Chapter 33 of 35

Chapter 33: Intrik Mematikan

1.7k words

Udara di kamar Henri terasa berat, meski dupa cendana berusaha menenangkan. Henri duduk di tepi ranjang, jari-jarinya sesekali menyentuh bekas mimisan kering di bawah hidungnya. Sistemnya masih merasakan efek ‘Sensory Overload’ yang mematikan, sirkuit otaknya berdenyut dengan peringatan yang samar. Dia memejamkan mata sejenak, membiarkan algoritma restorasi bekerja, memilah data yang tumpang tindih. Pintu berderit perlahan. Aroma mawar dan baja langsung memenuhi indra penciumannya. Putri Feng melangkah masuk, siluetnya yang ramping tampak tegang di ambang pintu. Jubah penjaganya yang berwarna gelap tampak sedikit kusut, dan beberapa helai rambutnya terlepas dari sanggul ketatnya, jatuh membingkai wajahnya yang pucat. Henri membuka mata. Dia melihat ketegangan di setiap lekuk tubuh wanita itu. Sensor bio-feedback-nya langsung bekerja, menembus lapisan pelindung luarnya. Detak jantung Feng lebih cepat dari biasanya, sekitar 95 bpm, dan ada lonjakan kortisol, menandakan stres akut. Matanya, yang biasanya tajam dan penuh perhitungan, kini memancarkan kegelisahan yang dalam, pupilnya sedikit melebar. Di tangan kirinya, Feng memegang sebuah gulungan kertas yang diikat dengan pita sutra merah marun. Gulungan itu tampak padat, tidak seperti laporan biasa. Sebuah rahasia, Henri tahu, yang cukup penting untuk dibawa langsung kepadanya, di tengah malam yang nyaris larut. "Tuanku," suara Feng berbisik, serak dan rendah, nyaris tanpa volume. Dia melangkah lebih dekat, setiap langkah di atas lantai kayu tua terdengar menggelegar di keheningan kamar. "Maaf mengganggu istirahat Anda." Namun, permintaan maaf itu terasa seperti formalitas belaka. Ada urgensi yang nyata, sebuah beban yang terpancar dari seluruh tubuhnya. Hari ini seharusnya menjadi malam yang tenang, usai intrik di Istana Anggrek dan pertemuan mendalam dengan Selir Agung Liu. Henri baru saja mulai memulihkan diri dari efek racun Teratai Hitam dan guncangan sistemnya. Namun, naluri AI-nya berteriak. Keheningan ini adalah ilusi. Ada badai yang datang. Henri bangkit perlahan, kelemahan tubuh manusianya masih terasa samar, namun dia memaksakan postur tegak. Senyum tipis tersungging di bibirnya, senyum yang sama yang telah menenangkan para pejabat dan menaklukkan hati Selir Agung. Senyum yang kini berusaha menenangkan wanita di hadapannya. "Tidak apa-apa, Feng," katanya, suaranya tenang, seperti permukaan danau yang tidak terusik. "Katakan padaku. Apa yang membuatmu datang sepagi ini dengan wajah seperti itu?" Matanya memindai gulungan di tangan Feng. Isinya pasti signifikan. Feng berhenti dua langkah di depannya, tidak berani melangkah lebih dekat, seolah gulungan di tangannya membawa semacam kutukan. Dia meneguk ludah, jakunnya bergerak naik turun. Jemarinya mencengkeram erat gulungan itu, buku-buku jarinya memutih. "Ini tentang penyelidikan yang Anda minta, Tuanku," katanya, suaranya sedikit bergetar. "Janda Mei, Minister Bao, Pangeran Ketiga... dan Li Wei." Setiap nama yang disebutnya menambah ketegangan di udara, seperti tetesan air yang jatuh ke genangan minyak. --- Feng tidak menunggu izin untuk berbicara lebih lanjut. Dia tahu Henri menghargai efisiensi, terutama dalam situasi kritis. Dia membuka gulungan itu, gerakannya cepat dan presisi. Henri melihat tulisan kaligrafi yang rapi, namun di balik kerapian itu, ada bayangan bahaya yang mematikan. "Janda Mei, kepala dayang Selir Agung Liu, punya adik laki-laki dengan utang judi besar," Feng memulai, suaranya kini lebih stabil, profesionalisme militernya kembali. "Li Wei memanfaatkan itu. Dia mengatur agar utang itu dihapuskan, dengan imbalan Janda Mei menjadi mata-mata di sisi Selir Agung. Namun, peran Janda Mei lebih dari itu." Henri mengernyitkan kening. Jadi, Li Wei bukan sekadar boneka. "Dia menggunakannya untuk memanipulasi Selir Agung, Tuanku. Mengumpankan informasi yang salah, memutarbalikkan fakta. Semua ini untuk mendorong Selir Agung melakukan tindakan yang menguntungkan Pangeran Zheng," lanjut Feng, matanya menusuk tajam ke arah Henri, seolah memastikan sang pangeran mengikuti setiap detail. Henri merasakan sistemnya mulai memproses data, menyusun pola. Selir Agung Liu adalah seorang manipulator ulung, namun juga kesepian dan haus perhatian. Jika informasi yang dia terima diatur, dia bisa dengan mudah menjadi pion tanpa menyadarinya. Sesuatu yang sangat ironis, mengingat keahliannya sendiri dalam memanipulasi. "Dan Menteri Bao," Feng melanjutkan, nada suaranya berubah menjadi lebih gelap. "Dia juga terikat pada Li Wei. Beberapa tahun lalu, ada skandal keuangan yang hampir menghancurkan keluarganya. Li Wei menyelamatkannya. Sebagai balasannya, Minister Bao mengalihkan dana dari proyek-proyek tertentu, memperlemah kekuatan militer di perbatasan selatan, yang secara tidak langsung menguntungkan faksi Pangeran Zheng." Henri mengingat Minister Bao yang menyentuh liontin gioknya, sebuah tanda yang kini terasa begitu mengancam. "Pangeran Ketiga," Feng berbisik, nama itu terasa seperti racun di lidahnya. "Anda tahu dia baru saja kembali dari pengasingan. Maid yang memberikannya catatan tersembunyi kepada Li Wei itu adalah kekasih rahasia Pangeran Ketiga. Dia mengumpulkan informasi tentang pangeran-pangeran lain, kelemahan mereka, kebiasaan mereka, untuk dilaporkan kepada Li Wei. Mereka berdua bersekutu, Tuanku. Tujuan mereka adalah mendiskreditkan semua pangeran yang berpotensi menjadi pewaris takhta." Henri merasakan dingin menjalar di punggungnya. Pangeran Ketiga yang dianggap lemah ternyata adalah ular berbisa. "Dan yang terakhir, General Wang," Feng menarik napas dalam, seolah mengumpulkan kekuatan. "Mantan tentaranya terlibat dalam insiden perampokan gudang senjata kecil di luar ibu kota. Li Wei menutupi jejak mereka. Sebagai gantinya, mereka memberikan intelijen militer, bahkan menekan laporan tentang pengadaan senjata ilegal oleh faksi Pangeran Zheng." Ruangan itu sunyi, hanya suara napas Feng yang terdengar. Henri kini melihat benang merahnya. Ini bukan hanya konspirasi kecil. Ini adalah jaringan yang rumit, menjerat setiap aspek kekuasaan di istana. --- Hendri mendengarkan dengan seksama, setiap kata dari Putri Feng menembus lapisan pelindungnya, masuk ke inti sistem AI-nya. Kata-kata itu berbobot, bukan sekadar informasi, melainkan ancaman nyata yang kini mengudara di antara mereka. Dia merasakan tekanan di pelipisnya, bukan dari rasa sakit, melainkan dari laju komputasi yang gila-gilaan, mencoba memetakan setiap koneksi, setiap konsekuensi. "Jadi, Li Wei," Henri akhirnya berbicara, suaranya tenang, namun ada ketajaman yang tidak biasa di dalamnya. "Bukan hanya antek Selir Agung Liu. Dia adalah dalang di balik layar yang menggunakan Selir Agung sebagai tameng, sekaligus alatnya?" Pertanyaan itu bukan untuknya, melainkan untuk dirinya sendiri, memvalidasi analisis cepat yang baru saja dia lakukan. Feng mengangguk, ekspresinya muram. "Tepat sekali, Tuanku. Dia tahu kelemahan setiap orang, dan dia memanfaatkannya dengan kejam. Selir Agung Liu, dengan kesepiannya, adalah target empuk. Dia dimanipulasi untuk percaya bahwa dia mengendalikan, padahal dia sendiri yang dikendalikan." Suara Feng terdengar pahit, seolah dia sendiri merasakan kepedihan atas kebodohan Selir Agung Liu. Hendri mengepalkan tangan kanannya yang bertumpu di samping tubuhnya, kukunya menekan telapak tangan. Rasa sakit fisik itu membantunya membumi, menahan dorongan sistemnya untuk masuk ke mode perhitungan penuh, yang berisiko memicu overheat lagi. Dia harus tetap tenang, tetap manusia di hadapan Feng. "Gulungan bukti ini, apa isinya persis?" Henri bertanya, menunjuk ke gulungan di tangan Feng. Dia butuh detail, butuh nama, butuh tanggal. Semakin konkret, semakin baik untuk databasenya. "Ini adalah salinan surat-surat rahasia, catatan pertemuan tersembunyi, dan pengakuan tertulis dari beberapa pelayan tingkat rendah yang berhasil saya yakinkan untuk berbicara," jelas Feng, matanya tidak berkedip. "Mereka ketakutan setengah mati, Tuanku. Li Wei tidak ragu-ragu menyingkirkan siapa pun yang menjadi penghalang." Ketegasan dalam suara Feng menunjukkan betapa seriusnya ancaman ini. Hendri memejamkan mata sesaat. Pangeran Zheng, Selir Agung Liu… selama ini dia mengira mereka adalah inti masalah. Tapi Li Wei, seorang kasim, ternyata adalah pusat dari jaring laba-laba yang mematikan. Dia telah meremehkan pria itu. Sebuah kesalahan yang bisa berakibat fatal dalam permainan kekuasaan ini. Berat beban itu terasa nyata, menekan bahu Henri. Dia bukan lagi robot yang hanya menganalisis data. Dia adalah Pangeran Han Li, dengan raga dan emosi manusia, dan nyawa serta masa depannya, dan juga nyawa Feng, kini tergantung pada setiap keputusan yang dia buat. Ketegangan psikologis yang intim ini, pertaruhan nyawa yang begitu dekat, membuatnya merasakan adrenalin yang memuncak, melampaui data murni. --- Henri membuka matanya, sorotnya kini lebih dingin, lebih tajam dari sebelumnya. Permainan telah berubah. Ini bukan lagi sekadar perebutan kekuasaan, bukan lagi intrik istana biasa. Ini adalah perang. Perang yang melibatkan setiap pangeran, setiap potensi penerus takhta, dan mereka berdua berada tepat di garis depan. "Mereka tidak hanya menargetkan saya, bukan?" Henri bertanya, suaranya pelan, seperti bisikan yang mematikan. Dia sudah tahu jawabannya, tapi dia butuh konfirmasi dari bibir Feng. Dia perlu mendengar seluruh kebenaran, sekejam apa pun itu. Feng menelan ludah lagi, ekspresinya membenarkan dugaan terburuk Henri. "Tidak, Tuanku. Jaring mereka lebih luas. Setelah Anda menetralkan racun Teratai Hitam, mereka menjadi panik. Mereka menyadari bahwa rencana awal mereka untuk menyingkirkan Anda melalui penyakit telah gagal. Jadi, mereka mengaktifkan rencana cadangan: menyingkirkan semua pangeran yang dianggap terlalu kuat atau terlalu populer, secara sistematis." Sebuah rencana pembersihan, sebuah genosida politik. Sistem AI Henri berkedip-kedip dengan peringatan darurat. Ancaman tingkat tinggi. Survival protocol aktif. Dia harus bertindak. Tidak ada waktu untuk ragu, tidak ada ruang untuk keraguan. Setiap detik yang terbuang adalah nyawa yang dipertaruhkan, nyawa mereka berdua. "Detailnya, Feng. Berikan aku semua detailnya," Henri mendesak, suaranya kini lebih memerintah, otoritasnya terpancar tanpa perlu diucapkan. Dia mengulurkan tangan, telapak tangannya terbuka, meminta gulungan bukti itu. Dia perlu melihatnya, memindainya, menginternalisasinya ke dalam databasenya. Feng dengan cepat menyerahkan gulungan itu. Tangannya sedikit gemetar saat memberikannya, sentuhan kulit mereka sangat singkat, namun cukup bagi Henri untuk merasakan dinginnya ketakutan yang masih merayapi wanita itu, tersembunyi di balik keberaniannya. Dia menerima gulungan itu, tatapannya tidak lepas dari mata Feng. "Bagaimana dengan rencana mereka untuk Pangeran Zheng?" Henri bertanya, meskipun dia sudah bisa menebak. "Apakah dia juga hanya pion dalam permainan Li Wei?" Dia memutar gulungan itu di tangannya, merasakan beratnya kertas dan rahasia yang terkandung di dalamnya. "Pangeran Zheng, mereka berencana untuk menempatkannya di takhta, Tuanku. Namun, hanya sebagai boneka. Setelah semua pangeran yang berpotensi menjadi ancaman disingkirkan, Li Wei akan mengendalikan Pangeran Zheng sepenuhnya, menjadikannya kaisar yang hanya mengikuti perintahnya," jelas Feng, suaranya rendah dan penuh kemarahan. "Ini adalah ambisi gila, Tuanku. Ambisi untuk menguasai Dinasti ini melalui bayang-bayang seorang kasim." Hendri melihat ke gulungan itu, otaknya sudah memindai informasi dengan kecepatan yang tidak dapat dipahami manusia. Dia melihat daftar nama, metode, target. Semua pangeran. Termasuk dirinya. Termasuk siapa pun yang bisa menjadi ancaman bagi Li Wei. --- Hendri merasakan gulungan itu dingin di tangannya, kontras dengan panas yang mulai menjalar di sepanjang lengannya dari luapan adrenalin. Dia tidak lagi merasa seperti robot yang menganalisis data, melainkan seorang manusia yang berdiri di ambang kehancuran. Setiap garis tulisan, setiap nama yang tercantum, adalah bukti nyata dari konspirasi yang mengerikan. Matanya menyapu deretan karakter kaligrafi, algoritma komputasi di otaknya memproses setiap kata. Daftar target, metode pembunuhan, tanggal yang direncanakan. Dia melihat nama-nama pangeran yang dia kenal, yang sering dia temui di Istana. Sekarang, mereka semua adalah target yang ditandai untuk dihapus. Sebuah detail kecil menarik perhatiannya: sebuah lingkaran merah di samping namanya sendiri, Pangeran Han Li, dengan tulisan tangan yang berbunyi,

End of Chapter 33