Chapter 17 of 25

Chapter 17: Strategi Penyamaran

1.1k words

Udara malam menggigit kulit Yuchen. Bersembunyi di balik semak-semak, ia merasakan desiran darahnya sendiri, berdebar keras di telinganya. Hasrat yang terputus masih membakar di dalam dirinya, meninggalkan rasa panas yang berdenyut di bawah perutnya. Kontolnya yang besar masih berdiri tegak, memompa darah dengan penuh semangat, menuntut pelepasan yang tak kunjung datang. Geraman tertahan lolos dari tenggorokannya. Mengamati bayangan dayang-dayang yang bergerak di dalam paviliun Permaisuri, hatinya tercabik antara frustrasi dan kecemasan. Mereka begitu dekat, begitu rentan. Satu kesalahan kecil bisa menghancurkan segalanya. Keluar dari kegelapan semak, ia bergerak hati-hati. Langkah kakinya seringan bulu, melintasi taman istana yang sunyi. Dinginnya embun membasahi ujung sandalnya, namun panas di dalam dirinya tak kunjung padam. Pikirannya dipenuhi gambaran Xiulan, wajahnya yang memerah, bibirnya yang membengkak, dan erangan kecil yang hampir ia dengar. Memasuki kamarnya, Yuchen segera mengunci pintu. Ia menjatuhkan diri ke tempat tidur, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam kelembutan kasur. Namun, pikirannya menolak untuk beristirahat. Peristiwa di paviliun Permaisuri terus berputar di benaknya, sebuah pengingat akan bahaya yang mengintai. Bagaimana ia bisa lebih sering bersama Xiulan? Setiap pertemuan adalah risiko. Setiap sentuhan bisa menjadi bencana. Istana ini adalah sarang intrik, mata-mata bertebaran di setiap sudut. Mereka tidak bisa lagi bertindak sembrono. Mereka harus lebih cerdik. Desahan berat keluar dari paru-parunya. Matanya menatap kosong ke langit-langit, mencari jawaban yang tak kunjung datang. Hasrat fisik bercampur dengan kecemasan, menciptakan pusaran emosi yang melelahkan. Kontolnya masih berdenyut, mengeras di balik kain celananya, menjadi bukti nyata dari gairah yang terpendam. 'Sistem,' bisiknya dalam hati, 'Apa yang harus kulakukan? Bagaimana aku bisa melindungi Permaisuri dan diriku sendiri, sambil tetap bisa bersamanya?' Seketika, cahaya keperakan berkedip di benaknya. Suara mekanis Sistem bergema, dingin namun lugas. [Misi Sistem: Pastikan hubungan Anda dengan Permaisuri Xiulan tetap rahasia. Solusi: Misi Penyamaran Publik.] Alis Yuchen terangkat. 'Misi Penyamaran Publik? Apa maksudmu?' [Untuk mengalihkan perhatian dan mengurangi kecurigaan, Anda harus secara terbuka menunjukkan ketertarikan pada dayang istana lainnya. Ciptakan kesan bahwa Anda adalah pemuda genit yang mudah tertarik pada wanita mana pun di istana, kecuali Permaisuri Xiulan. Ini akan memberikan tabir pelindung bagi pertemuan rahasia Anda.] Degup jantung Yuchen seketika melambat. Dadanya terasa sesak. Menunjukkan ketertarikan pada wanita lain? Menggoda mereka? Membuat mereka percaya ia menginginkan mereka? Perasaan mual menyeruak. Bayangan Xiulan melintas di benaknya, senyumnya yang lembut, matanya yang penuh cinta. Bagaimana ia bisa melakukan itu padanya? Itu terasa seperti pengkhianatan, sebuah tusukan di hatinya sendiri. 'Tidak,' gumamnya, suaranya serak. 'Aku tidak bisa. Aku hanya ingin Permaisuri Xiulan. Aku tidak bisa berpura-pura tertarik pada wanita lain.' [Ini adalah satu-satunya cara, Xiao Yuchen. Kecurigaan terhadap Anda dan Permaisuri telah tumbuh. Jika Anda terus hanya berinteraksi dengannya secara sembunyi-sembunyi, atau menghindari wanita lain, itu justru akan menarik perhatian. Para dayang dan kasim akan mulai berbisik. Para selir akan iri. Bahkan Kaisar mungkin akan curiga.] Sistem melanjutkan penjelasannya, tanpa emosi, namun setiap kata terasa seperti palu yang menghantam kepalanya. [Dengan menampilkan diri sebagai 'pemuda genit', Anda akan menciptakan persepsi yang salah. Orang-orang akan melihat Anda sebagai seorang anak muda yang sedang mengeksplorasi gairahnya, tetapi tidak dengan fokus pada satu orang pun, terutama bukan Permaisuri. Ini akan mengalihkan pandangan mereka dari hubungan Anda yang sebenarnya.] Pikirannya berputar kencang. Yuchen merasakan perlawanan yang kuat di dalam dirinya. Dia telah berjanji pada Xiulan, pada dirinya sendiri, bahwa dia hanya menginginkannya. Semua hasratnya, semua fantasinya, terpusat pada Permaisuri Agung itu. Lalu, sekarang Sistem memintanya untuk mengkhianati janji itu, bahkan jika itu hanya sebuah sandiwara? Tetapi logika Sistem tidak bisa ia bantah. Kecurigaan memang telah tumbuh. Setiap tatapan, setiap bisikan, setiap langkah kaki yang mendekat, semuanya terasa seperti ancaman. Jika mereka tidak melakukan sesuatu, cepat atau lambat hubungan mereka akan terbongkar, dan konsekuensinya akan sangat mengerikan bagi Xiulan, mungkin juga bagi dirinya. Seorang dayang istana biasa mungkin akan dihukum mati karena berani menyentuh Permaisuri. Namun Yuchen adalah putra angkat Permaisuri. Statusnya memberinya sedikit perlindungan, tetapi tidak akan cukup jika skandal besar terkuak. Xiulan, sebagai Permaisuri, akan menghadapi aib yang tak terhingga, mungkin bahkan hukuman yang lebih kejam. Hasratnya untuk Xiulan begitu besar, begitu kuat, hingga mampu mengalahkan setiap keraguan. Ia menginginkannya lebih dari apa pun. Ia ingin merasakan kulitnya lagi, mencicipi bibirnya, mendengar erangannya di bawah tubuhnya. Dan jika untuk bisa terus melakukannya, ia harus menanggung beban pengkhianatan kecil ini, apakah itu sebuah harga yang terlalu mahal? Kelemahan menguasai tubuhnya. Yuchen memejamkan mata, membayangkan dirinya tersenyum pada dayang lain, mengucapkan kata-kata manis yang sebenarnya tidak ia maksudkan. Bayangan itu terasa menjijikkan. Bibirnya, yang hanya ingin mencium Xiulan, harus melontarkan rayuan kosong kepada wanita lain. Tangannya mengepal erat, kuku-kukunya menusuk telapak tangannya. Rasa bersalah mulai mencengkeram hatinya. Ini adalah bentuk pengkhianatan, tak peduli bagaimana Sistem membungkusnya. Pengkhianatan terhadap kepercayaan Xiulan, dan pengkhianatan terhadap perasaannya sendiri. Namun, di sisi lain, ia melihat ini sebagai satu-satunya cara untuk melindungi mereka berdua. Misi ini bukanlah tentang mencari kesenangan dengan wanita lain. Misi ini adalah perisai. Sebuah tameng yang akan menjaga rahasia mereka tetap aman, memungkinkan mereka untuk terus bersama di balik bayangan. Apa artinya beberapa senyuman dan kata-kata kosong, jika itu berarti ia bisa terus menikmati kehangatan tubuh Xiulan, merasakan kenikmatan surgawi yang hanya bisa ia berikan? Apa artinya sedikit rasa bersalah, jika itu berarti Xiulan tidak akan menghadapi murka Kaisar atau kecaman istana? Ketegangan memenuhi dadanya. Ia berbaring, mencoba memproses semua ini. Pagi sudah akan menjelang. Yuchen tahu ia tidak punya banyak waktu untuk memutuskan. Setiap hari yang berlalu tanpa rencana yang jelas adalah hari di mana risiko mereka meningkat. Ia memikirkan kembali momen-momen intimnya dengan Xiulan. Sentuhan tangannya yang lembut, ciuman panas yang membakar, gairah yang meledak-ledak. Kontolnya yang super besar, berurat dan tebal, telah membawa Xiulan pada orgasme beruntun, teriakan yang tertahan namun memekakkan telinga. Semua itu terlalu berharga untuk dipertaruhkan. Semua itu layak untuk dilindungi, bahkan dengan pengorbanan kecil dari harga dirinya. Memang, ia akan berinteraksi dengan dayang lain. Ia akan tersenyum. Mungkin ia akan mengucapkan pujian. Mungkin bahkan menyentuh tangan mereka sekilas. Tapi hatinya, jiwanya, dan tubuhnya yang paling dalam, akan selalu menjadi milik Xiulan. Perasaan campur aduk memenuhi dirinya: rasa bersalah yang menggerogoti, kebutuhan yang mendesak untuk melindungi, dan gairah yang tak tergoyahkan untuk satu-satunya wanita yang ia inginkan. Ini adalah ujian. Ujian bagi kesetiaannya, ujian bagi kecerdasannya, dan ujian bagi cintanya. Akhirnya, sebuah keputusan terbentuk di benaknya, seberat batu namun tak terhindarkan. Yuchen membuka matanya, menatap kegelapan yang mulai memudar menjadi fajar. Ia akan melakukannya. --- Yuchen memutuskan untuk menjalankan misi itu, tetapi ia bersumpah dalam hati untuk tetap setia kepada Permaisuri Xiulan, apa pun yang terjadi.

End of Chapter 17

Chapter 17: Chapter 17: Strategi Penyamaran - Anak Angkat Permaisuri | Novel AI Studio