Chapter 1 of 25
Bisikan Sistem Terlarang
1.0k words
Guncangan keras menerjang, mengempas tubuh mungilnya. Jeritan kuda memekakkan telinga, disusul suara kayu pecah berkeping-keping. Dunia berputar, menghantamnya dalam kegelapan pekat. Napasnya tercekat, bau debu dan darah menusuk hidungnya. Dingin merayap, rasa sakit menusuk kepalanya. Kemudian, ketiadaan. Kosong. Senyap.
Kepalanya berdenyut-denyut. Kelopak mata terasa berat, lengket. Cahaya redup menembus kegelapan, memaksa matanya terbuka perlahan. Siluet-siluet buram menari di pandangannya. Langit-langit ukiran, dinding berhias permadani, aroma dupa cendana yang menenangkan.
Suara berbisik terdengar. Samar, jauh. "Pangeran kecil tersadar!"
Nyeri menusuk kembali. Jari-jari mungilnya meraih pelipis, merasakan perban tebal melilit kepalanya. Ia mencoba bangkit, namun tubuhnya terasa seperti jelly. Sekujur tubuhnya linu.
Mata bulatnya melirik sekeliling. Beberapa dayang dan kasim berdiri cemas di dekat ranjang, ekspresi mereka penuh kelegaan. Ini kamar tidurnya di Istana Phoenix, tempat tinggal Permaisuri Xiulan. Ibunya.
Permaisuri Xiulan. Wajahnya tiba-tiba muncul di benaknya, sosok anggun dengan gaun sutra ungu yang selalu memeluknya hangat. Ibunya pasti khawatir sekali.
Pikiran itu belum sepenuhnya terbentuk, ketika sebuah suara dingin, tanpa emosi, bergema langsung di dalam kepalanya.
"Selamat datang, Anak Angkat Permaisuri."
Jantung kecil Yuchen melonjak. Ia mendongak, mencari sumber suara. Tidak ada siapa-siapa di dekatnya selain para pelayan yang sekarang sibuk menuangkan air hangat ke dalam baskom. Suara itu hanya ada di dalam kepalanya.
"Sistem Anak Angkat Permaisuri telah aktif." Suara itu melanjutkan, seperti gema dari dunia lain. "Misi utama dimulai dalam 10 tahun."
Ketakutan mencengkeramnya. Ia seorang anak berusia lima tahun. Apa ini? Hantu? Roh jahat? Air matanya mulai menggenang. Bibirnya bergetar.
"Jangan takut, inang." Suara itu terdengar lebih jelas sekarang, namun tetap tanpa nada. "Aku adalah Sistem Pembantu. Tujuanku adalah membantumu mencapai takdir agungmu."
Takdir agung? Yuchen tidak mengerti. Takdirnya hanyalah bermain di taman istana, belajar kaligrafi, dan sesekali memanjat pohon. Kecelakaan kereta kuda tadi... itu bukan takdir. Itu kecerobohan kusir.
"Kecelakaan kereta kuda itu adalah katalisator." Sistem menjelaskan, seolah membaca pikirannya. "Energi kehidupanku terpicu oleh trauma fisikmu."
Menarik. Sebuah sistem? Seperti cerita-cerita yang sering dibacakan oleh gurunya? Petualangan heroik dengan kekuatan gaib? Senyum kecil menyungging di bibir Yuchen. Ketakutan itu perlahan tergantikan oleh rasa penasaran.
"Apa... apa itu misi utama?" Yuchen bertanya dalam hati, berharap sistem akan menjawab.
"Informasi misi utama masih terkunci." Suara itu kembali. "Akan terungkap saat inang mencapai usia 15 tahun."
Lima belas tahun. Sepuluh tahun lagi. Waktu yang lama. Apa yang harus ia lakukan sampai saat itu?
"Selama sepuluh tahun ke depan, inang akan menerima misi harian dan mingguan." Sistem melanjutkan. "Menyelesaikan misi akan memberimu poin. Poin dapat digunakan untuk membeli item di Toko Sistem, meningkatkan atribut, atau membuka keterampilan baru."
Poin? Toko Sistem? Keterampilan? Mata Yuchen membulat. Ini seperti permainan! Sebuah kegembiraan licik, aneh untuk anak seusianya, mulai merayapi hatinya. Kekuatan. Rahasia.
Ia bisa menjadi lebih kuat. Lebih cerdas. Mungkin bahkan mengalahkan kakak-kakak tirinya dalam pelajaran memanah. Rasa pahit tentang bagaimana para putra mahkota lain sering meremehkannya, anak angkat tanpa darah bangsawan murni, selalu tersembunyi jauh di dalam hatinya.
"Misi pertamamu, inang: Minum obat dari tabib istana."
Perintah itu terdengar konyol setelah semua pembicaraan tentang takdir agung. Yuchen melirik mangkuk berisi ramuan pahit yang dibawa dayang. Wajahnya mengerut.
"Hadiah: 5 Poin Sistem."
Lima poin? Baiklah. Yuchen mengangguk, membuka mulut, dan membiarkan dayang menyuapi ramuan itu. Rasanya mengerikan, seperti tanah bercampur rumput liar. Tapi pikirannya sudah dipenuhi kegembiraan aneh akan poin-poin yang akan ia dapatkan.
---
Jam-jam berlalu perlahan. Setelah minum obat dan makan bubur, Yuchen merasa sedikit lebih baik. Ia berbaring, pura-pura tidur, sementara dayang dan kasim sibuk dengan tugas mereka, sesekali meliriknya dengan khawatir.
Sistem tetap diam. Yuchen mencoba memanggilnya, "Sistem?"
Tidak ada respons. Mungkin hanya muncul saat ada misi atau informasi penting.
Pintu kamarnya terbuka pelan. Udara harum melati dan sutra masuk memenuhi ruangan. Sosok yang selalu ia puja melangkah masuk. Permaisuri Xiulan.
Gaunnya berwarna ungu tua, dihiasi sulaman benang emas yang rumit. Rambutnya disanggul tinggi, dihiasi jepit giok dan mutiara. Wajahnya yang cantik, biasanya tenang dan anggun, kini diwarnai ekspresi cemas.
Langkah kakinya lembut, menyeberangi ruangan dengan cepat. Ia mendekati ranjang, tatapan matanya terpaku pada Yuchen. Kerutan halus muncul di antara alisnya.
"Yuchen-ku." Suaranya lirih, sarat kekhawatiran. "Bagaimana perasaanmu, anakku?"
Napasnya terasa berat saat Yuchen memeluknya. Bau khas ibunya, campuran bunga dan bedak halus, menenangkan hatinya yang berdebar akibat bisikan sistem.
"Sudah lebih baik, Ibu." Suara Yuchen terdengar serak.
Permaisuri Xiulan menghela napas lega. Tangannya yang lembut membelai rambut Yuchen, menyisir poni dari dahinya yang diperban. Sentuhannya menenangkan.
"Syukurlah." Ia berbisik. "Ibu sangat khawatir. Kecelakaan itu... sangat mengerikan."
Dayang-dayang segera mundur, memberi ruang bagi Permaisuri untuk berinteraksi dengan Yuchen. Mereka tahu betapa Permaisuri mencintai anak angkatnya, satu-satunya anak yang ia miliki setelah Kaisar kehilangan minat padanya.
Yuchen mengamati wajah ibunya. Matanya yang indah, hidungnya yang mancung, bibirnya yang penuh. Permaisuri Xiulan selalu menjadi sosok pelindung baginya, satu-satunya yang memberinya kasih sayang tulus di istana yang dingin ini.
"Tabib bilang kau harus istirahat total." Permaisuri melanjutkan, suaranya lembut. "Tidak perlu khawatir tentang pelajaran atau apa pun. Kesehatanmu yang utama."
Menarik. Ini kesempatan bagus untuk memikirkan sistem itu lebih jauh. Sepuluh tahun. Poin. Misi utama. Pikiran-pikiran itu berputar di kepala Yuchen, bahkan saat ibunya memeluknya erat.
"Ibu akan selalu melindungimu, Yuchen." Permaisuri Xiulan berbisik di telinganya, pelukannya mengerat.
Yuchen memejamkan mata, menikmati kehangatan itu. Ia percaya pada ibunya. Ibunya tidak akan pernah menyakitinya. Tapi bisikan sistem itu... apakah itu takdir yang tidak bisa dihindari? Atau sebuah hadiah yang akan mengubah segalanya?
Permaisuri menarik diri sedikit, menatap wajah Yuchen dengan cermat. Jemarinya menangkup pipi Yuchen, kehangatan mengalir dari kulitnya. Ia tersenyum tipis.
"Kau sangat berarti bagiku, Yuchen." Katanya, matanya yang biasanya memancarkan kehangatan kini terlihat sedikit berbeda.
Permaisuri Xiulan membelai lembut pipi Yuchen, kemudian berdiri. Ia membalikkan badan, melangkah menuju meja rias di sudut ruangan. Bayangan Permaisuri memanjang di lantai marmer.
Di depan cermin berukir perak, Permaisuri Xiulan melihat pantulan wajahnya. Senyumnya pudar. Alisnya berkerut tipis, matanya menyiratkan sesuatu yang lebih dalam, lebih gelap. Sebuah ambisi yang tersembunyi.
Ia mengangkat tangan, menyentuh jepit giok di rambutnya. Tatapannya tertuju pada pantulan dirinya, lalu beralih ke ranjang di mana Yuchen terbaring.
Permaisuri Xiulan, dengan wajah cemas, memeluk Yuchen dan berbisik, "Jangan takut, anakku." Namun, tatapan matanya yang terpantul di cermin menyiratkan ambisi tersembunyi yang jauh lebih gelap.