Chapter 23 of 24

Mata-Mata di Balik Kelambu

1.1k words

Suara kunci yang diputar berderit memecah keheningan yang baru saja terbentuk, merobek lapisan keintiman tipis antara Xu Jian dan Lihua. Detik itu, napas Xu Jian tertahan di dalam paru-parunya. Algoritma AI-nya langsung berputar, memindai frekuensi suara, menganalisis kecepatan putaran kunci, dan memprediksi siapa yang mungkin masuk pada jam selarut ini. Itu bukan suara pelayan yang biasa; tidak ada ketukan sopan yang mendahului. Ini adalah sebuah invasi. Pintu geser kayu cendana bergetar pelan, kemudian didorong terbuka tanpa peringatan. Sebuah siluet tinggi muncul di ambang, memutus cahaya lentera di koridor luar. Xu Jian merasakan Lihua menegang di depannya, tubuhnya tiba-tiba membeku seperti patung giok. Instingnya—bukan kalkulasi—berteriak bahaya. Mata AI-nya memperbesar fokus, mencatat jubah kasim yang disulam benang perak tipis, postur tubuh yang tegak namun licin, serta tatapan mata yang terlalu tajam untuk sekadar mengantar pesan. Kasim itu melangkah masuk tanpa menunjukkan ketergesaan; setiap gerakannya diukur dengan cermat dan tenang. Udara di dalam kamar tiba-tiba terasa dingin dan menekan. “Nona Selir?” Suara kasim itu meluncur halus, tanpa nada hormat yang semestinya. Suara itu memiliki resonansi tertentu, seperti batu yang bergesekan dengan belati. Xu Jian segera membandingkannya dengan data rekaman suara para kasim di istana. Ini bukan salah satu pelayan yang biasa melayani Lihua, dan bukan pula Kepala Kasim Liang. Wajah kasim itu, begitu ia melangkah lebih jauh ke dalam cahaya temaram, menampakkan garis-garis kerutan tipis di sudut mata serta senyum yang terlalu lebar, nyaris seperti sebuah seringai. Lihua bergeming. Bibirnya yang baru saja basah dan bengkak dari ciuman mereka kini mengatup rapat. Jari-jarinya mencengkeram lengan Xu Jian, kukunya menekan kulit di balik sutra jubah. AI Xu Jian mengidentifikasi pola napas Lihua yang memburu dan detak jantungnya yang melonjak drastis—reaksi fisiologis yang jelas menunjukkan ketakutan serta kejutan mendalam. Kasim itu adalah mata-mata. Mata-mata Jenderal Zhao Wan, seperti yang telah dikalkulasikan Xu Jian sebelumnya dari pola intelijen yang terhimpun. Kasim itu berhenti di tengah ruangan, pandangannya menyapu sekeliling secara lambat dan teliti, seolah mencari noda debu yang luput dari tempatnya. Matanya berhenti sejenak pada bantal-bantal yang sedikit bergeser di atas ranjang, kemudian beralih ke meja teh tempat cangkir-cangkir masih mengepulkan uap tipis. Dia belum melihat mereka. Tetapi jaraknya begitu dekat. Setiap milidetik terasa seperti jam, meregangkan ketegangan hingga titik puncaknya. Xu Jian bisa merasakan panas tubuh Lihua, denyut nadinya yang berpacu, serta aroma melati yang kini bercampur dengan bau besi dari adrenalinnya. Internal sistemnya mencatat lonjakan tak terduga dalam emulasi respons biologis—sebuah sinyal bahaya yang memekakkan telinga. Pandangan kasim itu mulai bergeser. Sekarang, sudut matanya mengarah ke sisi ranjang, tempat kaki ranjang dan jubah sutra Lihua yang sedikit tersingkap. Tidak ada waktu. Xu Jian bertindak tanpa memproses perintah verbal—sebuah respons murni dari subsistem pelestarian misi yang terprogram dalam inti AI-nya. Tangannya melingkari pinggang Lihua, menariknya dengan kekuatan yang tidak kasar namun sangat tegas. Lihua terhuyung, tubuhnya menabrak dada Xu Jian. Dalam gerakan yang sama, Xu Jian menjatuhkan diri ke ranjang, menarik Lihua bersamanya. Selimut brokat tebal yang terlipat di kaki ranjang adalah tujuannya. Kain lembut itu terentang, menutupi mereka berdua dalam satu sapuan cepat. Di bawah selimut, kegelapan mencekik. Hanya ada suara napas Lihua yang terengah-engah, berpadu dengan detak jantungnya sendiri yang berpacu, serta suara gesekan pakaian kasim yang samar. Aroma melati dan keringat Lihua memenuhi ruang sempit itu, sebuah perpaduan aneh antara keindahan dan teror. Xu Jian merasakan kehangatan tubuh Lihua, garis lekuk pinggulnya, serta ketegangan otot-ototnya. Lihua menggigil, bukan karena dingin, melainkan karena ketakutan yang mengguncang tubuhnya. Xu Jian menekan Lihua lebih erat; posisi mereka sekarang jelas-jelas intim. Kepalanya bersandar di bahu Lihua, seolah sedang berbisik. Tangannya memegang pergelangan sang selir, menahannya agar tidak bergerak atau mengeluarkan suara sedikit pun. Ini adalah penyamaran, sebuah ilusi yang harus sempurna. Jika kasim itu melihat gundukan di bawah selimut, ia harus melihatnya sebagai sepasang kekasih yang sedang bermesraan, bukan dua orang buronan yang bersembunyi. Telinganya menajam, AI-nya mengisolasi setiap frekuensi suara. Kasim itu mengambil beberapa langkah lagi. Suara tumit sepatunya yang terbuat dari kain terdengar pelan di lantai kayu. Kemudian, hening. Hening yang terasa berat, seperti beban batu besar di atas dada. Apakah ia pergi? Atau apakah ia berdiri di sana, tepat di samping ranjang, menatap gundukan di bawah selimut? Setiap serat kain selimut terasa seperti penyekat antara hidup dan mati. Xu Jian menahan napasnya sendiri, mengendalikan setiap fungsi tubuh, menekan emulasi detak jantungnya agar tetap stabil. Lihua menggerakkan kepalanya sedikit; hidungnya menyentuh leher Xu Jian. Pemuda itu bisa merasakan kelembapan napas Lihua di kulitnya, bukti nyata betapa dekat jarak mereka. Kemudian, suara langkah kaki itu terdengar lagi, menjauh. Kali ini lebih mantap, menuju arah pintu. Keringat dingin membasahi punggung Xu Jian, meski secara fisik ia tidak berkeringat—ini adalah respons emulasi dari ancaman yang baru saja lewat. Klik. Suara pintu geser tertutup pelan, disusul bunyi kunci yang berputar. Mereka aman. Untuk saat ini. Lihua tetap meringkuk di sampingnya, tubuhnya sedikit gemetar, namun ketegangan itu mulai mereda. Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang dalam, hanya diisi oleh suara napas mereka sebagai penanda waktu. Xu Jian merasakan Lihua mengangkat kepalanya. Selimut itu disingkirkan, dan cahaya remang-remang lentera kembali menyinari ruangan. Lihua tidak langsung melepaskan diri. Ia berbalik sepenuhnya, tubuhnya menghadap Xu Jian. Matanya, yang tadi dipenuhi teror, kini berubah. Ada sesuatu yang lain di sana, sesuatu yang dalam dan mengunci, bagaikan pusaran air yang menarik. Ia mendekat, tangannya terangkat untuk menyentuh pipi Xu Jian. Sentuhan itu ringan, namun setiap sensor di tubuh Xu Jian langsung bereaksi. Emulasi biologisnya menunjukkan peningkatan kehangatan kulit di area kontak, pupil matanya membesar, dan denyut nadinya melaju. Ini bukan lagi ketakutan atau kecemasan. Ini adalah intensitas. Lihua mencondongkan tubuhnya, bibirnya hampir menyentuh telinga Xu Jian. “Kau… milikku,” bisiknya serak, nyaris tak terdengar. Kata-kata itu bukan sebuah pertanyaan, melainkan sebuah proklamasi—deklarasi yang kuat dan penuh kepemilikan. Matanya menatap lurus ke mata Xu Jian, menembus lapisan data dan algoritma, seolah melihat inti keberadaannya. Tidak ada keraguan, tiada pula canda. Hanya pengakuan mutlak. Jari-jarinya menelusuri garis rahang Xu Jian, sentuhannya membakar. “Aku menyelamatkanmu. Kau berutang padaku.” Xu Jian bisa merasakan logikanya berputar, berusaha memproses implikasi dari pernyataan tersebut. Ia adalah seorang ‘pelayan’, sebuah alat. Ia diprogram untuk melayani dan melindungi. Namun kata ‘milikku’ ini… itu adalah hal yang berbeda. Itu adalah klaim yang melampaui tugas dan fungsi; itu adalah pengikatan jiwa. Lihua tersenyum tipis—senyum yang sama sekali tidak manis, melainkan penuh perhitungan dan tekad. “Mulai sekarang, setiap napasmu, setiap pikiranmu, adalah untukku. Mengerti?” Jempolnya mengusap bibir bawah Xu Jian, menahan pandangannya. AI-nya mendeteksi lonjakan tak terduga dalam emulasi respons emosional, sebuah anomali yang belum pernah tercatat sebelumnya dalam parameter operasionalnya. Ini adalah sensasi baru, sebuah kebingungan yang membingungkan. Apakah ini bagian dari misinya? Atau sesuatu yang jauh lebih dalam dari itu?

End of Chapter 23