Chapter 13 of 25

Chapter 13: Sentuhan di Taman Rahasia

1.3k words

Desiran angin dingin menerpa wajah Xiao Yuchen. Langkahnya senyap, menyusuri lorong tersembunyi istana. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena ketakutan, melainkan antisipasi. Pesan darurat dari Xiulan. Kecemasan menusuk, namun ada juga gairah yang berdenyut di nadinya. Ia harus cepat. Ia harus ada untuknya. Ini adalah perintah sistem, juga panggilan hatinya. Memasuki gerbang kayu yang tersembunyi di balik rumpun bambu, Yuchen menyelinap ke dalam Taman Rahasia. Udara di sini terasa berbeda, lebih lembap dan sepi. Hanya suara gemericik air dari kolam kecil yang memecah keheningan. Aroma melati dan kamboja menguar, bercampur dengan bau tanah basah. Sebuah tempat pelarian, atau mungkin kini, sebuah sangkar emas. Bayangan ramping terlihat di bawah pohon willow tua, di tepi kolam. Rambut hitam panjangnya tergerai, disapu angin malam. Sosok Permaisuri Xiulan. Ia mengenakan gaun sutra berwarna ungu gelap, menyatu dengan kegelapan. Posturnya tegang, bahunya sedikit membungkuk. Bahkan dari jauh, Yuchen bisa merasakan kegelisahan yang memancar darinya. Menghampirinya perlahan, Yuchen melangkah tanpa suara. Daun-daun kering di bawah kakinya tidak bergemerisik. Matanya menatap punggung Xiulan, merasakan beban yang dipikul wanita itu. Keagungan seorang permaisuri, kini diliputi ketakutan. Perutnya bergejolak, campuran proteksi dan hasrat. "Permaisuri?" Bisik Yuchen, suaranya lembut, berusaha tidak mengejutkan. Ia berhenti beberapa langkah di belakangnya. Xiulan tersentak. Bahunya menegang lebih jauh, lalu perlahan mengendur saat ia berbalik. Mata indahnya membelalak, diliputi bayangan, namun segera mengenali Yuchen. Nafas lega terlepas dari bibirnya yang pucat. Terang bulan menerangi wajahnya, menunjukkan garis-garis cemas di sudut matanya. Ia tampak rapuh, sangat berbeda dari sosok anggun yang biasanya. Bibirnya sedikit bergetar. "Yuchen," desisnya, suaranya nyaris tak terdengar, seperti hembusan angin. Ia mengulurkan tangan, lalu menariknya kembali, seolah takut disentuh. Matanya memindai sekeliling, penuh kewaspadaan. Melangkah mendekat, Yuchen mengamati setiap detail ekspresinya. Kekalutan memenuhi sorot matanya. "Ada apa? Apa yang terjadi?" Yuchen bertanya, suaranya rendah dan menenangkan. Kekhawatiran nyata terlukis di wajahnya, berusaha menutupi gejolak lain di dalam dirinya. Xiulan menunduk, jari-jarinya saling meremas. "Kaisar... ia mulai mencurigai." Ucapannya terputus-putus, seolah setiap kata adalah beban berat. "Ia... ia bertanya tentang waktu-waktu luangku. Tentang alasanku sering menyendiri." Suaranya hampir pecah. Ketakutan yang nyata terpancar dari setiap pori-porinya. Degup jantung Yuchen berpacu. Kecurigaan Kaisar. Ini buruk. Jauh lebih buruk dari yang ia bayangkan. Sistemnya telah memberinya petunjuk, tetapi mendengar langsung dari Xiulan membuat realitasnya terasa jauh lebih berat. Mereka berdua dalam bahaya jika ketahuan. "Mencurigai apa?" Yuchen mendesak, suaranya lebih tajam. Ia ingin tahu sejauh mana Kaisar tahu atau menduga. Apakah ini hanya kecurigaan umum, atau ada bukti yang ia pegang? Yuchen melangkah maju, kini hanya berjarak satu lengan darinya. Aroma tubuh Xiulan yang lembut, perpaduan bunga dan rempah, mulai menyeruak, memancing indra Yuchen. "Ia tidak mengatakannya secara langsung," jawab Xiulan, mengangkat pandangannya. Matanya memohon, dipenuhi ketakutan. "Tapi tatapannya... penuh pertanyaan. Ia bahkan memerintahkan beberapa pengawal untuk lebih 'memperhatikan' paviliunku." Xiulan berbisik, mendekat sedikit, seolah suara itu sendiri bisa bocor ke telinga yang tidak diinginkan. Tubuhnya sedikit menggigil. Pengawal. Itu artinya pengawasan ketat. Setiap gerak-gerik Xiulan akan dipantau. Pertemuan rahasia mereka akan menjadi semakin sulit, bahkan nyaris mustahil. Keringat dingin mulai membasahi punggung Yuchen. Risiko semakin tinggi, namun begitu pula taruhannya. Keinginan untuk melindunginya, untuk menjaganya tetap aman, membakar dalam dirinya. "Jangan khawatir, Permaisuri." Yuchen mengulurkan tangan, memegang lembut jemarinya yang dingin. Kulitnya terasa halus, namun ada getaran halus yang menjalar di sana. "Kita akan mencari cara. Kita akan melewati ini bersama." Suaranya tegas, penuh keyakinan yang ia sendiri berusaha yakinkan. Sentuhan itu seperti percikan api di tengah kegelapan. Jemarinya begitu kecil dalam genggaman Yuchen yang lebih besar. Ia mulai memijat ibu jari Xiulan, perlahan, memutar-mutar sendinya. Kemudian, ia beralih ke telapak tangannya, menekan titik-titik tertentu dengan lembut. Xiulan mendesah pelan, matanya terpejam sesaat, menikmati sentuhan itu. Rasa dingin di jemarinya mulai menghilang, digantikan oleh kehangatan yang menjalar. Sentuhan Yuchen memang ajaib. Setiap tekanan jari-jarinya seolah meredakan ketegangan yang menumpuk di bahu Xiulan, di hatinya. Desahan demi desahan lembut keluar dari bibirnya. Ia tidak menarik tangannya, bahkan sebaliknya, ia mengenggam balik jemari Yuchen, sedikit lebih erat. Kehangatan itu menjalar dari telapak tangan mereka, naik ke lengan, dan menyebar ke seluruh tubuhnya. Pandangan Xiulan bertemu dengan mata Yuchen. Dalam kegelapan, matanya berkilau, memancarkan campuran ketakutan yang masih ada dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih dalam. Hasrat. Keinginan yang terpendam, yang selama ini terkunci di balik dinding gelar permaisuri dan bahaya yang mengintai. Kilatan itu, singkat namun intens, tidak luput dari pandangan Yuchen. Ia melihatnya, merasakan resonansinya. Sensasi listrik mengalir di antara mereka. Meski situasinya genting, meski bahaya mengintai, daya tarik di antara mereka tak bisa diabaikan. Sentuhan tangan itu menjadi jembatan antara hati mereka, menghubungkan kekhawatiran dengan gairah. Yuchen terus memijat, ibu jarinya mengelus lembut punggung tangan Xiulan. Ia merasakan nadi di pergelangan tangannya berdenyut lebih cepat. "Aku... aku tidak tahu harus berbuat apa, Yuchen," bisik Xiulan, suaranya kini lebih stabil, namun dengan nada sensual yang mulai muncul. Matanya yang gelap menatapnya lekat, seolah mencari jawaban, mencari kekuatan. Jemarinya bermain-main dengan jari Yuchen, menyentuh, mengelus, menarik. Sebuah tarian kecil yang penuh makna di tengah kegelapan. "Kita akan memikirkannya," Yuchen berjanji, suaranya parau. Ia mencondongkan tubuh sedikit. Aroma Xiulan semakin kuat, memabukkan. Keharuman tubuhnya, bercampur dengan kelembapan malam, menciptakan aura yang memikat. Ia ingin menariknya lebih dekat, memeluknya, menciumnya, melenyapkan semua ketakutannya dengan sentuhan bibirnya. Namun, ia menahan diri. Belum saatnya. Mereka berada di taman yang, meski rahasia, masih di dalam istana. Risiko terlalu besar. Ia harus mempertahankan akal sehatnya, demi Xiulan. Meskipun tubuhnya memberontak, menginginkan lebih. Kontolnya di balik celana sudah menegang, membesar, berurat, panas, mengingat setiap sentuhan sebelumnya. Bayangan bibir Xiulan yang memerah dan tubuhnya yang melengkung memenuhi benaknya. "Kita tidak bisa bertemu terlalu sering, kan?" Xiulan bertanya, kecemasan kembali merayap di suaranya. Ia menarik tangannya dari Yuchen, meskipun enggan. Kehangatan yang baru saja terbentuk mulai memudar, digantikan oleh kegelisahan. Ia mundur satu langkah, menciptakan jarak yang terasa menyakitkan bagi Yuchen. "Kita harus lebih hati-hati," Yuchen mengakui, suaranya berat. "Tapi aku akan menemukan cara. Aku akan selalu menemukan cara untukmu, Permaisuri." Sebuah janji yang ia ukir di hatinya. Ia tidak akan membiarkannya sendirian dalam ketakutan ini. Ia tidak akan membiarkan Kaisar menyakitinya. Ia bertekad, tekadnya membara. Xiulan mengangguk, sorot matanya menunjukkan kepercayaan, bercampur dengan kesedihan. Ia mengangkat tangannya, menyentuh pipi Yuchen sekilas, sentuhan yang begitu ringan hingga nyaris tak terasa, namun meninggalkan jejak panas. "Kau... kau anak yang baik." Bisiknya, senyum tipis, pahit, terukir di bibirnya. Sebuah senyum yang membuat hati Yuchen berdenyut. Ia ingin mengubah senyum pahit itu menjadi senyum gembira, penuh kepuasan. "Aku bukan hanya anak yang baik untukmu, Permaisuri," Yuchen membalas, suaranya rendah, menggoda. Matanya menelusuri bibir Xiulan yang penuh, kemudian turun ke lehernya yang jenjang. Hasratnya tidak bisa disembunyikan lagi, terpancar jelas di sorot matanya yang membara. Ia tahu Xiulan bisa merasakannya, bisa membacanya. Xiulan menelan ludah, matanya berkilat lagi dengan hasrat yang sama. Jeda. Ketegangan memenuhi udara di antara mereka. Jelas bahwa mereka berdua merasakan daya tarik yang sama kuatnya, bahkan dalam situasi yang paling berbahaya sekalipun. Keheningan taman terasa semakin berat, diisi oleh detak jantung mereka yang berpacu. "Aku harus kembali," Xiulan berbisik, memecah keheningan. Ia terlihat enggan, tubuhnya sedikit gemetar. "Sudah terlalu lama aku di sini." Rasa takut kembali menaungi ekspresinya, mengambil alih sedikit dari gairah yang sempat muncul. Ia memalingkan wajah, seolah tidak sanggup menatap Yuchen lebih lama lagi. "Hati-hati," Yuchen mengingatkan, suaranya penuh perhatian. Ia tidak bisa lagi menyentuhnya, namun pandangannya mengikutinya setiap langkah. Ia ingin memastikan Xiulan aman, bahkan jika itu berarti harus menahan diri dari hasrat yang membara. Keamanannya adalah prioritas utama, meskipun kontolnya berdenyut nyeri karena penolakan. Xiulan mengangguk, melangkah mundur perlahan. Ia berbalik, menuju jalan setapak yang membawanya kembali ke paviliun. Yuchen melihat punggungnya, rapuh namun anggun, perlahan menghilang di antara rimbunnya tanaman. Ada rasa sesak di dadanya, perpisahan singkat ini terasa seperti sebuah siksaan. Ia berbalik, bersiap untuk pergi, saat suara Xiulan menghentikannya. Suara itu begitu pelan, nyaris seperti bisikan angin, namun cukup untuk mencapai telinganya. Xiulan menoleh lagi, tatapannya lekat, penuh makna. Sebuah senyum tipis, lebih nakal dari sebelumnya, bermain di bibirnya yang kini lebih merah. Matanya berkilat, penuh janji dan bahaya yang memikat. "Aku percaya padamu, anakku. Kau harus membantuku melewati ini... dan mungkin, kita bisa bermain sedikit sebelum itu."

End of Chapter 13