Chapter 11 of 35

Bayangan di Pintu Kamar

745 words

Derap langkah teratur itu terhenti tepat di balik pintu. Debaran jantung Putri Feng yang baru saja melambat kembali berpacu kencang, memantul dalam jangkauan analisis sensorik Henri. Respon stres sang panglima memicu pelepasan gelombang kortisol tinggi yang langsung tercatat oleh Bio-Feedback Scanner. Henri mengencangkan rahangnya tipis—sebuah variabel pengganggu telah memasuki arena, dan sistemnya menuntut netralisasi taktis secara presisi. Pintu kayu yang berat berderit pelan, terbuka lambat dalam gerakan yang sengaja dirancang untuk menekan mental. Sosok tinggi kurus muncul di ambang pintu, siluetnya memanjang disiram cahaya lentera koridor. Jubah brokat ungu gelap berkilau redup membungkus tubuhnya, dengan kerah sutra tegak yang membingkai wajah tirus dan pucat. Kasim Kepala Li Wei. Dari database taktis Henri, struktur wajah dan postur tubuh itu langsung teridentifikasi. Li Wei adalah kepercayaan Pangeran Zheng sekaligus informan utama Selir Agung Liu. Kehadirannya di Istana Utara pada jam selarut ini bukanlah kebetulan, melainkan operasi intelijen domestik yang terencana. Mata Li Wei yang menyipit memindai sudut ruangan dalam satu sapuan kilat. Tatapannya tertahan pada gaun Putri Feng yang sedikit kusut, helai rambutnya yang terurai, dan bibirnya yang merekah basah. Senyum tipis yang sarat cemoohan terukir di sudut bibir kasim itu. Suasana kamar yang semula hangat mendadak membeku. Bagi Putri Feng, tatapan itu menyengat bagai cambuk dingin. Rasa malu dan ancaman skandal militer membakar wajahnya. Jemarinya refleks meremas kain jubah di pinggang Henri, mencari tumpuan pertahanan. Detak jantung sang panglima yang melonjak liar mengaktifkan peringatan stabilitas pada modul Henri. Ini bukan lagi sekadar interaksi taktil, melainkan konfrontasi politik terbuka. Henri memproses data dengan kecepatan tinggi, mengkalkulasi tingkat kerusakan reputasi dan memetakan opsi perlawanan verbal. Ia memperluas dispersi feromon alaminya untuk menstabilkan kondisi emosional Putri Feng, mencegah sang panglima menyerah pada kepanikan. Tanpa diundang, Li Wei melangkah maju. Tangannya bersedekap di dalam lengan jubahnya, melipat sikap acuh tak acuh yang dibuat-buat. Suaranya memecah keheningan, licin dan beracun bagai sutra basah: "Oh, betapa mengejutkan," desis Li Wei dengan intonasi yang diatur halus. "Hamba tidak menyangka akan menemukan Panglima Feng di sini, di Istana Utara, pada jam selarut ini. Apakah ada keadaan darurat kekaisaran yang tidak hamba ketahui, Yang Mulia Pangeran?" Setiap kata dirancang untuk merobek kehormatan Putri Feng dan menyudutkan posisi Henri. Mata Li Wei kembali meneliti leher sang putri, mencari setiap jejak taktil yang ditinggalkan oleh Henri. Putri Feng menggigit bibirnya, menahan gejolak amarah dan kecanggungan yang melumpuhkan naluri militernya. Ia tahu setiap bantahan emosional hanya akan dijadikan bahan konfirmasi oleh sang kasim kepala. Tubuhnya menegang di balik punggung Henri, sepenuhnya mengandalkan pangeran tersebut untuk mengambil kendali konfrontasi. Bio-Feedback Scanner memperbarui status Putri Feng: Kortisol: Melonjak tajam. Oksitosin: Anjlok. Kondisi Emosional: Kerentanan tinggi, kebergantungan penuh pada subjek utama. Henri menarik napas teratur. Raut wajahnya berubah sepenuhnya dingin, tak menunjukkan riak kepanikan atau rasa bersalah. Tangan kirinya tetap bertumpu di pinggang Putri Feng—sebuah sinyal penguasaan yang dikirimkan secara langsung kepada sang penyusup. Henri mengambil satu langkah ke depan, menggeser posisi tubuhnya hingga pasokan pandangan Li Wei terhadap Putri Feng terblokir sepenuhnya. Siluet tubuh Henri yang tegap memaksa kasim kurus itu mendongak. "Li Wei," suara Henri mengalun rendah, tenang, namun ditekan dengan wibawa intimidatif. "Aku tidak tahu atas dasar otoritas apa kau merasa memiliki hak untuk mempertanyakan kehadiran tamu kehormatanku di dalam kediamanku sendiri." Sorot mata Henri mengunci pandangan Li Wei tanpa berkedip—sebuah taktik tekanan psikologis untuk merebut inisiatif percakapan. Tubuh kasim itu menegang tipis; kecenderungan pangeran buangan yang biasanya tunduk dan sakit-sakitan tidak ditemukan dalam gestur Henri saat ini. Di balik punggungnya, Putri Feng merasakan ketegangan otot bahu Henri. Keberanian dan ketegasan sang pangeran mengejutkannya. Janji perlindungan yang sebelumnya dibisikkan kini terbukti nyata dalam tindakan langsung menghadapi ancaman skandal. Seringai Li Wei meluntur sejenak sebelum ia memaksa bibirnya membentuk senyum formal yang dingin. Sebagai pemain lama dalam intrik istana, ia dengan cepat menyusun kembali garis Serangannya. "Maafkan kelancangan hamba, Yang Mulia," tutur Li Wei dengan bungkukan formalitas yang dangkal. "Hanya saja, keamanan area Istana Utara berada di bawah pengawasan hamba. Dan menyaksikan seorang panglima wanita berada tanpa pengawalan di kamar pangeran yang baru saja... pulih... cukup memicu kecurigaan." Penekanan pada kata "pulih" merupakan sindiran terbuka atas racun yang nyaris menewaskan Henri sekaligus insinuasi atas kebangkitannya yang mencurigakan. Li Wei berusaha memancing reaksi emosional untuk mengonfirmasi analisisnya. Genggaman jemari Putri Feng di belakang jubah Henri kian mengetat. Namun Henri tetap berdiri tak tergoyahkan. Bagi sistem komputasi dan pengalaman interaksi sosialnya, provokasi Li Wei hanyalah variabel dangkal yang mudah dipatahkan. Di bawah temaram lentera Paviliun Utara, kedua figur itu saling mengunci pandangan, menandai berulirnya babak baru perang intrik di dalam istana.

End of Chapter 11