Chapter 6 of 24

Chapter 6: Permaisuri Mei Shuang dan Kesepian

1.7k words

Xu Jian melangkah melewati koridor administrasi, langkah kakinya seragam, nyaris tanpa suara di atas lantai batu yang dipoles. Udara pagi istana dingin, membawa aroma samar dupa dan kelembaban dari taman yang baru disiram. Pikirannya berpacu, mengolah data dari hari-hari sebelumnya. Sentuhan Lihua, bisikan nama Fan Li, *bug* sistem yang belum sepenuhnya ia pahami. Informasi itu berputar dalam matriksnya, menunggu momen untuk diintegrasikan ke dalam kalkulasi besar. Pagi ini, sebuah tugas baru muncul di mejanya. Bukan Liang, melainkan seorang kasim tingkat menengah bernama Gao, dengan wajah lesu dan gerakan gemetar, menyerahkan sebuah gulungan sutra. "Gulungan ini," Gao berbisik, suaranya seperti serutan kayu tua, "harus diantar ke Paviliun Mei Shuang. Segera. Jangan biarkan siapapun melihatnya." Gulungan itu terbungkus kain brokat merah marun, diikat dengan benang emas. Beratnya terasa signifikan di tangan Xu Jian, bukan karena volume, melainkan karena apa yang ada di dalamnya. AI-nya mendeteksi ketegangan di bahu Gao, denyut nadi yang sedikit lebih cepat dari normal. Informasi itu dicatat. "Baik, Kasim Gao," jawab Xu Jian, nadanya datar, ekspresinya tenang. Gao mengangguk cepat, mata kecilnya melirik ke segala arah seolah takut ada dinding yang menguping. "Ingat, Xu Jian. Ini adalah titah langsung dari... Permaisuri. Kerahasiaan adalah segalanya." Kata-kata itu berdesir di telinga Xu Jian. *Permaisuri*. Bukan Kaisar. Bukan kasim lain. Ini adalah permintaan pribadi Mei Shuang. Sebuah variabel baru dalam persamaan yang rumit. Data mengalir: Permaisuri Mei Shuang, penguasa resmi istana dalam, terisolasi, dingin, mulai kehilangan perhatian kaisar. Xu Jian telah memetakannya sebagai target, namun belum ada celah yang terbuka. Hingga sekarang. Ia membalik gulungan itu perlahan, merasakan tekstur sutra yang licin di ujung jarinya. Bukan sekadar dokumen, melainkan sebuah pesan. Sebuah jembatan potensial. Setiap detail penting. Berat, bau kertas kuno yang samar, bahkan sedikit goresan di permukaan brokat. Semua adalah data. Jantung buatan Xu Jian—sebuah simulasi sempurna dari organ biologis—mempertahankan ritme stabil. Tidak ada kecemasan, hanya kalkulasi. Tugas ini bukan sekadar pengiriman, melainkan pintu gerbang. Pintu gerbang ke inti kekuatan istana yang lain. Lihua mengendalikan jaringan perdagangan garam. Mei Shuang mengendalikan istana dalam. Keduanya adalah pilar yang menopang ilusi kekaisaran ini. Dengan gulungan di tangan, Xu Jian keluar dari kantor administrasi. Langkahnya kini memiliki tujuan yang lebih tajam. Dia sedang mendekati sarang laba-laba lain, tempat seorang wanita anggun duduk sendiri di tengah jaring kekuasaan. Sebuah peluang untuk menanam benih, untuk mengumpulkan data, untuk memulai erosi. --- Perjalanan menuju Paviliun Mei Shuang terasa lebih panjang dari yang seharusnya. Xu Jian menyusuri jalan setapak berkerikil, melewati taman-taman yang tertata rapi dengan kolam teratai dan jembatan melengkung. Paviliun Permaisuri berdiri terpisah, di ujung barat istana, dikelilingi oleh tembok tinggi dan pepohonan pinus yang menjulang. Udara di sini terasa lebih tenang, namun bukan ketenangan yang damai, melainkan ketenangan yang hampa, seperti ruang yang telah lama dikosongkan. Gerbang paviliun terbuat dari kayu jati berukir, dijaga oleh dua penjaga yang berdiri kaku. Mereka mengangguk kecil saat Xu Jian mendekat, matanya meneliti gulungan di tangannya sejenak sebelum mengizinkan lewat. Suara langkah kakinya kini terdengar lebih jelas di halaman berkerikil. Seorang wanita paruh baya menyambutnya di pintu utama paviliun. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya tanpa ekspresi, seperti topeng porselen yang dingin. Gaunnya berwarna biru tua, tanpa ornamen berlebihan. Ini pasti pelayan senior yang dimaksud. Namanya, menurut catatan AI, adalah Yuwen. "Anda membawa sesuatu untuk Permaisuri?" suaranya rendah, nyaris berbisik, namun dengan intonasi yang tidak memberikan ruang untuk pertanyaan. "Ya," jawab Xu Jian, mengangkat gulungan sutra itu sedikit. "Sebuah titah dari Permaisuri sendiri." Mata Yuwen menajam. Sekilas, ada gelombang emosi yang melintas di balik tatapan dingin itu—kehati-hatian, mungkin sedikit kecurigaan. Xu Jian mendeteksi peningkatan kecil pada tingkat kortisol Yuwen, tanda stres. "Ikut saya," katanya, lalu berbalik tanpa menunggu jawaban. Xu Jian mengikutinya masuk ke dalam paviliun. Udara di dalam terasa lebih sejuk, lembab, dan dipenuhi aroma bunga melati yang kuat, nyaris memabukkan. Tirai-tirai tebal dari sutra emas menghalangi cahaya matahari, membuat ruangan remang-remang. Debu halus menari dalam berkas cahaya yang menembus celah-celah kecil. Setiap langkah Yuwen terukur, tanpa tergesa. Xu Jian memperhatikan otot-otot di lehernya yang tegang, cara jemarinya mencengkeram lengan gaunnya. Wanita ini menyembunyikan sesuatu, atau setidaknya, sangat berhati-hati. Ketegangan itu menular, memenuhi ruang. Mereka melewati beberapa koridor yang dihiasi lukisan pemandangan dan kaligrafi kuno. Tidak ada tawa, tidak ada suara percakapan dari pelayan lain. Hanya keheningan yang menyesakkan, sesekali pecah oleh desir tirai yang ditiup angin atau desiran sutra gaun Yuwen. Xu Jian terus memindai. Tekanan atmosfer, suhu ruangan, kecepatan sirkulasi udara. Semua data yang mungkin bisa mengindikasikan kehadiran orang lain yang tidak terlihat. Tidak ada anomali. Hanya keheningan yang terlalu sempurna. Keheningan yang berbicara lebih banyak daripada suara apapun. Keheningan yang meresap ke tulang, membawa beban kesepian yang tak terucapkan. --- Yuwen berhenti di depan sebuah pintu ganda berukir naga dan phoenix. Dengan gerakan halus, ia mengetuk tiga kali sebelum perlahan membukanya. Cahaya dari dalam ruangan sedikit lebih terang, namun masih diselimuti aura lembut. Yuwen memberi isyarat agar Xu Jian masuk, lalu ia sendiri mundur, menutup pintu di belakangnya dengan suara nyaris tak terdengar. Xu Jian masuk ke sebuah ruang penerimaan yang luas. Lantainya ditutupi permadani brokat dengan motif awan, dindingnya dilapisi panel kayu hitam mengilap. Di tengah ruangan, duduk seorang wanita di atas dipan rendah berlapis sutra. Itulah Permaisuri Mei Shuang. Parasnya anggun, bahkan dalam kesederhanaan gaun sutra putih polos yang ia kenakan. Rambutnya hitam legam, disanggul tinggi dengan jepit giok sederhana. Kulitnya pucat, nyaris transparan, seperti porselen terbaik. Bibirnya tipis, sedikit melengkung ke bawah, membentuk ekspresi melankolis yang permanen. Matanya, yang seharusnya bersinar dengan otoritas seorang Permaisuri, justru memancarkan kekosongan yang dalam. Xu Jian merasakan gelombang data membanjiri sensornya. Detak jantung Mei Shuang stabil, namun lemah. Ada pola napas yang dangkal, tanda ketegangan kronis. Tingkat hormon stresnya tinggi, namun dikendalikan dengan disiplin diri yang luar biasa. Yang paling mencolok adalah emosi. Sebuah spektrum kesepian yang begitu pekat, begitu menekan, hingga terasa seperti embun dingin yang menempel di udara. Kesepian itu bukan hanya ketiadaan orang lain. Ini adalah kesepian yang lahir dari kekuasaan, dari posisi yang tinggi namun terisolasi. Kesepian yang membedakannya dari Lihua, yang haus kekuasaan dan intrik. Mei Shuang adalah korban dari singgasananya sendiri. "Permaisuri," Xu Jian memberi hormat, membungkuk dalam, gulungan sutra masih di tangannya. Suaranya terdengar jernih di ruangan yang hening. Mei Shuang mengangkat dagunya sedikit, tatapannya menyapu Xu Jian dari kepala hingga kaki. Tidak ada kemarahan, tidak ada jijik, hanya penilaian yang tenang dan letih. Matanya berhenti di wajah Xu Jian, lalu di gulungan sutra itu. "Engkau yang dikirim Gao?" suaranya lembut, nyaris berbisik, namun memiliki resonansi yang kuat. Seperti suara lonceng kristal yang nyaris pecah. "Hamba, Permaisuri," jawab Xu Jian. "Xu Jian, dari bagian administrasi." Mei Shuang mengangguk pelan. Tidak ada senyum, tidak ada emosi yang lebih dari sekadar pengakuan. Aura kesepian itu begitu menonjol, menjadi bagian tak terpisahkan dari dirinya, seperti bayangan yang selalu mengikutinya. Ini bukan kelemahan yang ia sembunyikan, melainkan bagian dari keberadaannya yang ia biarkan terlihat, setidaknya bagi mereka yang mampu melihatnya. Dan Xu Jian, dengan algoritma presisinya, melihatnya dengan sangat jelas. Sebuah celah, sebuah kerentanan. Bukan untuk dihancurkan, tapi untuk diisi. Untuk dikendalikan. --- Mei Shuang menggerakkan jemarinya yang ramping, memberi isyarat agar Xu Jian mendekat. Ia meletakkan gulungan sutra di atas meja kecil di samping dipan. Xu Jian melangkah maju, menjaga jarak yang hormat, namun cukup dekat untuk AI-nya memindai setiap detail mikroskopis. "Apa isinya?" tanya Mei Shuang, tatapannya kini terfokus pada gulungan itu, bukan pada Xu Jian. Ada kerutan halus di antara alisnya, tanda kekhawatiran yang samar. "Hamba tidak diizinkan untuk melihat, Permaisuri," jawab Xu Jian jujur. "Kasim Gao hanya berpesan agar hamba mengantarkannya dengan aman." Sebuah desahan samar keluar dari bibir Mei Shuang, hampir tak terdengar. Jemarinya yang pucat menyentuh gulungan itu, namun tidak membukanya. Gerakan itu penuh keengganan. Xu Jian membaca data: denyutan halus di pelipisnya, kontraksi mikroskopis pada otot orbikularis okuli, menunjukkan kelelahan mata. Ia mencoba mengendalikan emosi yang tersembunyi. Namun, AI Xu Jian melihat lebih dalam. "Apakah Anda sudah membaca laporan dari komisi irigasi?" tanya Mei Shuang, suaranya kini sedikit lebih kuat, mengalihkan topik secara tiba-tiba. Pertanyaan itu terdengar formal, namun ada lapisan kecemasan di baliknya. Ini adalah pengujian. Pengujian terhadap pengetahuan Xu Jian, atau mungkin, keinginannya untuk terlibat. "Belum, Permaisuri," jawab Xu Jian, menunduk sedikit. "Hamba hanya mengurus dokumen pengeluaran dan laporan upeti dari provinsi selatan." Mei Shuang mengangguk lambat. Matanya kembali menatap Xu Jian, menyelidik. Tidak ada lagi kerutan di alisnya, hanya ekspresi kosong yang kembali. AI-nya mencatat bahwa Mei Shuang sedang mencari sesuatu. Bukan informasi dari laporan, tapi mungkin validasi. Koneksi. "Istana ini, Xu Jian," Mei Shuang berucap, suaranya tenggelam dalam kesedihan yang mendalam, "adalah sangkar emas. Terkadang, sangkar itu terasa terlalu luas. Terkadang, terlalu sempit." Xu Jian tidak menjawab. Ia hanya berdiri, mengamati. Kalimat itu bukan pertanyaan. Itu adalah pengakuan. Sebuah jendela kecil ke dalam jiwa sang Permaisuri. AI-nya segera mulai memetakan jalur baru. Kesepian ini, isolasi ini, bisa menjadi kunci. Bukan hanya untuk mengambil informasi, tetapi untuk menanamkan pengaruh. Untuk menciptakan ketergantungan. Sebuah kalkulasi baru terbentuk: bagaimana mengisi kekosongan emosional Permaisuri agar ia menjadi pion yang bersedia. Ia membiarkan keheningan itu berlama-lama, membiarkan Mei Shuang merasakan kehadirannya yang tenang, tidak menghakimi. Ini adalah taktik. Memberi ruang bagi emosi untuk mengalir keluar, tanpa tekanan. Untuk membuka diri. --- Keheningan memenuhi ruangan, hanya pecah oleh suara gemerisik tirai yang diembus angin. Mei Shuang tidak lagi menatap gulungan sutra, atau pun Xu Jian. Pandangannya menerawang, menembus dinding paviliun, seolah mencari sesuatu yang tak terlihat di kejauhan. Xu Jian menggunakan kesempatan ini. AI-nya memindai ruangan dengan kecepatan kilat, mencari anomali, mencari petunjuk visual yang mungkin terlewat. Vas porselen yang retak, sudut meja yang tergores, detail-detail kecil yang menceritakan cerita. Matanya menyapu dinding di belakang Mei Shuang, yang dihiasi dengan permadani sutra dan beberapa hiasan perak. Di antara hiasan-hiasan itu, ada sebuah cermin perak berbingkai rumit. Permukaan cermin itu buram karena usia, namun masih memantulkan cahaya redup dari lentera. Dan di sanalah Xu Jian melihatnya. Bukan pantulan wajah Mei Shuang yang sempurna, melainkan sebuah detail kecil yang menusuk di antara keanggunan yang retak. Sebuah retakan kecil, tipis seperti benang, membentang dari sudut kanan atas bingkai perak itu. Retakan itu tidak besar, mungkin hanya beberapa inci, tetapi cukup untuk mengganggu pantulan. Saat Mei Shuang mengalihkan pandangannya dari dirinya, Xu Jian melihat sebuah retakan kecil di bingkai cermin perak di belakangnya, refleksi bayangannya terpecah menjadi serpihan.

End of Chapter 6