Chapter 19 of 25
Permainan Api di Kamar Rahasia
1.6k words
Jantung Yuchen berdebar kencang di dadanya. Denyutnya menggema di telinga, memompa darah panas melalui setiap nadinya. Ingatan akan desahan Lily, sentuhan tangannya, dan ciuman lidahnya yang membakar masih terasa begitu nyata. Dia melangkah cepat menyusuri koridor belakang istana, bayangan malam menjadi penyamarannya yang sempurna. Udara dingin malam menusuk kulit, namun panas di dalam dirinya tak kunjung padam.
Setiap langkah terasa sangat hati-hati. Dia menghafal peta yang diberikan Lily, setiap belokan, setiap pilar yang bisa menjadi tempat persembunyian. Keheningan istana yang biasanya menenangkan kini terasa mencekam, seolah setiap suara kecil bisa mengkhianatinya. Tugas ini terasa jauh lebih berbahaya dari yang dibayangkan sebelumnya.
Sebuah rasa bersalah mulai merayap. Permaisuri... wajahnya terlintas di benak Yuchen. Dia adalah ibunya, ibu angkatnya, yang selalu memperlakukannya dengan kasih sayang. Tapi misi sistem ini, desakan hasrat yang membara di dalam dirinya, terasa seperti pengkhianatan yang tak termaafkan.
Namun, pikiran tentang tubuh Lily, janji kenikmatan yang terukir di matanya, terlalu kuat untuk diabaikan. Ini adalah bagian dari misinya. Dia harus mendekati setiap wanita istana, menghamili mereka, memenuhi persyaratan sistem yang kejam namun menggiurkan itu.
Lorong sempit itu berkelok tajam. Yuchen menahan napas, mengintip dari balik pilar batu. Tidak ada penjaga. Bagus. Lily memang merencanakan ini dengan sangat matang. Dia terus melangkah, kakinya bergerak otomatis, mengikuti naluri yang memandu menuju tempat tersembunyi.
Dia akhirnya tiba di sebuah pintu kayu sederhana, nyaris tak terlihat di antara dinding batu yang usang. Pintu itu tampak seperti bagian dari dinding, hanya sedikit celah yang membedakannya. Inilah kamar rahasia yang Lily tunjukkan padanya.
Pelan, Yuchen meraih gagang pintu. Dingin, namun ada sensasi listrik menjalari jemarinya. Dia memutar gagang itu hati-hati, tak ingin membuat suara sekecil apa pun. Pintu terbuka dengan derit halus yang nyaris tak terdengar, memperlihatkan kegelapan di dalamnya.
Udara di dalam terasa hangat, pengap, dan beraroma melati yang manis. Yuchen melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan gerakan cepat. Dia berada di sebuah ruangan kecil, remang-remang diterangi oleh beberapa lilin yang berkedip-kedip. Cahayanya menari-nari di dinding, menciptakan bayangan yang bergerak-gerak.
Di tengah ruangan, di atas sebuah tikar sutra tebal, Lily menunggunya. Dia berbaring miring, menopang kepalanya dengan satu tangan. Tubuhnya hanya dibalut selembar kain tipis berwarna merah muda, tembus pandang. Kain itu melengkung mengikuti lekuk tubuhnya yang indah, memperlihatkan garis payudara dan pinggul yang menggoda.
Bola mata Yuchen melebar. Gairah meluap, memenuhi setiap sudut tubuhnya. Keindahan Lily di bawah cahaya lilin itu terlalu memabukkan. Kain tipis itu nyaris tidak menyembunyikan apa pun, hanya mengundang imajinasi untuk merangkak lebih jauh.
Senyum nakal merekah di bibir Lily. Matanya berkilat penuh godaan, menatap lurus ke arah Yuchen. Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya membiarkan tatapannya berbicara. Itu adalah undangan yang tak terucapkan, sebuah janji kenikmatan yang tak terbantahkan.
Desahan tertahan keluar dari tenggorokan Yuchen. Dia tidak bisa menahan diri. Rasa bersalahnya meredup, tergantikan oleh gelombang hasrat yang membara. Langkahnya maju, cepat, menyeberangi jarak yang memisahkan mereka.
Lily terkesiap saat Yuchen menerjangnya. Bibirnya langsung menyambar bibir Lily, menciumnya dengan intensitas yang tak terduga. Ini bukan ciuman lembut lagi. Ini adalah ciuman yang haus, menuntut, penuh gairah yang lama tertahan. Lidah Yuchen menerobos masuk, bertarung dengan lidah Lily dalam tarian panas.
Ciuman itu semakin dalam, semakin liar. Yuchen mencengkeram pinggul Lily, menariknya hingga tubuh mereka menempel erat. Dia bisa merasakan kehangatan tubuh Lily yang tembus pandang, sentuhan kain tipis itu membelai kulitnya, meningkatkan sensasi.
Lily balas menciumnya dengan tak kalah panas. Tangannya merangkak naik ke tengkuk Yuchen, menariknya lebih dekat, seolah ingin menyatu dengannya. Desahan-desahan kecil lolos dari bibirnya, bercampur dengan suara kecupan basah mereka.
Jemari Yuchen mulai bergerak liar. Dia membelai punggung Lily, merasakan tulang punggungnya yang halus, lekukan pinggulnya yang montok. Kain tipis itu tidak menjadi penghalang, malah terasa seperti lapisan kedua kulit, memperkuat sensasi sentuhan.
“Nghh…” Lily mendesah, kepalanya sedikit mendongak, memberi Yuchen akses lebih baik ke lehernya. Yuchen memanfaatkannya, menciumi kulit lehernya yang lembut, menyesapnya, meninggalkan jejak basah yang membakar.
Tangannya terus menjelajah. Dari pinggul, dia naik ke paha bagian dalam Lily, membelai kulitnya yang selembut sutra. Jari-jarinya menelusuri lekukan di bawah kain tipis, semakin mendekati area terlarang. Lily bergetar di pelukannya, tubuhnya melengkung, merespons setiap sentuhan Yuchen.
“Pangeran…” suara Lily serak, nyaris tidak terdengar. Dia menarik diri sejenak dari ciuman, matanya berkabut oleh gairah. “Kau… kau membuatku gila.”
Yuchen tersenyum tipis, matanya gelap penuh hasrat. “Itu niatku, Lily. Membuatmu merasakan setiap inci kenikmatan yang bisa kuberi.”
Dia kembali menciumnya, kali ini lebih lembut, namun tak kalah memabukkan. Ciumannya turun ke dada Lily, mencicipi kulit di atas kain tipis yang menutupi payudaranya. Lily mengerang, punggungnya melengkung, mendorong dadanya lebih dekat ke bibir Yuchen.
Jari-jari Yuchen tak berhenti bekerja. Dia menyelipkan tangannya ke bawah kain, membelai kulit paha Lily yang mulus. Sensasi kehangatan kulitnya di bawah telapak tangannya begitu nyata, begitu menggoda. Dia merasakan bulu kuduk Lily meremang di bawah sentuhannya.
Perlahan, jari-jarinya naik, mendekati belahan di antara kedua pahanya. Lily tersentak, napasnya tercekat. “Ah…” sebuah desahan pelan keluar dari bibirnya, penuh antisipasi.
Ibu jari Yuchen mengusap perlahan di atas gundukan yang tersembunyi di balik kain, merasakan kelembaban yang sudah mulai membanjiri. Lily menjerit tertahan, tubuhnya berguncang hebat. Dia mencengkeram bahu Yuchen, kuku-kukunya sedikit menancap, menunjukkan betapa kuat gairah yang Yuchen bangkitkan.
“Cantik sekali,” bisik Yuchen di telinga Lily, suaranya parau. “Kau begitu mempesona, Lily. Membuatku ingin memilikimu seluruhnya.”
Rayuannya menembus ke dalam hati Lily, membuatnya semakin terbuai. Dia memejamkan mata, kepalanya bersandar di bahu Yuchen, membiarkan sentuhan Yuchen mengambil alih kendali.
Tangannya kini sudah masuk sepenuhnya ke dalam kain, membelai paha bagian dalam Lily dengan gerakan sensual. Dia merasakan kehangatan tubuh Lily, denyutan lembut di antara kedua kakinya. Jari-jarinya bermain-main di tepi kain, menggodanya, belum benar-benar masuk ke dalam.
Lily menggeliat. Dia tidak bisa menahan diri lagi. Rasa gatal, rasa terbakar di antara kedua kakinya menuntut lebih. “Pangeran… tolong…” Dia menarik tangan Yuchen lebih dalam, mengarahkannya ke tempat yang paling dia inginkan.
Sentuhan Yuchen langsung menemukan intinya. Jari-jarinya membelai klitoris Lily yang sudah membengkak, mengusapnya perlahan. Lily menjerit kecil, tubuhnya melengkung tajam. Sensasi itu terlalu hebat, terlalu memabukkan.
“Begitu basah,” bisik Yuchen, jarinya bermain-main di bibir vagina Lily. “Kau sudah sangat siap untukku, bukan?”
Lily mengangguk liar, air mata gairah membasahi pipinya. Dia tidak bisa bicara, hanya desahan-desahan yang lolos dari bibirnya. Dia merasakan jari-jari Yuchen yang ahli bergerak, memijat, mengusap, membangun sensasi yang kian memuncak.
Dan saat itu terjadi, saat Yuchen terus memijatnya dengan sentuhan jari-jari yang ajaib, Lily merasakan tubuhnya menegang. Sebuah gelombang kejut menjalar dari intinya, menyebar ke seluruh tubuhnya. Dia menjerit keras, orgasme pertamanya datang dengan kekuatan penuh, mengguncang tubuhnya hingga ke inti.
“Ah! Ah! AH!” Dia menjerit, punggungnya melengkung, pinggulnya terangkat dari tikar sutra. Sensasi itu berlangsung lama, bergelombang-gelombang, membuat kakinya gemetar tak terkendali. Yuchen terus memijatnya, memastikan setiap gelombang kenikmatan mencapai puncaknya.
Akhirnya, tubuh Lily mengendur, napasnya terengah-engah. Dia bersandar di dada Yuchen, tubuhnya lemas namun bergetar. Keringat membasahi dahinya, rambutnya menempel di pipi. “Ya Tuhan… Pangeran…” suaranya hanya berupa bisikan.
Yuchen tersenyum puas. Dia mencium kening Lily, mengusap rambutnya yang basah. “Itu baru permulaan, Lily.”
Dia menarik tangannya dari dalam kain, namun sensasi jari-jarinya masih membekas di kulit Lily. Lily menatapnya dengan mata sayu, penuh hasrat dan kekaguman. Dia tidak pernah merasakan kenikmatan seperti ini sebelumnya.
Lily merangkak naik, menempelkan tubuhnya lebih erat ke Yuchen. Dia bisa merasakan tonjolan keras di selangkangan Yuchen, di balik celananya. Sebuah senyum nakal kembali tersungging di bibirnya. Dia meraih tangan Yuchen, menempatkannya di atas ereksinya yang membengkak.
Kontol Yuchen yang super besar, tebal, dan berurat itu terasa keras memanjang di balik kain celananya. Lily meremasnya perlahan, merasakan panas dan kekerasannya yang luar biasa. Dia tahu ini akan menjadi permainan yang lebih berbahaya, lebih intens dari yang pernah dia bayangkan.
Sebuah gelombang rasa bersalah kembali menyapu Yuchen. Permaisuri… dia seharusnya tidak melakukan ini. Tapi sentuhan Lily, remasan tangannya pada kejantanannya yang mengeras, terlalu menggoda untuk ditolak. Hasratnya kini jauh melampaui rasa bersalahnya.
Dia memejamkan mata sejenak, menahan erangan. Kontolnya sudah sangat tegang, siap untuk meledak. Sentuhan Lily memicu gairah yang tak tertahankan, mengubahnya menjadi binatang buas yang haus akan kenikmatan.
Lily terkekeh pelan, bibirnya mendekat ke telinga Yuchen. “Kau sangat keras, Pangeran Kecil. Apakah kau ingin aku membebaskannya untukmu?” bisiknya, suaranya serak dan menggoda.
Yuchen membuka matanya, menatap Lily. Mata gadis itu berkilat-kilat nakal, penuh janji. Dia mengangguk, tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Lidahnya terasa kelu, otaknya dipenuhi kabut hasrat.
Lily dengan gerakan lambat dan sensual, mulai membuka ikat pinggang Yuchen. Jari-jarinya yang cekatan melepaskan ikatan, lalu menarik turun celana Yuchen sedikit demi sedikit. Setiap gerakan itu adalah siksaan sekaligus kenikmatan yang luar biasa bagi Yuchen.
Kejantanannya yang perkasa akhirnya terbebas. Begitu kontol Yuchen muncul, Lily tersentak. Dia memandanginya dengan mata terbelalak, takjub. Panjang 25 cm, tebal, dengan urat-urat menonjol yang berdenyut-denyut. Itu adalah pemandangan yang memukau, sebuah senjata kenikmatan yang luar biasa.
“Ya Tuhan…” gumam Lily, suaranya nyaris tak terdengar. “Ini… ini lebih besar dari yang kubayangkan.”
Dia menjilat bibirnya, matanya tak bisa lepas dari kontol Yuchen yang perkasa itu. Sebuah senyum nakal dan penuh nafsu kembali muncul di wajahnya. Dia mengangkat tangannya, menyentuh kepala kontol Yuchen yang memerah, mengelusnya perlahan.
Sentuhan itu membuat Yuchen berdesir, sebuah getaran listrik menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia menggigit bibir bawahnya, menahan erangan yang ingin keluar. Kontolnya berkedut di bawah sentuhan lembut Lily.
“Jadi, Pangeran Kecil,” Lily berbisik, mendekatkan wajahnya ke Yuchen, napasnya yang hangat menerpa kulit Yuchen. “Apakah kau siap untuk menjadi nakal bersamaku, Pangeran Kecil?”
Lily menarik Yuchen lebih dekat, matanya berkilat nakal, 'Apakah kau siap untuk menjadi nakal bersamaku, Pangeran Kecil?'