Chapter 16 of 25
Melarikan Diri dari Bahaya
1.2k words
Gemetar tubuh Xiulan terasa di sekujur kulit Yuchen. Napasnya memburu, bibirnya bergetar. Mereka baru saja mencapai puncak gairah, organ Yuchen masih berdenyut di dalam Permaisuri, saat suara langkah kaki terdengar di koridor luar. Keras, teratur, semakin mendekat. Jantung Yuchen mencelos. Matanya melebar, memandang Xiulan yang kini membeku di bawahnya. Ketakutan nyata merayap, membekukan setiap otot. Permaisuri Xiulan menekan tangannya ke mulut, meredam desahan yang hampir lolos. Bola matanya bergerak panik, menatap Yuchen seolah mencari jawaban, mencari jalan keluar. Mereka telah melewati batas. Terlarang. Tertangkap berarti kematian, atau lebih buruk. "Sst!" Yuchen berbisik, cepat. Otaknya bekerja kilat. Menarik diri dengan paksa dari kehangatan Xiulan yang basah, Yuchen mengabaikan denyutan hebat di pangkal selangkangannya. Ia harus bertindak. Sekarang. Menarik celananya, Yuchen bergerak secepat kilat. Matanya tertuju pada jendela di sisi kamar. Jendela itu terbuka sedikit, mengundang udara malam masuk. Xiulan hanya bisa menatap, tubuhnya masih lemas karena gairah yang terpotong. Keringat membasahi dahinya, rambutnya acak-acakan. Yuchen membuka jendela lebih lebar. Udara dingin langsung menerpa wajahnya. Ia tidak punya waktu untuk berpikir dua kali. Melompat, tubuhnya melesat keluar. Kakinya menapak rumput basah di luar dengan suara nyaris tak terdengar. Pintu kamar Xiulan mulai berderit. Gemetar. Yuchen bersembunyi di balik semak-semak besar yang tumbuh lebat di dekat dinding paviliun. Jantungnya berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya seolah ingin keluar. Napasnya tertahan di tenggorokan. Ia bisa merasakan aliran darah di telinganya. Dari celah daun, Yuchen melihat seorang dayang istana masuk. Dayang itu membawa nampan berisi teko porselen dan cangkir-cangkir. Teh malam Permaisuri. Sial. Frustrasi melanda Yuchen. Gairah yang membara, yang hampir mencapai puncaknya, kini terpotong brutal. Ia masih bisa merasakan kehangatan dan kebasahan Xiulan membalut kejantanannya beberapa detik lalu. Kontolnya masih keras, berdenyut-denyut, mengkhianati kebutuhan tubuhnya. Ia mengepalkan tangan, menekan giginya. Amarah dan kekecewaan bergejolak dalam dirinya, bercampur aduk dengan rasa lega yang tipis. Mereka selamat. Hampir. Dayang itu meletakkan nampan di meja kecil dekat ranjang. Wajahnya datar, tanpa ekspresi. Yuchen mengamati setiap gerakannya. Permaisuri Xiulan kini duduk di tepi ranjang. Ia meraih selimut, menutupi tubuhnya seolah baru terbangun dari tidur. Wajahnya pucat, tapi ia berusaha keras menyembunyikan kekacauan yang baru saja terjadi. Matanya bertemu pandang dengan dayang itu sejenak. Ada sedikit ketegangan di udara, namun dayang itu tidak menunjukkan tanda-tanda curiga. Syukurlah. Yuchen menghembuskan napas panjang, sangat pelan, memastikan tidak ada suara yang keluar. Dinding paviliun ini terbuat dari kayu yang cukup tipis. Suara-suara dari dalam bisa samar-samar terdengar jika seseorang cukup dekat dan hening. Ia harus diam. Mutlak diam. Dayang itu menuangkan teh ke dalam cangkir, uap mengepul tipis. Aroma melati menyeruak, menenangkan. Atau seharusnya. Bagi Yuchen, aroma itu justru terasa mencekik. Ia tidak bisa rileks. Permaisuri Xiulan meraih cangkir teh, menyesapnya perlahan. Gerakannya anggun, meskipun Yuchen tahu hatinya pasti bergemuruh hebat. Wanita itu memang seorang Permaisuri. Mampu mengendalikan diri bahkan dalam situasi paling genting. Pikirannya melayang, mengingat bagaimana Xiulan mengerang di bawahnya, bagaimana ia meremas pinggul permaisuri, mendorongnya lebih dalam. Rambutnya yang hitam terurai di bantal, pipinya memerah. Kenangan itu membuat kejantanan Yuchen semakin berdenyut. Ia benci harus berhenti. Benci harus bersembunyi seperti pencuri. Ia bukan pencuri. Ia adalah anak angkat Permaisuri. Ironis sekali. Dayang itu akhirnya membungkuk hormat. “Apakah Permaisuri membutuhkan hal lain?” suaranya lembut, nyaris tak terdengar. Permaisuri Xiulan menggelengkan kepalanya. “Tidak. Kau boleh pergi.” “Baik, Yang Mulia.” Langkah kaki dayang itu menjauh, kembali ke koridor. Yuchen menahan napas lagi. Ia menunggu, memastikan dayang itu benar-benar pergi. Terdengar suara pintu tertutup pelan. Hening. Yuchen tetap di tempatnya, menempel ke dinding paviliun, merasakan dinginnya batu bata di punggungnya. Ia belum berani bergerak. Bagaimana jika dayang itu kembali? Bagaimana jika ada penjaga patroli? Paranoid. Itu adalah harga yang harus dibayar untuk kenikmatan terlarang ini. Ia melihat ke atas, langit malam bertabur bintang tipis. Bulan sabit menggantung seperti senyuman tipis. Gelapnya malam memberinya perlindungan, namun juga meningkatkan ketegangannya. Yuchen menunggu beberapa menit lagi. Menit-menit yang terasa seperti jam. Jantungnya masih berdebar, namun intensitasnya mulai menurun. Adrenalinnya perlahan surut, digantikan oleh rasa lelah dan frustrasi yang mendalam. Ia mengusap wajahnya. Lengket oleh keringat dingin. Tubuhnya masih merasakan sensasi dari sentuhan Permaisuri. Bibirnya, lidahnya, jari-jarinya yang menyusuri lekuk tubuh Xiulan. Setiap detail terukir jelas di benaknya. Aroma tubuh Xiulan yang memabukkan, rasa bibirnya yang manis, erangannya yang mendesak. Gairah itu tidak padam. Hanya tertunda. Yuchen tahu, ia tidak akan bisa tidur tenang malam ini. Ia harus kembali ke kamarnya. Bagaimana caranya? Melompat kembali ke jendela? Terlalu berisiko. Mungkin ada dayang lain di dalam, atau Permaisuri sendiri masih waspada. Ia memutuskan untuk menunggu sedikit lebih lama. Membiarkan Xiulan menenangkan diri sepenuhnya. Mungkin ia bisa menyelinap masuk melalui pintu belakang paviliun. Pintu itu biasanya tidak terkunci sampai larut malam. Ia beringsut pelan, keluar dari balik semak-semak. Gerakannya sangat hati-hati, seperti kucing mengintai mangsa. Rumput basah mencium telapak kakinya yang telanjang. Udara malam dingin, menusuk kulitnya. Namun, rasa dingin itu tidak cukup untuk mendinginkan gairah yang masih membakar di dalam dirinya. Ia mengendap-endap menuju sisi paviliun, tempat pintu belakang berada. Pintu itu terbuat dari kayu gelap, berukiran sederhana. Tidak ada kunci yang terlihat. Yuchen mencoba memegang gagangnya. Berputar. Pintu terbuka dengan decitan pelan. Sial. Ia segera menutupnya kembali, menahan napas. Suara itu cukup untuk membangunkan seluruh paviliun. Beruntung tidak ada yang bereaksi. Ia mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka. Koridor di dalam gelap gulita. Tidak ada dayang. Tidak ada penjaga. Hanya kegelapan dan keheningan. Yuchen masuk, melangkah pelan, menutup pintu di belakangnya tanpa suara. Ia berada di koridor layanan, jarang dilewati. Lampu lentera redup di ujung koridor. Kakinya bergerak tanpa suara di atas lantai batu. Yuchen merasa seperti hantu. Ia harus kembali ke kamarnya, melewati lorong-lorong yang familiar namun terasa asing dalam kegelapan dan ketegangan ini. Setiap bayangan terasa seperti ancaman. Setiap suara kecil terasa seperti gong yang memekakkan telinga. Ia tiba di persimpangan koridor utama. Di sana, lentera menyala lebih terang. Yuchen mengintip. Kosong. Ia bergegas, melintasi persimpangan. Jantungnya berdebar kencang lagi. Ia melewati kamar-kamar dayang istana yang terlelap, melewati pintu kamar selir-selir yang tak terpakai. Akhirnya, ia mencapai pintu kamarnya sendiri. Berhenti. Menarik napas dalam-dalam. Ia membuka pintu, menyelinap masuk. Menutupnya kembali dengan hati-hati. Gelap. Yuchen bersandar di pintu, memejamkan mata. Lega. Ia berhasil. Namun, rasa lega itu hanya sesaat. Rasa frustrasi dan gairah yang terpotong kembali mendominasinya. Ia menatap kejantanannya yang masih keras, berdenyut-denyut di balik celana. “Sial,” desisnya. Permaisuri Xiulan. Wajahnya, tubuhnya, erangannya. Semuanya berputar di benaknya. Ia harus kembali padanya. Tidak bisa menunggu lama. Gairah yang intens itu tidak bisa dibiarkan menggantung. Yuchen membuka kembali pintu kamarnya, mengintip. Koridor kosong. Ia tidak bisa menahan diri. Kakinya melangkah kembali, diam-diam, menuju paviliun Permaisuri. Ia harus tahu bagaimana keadaan Xiulan. Dan ia harus menuntaskan apa yang sudah mereka mulai. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Ia kembali ke luar paviliun Permaisuri. Bersembunyi lagi di balik semak-semak. Jendela kamar Xiulan sudah tertutup rapat. Namun, Yuchen tahu Permaisuri ada di sana. Sendirian. Merasakan hal yang sama dengannya. Ia mendekat, menempelkan telinganya ke dinding kayu. Berharap mendengar sesuatu. Hanya keheningan. Ia menunggu. Lama sekali. Mungkin Xiulan sudah tidur. Mungkin ia sudah tenang. Tidak. Yuchen mengenal wanita. Terutama wanita yang baru saja hampir mencapai puncak kenikmatan. Ia tidak akan bisa tidur. Yuchen memejamkan mata, memfokuskan pendengarannya. Menjelajahi setiap suara kecil. Angin semilir. Jangkrik malam. Lalu, sebuah suara. Sangat pelan, nyaris tak terdengar. Desahan. Itu suara Permaisuri. Yuchen menajamkan indranya. Ia ingin mendengar lebih banyak. Desahan itu diikuti oleh bisikan. Kata-kata yang tercekat, penuh gairah dan kekesalan. Ia mendekat lagi, menekan telinganya lebih erat ke dinding. Dan Yuchen mendengar Xiulan mendesah lirih, “Anak nakal... kau membuatku gila,” dan ia tahu permaisuri menginginkannya lebih dari apapun.