Chapter 6 of 18

Mata Putri yang Tajam

2.5k words

Putri Zhao Wanru menyentuh gulungan kain sutra itu dengan ujung jarinya. Gerakannya selembut embusan angin musim semi, namun tatapan matanya setajam pedang yang baru diasah. Di dalam kediaman agungnya, aroma dupa cendana bercampur dengan wangi bunga melati dari taman luar, menciptakan atmosfer yang tenang, kontras dengan gejolak di benaknya. Lembar sutra itu terhampar di atas meja rendah berlapis pernis hitam, memancarkan kilau perak di bawah cahaya lentera. Bukanlah sutra biasa, itu jelas. Putri Zhao telah melihat ribuan jenis kain terbaik dari seluruh penjuru Dinasti Song, namun yang ini berbeda. Setiap benang, setiap jalinan, terasa berbicara tanpa suara. Matanya yang gelap memicing, menelusuri motif teratai yang terukir rumit. Pola itu seolah hidup, kelopak-kelopak bunga memancarkan ilusi kedalaman yang mustahil. Ketika dia menggeser posisinya sedikit, sudut pandang berubah, dan tiba-tiba, kelopak itu tampak bergerak, seolah-olah ditiup angin. Sebuah anomali optik yang membingungkan indranya. Para perajin istana menghabiskan seluruh hidup mereka untuk menyempurnakan seni bordir, namun tidak satu pun dari mereka yang mampu menciptakan efek visual seperti ini. Ini bukan sekadar keterampilan tangan; ini adalah pemahaman mendalam tentang cahaya dan perspektif, sebuah manipulasi ilusi yang nyaris kelewat batas akal sehat. Putri Zhao menarik napas perlahan, aroma sutra mentah yang samar memenuhi rongga hidungnya. Jari-jarinya kembali menyusuri permukaan kain, merasakan tekstur halusnya yang tidak berpori, seolah benang-benangnya sendiri memiliki memori untuk tetap rapat dalam formasi yang sempurna. Seolah ada kekuatan tak terlihat yang menahan setiap serat di tempatnya. Kain ini telah dibeli dari pasar gelap Bianjing oleh salah satu pelayannya atas dasar desas-desus. Desas-desus liar tentang seorang penenun misterius yang mampu menciptakan keajaiban. Putri Zhao tidak percaya pada sihir, tetapi ia percaya pada keunggulan yang tidak wajar. Sebuah kerutan tipis muncul di antara kedua alisnya yang terukir rapi. Dia memiringkan kepalanya, mencoba menangkap rahasia di balik setiap jahitan. Cahaya lentera yang bergetar menciptakan bayangan menari di atas pola teratai, dan setiap kali bayangan itu bergeser, ilusi pada kain itu semakin nyata, semakin memikat. Dia tidak melihat cacat sedikit pun, tidak ada benang yang longgar, tidak ada ketidaksempurnaan pada pewarnaan. Kesempurnaan ini sendiri adalah sebuah tanda tanya besar. Siapapun yang menciptakan ini pasti memiliki obsesi terhadap detail yang melampaui batas kewarasan manusia biasa. Putri Zhao menghela napas, sebuah suara kecil yang hanya terdengar di antara keheningan. Dia telah menghabiskan waktu berjam-jam meneliti kain ini sejak dibawa kepadanya pagi tadi. Setiap detik adalah perburuan jawaban, sebuah teka-teki yang menantang kecerdasannya. Dan yang paling menarik, dia merasa belum pernah menemukan apa pun yang begitu menantang sebelumnya. --- Mei Ling, pelayan pribadinya yang gesit, memasuki ruangan dengan langkah pelan, membawa nampan berisi teh melati hangat. Mata Putri Zhao masih terpaku pada gulungan sutra, namun indranya yang tajam sudah menyadari kehadiran Mei Ling. “Nona Putri,” bisik Mei Ling, menunduk hormat. Suaranya rendah, tidak berani mengganggu konsentrasi sang Putri. Mei Ling meletakkan nampan di samping meja, cangkir porselen putih mengepulkan uap tipis. Putri Zhao akhirnya mengalihkan pandangannya dari kain, menatap Mei Ling. Matanya masih memancarkan kilatan analitis yang sama. “Apa lagi yang kau dengar, Mei Ling?” tanyanya, suaranya tenang, namun penuh otoritas. Dia sudah tahu Mei Ling pasti membawa kabar baru. Ketertarikannya pada kain ini bukan hanya sebatas estetika. Mei Ling menegakkan tubuhnya sedikit, ragu. “Desas-desus di pasar semakin santer, Nona Putri. Mereka bilang, kain ini adalah hasil karya seorang… penenun jenius. Beberapa bahkan menyebutnya ‘hantu penenun’ yang bangkit dari kubur.” Mei Ling menelan ludah, suaranya sedikit bergetar pada kata-kata terakhir. Pasar gelap selalu penuh dengan cerita-cerita takhayul. Putri Zhao hanya mendengarkan, tidak bereaksi. Tangannya mengambil cangkir teh, menyesapnya perlahan. Aroma melati menenangkan indranya, namun pikirannya tetap berpacu. “Hantu penenun, katamu?” Bibirnya melengkung tipis, sebuah ekspresi langka yang menunjukkan rasa geli, atau mungkin lebih tepatnya, rasa penasaran yang mendalam. “Ya, Nona Putri. Mereka bilang dia adalah seorang shútóng yang seharusnya sudah mati beberapa waktu lalu. Lalu, tiba-tiba muncul lagi, dengan membawa pola-pola yang belum pernah dilihat siapa pun. Harga jualnya pun… tidak masuk akal,” lanjut Mei Ling, melirik gulungan sutra di meja. Putri Zhao meletakkan cangkirnya, tatapannya kembali ke kain. “Harga tidak masuk akal, tapi terjual habis, kan?” Dia tahu, karena gulungan sutra ini sendiri adalah bukti. Pasar gelap Bianjing sangat kompetitif. Hanya barang-barang luar biasa yang bisa menembus harga tinggi dan menarik perhatian secepat ini. “Benar, Nona Putri. Pedagang Tua di sudut timur pasar, orang yang terkenal sangat perhitungan, bahkan memuji keahliannya di depan banyak orang. Ia bilang, pola ‘teratai cahaya’ ini akan mengubah cara kita memandang bordir selamanya,” Mei Ling melaporkan, mengutip perkataan yang ia dengar sendiri. Ada nada kekaguman dalam suaranya, meski juga sedikit ketakutan akan hal yang tidak dapat dijelaskan. Putri Zhao mengangguk pelan. Pedagang Tua itu adalah referensi yang bisa dipercaya. Jika dia terkesan, berarti ini memang luar biasa. “Dan apa lagi yang mereka katakan tentang… shútóng yang bangkit ini?” Dia sengaja menekankan kata ‘bangkit’, menguji reaksi Mei Ling. Mei Ling tampak tidak nyaman. “Beberapa bilang dia punya mata yang aneh, Nona Putri. Tidak menunduk, tidak takut. Dingin, seperti… mata patung. Tapi di balik semua itu, ada semacam… kilatan yang sangat cerdas. Seolah dia melihat lebih dari yang orang lain lihat.” Mei Ling berhenti, menyadari dirinya terlalu banyak bicara tentang detail yang mungkin tidak relevan. Namun, Putri Zhao justru menatapnya dengan tatapan lebih intens. --- Kilatan cerdas. Mata yang tidak menunduk. Deskripsi Mei Ling itu menarik. Putri Zhao Wanru kembali menatap gulungan sutra, seolah mencari cerminan dari deskripsi tersebut pada benang-benang kain. Ketertarikan intelektualnya pada pola ini sudah mencapai puncaknya. Ini bukan hanya tentang estetika, atau tren mode baru. Ini adalah sebuah anomali, sebuah tantangan bagi pengetahuannya tentang segala hal yang bisa dicapai oleh tangan manusia di dunia ini. Dia tahu betul batasan-batasan teknik tenun dan bordir pada zamannya. Dia telah mempelajari gulungan-gulungan kuno, mengamati pola-pola rumit dari Dinasti sebelumnya, dan bahkan berdiskusi dengan para ahli kain terbaik dari istana. Tidak ada satupun yang mendekati tingkat presisi dan ilusi optik yang ditawarkan oleh pola teratai cahaya ini. Bukan hanya sekadar motif bunga, tetapi arsitektur serat yang kompleks. Putri Zhao membayangkan bagaimana cahaya harus menembus dan memantul dari setiap benang individual untuk menciptakan efek kedalaman yang begitu meyakinkan. Ini membutuhkan pemahaman tentang fisika cahaya yang jauh melampaui apa yang diajarkan di akademi seni Bianjing. Rasanya seperti menatap ke dalam sebuah cermin yang menunjukkan refleksi dari masa depan, atau mungkin, masa lalu yang terlupakan. Ada semacam kalkulasi dingin di balik keindahan artistik yang ia kagumi. Sebuah logika yang nyaris sempurna, tanpa cacat emosi atau kelelahan tangan yang biasa ditemukan dalam karya manusia. Dia memikirkan kata-kata Mei Ling: *mata yang tidak menunduk, tidak takut. Dingin, seperti patung.* Apakah ini adalah cerminan dari pikiran di balik pola ini? Seseorang yang melihat dunia bukan dengan emosi, melainkan dengan analisis murni? Sebuah entitas yang terpisah dari ketakutan dan ambisi manusiawi, dan karena itulah mampu menciptakan keindahan yang tidak terikat oleh batasan-batasan tersebut? Putri Zhao mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke kain, hampir mencium aroma seratnya yang unik. Keinginan untuk memahami membakar di dalam dirinya. Ini adalah sebuah teka-teki, sebuah enigma yang hanya bisa dipecahkan dengan menemukan sang penciptanya. Dan dia, Putri Zhao Wanru, selalu menyukai teka-teki yang sulit. Semakin sulit, semakin memikat. Ini bukan lagi sekadar mode atau desas-desus pasar. Ini adalah sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang berpotensi mengguncang fondasi seni dan budaya Dinasti Song. Jika seseorang bisa menciptakan ini, apa lagi yang bisa ia lakukan? Apa rahasia di balik ‘kebangkitan’ dan ‘mata dingin’ yang dijelaskan Mei Ling? Detak jantungnya sedikit bertambah cepat, bukan karena rasa takut, melainkan karena kegembiraan intelektual. Perasaan ini langka, jauh lebih berharga daripada pujian kosong para bangsawan istana. Ini adalah tantangan yang ia cari. Sebuah api yang baru menyala di dalam jiwanya yang tenang. --- Putri Zhao meluruskan punggungnya, menatap Mei Ling yang masih berdiri menunggu. Ekspresinya kini kembali tenang, namun ada kilatan tekad yang tajam di matanya. “Mei Ling,” katanya, suaranya lebih rendah dan serius dari sebelumnya. “Aku ingin kau mencari tahu lebih banyak tentang penenun ini.” Mei Ling mengangguk cepat. “Tentu saja, Nona Putri. Saya akan segera mengirimkan beberapa orang kepercayaan kita untuk menyelidiki di pasar gelap.” “Tidak.” Putri Zhao mengangkat telapak tangannya. “Jangan terlalu mencolok. Jangan kirim orang-orang yang dikenal sebagai pelayan istana. Gunakan orang-orang yang bisa menyelinap, yang bisa bercampur baur dengan keramaian. Orang-orang yang bisa mengamati tanpa terlihat mengamati.” Tatapannya memperingatkan Mei Ling tentang pentingnya kerahasiaan. Mei Ling mengerti. Risiko politik dari sebuah penemuan semacam ini sangat besar, terutama jika dikaitkan dengan desas-desus mistis. Monopoli keluarga Liang atas industri tekstil istana sudah sangat kuat; kemunculan sesuatu yang revolusioner seperti ini pasti akan menarik perhatian, dan tidak selalu perhatian yang baik. “Dan satu hal lagi,” Putri Zhao menambahkan, mencondongkan tubuh sedikit. “Aku ingin tahu segalanya tentang dia. Siapa namanya, dari mana asalnya, mengapa ia menghilang, dan bagaimana ia kembali. Jangan lewatkan detail sekecil apa pun.” Ia melirik gulungan sutra sekali lagi. “Terutama tentang matanya. Dan jika mungkin… aku ingin melihatnya secara langsung.” Permintaan terakhir itu sedikit mengejutkan Mei Ling, namun ia tidak berani bertanya. Putri Zhao jarang sekali menunjukkan ketertarikan pribadi yang begitu mendalam pada seorang seniman, apalagi yang berasal dari kalangan rendah dan dikelilingi desas-desus yang menyeramkan. Tapi raut wajah sang Putri menunjukkan bahwa ini bukan sekadar iseng. “Akan saya laksanakan, Nona Putri,” jawab Mei Ling, membungkuk dalam. Dia tahu ini adalah tugas yang sulit, namun ia juga tahu bahwa ketika Putri Zhao Wanru telah menetapkan hatinya pada sesuatu, tidak ada yang bisa menghentikannya. Rasa ingin tahu sang Putri adalah kekuatan yang jauh lebih besar daripada intrik istana mana pun. Putri Zhao hanya mengangguk, lalu memberinya isyarat untuk pergi. Setelah Mei Ling menghilang di balik pintu, keheningan kembali memenuhi ruangan. Putri Zhao tidak lagi menyentuh gulungan sutra. Dia hanya duduk diam, pikirannya berputar, merangkai kemungkinan-kemungkinan, mencoba memecahkan teka-teki yang baru ia temukan. --- Putri Zhao bangkit dari duduknya, bergerak ke sudut ruangan. Sebuah lemari ukir kuno berdiri di sana, kayunya gelap dan berurat. Dia menekan sebuah ukiran bunga tersembunyi di sisi lemari, dan dengan bunyi klik pelan, sebuah laci rahasia terayun keluar dari balik panel kayu yang tebal. Di dalamnya, tergeletak beberapa benda kecil yang disimpannya dengan hati-hati. Sebuah jepit rambut giok putih, sebuah surat lama yang sudah menguning, dan sebuah gulungan kecil dari kulit binatang yang usang. Jari-jarinya yang ramping mengambil gulungan kulit itu, membukanya perlahan. Gulungan itu ternyata adalah sebuah peta kuno, jauh lebih tua dari Dinasti Song. Peta itu tidak menggambarkan daratan atau perairan yang dikenal, melainkan konstelasi bintang-bintang yang rumit, dihubungkan dengan garis-garis aneh, membentuk pola-pola geometris yang tidak biasa. Beberapa motif bintang di peta itu sangat mirip dengan beberapa pola abstrak yang pernah ia temukan di pasar gelap, pada barang-barang yang tidak pernah ia duga memiliki nilai atau cerita yang berarti. Di dalam laci rahasia, Putri Zhao mengeluarkan sebuah gulungan peta kuno yang bergambar pola bintang, sangat mirip dengan beberapa motif yang ia temukan di pasar gelap. Putri Zhao menyentuh permukaan gulungan kulit itu. Teksturnya kasar, kering, seolah telah menyaksikan pergantian ratusan tahun. Jari-jarinya menelusuri garis-garis samar yang menghubungkan titik-titik bintang. Bukan bintang-bintang yang biasa terlihat di langit malam Bianjing, melainkan konstelasi aneh yang tak tercatat dalam buku-buku astronomi istana. Pola-pola geometrisnya berulang, simetris, namun dengan kompleksitas yang membuat mata harus bekerja keras untuk mengikutinya. Tiba-tiba, sebuah kilatan ingatan melintas. Bukan dari karya seni yang dikenal, bukan dari arsitektur kuil, melainkan dari gulungan sutra yang tergeletak di mejanya beberapa saat yang lalu. Pola teratai cahaya. Ada sesuatu di dalamnya yang… akrab. Bukan kemiripan langsung, tapi semacam resonansi, sebuah bahasa visual yang sama. Dia bangkit, mendekati meja tempat gulungan sutra itu masih terbentang. Dengan satu tangan memegang peta kuno, tangan yang lain menunjuk ke motif pada kain. Matanya bergerak bolak-balik, dari detail pada peta ke detail pada sutra. Jantungnya mulai berdegup lebih kencang, kali ini bukan karena kegembiraan intelektual semata, tapi karena rasa kaget yang perlahan merayap. Pola pada peta tidak secara langsung menjadi teratai. Tidak ada bunga, tidak ada kelopak yang jelas. Tapi struktur dasarnya, cara garis-garis itu membelah ruang, cara mereka menciptakan ilusi kedalaman melalui pengulangan dan perspektif… itu adalah bahasa yang sama. Pola bintang di peta itu seperti cetak biru, sebuah algoritma visual yang bisa diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk. Gulungan sutra ini, dengan keindahan modernnya, adalah manifestasi dari pengetahuan kuno yang tersimpan di peta ini. Bagaimana mungkin? Siapa yang bisa menemukan peta ini dan memahami rahasia di baliknya? Rahasia yang sudah terkubur selama berabad-abad, mungkin ribuan tahun. Peta itu terasa dingin di tangannya, seolah menyimpan embusan angin dari masa lalu yang jauh. Dia tidak pernah membagikan keberadaan peta ini kepada siapa pun, bahkan kepada ayahnya. Peta ini adalah warisan dari ibunya, yang meninggal ketika Putri Zhao masih sangat kecil. Ibunya hanya mengatakan bahwa peta itu adalah "kunci". Kunci untuk apa, ia tidak pernah tahu. Selama ini, ia mengira itu adalah kunci metaforis, sebuah nasihat untuk membuka pikiran atau hati. Tapi sekarang, melihat koneksi ini, kata "kunci" itu memiliki arti yang jauh lebih harfiah. Peta ini adalah kunci untuk memahami teknologi yang hilang, seni yang terlupakan. Putri Zhao kembali ke lemari, meletakkan peta itu di atas meja kecil di sampingnya, lalu mengambil beberapa gulungan lain dari laci rahasia. Ini adalah sketsa-sketsa yang ia buat bertahun-tahun yang lalu, hasil perjalanannya ke berbagai perpustakaan dan koleksi pribadi, mencoba memahami simbol-simbol kuno yang tersebar di seluruh kekaisaran. Simbol-simbol yang seringkali dianggap sebagai hiasan belaka, atau sisa-sisa kepercayaan lama yang primitif. Namun, di bawah matanya yang baru terlatih, ia kini melihat kesamaan yang mencolok. Ukiran pada bejana perunggu dari Dinasti Shang, bentuk-bentuk yang ditemukan di makam-makam kuno di perbatasan utara, bahkan motif geometris pada beberapa fragmen kain sutra yang ditemukan di reruntuhan kota kuno di barat. Semuanya, entah bagaimana, memiliki kaitan dengan pola pada peta bintang itu. Ini bukan sekadar penemuan seorang penenun genius. Ini adalah penemuan kembali sebuah bahasa visual universal yang telah terlupakan. Sebuah sistem yang mampu menciptakan ilusi, presisi, dan mungkin, kekuatan yang lebih besar. Mei Ling telah menyebutkan "kebangkitan" dan "mata dingin". Jika pola ini berasal dari masa lalu yang begitu jauh, maka ‘kebangkitan’ itu bukan tentang individu, melainkan tentang pengetahuan itu sendiri. Mata dingin yang disebutkan Mei Ling, apakah itu merujuk pada ketidakberpihakan sains kuno ini? Sebuah logika yang melampaui emosi manusia, seperti yang ia rasakan pada gulungan sutra teratai cahaya. Seseorang, atau sesuatu, telah berhasil mengakses pengetahuan ini. Siapa pun yang kembali membawa pola ini ke dunia modern, ia bukan hanya seorang seniman. Ia adalah seorang penjaga, atau lebih menakutkan, seorang pewaris. Pewaris dari sebuah rahasia yang jauh lebih besar dari sekadar tren mode. Rahasia yang bisa mengubah cara mereka memahami sejarah, bahkan realitas itu sendiri. Tangannya gemetar saat ia memegang peta kuno itu lagi. Beratnya terasa berbeda sekarang, bukan hanya kulit usang, tetapi juga beban dari semua pertanyaan yang baru muncul. Jika pola ini adalah kunci, apa pintu yang akan dibukanya? Dan apa yang menanti di baliknya? Dia membayangkan penenun misterius itu, dengan ‘mata dinginnya’ dan kemampuannya untuk menenun cahaya. Apakah orang itu sadar akan warisan yang dipegangnya? Atau ia hanyalah alat, sebuah wadah bagi kekuatan yang lebih tua? Putri Zhao menutup matanya sejenak, membiarkan semua kepingan teka-teki itu berputar-putar di benaknya. Gulungan sutra, peta kuno, desas-desus tentang kebangkitan, dan mata dingin. Semuanya kini terhubung dalam sebuah jaringan yang rumit. Pencarian penenun itu bukan lagi sekadar keingintahuan pribadi, atau bahkan urusan seni. Ini adalah penyelidikan terhadap sebuah misteri yang bisa mengungkap kebenaran yang jauh lebih besar tentang dunia mereka. Dan kebenaran itu, seperti pola teratai cahaya, bisa jadi sangat indah, sekaligus sangat berbahaya.

End of Chapter 6