah kini menampilkan kepura-puraan mengantuk. Ia membuka pintu. "Ya? Ada apa?" Suaranya sedikit serak, seperti orang baru bangun tidur. Matanya dikucek-kucek, seolah baru saja terbangun dari lelap. Yuchen mengintip dari celah kecil di tirai. Seorang dayang istana lain berdiri di ambang pintu, seragamnya rapi, rambutnya tersisir licin. Dayang itu bernama Mei. Matanya menyapu ruangan sekilas, berhenti pada Lily yang setengah telanjang. "Permaisuri memanggil. Ada beberapa gaun baru yang perlu kau persiapkan untuk pesta besok." Nada suaranya dingin, matanya menyiratkan kecurigaan. "Sekarang?" Lily mengerutkan kening. "Ini masih terlalu pagi untuk tugas semacam itu, Mei." Mei mendengus pelan. "Permaisuri ingin segera diselesaikan. Kau tahu Permaisuri tidak suka menunggu." Tatapannya kembali meneliti Lily, dari rambut yang sedikit acak-acakan hingga kain tipis yang menutupi lekuk tubuhnya. Jantung Yuchen berdetak semakin cepat. Mei pasti merasakan sesuatu yang aneh. Aura intim di ruangan ini tidak mungkin sepenuhnya hilang. "Baiklah. Beri aku waktu sebentar untuk bersiap," ucap Lily, mencoba terdengar normal. "Jangan lama-lama," Mei memperingatkan. Ia melirik lagi ke dalam kamar, pandangannya seolah bisa menembus tirai. "Aku akan menunggumu di aula." Setelah itu, Mei berbalik dan pergi, langkah kakinya terdengar menjauh. Lily menghela napas panjang, menutup pintu dengan pelan. Tubuhnya merosot, bersandar pada kayu. Air mata mulai menggenang di matanya. Yuchen keluar dari persembunyiannya. Ia mendekati Lily, merasakan gelombang simpati yang kuat. Wajah gadis itu benar-benar pucat pasi, ketakutan masih terpancar jelas. "Itu hampir saja," bisik Lily, suaranya bergetar. Ia menatap Yuchen dengan mata basah. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kita tertangkap." Pikiran tentang konsekuensinya menyapu Yuchen. Hukuman berat, mungkin kematian. Bukan hanya untuknya, tapi juga untuk Lily. Ia melihat ketakutan murni di mata gadis itu, dan hal itu membuatnya sadar betapa berbahayanya tindakan mereka. Keinginan liar yang tadi membakar kini berganti dengan rasa tanggung jawab yang berat. Ia harus lebih berhati-hati. Demi Lily. Demi dirinya sendiri. "Tidak akan," Yuchen meyakinkan, memegang bahu Lily. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi." Lily menggeleng, air matanya menetes. "Kau tidak tahu. Peraturan di istana ini kejam. Jika ada yang tahu aku... denganmu... terutama sebagai dayang Permaisuri..." Ia tidak melanjutkan, tapi Yuchen mengerti. Gadis itu bisa dihukum mati. Yuchen mengepalkan tangannya. Rasa bersalah dan tekad bercampur aduk dalam dirinya. "Aku minta maaf," ucapnya tulus. "Aku terlalu egois." Lily memandangnya, senyum tipis terukir di bibirnya, meski matanya masih berkaca-kaca. "Bukan sepenuhnya salahmu. Aku... aku juga menginginkannya." Sentuhan Yuchen pada bahunya terasa hangat, menenangkan. Ia mendekat, memeluk Yuchen erat, mencari kenyamanan dalam pelukan itu. Tubuhnya gemetar pelan. "Tapi ini sangat berbahaya," bisiknya, suaranya teredam di dada Yuchen. "Kita harus sangat, sangat berhati-hati." Yuchen mengangguk, membalas pelukan Lily. Aroma tubuhnya yang manis bercampur dengan keringat dan gairah yang belum sepenuhnya padam. Kontolnya masih berdenyut, mengingatkan betapa jauhnya mereka hampir melangkah. "Aku mengerti," kata Yuchen. "Aku akan lebih waspada." Lily mendongak, menatap Yuchen. Bibirnya masih sedikit bengkak karena ciuman mereka. Matanya penuh pertanyaan, juga sedikit godaan yang tak bisa ia sembunyikan. "Kau harus pergi sekarang," ucap Lily. "Mei akan curiga jika aku terlalu lama." Yuchen menghela napas, keberatan. Ia ingin lebih lama, ingin menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Tapi akal sehatnya menang. "Bagaimana kau akan keluar?" tanya Lily, melepaskan pelukan. Yuchen melihat sekeliling. "Jendela." Lily mengangguk. "Itu satu-satunya cara. Pastikan tidak ada yang melihatmu." Ia menarik Yuchen ke dekat jendela, melihat keluar ke halaman belakang yang sepi. Udara pagi masih dingin, embun membasahi rumput. "Hati-hati," Lily mengingatkan, suaranya pelan. Yuchen membuka jendela. Angin sejuk menerpa wajahnya. Ia melirik Lily sekali lagi, melihat hasrat yang masih membara di balik ketakutannya. "Aku akan kembali," Yuchen berjanji, nada suaranya tegas. Lily tersenyum tipis. "Aku tahu." Ia membantu Yuchen melompat keluar jendela. Tubuh Yuchen yang atletis mendarat dengan ringan. Ia bersembunyi di balik semak-semak, memastikan tidak ada yang melihatnya sebelum menyelinap pergi. --- Xiao Yuchen berhasil kembali ke kamarnya tanpa ketahuan. Ia menyelinap masuk melalui jendela, membersihkan diri dengan terburu-buru, lalu berbaring di tempat tidur, berpura-pura baru bangun saat dayang pelayan datang membawakannya sarapan. Ketegangan masih terasa di seluruh tubuhnya. Kejadian tadi pagi terus berputar di benaknya. Sensasi tubuh Lily, ketukan di pintu, tatapan curiga Mei, dan ketakutan di mata Lily. Makanannya terasa hambar. Ia hanya bisa memikirkan Lily. Betapa rapuhnya posisi gadis itu, betapa besarnya risiko yang mereka ambil. Sistem "Anak Angkat Permaisuri" memberinya misi, tapi tidak ada jaminan keamanan. Ia harus lebih cerdik, lebih hati-hati. Keinginannya untuk menaklukkan Permaisuri dan para dayang tidak berkurang, justru semakin membara, namun kini diiringi dengan kewaspadaan yang lebih tinggi. Beberapa jam kemudian, Yuchen dipanggil Permaisuri untuk menemaninya di taman. Ia mengenakan jubah sutra terbaiknya, memastikan penampilannya sempurna. Langkahnya menuju taman terasa berat, ada campuran antisipasi dan kecemasan dalam dirinya. Di taman, Permaisuri sudah duduk di sebuah paviliun, ditemani beberapa dayang. Di antara mereka, Yuchen melihat Lily. Hatinya mencelos. Lily terlihat tenang, wajahnya tanpa ekspresi, seolah-olah kejadian pagi tadi tidak pernah terjadi. Tapi Yuchen tahu, di balik ketenangan itu, ada rahasia yang tersembunyi. Permaisuri tersenyum hangat saat melihat Yuchen. "Ah, Anakku, kemarilah. Temani Ibu menikmati udara pagi." Yuchen membungkuk hormat. "Tentu, Ibu Permaisuri." Ia duduk di samping Permaisuri, pandangannya sempat beradu dengan Lily. Hanya sepersekian detik, tapi Yuchen bisa merasakan getaran di udara. Ada pesan tak terucapkan di mata Lily: *Hati-hati*. Permaisuri berbicara tentang urusan istana, tentang rencana pesta yang akan datang, dan tentang beberapa gaun baru yang sedang dipersiapkan. Yuchen mencoba fokus, memberikan tanggapan yang tepat, namun pikirannya terus melayang ke Lily. "Lily, tunjukkan pada Pangeran gaun-gaun yang baru datang," Permaisuri tiba-tiba berkata. Jantung Yuchen berdebar. Ini adalah kesempatan. Lily membungkuk hormat. "Baik, Permaisuri." Ia bangkit, berjalan ke arah sebuah meja tempat beberapa gulungan kain sutra terhampar. Yuchen mengikutinya. Mereka berdiri berdampingan, pura-pura memeriksa gaun. "Aku senang kau baik-baik saja," bisik Yuchen, suaranya sangat pelan, hanya untuk didengar Lily. Lily tidak menoleh, matanya tetap terpaku pada kain. "Aku harus bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi. Semua orang menonton." "Aku melihat Mei. Dia mencurigaimu," Yuchen memberitahu. "Aku tahu," Lily menghela napas, nyaris tak terdengar. "Dia selalu ingin mencari kesalahanku. Dia cemburu pada perhatian Permaisuri padaku." Yuchen mengamati ekspresi Lily. Gadis itu benar-benar seorang aktris ulung. Tidak ada jejak ketakutan atau gairah yang tersisa di wajahnya. Hanya dayang yang patuh dan tenang. "Bagaimana kalau nanti malam?" Yuchen berbisik lagi, tak bisa menahan diri. Lily meliriknya sekilas, matanya menegang. "Kau gila? Setelah apa yang terjadi?" "Itu hanya membuatku menginginkanmu lebih," Yuchen mengakui, suaranya serak. "Aku tidak bisa melupakan bagaimana rasanya kau di bawahku." Lily menelan ludah. Yuchen bisa melihat denyut nadi di lehernya. Ia tahu kata-katanya berhasil menembus pertahanan gadis itu. "Jangan bicarakan itu di sini," Lily membalas, nada suaranya tegas tapi ada desakan di dalamnya. "Kita akan ketahuan." Yuchen mengangguk. "Baik. Tapi aku ingin tahu kapan aku bisa menyentuhmu lagi." Lily pura-pura menunjuk salah satu gaun. "Gaun ini sangat cantik, Pangeran. Akan cocok untuk Permaisuri." "Sangat cocok," Yuchen menyetujui, menyentuh kain sutra. "Tapi tidak secantik dirimu." Lily tersentak. Pipinya sedikit memerah. "Pangeran... tolong." "Hanya pujian, Lily. Apa salahnya?" Yuchen tersenyum menawan, tahu persis bagaimana membuat seorang wanita gelisah. "Wajahmu yang memerah itu membuatku ingin menciummu lagi." Lily cepat-cepat berbalik, punggungnya menghadap Yuchen, seolah sibuk dengan gaun. "Kita harus berhati-hati. Aku tidak bisa mengambil risiko lagi." "Risiko itu yang membuatku semakin bergairah," bisik Yuchen, mendekatkan bibirnya ke telinga Lily. "Detak jantungmu saat itu... napasmu yang terengah... aku bisa merasakannya." Lily menutup mata sesaat. "Berhentilah. Aku mohon." Suaranya hampir putus asa. Permaisuri memanggil nama mereka. "Sudah selesai melihat-lihat?" Yuchen dan Lily segera kembali ke tempat mereka, berpura-pura tidak ada yang terjadi. Yuchen tersenyum pada Permaisuri, sementara Lily menunduk, pipinya masih sedikit merona. --- Malam harinya, Yuchen tidak bisa tidur. Pikirannya terusik oleh bayangan Lily. Bahaya dan gairah bercampur aduk dalam dirinya. Ia harus menemukan cara yang lebih aman untuk bertemu Lily, dan Permaisuri juga. Sistemnya terus mendorongnya, misinya masih belum tuntas. Ia tahu ia harus hati-hati, tapi hasratnya tak bisa dibendung. Ia memutuskan untuk mencari Lily lagi. Risiko memang tinggi, tapi keinginan untuk menyelesaikan apa yang tertunda tadi pagi terlalu kuat. Ia merasa bersalah karena hampir membuat Lily tertangkap, namun di saat yang sama, adrenalin dari bahaya itu justru membangkitkan sisi liar dalam dirinya. Diam-diam, Yuchen menyelinap keluar dari kamarnya. Lorong-lorong istana di malam hari sunyi dan gelap, hanya diterangi lentera-lentera redup. Setiap bayangan terasa seperti pengawasan, setiap suara kecil membuat jantungnya berdebar. Ia bergerak dengan hati-hati, seperti kucing mengendap-endap. Ia sampai di dekat kamar Lily. Jantungnya berdebar kencang. Ia mengamati sekeliling. Tidak ada dayang yang berpatroli, tidak ada suara lain. Ini adalah kesempatan. Yuchen mengetuk pintu Lily dengan sangat pelan, tiga ketukan ringan dan teratur. Itu adalah sinyal yang mereka sepakati. Beberapa detik terasa seperti keabadian. Lalu, pintu terbuka sedikit. Wajah Lily muncul di celah, matanya terbelalak melihat Yuchen. "Kau?" bisiknya, nada terkejut. "Apa yang kau lakukan di sini?" Yuchen masuk ke dalam, menutup pintu di belakangnya. "Aku tidak bisa tidur. Aku harus bertemu denganmu." Lily mengenakan gaun tidur tipis berwarna putih, membiarkan lekuk tubuhnya terlihat samar. Rambutnya tergerai, menambah pesona alami yang memikat. Aroma melati yang lembut tercium darinya. "Kau sangat berani, atau sangat bodoh," Lily berbisik, namun matanya tidak menunjukkan kemarahan, hanya kekhawatiran dan sesuatu yang lain. "Mungkin keduanya," Yuchen tersenyum, menarik Lily mendekat. "Aku tidak bisa membiarkanmu sendirian setelah tadi pagi." Lily mendesah, membiarkan Yuchen memeluknya. "Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan denganmu." Yuchen mencium leher Lily, merasakan kehangatan kulitnya. "Biarkan aku membuatmu melupakan rasa takut itu." Lily gemetar saat bibir Yuchen menyentuh kulitnya. "Kita tidak bisa..." "Kita bisa," Yuchen membantah, suaranya serak. Ia membalik Lily, menekan punggung gadis itu ke dinding. Tangannya mulai menjelajahi pinggang Lily, bergerak naik ke punggungnya. "Aku akan sangat hati-hati. Tidak akan ada yang tahu." Napas Lily mulai memburu. "Bagaimana jika ada yang melihatmu datang?" "Tidak akan," Yuchen meyakinkan, bibirnya kini mencium telinga Lily, lidahnya menyentuh cuping telinga gadis itu. "Aku seperti bayangan." Sentuhan Yuchen membakar kulit Lily. Gadis itu menutup mata, kepalanya bersandar ke dinding. "Ini salah. Ini sangat salah." "Tapi terasa benar, bukan?" Yuchen berbisik, membalik Lily lagi agar menghadapnya. Ia menunduk, mencari bibir Lily. "Aku tahu kau menginginkannya." Lily tidak menolak. Bibirnya terbuka sedikit, mengundang. Yuchen menciumnya, awalnya lembut, kemudian semakin dalam. Lidahnya menari, mencari lidah Lily, menjeratnya dalam tarian gairah. Lily membalas ciumannya dengan putus asa, tangannya mencengkeram jubah Yuchen. Ia bisa merasakan kontol Yuchen yang keras menekan perutnya. Gairah yang tertahan tadi pagi kini meledak lagi, jauh lebih intens. Yuchen menggendong Lily, mengangkatnya ke tempat tidur. Gaun tidurnya tersingkap, memperlihatkan paha mulus Lily. Ia membaringkan Lily di atas ranjang, lalu menindihnya, memastikan tubuh mereka saling menempel erat. "Aku ingin mencicipimu lagi, sayang," Yuchen berbisik, bibirnya menjelajahi leher Lily, turun ke dadanya. "Aku ingin melihatmu menggeliat di bawahku." Lily terengah-engah. Matanya menatap Yuchen dengan campuran ketakutan dan hasrat yang memabukkan. "Kita harus cepat..." Yuchen tidak menjawab, sibuk menghisap payudara Lily yang membusung indah. Lidahnya melingkari puting yang mengeras, menariknya lembut, membuat Lily menjerit kecil. Tangannya yang besar membelai paha dalam Lily, semakin naik, menyentuh bagian intim yang sudah basah. "Kau sudah sangat siap untukku," Yuchen mendesah, jarinya menelusup masuk, menemukan klitoris Lily yang bengkak. Ia menggosoknya lembut, membuat Lily melengkungkan punggungnya. "Ya Tuhan..." Lily mendesah, suaranya pecah. "Terus..." Yuchen memijatnya dengan mahir, bergantian antara sentuhan ringan dan tekanan kuat. Lily mengerang, tubuhnya bergetar hebat. Ia mencakar punggung Yuchen, kakinya melingkar di pinggang Yuchen, menariknya semakin dekat. "Aku ingin kau menjerit namaku," Yuchen berbisik, mendekatkan wajahnya ke wajah Lily. "Aku ingin kau memohon." Lily tidak bisa bicara. Ia hanya bisa mendesah dan merengek saat jari Yuchen terus bermain. Keinginan itu membanjiri dirinya, melenyapkan semua ketakutan. Yuchen menunduk, menjilati leher Lily lagi, mencium jejak-jejak hasrat yang ia ciptakan. Ia tahu ia harus segera pergi. Tapi ia tidak bisa. Bukan sebelum Lily mendapatkan apa yang ia inginkan. Dan dirinya sendiri. Ia menarik gaun tidur Lily ke atas, memperlihatkan seluruh tubuh telanjang gadis itu. Bagian intimnya tampak merah dan membengkak. Yuchen tersenyum puas. "Lihatlah betapa basahnya kau untukku." Ia menurunkan tubuhnya, menjilat paha dalam Lily, bergerak naik perlahan. Lily terkesiap. "Jangan..." "Sshhh... biarkan aku," Yuchen mendesah, bibirnya kini menutupi klitoris Lily, lidahnya mulai menjilati dengan gerakan melingkar. Sensasi itu terlalu kuat. Lily menjerit keras, tubuhnya melengkung, mencapai puncak orgasme yang intens. Ia mencengkeram seprai, matanya terpejam erat. "Yuchen!" Ia memanggil namanya, suaranya serak karena kenikmatan. Yuchen terus menjilati, memastikan Lily benar-benar puas. Setelah Lily sedikit tenang, Yuchen bangkit. Ia tahu waktu mereka sudah habis. "Aku harus pergi sekarang," ucapnya, suaranya berat. Lily menatapnya, matanya berkaca-kaca, penuh kepuasan dan kerinduan. "Tapi aku belum selesai," Lily berbisik. Yuchen tersenyum, menyentuh pipi Lily. "Aku tahu." Lily memeluk Yuchen erat, "Kau harus pergi sekarang. Aku akan mengalihkan perhatian mereka. Tapi kita belum selesai, ya kan?"

End of Chapter 21