Chapter 2 of 2

Bab 2 — Anak Bungsu yang Diabaikan

1.5k words

Suara denting logam terdengar dari halaman latihan House of Camellia. Di bawah langit pagi yang cerah, puluhan prajurit berlatih dengan pedang, tombak, dan perisai. Gerakan mereka teratur, mengikuti aba-aba para instruktur. Di kejauhan, kapal-kapal udara berwarna putih perak berlabuh di menara tambat, dengan lambang bunga kamelia terukir pada lambungnya. House of Camellia tidak mendapat julukan The Imperial Shield tanpa alasan. Keluarga itu telah menjaga perbatasan kekaisaran selama beberapa generasi. Mereka terkenal karena armada pertahanan, benteng udara, serta para perwira yang lebih memilih mempertahankan posisi daripada mengejar kemenangan yang tidak sebanding dengan risikonya. Bagi keluarga seperti itu, kemampuan militer bukan sekadar kebanggaan. Itu adalah kewajiban. Dan pagi ini, Varian von Camellia kembali berdiri di tengah halaman latihan. “Sekali lagi, Tuan Muda.” Instruktur di hadapannya mengangkat pedang kayu. Varian menggenggam pedangnya dengan kedua tangan. Tubuhnya ramping, dan dibandingkan anak-anak bangsawan lain seusianya, ia tidak memiliki otot yang menonjol. Ia mengambil posisi bertahan seperti yang diajarkan kepadanya, menunggu serangan berikutnya. Instruktur itu menyerang dari sisi kanan. Varian menangkis. Serangan kedua datang dari atas. Ia menggeser kaki untuk menghindar, tetapi gerakannya terlambat setengah detik. Ujung pedang kayu menyentuh bahunya. “Poin untuk saya,” kata instruktur. Varian menurunkan pedangnya. “Ya.” Tidak ada protes. Tidak ada alasan. Ia hanya menatap posisi kaki instruktur sebelum kembali ke tempat semula. Latihan berlanjut selama beberapa menit. Hasilnya tidak jauh berbeda. Varian mampu memahami teknik yang diajarkan, tetapi tubuhnya belum cukup cepat untuk menerapkannya dengan konsisten. Ketika lawan meningkatkan tempo, celah kecil dalam gerakannya segera terlihat. Pada akhirnya, instruktur menghela napas. “Pemahaman Anda baik, Tuan Muda. Namun, pemahaman saja tidak cukup di medan perang.” “Saya mengerti.” “Kalau begitu, Anda harus berlatih lebih keras.” Varian mengangguk sopan. Di dalam hati, ia tidak menyangkal perkataan itu. Pengalaman masa lalunya memang memberinya pengetahuan tentang pertarungan, tetapi pengetahuan bukan berarti tubuh barunya mampu melakukan segala sesuatu yang diinginkannya. Ia tidak bisa memaksakan refleks seorang pria dewasa ke tubuh anak berusia delapan tahun. Jika ia mengabaikan keterbatasan tersebut, ia hanya akan membuat kesalahan yang tidak perlu. Karena itu, Varian tidak berusaha memenangkan setiap latihan. Ia mengamati. Bagaimana lawannya memindahkan berat badan sebelum menyerang. Bagaimana tangan yang memegang pedang berubah posisi saat kelelahan. Bagaimana para instruktur memberi hukuman kepada murid yang terlalu bernafsu mengejar kemenangan. Semua itu adalah informasi. Dan informasi, jika digunakan dengan benar, dapat mengubah hasil pertarungan. “Cukup untuk hari ini.” Suara lain terdengar dari pinggir halaman. Seorang pemuda berambut perak berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung. Seragam latihannya rapi, dan pedang di pinggangnya tampak lebih sering digunakan daripada sekadar aksesori. Alistair von Camellia. Putra sulung keluarga dan calon pewaris yang paling diperhitungkan. “Bagaimana perkembangannya?” tanya Alistair kepada instruktur. “Dasar-dasarnya sudah dipahami, tetapi kemampuan fisiknya masih tertinggal.” Alistair mengangguk, kemudian menatap adiknya. “Varian, kau tidak harus menjadi yang terbaik dalam sehari. Tetapi jangan sampai kau berhenti berkembang hanya karena orang lain menganggapmu lemah.” Varian mengangkat wajah. Nasihat itu terdengar tulus. Alistair bukan orang yang senang mempermalukan anggota keluarganya. Ia memiliki tanggung jawab besar dan mengharapkan setiap orang melakukan bagian mereka. “Aku akan mengingatnya, Kak.” Alistair menepuk bahunya sekali sebelum beranjak pergi. Belum lama ia menghilang, seseorang menyampirkan lengan ke bahu Varian dari belakang. “Kalau kau terus memasang wajah serius seperti itu, orang-orang akan mengira kau sedang merencanakan kudeta.” Lucien von Camellia. Putra kedua keluarga itu memiliki pembawaan yang jauh lebih santai daripada kakak tertuanya. Rambutnya sedikit berantakan, dan senyum jahil hampir selalu menghiasi wajahnya. Varian meliriknya. “Kalau aku benar-benar merencanakan kudeta, Kakak adalah orang pertama yang akan kuberi tahu.” Lucien mengangkat alis. “Kenapa aku?” “Supaya Kakak bisa menjelaskan kepada Ayah mengapa rencananya gagal.” Beberapa prajurit di dekat mereka menahan tawa. Lucien menatap adiknya selama dua detik, lalu tertawa keras. “Bagus. Ternyata kau masih punya lidah yang tajam.” “Aku hanya berusaha menghemat tenaga.” “Alasan yang bagus untuk seseorang yang baru saja kalah berkali-kali.” “Dan alasan yang buruk untuk seseorang yang menghabiskan lebih banyak waktu menggoda adiknya daripada berlatih.” Senyum Lucien melebar. “Baiklah. Besok kita berlatih bersama. Aku akan menunjukkan beberapa cara untuk mengatasi lawan yang lebih cepat.” “Apakah itu berarti Kakak akan mengurangi jumlah ejekan?” “Jangan berharap terlalu banyak.” Lucien berjalan pergi sambil tertawa. Varian memperhatikan punggungnya sejenak. Kedua kakaknya memiliki kelebihan masing-masing. Alistair memahami pertahanan dan komando armada. Lucien lebih terbiasa menghadapi keadaan tak terduga di lapangan. Mereka bukan orang bodoh yang bisa dimanipulasi hanya karena memiliki kekurangan. Jika Varian ingin melampaui mereka dalam bidang tertentu, ia harus menemukan sesuatu yang benar-benar menjadi keunggulannya sendiri. Bukan sekadar berpura-pura lebih pintar. --- Menjelang siang, Varian dipanggil ke ruang kerja ayahnya. Ruangan itu luas, tetapi tidak dipenuhi hiasan berlebihan. Rak-rak kayu gelap menampung dokumen militer dan peta wilayah. Sebuah jendela besar menghadap ke pelabuhan udara, tempat para teknisi sedang memeriksa mesin sebuah kapal pengangkut. Grand Duke von Camellia duduk di balik meja, membaca laporan dengan ekspresi serius. Ia tidak langsung mengangkat kepala ketika Varian masuk. “Duduk.” Varian mematuhi perintahnya. Beberapa saat berlalu sebelum sang adipati meletakkan dokumen. “Aku mendengar hasil latihanmu.” “Kalau begitu, Ayah juga sudah mendengar bagian ketika aku kalah.” “Ya.” “Bagian itu memang sulit dilewatkan.” Sang adipati menatapnya. Tidak jelas apakah ia sedang menahan senyum atau sekadar mempertimbangkan jawaban putranya. “Kau tidak terlihat terlalu kecewa.” “Aku memang kecewa. Hanya saja, merasa kecewa tidak akan membuat tubuhku lebih cepat.” Jawaban itu membuat ayahnya terdiam sejenak. “Setidaknya kau memahami keterbatasanmu.” Varian tidak menjawab. Ia tahu percakapan ini bukan semata-mata mengenai latihan pedang. Ayahnya jarang memanggil anak-anaknya hanya untuk membicarakan perkembangan fisik. Sang adipati mengambil sebuah laporan lain. “Bagaimana menurutmu tentang ini?” Varian melihat dokumen yang didorong ke hadapannya. Laporan pengiriman Aetherium dari salah satu pos perbatasan. Jumlah barang yang tiba lebih sedikit daripada yang tercatat ketika kapal meninggalkan pelabuhan asal. Selisihnya tidak besar, tetapi terjadi selama tiga pengiriman berturut-turut. “Apakah sudah ada penyelidikan?” tanya Varian. “Sedang berlangsung. Petugas pelabuhan menduga adanya kesalahan pencatatan.” “Dan menurut Ayah?” “Aku belum mengambil kesimpulan.” Varian membaca laporan itu sekali lagi. Ia tidak memiliki akses terhadap seluruh dokumen, dan angka-angka tersebut saja tidak cukup untuk menuduh siapa pun. Bisa jadi memang terjadi kesalahan administratif. Bisa juga ada kerusakan pada peti, ketidaksesuaian timbangan, atau masalah lain yang belum diketahui. Namun, tiga kali berturut-turut? Ia meletakkan laporan itu. “Kalau aku boleh bertanya, apakah selisihnya selalu ditemukan di pelabuhan tujuan yang sama?” Mata sang adipati menyipit sedikit. “Ya.” “Kalau begitu, aku akan memeriksa proses penerimaannya terlebih dahulu. Bukan karena petugas di sana pasti bersalah, tetapi karena itu titik yang sama dalam ketiga kejadian.” Sang adipati menyandarkan tubuhnya. “Lalu?” “Bandingkan berat ketika kapal berangkat dengan catatan dari pelabuhan antara, jika ada. Periksa juga apakah peti dibuka atau dipindahkan selama perjalanan. Jika selisihnya baru muncul setelah kapal tiba, kita bisa mempersempit kemungkinan tanpa langsung menuduh seseorang.” Varian berhenti. Ia sadar telah berbicara terlalu jauh untuk seorang anak yang dianggap kurang berbakat. Namun, sang adipati tidak segera memarahinya. Sebaliknya, ia bertanya, “Bagaimana jika semua catatan itu benar?” “Berarti kita belum memiliki cukup informasi.” “Dan jika penyelidikan tidak menemukan apa pun?” “Penyelidikannya mungkin salah, atau memang tidak ada pencurian. Kita perlu bukti sebelum memilih salah satu kemungkinan.” Keheningan menyelimuti ruangan. Akhirnya, sang adipati mengambil kembali laporan itu. “Kau boleh kembali.” Varian berdiri dan membungkuk sebelum berjalan menuju pintu. “Varian.” Ia berhenti. “Jangan menganggap setiap masalah sebagai permainan yang harus kau menangkan.” Varian menoleh. “Masalah seperti ini dapat memengaruhi banyak orang. Jika kau membuat kesimpulan yang salah, orang yang tidak bersalah bisa menanggung akibatnya.” Tatapan ayahnya tegas. Varian memahami maksudnya. Strategi bukan hanya tentang menemukan jalan tercepat menuju kemenangan. Setiap keputusan memiliki konsekuensi, dan semakin besar pengaruh seseorang, semakin besar pula tanggung jawab yang menyertainya. “Aku mengerti, Ayah.” Kali ini, jawabannya tidak disertai gurauan. --- Malam tiba di kediaman House of Camellia. Setelah makan malam, Varian kembali ke kamarnya. Ia mengganti pakaiannya, menutup tirai, lalu duduk di tepi ranjang. Tubuhnya lelah setelah latihan. Ia memejamkan mata. Lalu sesuatu berubah. Sebuah sensasi dingin menjalar dari pangkal leher hingga tulang belakangnya. Udara di dalam kamar terasa berat, seolah-olah semua suara ditarik menjauh dari dunia. Varian membuka mata. Di permukaan cermin, pantulan dirinya tampak normal. Namun, ketika ia mengangkat tangan, bayangan pada cermin bergerak sedikit terlambat. Varian membeku. Ia menggerakkan jari-jarinya sekali lagi. Kali ini, pantulan itu mengikuti gerakannya dengan sempurna. Ia turun dari ranjang dan mendekati cermin. Mata ametisnya menatap pantulan sendiri, mencoba menemukan tanda-tanda ilusi, kelelahan, atau gangguan cahaya. Tidak ada yang jelas. Tetapi selama sepersekian detik tadi, ia melihat sesuatu di belakang pantulannya. Sebuah bentuk melengkung. Seperti ekor kalajengking yang tersusun dari cahaya ungu gelap. Varian menempelkan telapak tangannya ke permukaan cermin. Dingin. Tidak ada retakan. Tidak ada sihir yang bisa ia kenali. Tidak ada penjelasan yang masuk akal. Ia menarik tangannya perlahan. “Jadi, kehidupan kedua ini juga menyimpan sesuatu.” Varian tidak merasa takut. Belum. Namun, untuk pertama kalinya sejak terlahir kembali, ia menyadari bahwa tidak semua hal di dunia ini dapat dijelaskan hanya dengan pengamatan dan perhitungan. Ada sesuatu yang bersembunyi di dalam dirinya. Dan entah apa pun itu, ia baru saja mulai terbangun. Bersambung. Teaser Bab 3 — Bayangan di Balik Cermin: Varian mulai menyelidiki fenomena aneh yang muncul pada malam hari. Namun, sebelum ia menemukan jawabannya, sebuah laporan dari pelabuhan udara membawa kabar bahwa pengiriman Aetherium berikutnya mengalami masalah yang jauh lebih serius.

End of Chapter 2

Chapter 2: Bab 2 — Anak Bungsu yang Diabaikan - THE POISONED WINGS OF SCORPIO | Novel AI Studio