Chapter 18 of 25

Dayang Liar: Lily

1.4k words

Langkah Yuchen bergema pelan di koridor istana yang sepi, hatinya terasa sedikit berat. Meskipun keputusannya untuk melaksanakan 'Misi Penyamaran Publik' adalah demi melindungi Permaisuri Xiulan, rasa bersalah tetap menggerogoti. Dia tahu ini penting, namun pikiran tentang Xiulan yang mungkin merasa dikhianati, meski demi kebaikan mereka, sungguh menyesakkan. Tugas ini terasa seperti pedang bermata dua. Memutar sudut, suara tawa renyah mengalihkan perhatiannya. Tawa itu melambung, ringan, dan penuh keceriaan, memecah keheningan koridor pagi. Lily, seorang dayang istana yang sering terlihat di area taman, sedang menata rangkaian bunga teratai di sebuah vas porselen besar. Gaun sutra birunya berkibar lembut setiap kali dia bergerak, memamerkan sosoknya yang ramping dan lincah. Wajahnya yang bulat telur dengan pipi merona dan mata berbinar menangkap cahaya pagi. Senyumnya lebar, memperlihatkan deretan gigi putih bersih. Dia memancarkan aura yang berbeda dari dayang lain—lebih berani, lebih genit, dan sangat terbuka. Tatapan Yuchen tak sengaja bertemu dengan matanya. Dia tersenyum padanya, senyum yang begitu tulus hingga membuat Yuchen merasakan sedikit kehangatan di dadanya. "Selamat pagi, Yang Mulia Pangeran," sapanya, suaranya seperti melodi yang menyenangkan. Dia membungkuk hormat, namun matanya tetap menatap Yuchen dengan cemerlang, sedikit jenaka. Tidak ada rasa takut atau canggung seperti kebanyakan dayang lain. "Selamat pagi, Lily," balas Yuchen, suaranya tenang dan ramah. "Tanganmu sungguh cekatan. Bunga-bunga ini terlihat hidup di tanganmu." Pujiannya tulus. Lily memang memiliki bakat dalam seni merangkai bunga. Memerah malu, Lily menunduk sesaat, namun kemudian mengangkat wajahnya lagi, matanya berkelip nakal. "Oh, Pangeran terlalu memuji. Ini hanya kebetulan saja. Tapi, saya senang Pangeran memperhatikannya." Ada nada tersirat dalam kalimat terakhirnya yang membuat Yuchen sedikit tergelitik. Dayang ini memang berbeda. Beberapa hari berikutnya, Yuchen secara 'kebetulan' sering berpapasan dengan Lily. Dia akan menemukan alasan untuk mengobrol singkat, menanyakan tentang bunga-bunga di taman, atau sekadar bertukar sapa. Setiap kali, Lily akan menyambutnya dengan antusiasme yang sama, bahkan mungkin lebih. Matanya akan berbinar, senyumnya semakin lebar, dan dia akan selalu mencari cara untuk memperpanjang percakapan, meski hanya beberapa detik. Perlahan, Yuchen mulai memahami mengapa sistem memilih Lily sebagai 'target' pertamanya. Keceriaan dan sifat genitnya memang menarik perhatian, dan dia tidak ragu untuk menunjukkan ketertarikannya pada Yuchen. Ini memudahkan misinya. Rasa bersalah Yuchen mulai sedikit teredam, digantikan oleh fokus pada tujuan dan, tak bisa dipungkiri, rasa penasaran terhadap dayang yang berani ini. Suatu sore, Yuchen melihat Lily sedang duduk sendirian di bangku batu di taman tersembunyi, tempat yang jarang dilalui orang. Dia sedang menyulam, konsentrasinya penuh, sesekali bersenandung pelan. Kesempatan ini terlalu bagus untuk dilewatkan. Yuchen mendekatinya dengan langkah ringan. "Sedang apa kau, Lily?" Yuchen bertanya, suaranya memecah lamunannya. Lily sedikit terlonjak, menoleh dengan terkejut, namun senyum segera menghiasi wajahnya saat melihat siapa yang datang. "Oh, Pangeran! Maafkan saya, saya tidak mendengar Pangeran datang," katanya, meletakkan sulamannya ke samping. "Saya hanya sedang menyulam, Pangeran. Untuk mengisi waktu luang." Dia menatap Yuchen dengan tatapan yang lebih intens dari biasanya, seolah mencoba membaca pikirannya. "Jangan khawatir," Yuchen menjawab, duduk di sampingnya, menjaga jarak yang sopan namun cukup dekat untuk menciptakan keintiman. "Biarkan aku melihat apa yang kau sulam." Dia mencondongkan tubuh, bahunya hampir bersentuhan dengan bahu Lily. Aroma bunga mawar dan musk dari kulitnya segera memenuhi indra Yuchen. Lily tersipu, namun tidak bergerak menjauh. Justru, dia sedikit condong ke arah Yuchen, memperlihatkan sulamannya. "Ini hanya pola sederhana, Pangeran. Burung phoenix yang terbang di antara awan." Jari-jemarinya yang lentik menunjuk detail-detail kecil pada kain sutra. Yuchen dapat merasakan kehangatan dari lengannya yang bersentuhan. "Sederhana katamu? Ini indah, Lily. Setiap jahitan begitu rapi, setiap warna dipilih dengan cermat," Yuchen memuji, nadanya lembut dan penuh kekaguman. Matanya bertemu dengan mata Lily. Jeda singkat itu terasa elektrik. Yuchen melihat gairah yang bergejolak di mata Lily, pantulan dari gairah yang mulai bangkit di dalam dirinya sendiri. Rasa tidak nyaman yang samar masih ada, namun hasrat yang tiba-tiba muncul untuk Lily mulai mengambil alih. Melangkah lebih jauh, Yuchen mengangkat tangannya, menyentuh pipi Lily dengan ibu jarinya. Kulitnya terasa lembut dan hangat. Lily tersentak kecil, napasnya tertahan. Matanya melebar, memancarkan campuran terkejut dan harapan. Yuchen mengusap pipinya dengan ibu jari, gerakannya perlahan, sensual. "Lily," Yuchen berbisik, suaranya berubah menjadi lebih dalam, lebih menggoda. "Kau lebih indah dari phoenix yang kau sulam. Pesonamu tak tertandingi." Dia mendekatkan wajahnya, perlahan. Lily tidak menolak, malah sedikit memejamkan mata, bibirnya sedikit terbuka, mengundang. Menundukkan kepalanya, Yuchen mencium bibir Lily. Ciuman pertama itu lembut, menguji. Lily membalasnya dengan gugup pada awalnya, namun kemudian keberaniannya muncul. Bibirnya bergerak membalas Yuchen, perlahan semakin dalam. Yuchen merasakan tubuhnya bergetar. Dia tahu ini adalah misi, tapi sentuhan Lily, kehangatan bibirnya, memicu sesuatu yang tak terduga dalam dirinya. Gairah mulai membakar, mengalahkan rasa bersalah. Membuka bibirnya sedikit, Yuchen membiarkan lidahnya masuk, menjelajahi rongga mulut Lily. Lidahnya bermain, mengulum, mengais setiap sudut. Ciuman lidah pembangkit birahi itu langsung membuat Lily mendesah kecil, tubuhnya melengkung ke arah Yuchen, tangan kanannya mencengkeram jubah Yuchen erat. Desahan itu seperti musik di telinga Yuchen, sebuah konfirmasi akan keahliannya. Ciuman itu semakin panas, semakin menuntut. Yuchen memiringkan kepalanya, memperdalam ciuman, lidahnya menarik lidah Lily, seolah mencoba menelannya. Lily membalas dengan intensitas yang sama, napasnya terengah-engah. Darah Yuchen berdesir. Kontolnya di balik jubah mulai menegang, merasakan respons kuat dari tubuhnya sendiri terhadap sensasi yang memabukkan ini. Perlahan, Yuchen melepaskan ciuman itu, menyisakan napas Lily yang terputus-putus. Matanya terbuka sayu, bibirnya bengkak dan merah, tatapannya penuh gairah yang tak terbendung. "Yuchen..." bisiknya, suaranya serak dan memohon. Dia memegang tangan Yuchen, jari-jarinya yang dingin menyentuh kulit Yuchen yang panas. Senyum tipis tersungging di bibir Yuchen. Dia tahu harus melangkah lebih jauh, menunjukkan kendalinya. Dia menurunkan tangannya dari pipi Lily, membiarkannya meluncur ke lehernya yang jenjang, lalu ke bahunya, dan akhirnya berhenti di pinggang rampingnya. Jari-jarinya menyentuh kulit yang lembut di bawah gaunnya, mengirimkan gelombang geli. "Kau mempesona, Lily," Yuchen berbisik, suaranya rendah dan menggoda. Dia memeluk pinggang Lily, menariknya lebih dekat. Perut mereka bersentuhan, dan Lily bisa merasakan tonjolan keras di selangkangan Yuchen. Matanya melebar sedikit, napasnya kembali tertahan, namun dia tidak menarik diri. Dengan gerakan halus, Yuchen mulai mengusap pinggang Lily, jari-jarinya menekan dan memijat lembut. Dia bisa merasakan otot-otot di bawah kulitnya merespons, menegang lalu rileks di bawah sentuhannya. Dia mengamati wajah Lily, melihat bagaimana matanya terpejam lagi, desahan kecil keluar dari bibirnya yang bengkak. Memindahkan tangannya, Yuchen membiarkan jari-jarinya meluncur ke bawah, menyentuh paha bagian dalam Lily yang tertutup kain. Sensasi kehangatan dan kelembutan kulitnya sangat memikat. Lily terkesiap, punggungnya sedikit melengkung. Dia bisa merasakan gairahnya semakin membara, bukan hanya sebagai bagian dari misi, tetapi sebagai keinginan yang murni dan kuat. Jari-jari Yuchen bergerak semakin ke atas, mendekati area paling intim Lily. Dia merasakan kain basah di sana, tanda bahwa Lily sudah sangat bergairah. Dengan lembut namun pasti, Yuchen menyentuh klitoris Lily melalui kain sutra tipis. Gerakannya melingkar, memijat, dan sesekali menekan lembut. Lily menjerit kecil, suaranya tertahan di tenggorokan, tubuhnya bergetar hebat. Dia mencengkeram bahu Yuchen, kuku-kukunya sedikit menusuk kulit. "Oh... Yuchen..." desahnya, kepalanya menyandar di bahu Yuchen, napasnya memburu. Matanya terpejam rapat, bibirnya gemetar. Yuchen bisa merasakan seluruh tubuh Lily bergetar di bawah sentuhannya, tanda kenikmatan yang luar biasa. Dia melanjutkan pijatan jari-jarinya, meningkatkan tekanan dan kecepatan secara perlahan. Kenikmatan itu membuat Lily terus-menerus mendesah, suaranya semakin keras dan tak terkendali. Dia memelintir tubuhnya, mencoba mencari lebih banyak kontak, lebih banyak tekanan. Dia menginginkan Yuchen. Keinginan itu terpancar jelas dari setiap gerakannya, setiap suaranya. Yuchen tersenyum puas. Dia tahu dia berhasil. "Kau sangat indah, Lily," Yuchen berbisik di telinganya, suaranya parau karena gairah yang juga membara di dalam dirinya. "Kau membuatku gila." Dia terus memijat titik sensitif Lily, jari-jarinya bergerak dengan ahli, membuat Lily melengkung, menggerakkan pinggulnya dengan putus asa. Rasa bersalahnya terhadap Xiulan hampir sepenuhnya hilang, digantikan oleh keinginan primitif untuk memiliki Lily. Tubuh Lily menegang, bergetar hebat, dan kemudian dia menjerit pelan saat orgasme pertamanya menghantamnya. Tubuhnya ambruk di pelukan Yuchen, napasnya terengah-engah, matanya masih terpejam erat, bibirnya membentuk senyuman puas. Dia memeluk Yuchen erat, seolah tak ingin melepaskannya. Yuchen menunggunya menenangkan diri, mengusap punggungnya dengan lembut. Setelah beberapa saat, Lily mengangkat kepalanya, matanya masih sayu namun penuh gairah yang baru saja mereda. Dia menatap Yuchen dengan pandangan yang tak salah lagi berisi janji. Senyum nakal kembali tersungging di bibirnya. Dia mendekatkan bibirnya ke telinga Yuchen, napas hangatnya menerpa kulit Yuchen, mengirimkan gelombang geli. "Aku tahu tempat rahasia di istana. Temui aku malam ini, jika kau berani."

End of Chapter 18