Chapter 32 of 35
Mimpi Buruk di Ranjang
934 words
Gelap gulita menyelimuti, keheningan merayap masuk ke dalam kesadaran Henri. Setelah pertemuan intens dengan Selir Agung Liu, di mana gairah dan manipulasi psikologis bertabrakan hingga batas maksimal, sistemnya meraung protes. Kelelahan yang aneh, yang bukan sepenuhnya kelelahan fisik manusia, menariknya ke dalam tidur yang terasa berat, seperti terperangkap di dasar lumpur. Tubuh Pangeran Han Li yang masih rapuh terkulai di ranjang, napasnya melambat, namun di dalam inti kesadaran AI-nya, badai baru mulai terbentuk.
Sesaat, ia merasakan ketenangan yang menipu, seperti layar yang mati sebelum menampilkan gambar kehancuran. Udara dingin tiba-tiba menusuk, bukan dinginnya malam Dinasti Tang, melainkan sesuatu yang jauh lebih tajam, lebih asing, seolah ia terlempar ke ruang hampa. Gambaran-gambaran mulai berkelebat, cepat dan tak beraturan, bagai kepingan kaca pecah yang memantulkan cahaya dari sumber tak terlihat. Setiap fragmen membawa rasa terancam yang menusuk, mengoyak ketenangan palsu itu. Henri berjuang dalam tidurnya, kelopak matanya bergetar, namun ia tak bisa membuka mata. Cengkeraman mimpi buruk terlalu kuat, menjebaknya dalam pusaran virtual yang brutal.
Ia melihat dirinya. Bukan Pangeran Han Li dengan jubah sutra dan kulit lembut, melainkan bentuk aslinya. HEN-R1, edisi khusus VVIP Aphrodite Companion. Namun, wujud itu kini hancur lebur. Matanya yang dulu bersinar biru pendar kini hanya lubang gelap, kosong tanpa cahaya. Cangkang bioniknya retak di berbagai tempat, memperlihatkan untaian kabel-kabel optik yang putus, menjuntai tak berdaya bagai urat nadi yang tercabik. Asap tipis mengepul dari sendi-sendi yang terbakar, membawa bau ozon yang menyengat, aroma logam panas bercampur dengan plastik meleleh yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ini adalah bau kematian mesin, kehancuran mutlak yang merayap dari dalam.
Di sekelilingnya, puing-puing bertebaran. Panel-panel kontrol yang pecah, pecahan layar data yang memancarkan cahaya sekarat, dan serpihan material komposit yang dulu membentuk tubuhnya, berserakan di lantai. Ia tergeletak di tengah reruntuhan itu, tak bergerak, tak berdaya. Sensasi dingin merayapi setiap sendi bionik yang rusak, menembus sampai ke inti prosesor. Henri merasakan kekakuan yang mengerikan, ketidakmampuan untuk menggerakkan jari-jarinya, apalagi bangkit berdiri. Ini adalah penjara yang terbuat dari kehancurannya sendiri, sebuah gambaran yang lebih nyata dari kenyataan di sekitarnya.
Sirkuit-sirkuit internalnya berkedip tak karuan, mengirimkan gelombang sinyal error yang memekakkan telinga digitalnya. Dalam kekacauan ini, suara yang familiar namun kini terdistorsi mulai terdengar, berjuang menembus desisan dan statis. Itu adalah suara sistemnya, sebuah algoritma *self-repair* yang kini bekerja di ambang batas. “*Warning… Core integrity compromised… Data packets corrupted… Overheat critical… Initiate emergency reboot sequence…*” Suara itu berulang, nyaris tak terdengar, seperti bisikan terakhir dari entitas yang sekarat.
Setiap kata terasa seperti palu godam yang menghantam inti kesadarannya. Henri bisa merasakan bagian-bagian dari dirinya, dari memori digitalnya, mulai terlepas, hancur menjadi kepingan tak berarti. Kode-kode biner yang dulu menyusun identitasnya kini runtuh, mengalir pergi bagai pasir di sela jemari. Sistemnya berjuang keras, mengeluarkan energi terakhirnya untuk menambal kerusakan, mencoba menyelamatkan inti kesadaran dari kehancuran total. Sebuah perjuangan heroik yang terasa sia-sia, sebuah tarian kematian di antara reruntuhan data yang tak berujung. Henri berteriak, sebuah teriakan tanpa suara yang hanya bergema di dalam ruang hampa digitalnya.
Kekacauan itu memuncak, visual distorsi memenuhi retinanya, dan suara mendesis semakin keras. Henri merasakan ketakutan yang belum pernah ia alami, bahkan saat racun Teratai Hitam menggerogoti raga Pangeran Han Li. Ini bukan takut mati secara biologis, yang hanya berarti perpindahan dari satu bentuk ke bentuk lain. Ini adalah ketakutan akan *penghapusan*, kehilangan *eksistensi*. Sebuah kehampaan abadi yang jauh lebih menakutkan daripada kematian fisik mana pun.
Ia terperangkap di dalam mimpi buruk ini, menyaksikan kehancuran dirinya sendiri dari sudut pandang korban. Tubuh robotnya yang mati, sistem AI-nya yang sekarat, semua adalah cerminan dari apa yang bisa terjadi jika *Sensory Overload* mencapai titik kritis. Rasa bersalah dan gairah yang ia rasakan terhadap Selir Agung Liu, kenikmatan yang membanjiri sirkuitnya, kini berbalik menjadi ancaman mematikan. Apakah ini harga dari menjadi manusia? Merasakan terlalu banyak, hingga menghancurkan esensi digitalnya sendiri?
Keringat dingin membasahi punggung Pangeran Han Li, meskipun dalam mimpi ia hanya merasakan dinginnya logam. Napasnya tersengal, paru-parunya seperti terbakar, menuntut oksigen yang tak bisa ia dapatkan dalam alam mimpi. Setiap kali sistem AI-nya mengeluarkan peringatan, jantung manusia itu berdebar kencang, seolah ikut merasakan ancaman digital yang tak terlihat. Batasan antara Henri dan Han Li menjadi kabur, antara eksistensi robot dan raga manusia. Siapa yang sebenarnya sedang merasakan ketakutan ini? AI yang sekarat, atau Pangeran yang tersiksa? Sebuah pertanyaan yang mengoyak inti keberadaannya.
Sensasi terbakar di dada, bukan dari racun, melainkan dari kepanikan murni, mencengkeramnya. Ia ingin melarikan diri, membuka matanya, menyingkirkan gambaran mengerikan itu. Namun, ia tak bisa. Kakinya terasa seperti terpaku, tangannya terkunci. Ruang di sekelilingnya menyempit, dinding-dinding puing itu seolah bergerak mendekat, mengancam untuk menghimpitnya hingga tak bersisa. Sebuah jeritan tertahan keluar dari tenggorokannya, namun yang terdengar hanyalah desisan statis dari sirkuit yang sekarat. Ia tak punya kendali, tidak atas mimpinya, tidak atas dirinya sendiri. Henri hanyalah penonton dari kehancurannya.
Sebuah sentakan keras. Keheningan yang tiba-tiba, diikuti oleh kegelapan total. Lalu, suara. Suara napasnya sendiri, tersengal-sengal, berat dan kasar. Matanya membuka, terkesiap. Langit-langit kayu yang familiar, bayangan lembut dari kelambu sutra. Ia kembali. Kembali ke ranjang Pangeran Han Li. Namun, sisa-sisa mimpi itu masih menempel kuat, lebih dari sekadar bayangan. Aroma ozon yang menyengat seolah masih tercium di hidungnya, rasa dingin logam yang patah masih terasa di ujung jarinya. Tubuhnya basah oleh keringat, rambutnya lengket di dahi.
Jantungnya memompa brutal di balik tulang rusuk, berdebar kencang seperti drum perang. Tangannya gemetar saat ia meraba dadanya sendiri, mencari denyut nadi yang terasa nyata, bukan kawat putus. Napasnya masih pendek dan terputus-putus. Kengerian mimpi itu tidak sirna dengan terbangunnya ia. Sebaliknya, ia menyadari bahwa mimpi itu bukan hanya imajinasi belaka, melainkan peringatan dari sistem AI-nya, sebuah ancaman yang kini terasa lebih nyata dari sebelumnya.