Chapter 1 of 2
Bab 1 — Kematian Sang Kalajengking
1.4k words
Hujan turun di atas kota tanpa nama.
Di antara atap-atap bangunan yang basah, seorang pria berpakaian hitam berdiri di tepi gedung tertinggi. Darah mengalir dari luka di sisi tubuhnya, membasahi sarung tangan yang sejak tadi menekan perutnya.
Di bawah sana, sirene meraung. Pasukan bersenjata mengepung setiap jalan keluar. Lampu-lampu sorot menyapu dinding bangunan, mencari satu orang yang telah mereka buru selama bertahun-tahun.
Kaelen Vespera.
Pemimpin sebuah klan pembunuh yang namanya cukup untuk membuat para pejabat tinggi mengunci pintu kamar mereka pada malam hari.
Ia bukan pembunuh yang paling kuat di dunia. Ia juga bukan orang yang tak pernah melakukan kesalahan. Namun, Kaelen memiliki sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada kekuatan mentah: kemampuan membaca manusia, memprediksi pilihan mereka, dan mempersiapkan jalan keluar bahkan ketika semua kemungkinan tampak tertutup.
Sayangnya, malam ini, semua perhitungannya gagal.
Bukan karena musuhnya lebih pintar.
Melainkan karena seseorang yang tak pernah ia masukkan ke dalam daftar ancaman telah menghancurkan segalanya.
Langkah kaki terdengar dari pintu menuju atap.
Kaelen tidak menoleh.
“Jadi, kau akhirnya datang.”
Seorang pria muda muncul dari balik pintu. Wajahnya memiliki kemiripan yang jelas dengan Kaelen, tetapi sorot matanya dipenuhi keserakahan yang tak lagi berusaha disembunyikan.
Adiknya sendiri.
Orang yang selama bertahun-tahun ia lindungi, latih, dan percayai.
“Kau seharusnya menyerahkan takhta klan itu kepadaku sejak awal,” kata adiknya. “Semua orang selalu membicarakanmu. Kaelen yang sempurna. Kaelen yang tak terkalahkan. Kaelen yang selalu tahu apa yang harus dilakukan.”
Ia tertawa pendek.
“Aku lelah hidup di bawah bayanganmu.”
Kaelen akhirnya menoleh. Tatapannya tetap tenang meskipun darah terus merembes di antara jari-jarinya.
“Jadi, kau menjual lokasi markas, jalur evakuasi, dan nama-nama anggota klan hanya untuk mendapatkan pengakuan?”
“Aku mendapatkan lebih dari itu. Setelah kau mati, tak ada seorang pun yang bisa menentangku.”
“Dan kau pikir mereka akan membiarkanmu hidup setelah kau menyerahkan begitu banyak rahasia?”
Senyum adiknya menghilang sesaat.
Hanya sesaat.
“Aku sudah membuat kesepakatan.”
Kaelen menghela napas pelan.
Begitu rupanya.
Adiknya tidak sekadar menginginkan kekuasaan. Ia telah membangun rencana yang bergantung pada satu keyakinan: bahwa setelah Kaelen mati, semua orang akan menganggapnya sebagai pewaris yang layak.
Kesalahan yang sederhana.
Dan mematikan.
“Kalau begitu,” ujar Kaelen, “kau benar-benar tidak pernah memahamiku.”
Adiknya mengangkat pistol.
“Selamat tinggal, Kakak.”
Tiga tembakan memecah suara hujan.
Tubuh Kaelen tersentak. Ia jatuh berlutut, kemudian perlahan ambruk ke lantai beton yang dingin.
Adiknya berdiri di hadapannya, menunggu napas terakhir sang kakak.
Namun, bahkan dalam keadaan sekarat, Kaelen masih menatapnya dengan mata yang sama.
Bukan ketakutan.
Bukan kemarahan.
Melainkan penilaian dingin terhadap sebuah kesalahan.
“Kau boleh mengambil namaku,” bisik Kaelen. “Kau boleh mengambil klanku.”
Darah mengalir dari sudut bibirnya.
“Tapi kau tidak akan pernah mampu menanggung akibat dari pilihanmu sendiri.”
Untuk pertama kalinya, adiknya tampak gelisah.
Lalu Kaelen berhenti bernapas.
Sang kalajengking telah mati.
---
Tidak ada cahaya di tempat itu.
Tidak ada suara hujan, tidak ada rasa sakit, dan tidak ada tubuh yang bisa ia gerakkan.
Kaelen tidak tahu berapa lama ia berada di dalam kegelapan. Waktu kehilangan arti ketika bahkan detak jantung pun tak lagi terdengar.
Ia mencoba mengingat kematiannya.
Wajah adiknya.
Tiga tembakan.
Darah di lantai.
Jika ini adalah akhir, ia tidak memiliki keluhan. Ia telah menjalani kehidupan yang dipilihnya sendiri, meskipun pilihan itu dipenuhi darah dan keputusan yang tak selalu benar.
Namun, ada satu hal yang mengganggunya.
Ia tidak menyesali kematiannya.
Ia menyesali bahwa ia membiarkan seseorang sedekat itu menghancurkan segalanya.
Kemudian, kegelapan berubah.
Suara samar muncul dari kejauhan.
Tangisan.
Tangisan bayi.
Kaelen mencoba membuka mata, tetapi kelopak matanya terasa berat. Udara asing memenuhi paru-parunya. Tubuhnya kecil, lemah, dan sama sekali tidak mematuhi perintahnya.
Apa yang terjadi?
Sebelum ia sempat memahami keadaan, sebuah suara perempuan terdengar di dekatnya.
“Anakku…”
Ada kehangatan dalam suara itu. Jemari lembut menyentuh pipinya, disusul isak lega yang berusaha ditahan.
“Syukurlah. Kau baik-baik saja.”
Kaelen ingin bertanya siapa perempuan itu, tetapi yang keluar dari mulutnya hanyalah tangisan bayi.
Kesadaran itu menghantamnya dengan lebih keras daripada peluru.
Ia terlahir kembali.
Bukan sebagai dirinya sendiri, melainkan sebagai seorang bayi yang bahkan belum mampu mengangkat kepalanya.
Selama berbulan-bulan, ia tidak memiliki pilihan selain mengamati dunia dari balik tubuh yang rapuh. Ia mendengar percakapan yang belum bisa dipahaminya sepenuhnya, mempelajari suara-suara di sekitarnya, dan perlahan mengenali orang-orang yang merawatnya.
Perempuan yang menggendongnya adalah ibunya.
Pria berwajah tegas yang sesekali berdiri di sisi ranjang adalah ayahnya.
Mereka menyebutnya dengan nama yang belum pernah ia dengar sebelumnya.
Varian.
Varian von Camellia.
Nama keluarga itu memiliki bobot yang terasa bahkan dari percakapan para pelayan. Mereka berbicara tentang wilayah kekuasaan, armada udara, benteng, dan tanggung jawab seorang adipati agung.
Ia telah dilahirkan ke dalam keluarga bangsawan.
Sebuah kehidupan baru.
Kesempatan baru.
Dan mungkin, kali ini, ia tidak akan melakukan kesalahan yang sama.
---
Delapan tahun berlalu.
Di salah satu ruang latihan kediaman agung House of Camellia, seorang anak laki-laki berdiri di depan meja panjang yang dipenuhi peta wilayah, miniatur kapal udara, dan laporan pengiriman Aetherium.
Rambut hitamnya sedikit berantakan, dengan kilau ungu samar ketika terkena cahaya. Mata ametisnya memperhatikan garis-garis pada peta, sementara satu tangan menopang dagu.
Varian von Camellia tampak seperti anak bangsawan biasa yang kebetulan menyukai permainan strategi.
Setidaknya, itulah yang akan dipikirkan orang jika mereka melihatnya dari pintu.
Di hadapannya, tiga miniatur kapal ditempatkan di sepanjang jalur pegunungan. Sebuah penanda merah menunjukkan wilayah yang dianggap berbahaya, sementara dua penanda putih menandai jalur pasokan.
Varian memindahkan satu kapal.
Lalu kapal kedua.
Ia berhenti.
“Tidak. Mereka tidak akan melewati jalur itu.”
Ia mengembalikan kapal pertama ke tempat semula dan menggeser penanda merah ke sebuah celah di antara dua pegunungan.
Jika musuh mengetahui posisi armada Camellia, jalur utama akan menjadi sasaran paling masuk akal. Akan tetapi, jika tujuan mereka bukan menghancurkan armada, melainkan memutus suplai, serangan langsung justru tidak diperlukan.
Cukup dengan menguasai celah tersebut.
Armada akan tetap utuh, tetapi tidak bisa bergerak tanpa mempertaruhkan jalur logistiknya.
Varian menyandarkan tubuhnya.
“Kalau aku menjadi komandan mereka, aku akan menyerang dari sini.”
“Berbicara sendiri lagi?”
Varian menoleh.
Seorang pelayan berdiri di ambang pintu dengan nampan sarapan di tangannya.
“Tidak,” jawab Varian santai. “Aku sedang bermain.”
Pelayan itu melirik meja yang dipenuhi peta militer.
“Permainan yang sangat rumit untuk anak seusiamu, Tuan Muda.”
“Permainan biasa membosankan.”
Ia tersenyum kecil.
Pelayan itu hanya menggeleng sebelum meletakkan nampan di meja samping.
Bagi penghuni kediaman Camellia, Varian adalah anak yang pendiam, kurang tertarik pada latihan fisik, dan lebih suka menghabiskan waktu sendirian. Ia tidak menunjukkan bakat mencolok seperti kedua kakaknya. Dalam latihan dasar, ia tidak menonjol. Dalam pelajaran yang menuntut demonstrasi kekuatan, ia bahkan sering berada di bawah harapan para pengajar.
Orang-orang mulai menyimpulkan bahwa putra bungsu sang adipati agung tidak akan menjadi sosok penting dalam urusan militer keluarga.
Varian tidak pernah berusaha membantah mereka.
Diremehkan adalah perlindungan yang murah.
Selama orang lain menganggapnya tidak berbahaya, mereka tidak akan terlalu memperhatikan apa yang ia amati, apa yang ia pelajari, atau pertanyaan apa yang diam-diam ia ajukan.
Namun, ia juga memahami satu hal: menyembunyikan kemampuan terlalu baik dapat membuat seseorang kehilangan akses terhadap informasi yang dibutuhkannya.
Karena itulah ia tidak pernah benar-benar berhenti belajar.
Ia menghafal tata letak kediaman, kebiasaan para penjaga, jadwal pergantian personel, serta nama orang-orang yang sering datang membawa laporan kepada ayahnya. Ia mengamati siapa yang berbicara terlalu banyak, siapa yang selalu menunggu sebelum menjawab, dan siapa yang tampak gelisah setiap kali pembahasan menyentuh jalur perdagangan Aetherium.
Potongan-potongan kecil.
Belum cukup untuk menyimpulkan apa pun.
Tetapi suatu hari, potongan-potongan itu mungkin akan membentuk gambaran yang lebih besar.
Varian menatap peta di hadapannya sekali lagi.
Kehidupan sebelumnya telah mengajarinya bahwa informasi yang paling berharga sering kali tersembunyi di balik sesuatu yang dianggap tidak penting.
Dan bahwa pengkhianatan jarang dimulai dengan sebuah tembakan.
Kadang-kadang, pengkhianatan dimulai ketika seseorang memutuskan untuk menyembunyikan satu hal kecil.
Varian mengambil sepotong roti dari nampan.
Di luar jendela, sebuah kapal udara perak melintas di atas menara House of Camellia. Lambungnya memantulkan sinar matahari, sementara mesin Aetherium di bagian belakang meninggalkan jejak cahaya tipis di langit.
Dunia ini jauh berbeda dari kehidupan sebelumnya.
Lebih luas.
Lebih asing.
Dan tampaknya, jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan.
Varian tersenyum tipis.
“Baiklah,” gumamnya. “Mari kita lihat seberapa jauh kehidupan kedua ini bisa membawaku.”
Ia belum mengetahui tentang Scorpio Grace.
Belum mengetahui bahwa suatu hari, nama lain akan membuat para komandan kapal udara terbangun dalam ketakutan.
Belum mengetahui bahwa di balik wajah seorang bangsawan muda yang dianggap lemah, akan lahir sosok yang kelak dikenal sebagai Calamity.
Untuk saat ini, ia hanyalah Varian von Camellia.
Anak ketiga dari keluarga yang menjaga perisai kekaisaran.
Dan ia baru saja memulai permainan yang jauh lebih besar daripada hidupnya sendiri.
Bersambung.