Chapter 15 of 25

Chapter 15: Aksi Terlarang di Kamar Tidur

1.1k words

Udara malam terasa dingin menusuk, namun Anugerah Penyamaran menyelimuti Yuchen seperti jubah tak terlihat. Langkahnya ringan, tanpa suara, menembus koridor-koridor istana yang sepi. Malam ini adalah kesempatannya. Malam ini, ia akan mendekati Xiulan. Memasuki sayap Permaisuri, indra Yuchen menajam. Ia bisa merasakan aura kesepian yang menguar dari balik pintu kamar tidur Xiulan. Sebuah desahan lembut, nyaris tak terdengar, mengkonfirmasi firasatnya. Pintu terbuka perlahan, seolah ditiup angin. Yuchen melangkah masuk, membiarkan keheningan ruangan menyambutnya. Aroma melati dan kayu cendana mengisi paru-parunya, aroma khas Permaisuri yang selalu membangkitkan hasrat terpendamnya. Pandangan Yuchen langsung tertuju pada tempat tidur besar di tengah ruangan. Di sana, Xiulan terbaring menyamping, memunggungi pintu. Gaun tidur sutra putihnya sedikit tersingkap, memperlihatkan lengkungan pinggangnya yang ramping. Rambut hitam legamnya terurai, sebagian menutupi wajahnya, sebagian lagi tersebar di bantal. Sebuah kesedihan mendalam terpancar dari setiap sudut tubuhnya. Bahunya sedikit melengkung, seolah menanggung beban dunia. Yuchen bisa melihat punggungnya naik turun dengan ritme yang tak teratur, menandakan ia mungkin baru saja menangis, atau sedang menahan air mata. Memandanginya seperti itu, hati Yuchen mencelos. Hasratnya untuk melindungi wanita ini semakin membuncah. Ia ingin menghapus setiap kesedihan dari wajah cantik itu, menggantinya dengan ekstasi dan kebahagiaan. Perlahan, Yuchen mendekat. Kakinya tak bersuara di atas karpet tebal. Setiap langkahnya penuh kehati-hatian, sebuah tarian rahasia di dalam keheningan malam. Ia berhenti di sisi tempat tidur, menatap paras Xiulan yang tersembunyi. Jemarinya terangkat. Sangat lembut, ia menyentuh untaian rambut Xiulan yang menutupi pipinya. Rambut itu selembut sutra, dingin di bawah sentuhannya. Yuchen menggesernya perlahan, ingin melihat wajah permaisuri sepenuhnya. Xiulan menggeliat kecil, kelopak matanya sedikit berkedut. Sebuah napas tertahan keluar dari bibir Yuchen. Apakah ia terlalu gegabah? Apakah penyamarannya sudah tidak bekerja? Tidak. Xiulan hanya menyesuaikan posisinya, masih terlelap dalam kesedihannya. Wajahnya kini terlihat jelas. Mata yang sedikit bengkak, jejak air mata kering di pelipisnya. Bibirnya yang biasanya merah merekah, kini pucat dan sedikit melengkung ke bawah. Napasnya teratur, namun Yuchen bisa merasakan kegelisahan yang memancar darinya. Ia ingin membangunkannya, namun tidak dengan cara yang mengejutkan. Ia ingin membangunkannya dengan sentuhan, dengan kehangatan yang akan menghapus kesedihan itu. Jari-jari Yuchen membelai lembut kulit di belakang telinga Xiulan, menyusuri garis rahangnya. Sebuah sentuhan yang begitu intim, begitu pribadi. Permaisuri sedikit tersentak. Kelopak matanya terbuka perlahan, mengungkapkan sepasang mata cokelat gelap yang indah. Terkejut. Itulah ekspresi pertama yang terlihat. Matanya melebar, napasnya tertahan. Ia tidak berteriak, tidak panik. Hanya menatap Yuchen dengan kebingungan, seolah ia adalah hantu yang muncul dari kegelapan. "Yuchen?" Suaranya begitu pelan, nyaris tak terdengar, sebuah bisikan yang memecah keheningan. Ia mencoba duduk, namun Yuchen menahan bahunya dengan lembut, membiarkannya tetap terbaring. "Shhh..." Yuchen berbisik, mendekatkan wajahnya. Ia melihat gurat keterkejutan di mata Xiulan berganti menjadi sesuatu yang lain. Sebuah kilatan hasrat, sebuah kerinduan yang tersembunyi dalam tatapannya. Sentuhannya tidak lagi hanya lembut. Jari-jari Yuchen menyelinap ke bawah gaun tidur sutra, membelai punggung mulusnya. Kulitnya terasa hangat, halus. Sebuah getaran halus menjalari tubuh Xiulan. "Apa yang kau lakukan di sini?" bisiknya lagi, namun suaranya kini bergetar, lebih karena gairah daripada ketakutan. Pipinya merona tipis, matanya mulai berkaca-kaca, bukan karena sedih, melainkan karena gejolak emosi yang Yuchen ciptakan. "Aku datang untukmu, Xiulan," jawab Yuchen, suaranya dalam, penuh janji. Ia membungkuk, menanamkan ciuman lembut di leher jenjang permaisuri. Bibirnya terasa panas di kulitnya yang dingin, membakar jejak gairah. Xiulan mendesah, lehernya melengkung ke belakang, memberikan akses lebih. Jari-jari Yuchen kini bergerak lebih berani, mengaitkan tali gaun tidur yang melingkar di bahunya. Dengan gerakan mulus, ia menariknya turun. Kain sutra itu meluncur dari bahu Xiulan, memperlihatkan lekuk indah tulang selangkanya, kemudian payudaranya yang montok. Napas Xiulan terkesiap. Matanya memejam. Yuchen menatap pemandangan itu, jantungnya berdetak kencang. Payudara Xiulan yang membusung, putingnya yang sudah menegang, memanggil-manggil sentuhannya. Sebuah hasrat purba bangkit dalam dirinya. Gaun tidur itu kini hanya menutupi pinggangnya, memperlihatkan seluruh kemolekan tubuh bagian atas Xiulan. Yuchen mendekatkan wajahnya, menjilat putingnya yang keras, merasakan rasa manis bercampur asin yang memabukkan. Xiulan melengkung, punggungnya terangkat dari kasur. "Ahhh..." erangan panjang, tertahan, keluar dari bibirnya. Ia mencengkeram sprei dengan jemarinya, buku-buku jarinya memutih. Sensasi lidah Yuchen yang memilin dan menghisap putingnya membuat seluruh tubuhnya menggeliat. Yuchen terus bekerja, beralih ke puting yang lain, mengisapnya dengan rakus, seolah tak ada hari esok. Desahan Xiulan semakin dalam, semakin sering. Ia mengangkat kakinya sedikit, menggesekkan pahanya satu sama lain, sebuah tanda tak terbantahkan dari gairah yang membara. Perlahan, Yuchen turun. Bibirnya menjelajahi perut rata Xiulan, merasakan kehangatan kulitnya. Ia menelusuri garis pinggulnya, menuju pusat gairah wanita itu. Sebuah tangan Yuchen memegang erat pinggang Xiulan, tangan yang lain meraih ke bawah, meraba bagian dalam pahanya. Gaun tidur itu kini hanya menyisakan kerutan di pergelangan kakinya. Xiulan sudah sepenuhnya telanjang di hadapannya. Yuchen menyingkap helai rambut kemaluan yang gelap, memperlihatkan harta karunnya yang tersembunyi. Memek Xiulan sudah basah. Kehangatan yang memancar darinya begitu menggoda, begitu memanggil. Yuchen tersenyum tipis, merasakan denyutan di selangkangannya. Ia tahu, Xiulan sudah siap. Lidahnya menyentuh klitoris Xiulan. Sebuah sentuhan lembut, namun mematikan. Xiulan menjerit. Bukan jeritan panik, melainkan jeritan ekstasi yang tertahan. Tubuhnya melengkung tajam, pinggulnya terangkat, mencari sentuhan Yuchen lebih dalam. "Ohh, Yuchen..." bisiknya, suaranya serak karena gairah. Jemarinya menarik rambut Yuchen, membenamkan wajahnya lebih dalam. Yuchen patuh. Ia menjilati memek Xiulan dengan ganas, merasakan kehangatan dan kebasahannya yang luar biasa. Lidah Yuchen menari-nari di atas klitorisnya, mengisapnya, memilinnya, kemudian turun ke labia, menjilat setiap lekukannya. Aroma musk yang khas bercampur dengan manisnya cairan gairah membanjiri indra penciuman Yuchen. Ia semakin liar, semakin brutal. "Aahhh! Lebih dalam!" Xiulan berteriak, pinggulnya bergerak tak terkendali. Kakinya mengait di bahu Yuchen, menariknya lebih dekat. Ia ingin setiap sentuhan, setiap jilatan Yuchen. "Kau sangat basah, Permaisuri," bisik Yuchen di sela-sela jilatannya, melampiaskan sisi nakalnya. "Sangat basah untukku." Ia menghisap klitorisnya lagi, sangat kuat, membuat Xiulan menjerit keras, punggungnya melengkung seperti busur. "Yuchen! Aku... aku..." Suaranya pecah. Tubuhnya bergetar hebat. Orgasmenya datang begitu cepat, begitu kuat. Ia meremas rambut Yuchen lebih erat, air mata kebahagiaan membasahi pelipisnya. Seluruh tubuhnya tegang, kemudian lemas, membiarkan gelombang nikmat menguasainya. Yuchen terus menjilatinya, memastikan setiap tetes cairan gairah Xiulan tidak terlewatkan. Ia ingin Permaisuri merasakan nikmat yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Setelah beberapa saat, Xiulan kembali ke permukaan, napasnya terengah-engah. "Kau luar biasa, Yuchen," bisiknya, matanya setengah terpejam, wajahnya memerah karena gairah. "Aku tidak pernah..." Ia tak sanggup melanjutkan, terlalu diselimuti kenikmatan yang baru saja ia rasakan. "Itu baru permulaan, Permaisuri," Yuchen menjawab dengan seringai. Ia mengangkat kepalanya sedikit, menatap mata Xiulan yang masih dipenuhi kabut gairah. "Masih banyak lagi yang akan kuberikan padamu." Perlahan, Yuchen bangkit, mencondongkan tubuhnya di atas Xiulan. Ia ingin mencium bibir itu, merasakan manisnya setelah gairah yang membara. Namun, tiba-tiba, sebuah sensasi aneh menjalar di kulitnya. Dingin. Sebuah getaran halus. Anugerah Penyamaran... Yuchen merasakan kekuatannya mulai memudar. Detak jantungnya berpacu, mengiringi alarm bahaya yang tiba-tiba berdentang di kepalanya. Ia sadar, seseorang akan masuk ke kamar kapan saja.

End of Chapter 15

Chapter 15: Chapter 15: Aksi Terlarang di Kamar Tidur - Anak Angkat Permaisuri | Novel AI Studio