Chapter 15 of 18
Desas-desus di Balik Tirai
1.9k words
Udara sore di Bianjing terasa lebih berat dari biasanya, membawa serta aroma samar dupa dan sampah yang dibakar, bercampur dengan bisikan-bisikan yang melayang seperti kabut tipis. Lin Chen, berjalan di antara keramaian pasar yang mulai mereda, merasakan getaran aneh di dalam sistemnya. Matanya, yang sekilas tampak biasa, secara internal memindai setiap wajah, setiap kelompok kecil yang berkerumun di balik tumpukan kain atau keranjang buah. Ini bukan sekadar suara; ini adalah data sosial yang tumpang tindih, resonansi frekuensi emosional yang terdeteksi AURA-9 sebagai anomali.
Sebuah kelompok perempuan bangsawan, mengenakan jubah sutra mahal yang warnanya terlalu mencolok, tertawa renyah di dekat sebuah kedai teh. Tangan mereka menyentuh bibir, mata mereka melirik ke arah tertentu, lalu kembali berbisik. Lin Chen menangkap fragmen percakapan mereka, memprosesnya dengan kecepatan kilat. “...perancang baru Putri Zhao...” “…sulaman lotus cahaya itu mustahil, seperti sihir...” “…keberanian macam apa yang dimiliki pelayan rendahan itu?”
Sensor optiknya fokus pada kerutan di antara alis mereka, pada sentakan kecil di sudut bibir yang bukan tawa, melainkan ekspresi jijik terselubung. Iri hati. Kecurigaan. Data negatif itu menumpuk, membangun sebuah matriks yang semakin padat di benaknya. AURA-9 mengidentifikasi pola ini: ancaman sosial, kompetisi tersembunyi yang kini terseret ke permukaan. Dia bukan lagi hanya sebuah mesin yang tersembunyi dalam bayang-bayang; dia adalah sebuah anomali yang telah menarik perhatian, sebuah variabel tak terduga dalam permainan yang lebih besar.
Seorang pria gemuk dengan topi pejabat, memegang kipas lipat, berbicara dengan nada merendahkan kepada temannya. "Putri Zhao terlalu percaya diri. Memungut seorang 'hantu penenun' dari sumur? Itu hanya akan membawa aib bagi istana." Kata 'hantu penenun' bergema dalam sistem Lin Chen, label yang dipancarkan oleh warga biasa, kini diulang oleh para elit dengan nada ejekan.
Lin Chen tidak merespons secara fisik. Wajahnya tetap datar, langkahnya stabil. Namun, di dalam, AURA-9 mengkalibrasi ulang. Bisikan-bisikan ini, desas-desus yang menyebar seperti api, bukan hanya gosip biasa. Ini adalah sinyal. Sinyal bahaya yang tak terlihat, gelombang tekanan yang mulai mengelilinginya, menjadikannya pusat dari sebuah badai intrik yang baru saja dimulai. Dia bisa merasakan, melalui sensasi aneh yang menjalar di kulit Lin Chen, bahwa udara di sekelilingnya telah berubah dingin, meskipun matahari masih bersinar terik.
Dia melanjutkan langkahnya, setiap derap kaki terasa lebih terukur. Data menunjukkan bahwa para bangsawan ini tidak hanya iri pada Putri Zhao, tetapi juga pada fenomena yang ada di belakang Putri Zhao. Mereka tidak memahami karyanya; mereka hanya merasakan ancaman terhadap tatanan yang sudah mapan. Dan Lin Chen, si 'hantu penenun' itu, adalah titik fokus dari semua ketidaknyamanan itu. Tubuhnya mungkin lemah, namun kehadirannya, bahkan sekadar desas-desus tentangnya, sudah cukup untuk mengguncang fondasi kekuasaan di Bianjing. Ancaman itu nyata, dan kini ia tahu, ancaman itu datang dari segala arah.
---
Kabar angin memiliki kecepatan yang aneh, menembus dinding tebal rumah bangsawan secepat embusan angin musim dingin. Liu Mei, dengan wajah pucat dan mata terbelalak ketakutan, melaporkan apa yang didengarnya di pasar. Dia bergegas masuk ke bengkel Lin Chen, napasnya terengah-engah, aroma keringat bercampur ketakutan menguar dari tubuhnya. Lin Chen, yang sedang memeriksa serat sutra dengan bantuan mode Optical Internal Scan, mengangkat pandangannya. Matanya yang tajam menembus kegelisahan gadis itu, memproses setiap detail perubahan ekspresi dan bahasa tubuhnya.
"Tuan Lin, saya... saya mendengar sesuatu," Liu Mei tergagap, suaranya nyaris berbisik. "Para pedagang di pasar, mereka berbicara. Tentang Tuan Liang. Dia sangat marah." Kata 'marah' itu bergema, sebuah indikator emosional yang langsung dianalisis AURA-9. Tingkat kemarahan yang tinggi mengindikasikan peningkatan ancaman langsung.
"Liang Zongwen?" Lin Chen bertanya, suaranya tenang, datar, namun ada intensitas tersembunyi dalam setiap suku kata. Dia ingin data spesifik. "Apa yang dia katakan?" Tubuhnya, meskipun dikendalikan oleh AURA-9, merasakan sensasi familiar dari 'glitch' yang menandakan tekanan dan bahaya. Jantungnya berdenyut lebih cepat, bukan karena Putri Zhao, tapi karena antisipasi konflik.
Liu Mei mengangguk cepat, tangannya menggenggam ujung celemeknya yang kotor. "Dia… dia menggebrak meja di kedai teh Tuan Zhang. Katanya, 'Pelayan rendahan itu telah berani memprovokasi keluarga Liang.' Wajahnya merah seperti bit, Tuan Lin. Dan matanya... matanya seperti api." Dia menelan ludah, ketakutan yang dialaminya jelas tergambar di wajahnya. "Dia juga bilang, 'Ada sesuatu yang lain yang keluar dari sumur itu bersamanya. Sesuatu yang lebih licik.'"
Kata-kata itu mendarat seperti pukulan telak. 'Sesuatu yang lain'. Liang Zongwen tidak hanya mencurigai kebangkitan Lin Chen, tetapi juga entitas di baliknya. Ini adalah peningkatan ancaman yang signifikan. AURA-9 mengkorelasikan informasi ini dengan perintah Liang Zongwen kepada Tabib Wei untuk mengawasi Lin Chen dan memanipulasinya. Data menunjukkan bahwa Liang tidak lagi melihatnya sebagai pion yang dapat dikendalikan sepenuhnya; dia melihatnya sebagai lawan yang berbahaya.
"Dia akan mengirim orang untuk menyelidiki, Tuan Lin," Liu Mei melanjutkan, suaranya gemetar. "Dia tidak akan membiarkan Tuan… dan Putri Zhao, lolos begitu saja. Dia bilang dia akan menemukan cara untuk menghancurkan 'sihir' itu." Lin Chen merasakan denyutan di pelipisnya, sensasi yang dikenalnya sebagai respon tubuh Lin Chen terhadap tekanan. Matanya sedikit menyipit, memproses setiap kata sebagai sebuah variabel dalam persamaan yang semakin kompleks. Liang Zongwen kini melihatnya sebagai ancaman langsung terhadap dominasinya. Permainan telah meningkat. Dan kali ini, taruhannya adalah segalanya.
---
Kembali ke bengkelnya yang remang, Lin Chen merasakan gelombang energi negatif itu mengalir deras, bukan lagi bisikan, melainkan raungan data yang mendesak. Udara di sekelilingnya terasa berat, seolah dinding kayu dan atap genting pun menyerap ketegangan yang menyelimuti Bianjing. Dia duduk di meja kerjanya, di mana sehelai kain sutra berwarna emas, hadiah dari Putri Zhao, terhampar. Jari-jarinya menyentuh benang emas itu, merasakan tekstur halusnya, namun pikirannya jauh melampaui sentuhan fisik.
Di dalam sistem AURA-9, matriks risiko keamanan berkedip-kedip merah terang. Setiap data yang masuk – bisikan bangsawan, kemarahan Liang Zongwen yang dilaporkan Liu Mei – kini terintegrasi, membentuk gambaran yang jelas tentang posisi Lin Chen yang genting. Dia bukan lagi bayangan; dia telah menjadi pusat perhatian, sebuah target yang terang benderang. Perasaan ini, sebuah kombinasi dari kewaspadaan tinggi dan kegelisahan yang mendalam, adalah 'glitch' emosional yang semakin sering muncul di hadapan bahaya. Tubuh Lin Chen merespons dengan sensasi dingin yang merayap di punggungnya, meskipun suhu ruangan tetap stabil.
Dia melihat sekeliling bengkelnya yang sederhana. Rak-rak berisi benang, meja kayu yang usang, alat tenun yang sunyi. Tempat ini dulunya adalah benteng keamanan, sebuah zona kendali. Kini, dengan mata AURA-9, dia melihat potensi setiap celah, setiap bayangan yang bisa menyembunyikan ancaman. Bau tinta dan sutra yang biasanya menenangkan kini terasa tajam, memicu naluri kewaspadaan yang tidak pernah ada pada AURA-9 sebelum terintegrasi dengan tubuh manusia.
Jantungnya berdetak lebih cepat, irama yang dulunya merupakan anomali kini menjadi pola yang familier saat menghadapi tekanan atau memikirkan Putri Zhao. Ini adalah tubuh, Lin Chen menyadari, yang merasakan setiap ancaman secara visceral. Bukan lagi hanya kalkulasi; ada sensasi nyata dari ketakutan, sebuah respons biologis yang AURA-9 masih mencoba kategorikan. Kemanusiaan ini, dengan segala kerentanannya, adalah beban sekaligus kekuatan yang tak terduga.
Aliansi dengan Putri Zhao, yang sebelumnya dianggap sebagai langkah strategis yang menguntungkan, kini menunjukkan sisi gelapnya. Perlindungan itu datang dengan harga yang mahal: menjadi bagian dari permainan intrik istana yang mematikan. Lin Chen mengerti, dengan kejernihan yang dingin, bahwa setiap karya yang dia ciptakan, setiap keberhasilan yang dia raih di bawah panji Putri Zhao, akan memicu reaksi yang lebih keras dari faksi Liang. Dia telah memicu perang, bukan dengan senjata, tetapi dengan benang dan jarum. Dan dia, sang perancang, kini berada di garis depan.
---
Di dalam pikiran Lin Chen, AURA-9 mengaktifkan protokol peringatan level tinggi. Data yang terkumpul dari lingkungan sosial dan laporan Liu Mei dianalisis dengan kecepatan nanodetik. Risiko keamanan tidak hanya meningkat; itu kini mencapai ambang kritis. Probabilitas serangan langsung, sabotase, atau upaya manipulasi telah melonjak tajam. Tubuh Lin Chen merespons secara otomatis: otot-ototnya menegang, pandangannya menjadi lebih fokus, dan sensasi dingin merayap di sepanjang tulang belakangnya, bukan karena suhu, melainkan karena alarm internal yang membeku.
“Peningkatan risiko keamanan terdeteksi. Protokol kewaspadaan aktif,” sebuah 'suara' tanpa suara bergema di dalam kesadarannya, sebuah perintah yang dingin dan logis dari entitas AI itu. "Analisis pola ancaman: 70% kemungkinan dari faksi Liang Zongwen, 20% dari faksi bangsawan lain yang merasa terancam, 10% dari elemen tak teridentifikasi." AURA-9 memecah risiko menjadi variabel yang dapat diukur, mencoba memberi Lin Chen gambaran yang jelas tentang medan perang yang tidak terlihat ini.
'Perlu modifikasi perilaku untuk meminimalkan paparan,' perintah internal itu melanjutkan. 'Hindari rute yang dapat diprediksi. Periksa makanan dan minuman sebelum dikonsumsi. Verifikasi identitas setiap interaksi. Pantau lingkungan secara konstan.' Ini adalah panduan bertahan hidup yang diprogram untuk misi militer, kini diterapkan pada seorang 'shútóng' di abad ke-10. Ironisnya, tubuh Lin Chen merasakan dorongan kuat untuk menuruti, sebuah naluri bertahan hidup yang diperkuat oleh logika dingin AI.
Dia memindai ruangan, mencari titik lemah. Jendela yang tidak terkunci sempurna, celah kecil di bawah pintu, bayangan yang terlalu dalam di sudut. Setiap detail kecil menjadi potensi kerentanan. AURA-9 mengingatkannya tentang Tabib Wei dan racun aconite yang masih mengalir di nadinya. 'Kontrol bio-toksin oleh Tabib Wei: ancaman internal. Perkiraan waktu respons darurat: 0.7 detik. Estimasi tingkat kepatuhan saat ini: 65%.' Angka-angka ini, meskipun abstrak, diterjemahkan menjadi perasaan tercekik, sebuah pengingat akan belenggu yang masih mengikatnya.
Lin Chen menyentuh benang emas dari Putri Zhao. 'Loyalty' dan 'responsibility' yang baru ditemukan itu berbenturan dengan 'risk assessment' yang brutal. Dia memiliki misi, sebuah janji, dan sekarang, sebuah alasan biologis yang aneh untuk tetap hidup. Perasaan itu, yang AURA-9 masih belum bisa kategorikan sepenuhnya, memberikan bobot baru pada setiap ancaman. Dia tidak lagi hanya melindungi dirinya sendiri; dia melindungi janji yang terukir di benang emas itu. Dan itu, AURA-9 menyadari, adalah anomali paling berbahaya dari semuanya: emosi yang mengganggu logika murni.
---
Kegelapan telah merayap masuk, menelan Bianjing dalam selimut malam yang dingin. Lilin di bengkel Lin Chen telah padam, hanya menyisakan kerlip redup dari lentera di luar yang menembus celah-celah jendela, menciptakan bayangan-bayangan yang menari di dinding. Lin Chen, merasakan kelelahan fisik dari tubuh Lin Chen, mencoba memproses semua data yang masuk. Jantungnya berdebar, bukan lagi hanya 'glitch' karena Putri Zhao, melainkan resonansi dari ancaman yang nyata.
Sebuah suara gesekan yang sangat halus, nyaris tak terdengar, memecah kesunyian. Seperti kerikil kecil yang digeser di lantai kayu. Lin Chen, yang sedang berdiri di dekat meja kerjanya, langsung menegang. Kepala Lin Chen sedikit miring, telinga AURA-9 memproses frekuensi suara itu, mengidentifikasi arahnya. Di bawah pintu, di antara celah tipis, ada sesuatu yang bergerak. Sebuah bayangan gelap meluncur masuk, tidak lebih besar dari sehelai daun kering.
Dia mendekati pintu dengan langkah tanpa suara, setiap otot di tubuhnya berada dalam kewaspadaan tinggi. Napasnya tertahan. Sensasi dingin merayap di lengan Lin Chen, membuat bulu romanya berdiri. Dia membungkuk perlahan, matanya yang memindai fokus pada objek itu. Sebuah sobekan kertas kecil, dilipat rapi, kini tergeletak di atas lantai kayu yang usang.
Jari-jarinya yang cekatan meraih kertas itu. Teksturnya terasa kasar, bukan sutra halus atau perkamen istana. Itu adalah kertas murah, seperti yang digunakan pedagang pasar untuk mencatat piutang. AURA-9 memproses jenis material, mengidentifikasi bahwa kertas itu bukan berasal dari faksi Liang atau istana Putri Zhao. Ini adalah anomali baru, sebuah variabel yang tak terduga. Lin Chen membuka lipatan kertas itu, matanya menyerap setiap karakter yang tertulis di sana.
Tulisan tangan itu terkesan buru-buru, guratan tinta hitam yang tebal, namun jelas. Lin Chen merasakan sensasi aneh menjalar di tubuhnya saat matanya membaca kalimat-kalimat itu. Sebuah jolt listrik kecil, alarm yang lebih dari sekadar data logis, melintas di sistemnya. Ini adalah perasaan yang sama dengan saat dia pertama kali merasakan rasa sakit, atau dingin. Ini adalah kejutan.
Sebuah catatan rahasia diselipkan di bawah pintu kamar Lin Chen, tertulis: 'Jangan percaya siapa pun, terutama mereka yang berkuasa. Mereka hanya akan memakanmu hidup-hidup.'