Keringat dingin membasahi punggung Yuchen. Ancaman itu terasa lebih nyata setiap detik, merayap di bawah kulitnya seperti serangga beracun. Malam sebelumnya, bayangan itu... apakah itu hanya angin, ataukah mata-mata yang mengawasinya? Ia tidak bisa tenang.
Firasat buruk mencekiknya. Setiap sudut istana terasa mengawasi, setiap bisikan terdengar seperti tuduhan. Setelah insiden catatan anonim itu, paranoia menjadi teman setianya, berbisik tentang bahaya yang tak terlihat.
Beberapa hari berlalu, kegelisahan Yuchen tak kunjung mereda. Obrolan bisik-bisik dari para dayang dan kasim mulai terdengar, seolah angin membawa racun yang perlahan menggerogoti. Ia mencoba tidak mendengarkan, tetapi telinganya menangkap serpihan-serpihan informasi yang tak bisa diabaikan.
“Permaisuri Xiulan semakin sering menyendiri,” bisik seorang dayang, tangannya menutupi mulutnya, matanya melirik cemas ke sekeliling. Yuchen, yang kebetulan lewat di koridor dekat taman, menegang.
Dayang lain mengangguk. “Kaisar sendiri mulai menanyakan keberadaannya. Katanya, Yang Mulia terlihat murung akhir-akhir ini. Curiga, mungkin?”
Jantung Yuchen berdebar kencang. Firasat buruk yang selama ini mengendap, kini melonjak naik, mencengkeram dadanya. Ini salahnya. Semua ini karena dirinya. Xiulan, Permaisuri yang mulia, kini terjerat dalam bahaya karena hasrat terlarang mereka. Ia telah menyeret Xiulan ke dalam pusaran intrik istana.
Pipinya memerah, bukan karena malu, melainkan karena amarah pada dirinya sendiri. Ia telah terlalu ceroboh, terlalu terbuai dalam kenikmatan. Bagaimana bisa ia sebodoh itu? Xiulan tidak pantas mendapatkan ini. Ia harus mencari cara agar Xiulan tidak dicurigai, bahkan jika itu berarti ia harus mengambil risiko yang lebih besar. Melindunginya adalah prioritas utama.
Sore itu, Yuchen menemukan Xiulan di taman pribadi, duduk di tepi kolam lotus, tatapannya kosong. Aura kesedihan memancar darinya, membuatnya terlihat rapuh. Hati Yuchen mencelos melihatnya. Ia harus bicara dengannya.
Pelan-pelan, Yuchen mendekat. “Yang Mulia,” panggilnya lembut. Xiulan tersentak, menoleh, matanya melebar saat melihatnya. Sedetik kemudian, ekspresi leganya tak terbantahkan, namun segera digantikan oleh kecemasan.
“Yuchen,” bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. “Kau seharusnya tidak di sini. Ini terlalu berbahaya.”
Yuchen duduk di sampingnya, menjaga jarak, namun tangannya ingin sekali meraihnya. “Aku tahu. Tapi aku melihatmu, Yang Mulia. Ada apa?”
Xiulan menunduk. “Kaisar… dia semakin sering memanggilku. Menanyakan apa yang kulakukan di waktu luangku. Para dayang… mereka memperhatikanku setiap saat. Aku merasa tercekik.”
Suaranya bergetar, dan Yuchen bisa melihat setitik air mata menggenang di sudut matanya. Ia tak tahan melihat Xiulan menderita. “Maafkan aku, Yang Mulia,” bisik Yuchen, penyesalan menusuknya.
“Bukan salahmu,” sanggah Xiulan cepat, mendongak, tatapannya bertemu dengan Yuchen. Ada kerinduan yang mendalam di sana, bercampur ketakutan. “Kita sama-sama menginginkannya.”
Hasrat yang membara di antara mereka tak pernah padam, bahkan di tengah bahaya yang mengintai. Justru, ketegangan ini semakin mengobarkan api di dalam diri mereka. Yuchen tahu ia tidak bisa meninggalkannya seperti ini. Xiulan membutuhkan sentuhannya, kehangatannya, pelariannya, walau sejenak.
“Ikut aku,” kata Yuchen, bangkit. Ia mengulurkan tangannya. Xiulan ragu sesaat, lalu meraihnya, jemarinya saling bertautan. Kehangatan yang familiar mengalir di antara mereka. Mereka menyelinap melewati jalur tersembunyi, menuju paviliun kecil yang jarang digunakan di ujung taman, jauh dari pandangan.
Begitu pintu tertutup, Yuchen segera memeluknya, menariknya ke dalam dekapan erat. Xiulan membalas pelukannya, menenggelamkan wajahnya di dada Yuchen, isakan tertahan keluar dari bibirnya. “Aku takut, Yuchen. Sangat takut.”
“Jangan takut,” bisik Yuchen, mencium puncak kepalanya, lalu turun ke pelipisnya, pipinya. “Ada aku di sini. Aku akan melindungimu. Selalu.”
Bibir Yuchen menemukan bibir Xiulan, menyatukannya dalam ciuman yang dalam dan penuh emosi. Ciuman itu adalah janji, kenyamanan, dan hasrat yang tak terbendung. Lidahnya menyusup masuk, menari-nari dengan lidah Xiulan, memabukkan, membangkitkan gairah yang sudah lama terpendam di antara mereka.
Xiulan mengerang, tangannya mencengkeram jubah Yuchen, menariknya semakin dekat seolah ingin melebur menjadi satu. Ciuman Yuchen semakin intens, rahangnya sedikit mengeras, menahan desakan emosi yang membuncah. Ia ingin menghapus semua ketakutan Xiulan, menggantikannya dengan gelombang kenikmatan yang luar biasa.
Perlahan, Yuchen merendahkan tubuhnya, membawa Xiulan bersamanya ke sofa panjang yang empuk. Ia tidak melepaskan ciuman mereka, membiarkan bibir mereka terus bertautan seiring tubuh mereka bergerak. Tangan Yuchen bergerak gesit, membuka ikatan jubah Xiulan, memperlihatkan bahu halusnya, kulit porselen yang selalu memikatnya.
“Kau cantik sekali, Yang Mulia,” bisik Yuchen di sela ciuman, matanya memancari kekaguman. “Sangat cantik.”
Jubah Xiulan melorot ke lantai, memperlihatkan gaun tipis di baliknya. Yuchen melepaskan jepit rambut Xiulan, membiarkan rambut hitamnya tergerai indah di sekitar mereka, seperti air terjun gelap. Ia menyelipkan tangannya ke balik gaun Xiulan, menyentuh punggungnya yang mulus, jemarinya menelusuri lekukan tulangnya.
“Ahhh…” Xiulan mendesah, punggungnya melengkung, merasakan sentuhan Yuchen yang selalu berhasil membakar hasratnya. Gaun itu segera menyusul jubahnya, meninggalkan Xiulan hanya dengan pakaian dalam tipis. Yuchen memandangnya, matanya menggelap karena gairah yang membara.
“Aku menginginkanmu, Sayang,” bisik Yuchen, suaranya serak. Ia menunduk, mencium leher Xiulan, menyesap kulitnya dengan lembut, meninggalkan jejak kemerahan yang samar. Xiulan mendongak, matanya terpejam, menikmati setiap sentuhan yang diberikan Yuchen.
“Aku juga… Yuchen,” desahnya, menarik wajah Yuchen mendekat, mencium bibirnya lagi, kali ini dengan lebih mendesak. “Cepatlah. Aku tak tahan lagi.”
Yuchen tidak menunggu lama. Ia segera menanggalkan jubah dan pakaian dalamnya, memperlihatkan kejantanannya yang perkasa. Kontolnya yang super besar, tebal, dan berurat, menegang sempurna, mencuat ke atas, siap untuk memuaskan permaisuri. Panjangnya yang 25 cm terlihat mengintimidasi, namun Xiulan selalu menyambutnya dengan kerinduan.
“Oh, Yuchen…” Xiulan terengah melihatnya, matanya membelalak, lalu dipenuhi hasrat. “Aku merindukanmu… dan ini.” Ia mengulurkan tangan, meraih batang Yuchen yang berdenyut, mengelusnya dengan ujung jarinya. Kehangatan kulitnya membakar Yuchen.
“Jangan menggodaku, Sayang,” Yuchen terkekeh, suaranya berat. Ia membuka pakaian dalam Xiulan, memperlihatkan selangkangannya yang basah dan memerah, siap untuk disentuh. Jari Yuchen turun, membelai klitoris Xiulan, menggeseknya dengan lembut. Xiulan melengkungkan punggungnya, desahan kencang keluar dari bibirnya.
“Nghhh… Yuchen… terus…” ia memohon, pinggulnya bergerak sendiri, mencari lebih banyak tekanan. Yuchen memijatnya, menggerakkan jarinya dengan ritme lambat, lalu semakin cepat, memicu sensasi yang luar biasa dalam diri Xiulan.
“Kau sangat basah, Yang Mulia. Apakah kau merindukan sentuhanku?” goda Yuchen, suaranya rendah, sensual. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Xiulan, menggigit cuping telinganya pelan.
“Sangat… nghhh… merindukannya,” jawab Xiulan, napasnya terputus-putus. Ia mencengkeram bahu Yuchen, kuku-kukunya sedikit menusuk kulit Yuchen. “Masukkan… kumohon…”
Yuchen menggeser tubuhnya, memposisikan dirinya di antara kedua paha Xiulan. Ujung kontolnya menyentuh bibir miss V Xiulan yang basah dan membengkak. “Siap, Sayang?” bisiknya, menatap mata Xiulan yang dipenuhi kabut gairah.
“Siap,” jawab Xiulan tegas, pinggulnya terangkat. Yuchen mendorong masuk. Perlahan, ujung kepala kontolnya merobek kehangatan tubuh Xiulan. “Ahhh…!” Xiulan menjerit pelan, nikmat yang luar biasa menyengatnya.
Kontol Yuchen yang tebal dan berurat itu mengisi penuh rongga Xiulan, meregangkan setiap inci dirinya. Ia menahan napas, membiarkan Xiulan menyesuaikan diri. Xiulan meremas bahu Yuchen, merasakan kontolnya yang memanjang, menembus semakin dalam, mencapai rahimnya.
“Kau sempit sekali, Sayang,” bisik Yuchen, menggesekkan pinggulnya perlahan. “Aku suka.”
“Nghhh… jangan… bicara… lakukan saja…” Xiulan memohon, matanya terpejam, kepalanya mendongak. Yuchen mengangguk, lalu mulai menggenjot, perlahan pada awalnya, lalu semakin cepat dan keras.
Tubuh Xiulan menegang dan melengkung dengan setiap dorongan Yuchen. “Ahh! Ahh! Yuchen! Lebih cepat!” ia menjerit, suaranya tertahan, namun penuh gairah. Suara ‘plak-plak’ dari kulit yang beradu memenuhi paviliun, bercampur dengan desahan dan erangan mereka.
Yuchen menggenjot tanpa ampun, membenamkan kontolnya dalam-dalam, menariknya keluar hampir seluruhnya, lalu mendorongnya kembali dengan kekuatan penuh. Xiulan merasa organ dalamnya terguncang, setiap sarafnya berteriak minta lebih. Dia mencapai orgasme pertamanya, tubuhnya bergetar hebat, kakinya kaku, menjerit nama Yuchen.
“Ya… itu dia, Sayang,” Yuchen mendesah, terus menggenjotnya, tidak membiarkannya pulih. Ia mengangkat pinggul Xiulan, membuat penetrasi semakin dalam, membenamkan kontolnya sampai ke pangkal.
“Aku… tidak… kuat… lagi… nghhh…” Xiulan meracau, orgasme beruntun melandanya. Tubuhnya tidak berhenti bergetar, namun Yuchen tetap menggenjot, mencium bibirnya, lidahnya menari-nari dalam mulut Xiulan, menghisap setiap desahan yang keluar.
“Tidak akan berhenti, Sayang,” bisik Yuchen, suaranya bergetar karena kenikmatan. Ia mempercepat temponya, menggenjotnya dengan keras, membuatnya menjerit keras lagi dan lagi. Miss V Xiulan meremas kontol Yuchen dengan kuat, sinyal bahwa dia sudah di puncak kesenangan.
Yuchen merasakan gelombang kenikmatan membanjiri dirinya. Ia tahu Xiulan sudah di ambang batasnya. Dengan beberapa dorongan terakhir yang kuat dan dalam, ia membenamkan kontolnya, mengeluarkan semua cairan cintanya ke dalam rahim Xiulan, mengisinya dengan benihnya. “Ahhh…!” Yuchen mendesah panjang, merasakan seluruh tubuhnya bergetar hebat. Xiulan mengerang di bawahnya, tubuhnya lemas, dipenuhi kepuasan.
---
Setelah itu, mereka berbaring dalam pelukan, napas mereka terengah-engah. Xiulan menyandarkan kepalanya di dada Yuchen, jemarinya memainkan bulu-bulu halus di perutnya. Keintiman ini, meski berisiko, adalah satu-satunya pelipur lara di tengah badai istana.
“Yuchen,” bisik Xiulan, suaranya tenang namun ada nada kesedihan. “Apa yang harus kita lakukan? Aku tidak ingin kau dalam bahaya.”
“Aku akan menemukan jalan,” janji Yuchen, mencium rambutnya. “Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu, atau kita.”
Mereka tahu bahwa bahaya semakin mendekat. Setiap desas-desus, setiap pandangan curiga, adalah kepingan teka-teki yang mengancam untuk membongkar rahasia mereka. Yuchen merasa beban di pundaknya semakin berat, namun tekadnya untuk melindungi Xiulan juga semakin menguat.
Beberapa hari kemudian, ketegangan semakin terasa. Yuchen merasa setiap tatapan adalah tuduhan. Ia mencoba mencari celah, memikirkan setiap langkah yang bisa ia ambil untuk mengalihkan perhatian Kaisar atau meredakan kecurigaan. Ia menghabiskan waktu di perpustakaan, mencari informasi, atau hanya sekadar menyendiri, memikirkan strategi.
Suatu sore, saat ia kembali ke kamarnya, sebuah gulungan kecil tergeletak di meja. Bukan gulungan resmi. Ada stempel lilin berbentuk bunga teratai yang hanya dikenal oleh segelintir orang. Stempel pribadi Xiulan. Hati Yuchen mencelos, firasat buruk kembali menghantam.
Yuchen meraihnya, jemarinya sedikit gemetar. Ia membuka gulungan itu. Tulisan tangan Xiulan yang anggun terpampang jelas.
'Aku dalam masalah. Temui aku di taman rahasia di tengah malam. Jangan sampai ada yang tahu.'