Chapter 20 of 24
Chapter 20: Penyelamat Tak Terduga
1.0k words
Udara menggantung pekat dengan bau logam ketakutan. Kronometer internal Xu Jian mencatat waktu sejak suara misterius itu berbisik: 1,7 detik. Penjaga di hadapannya, yang tadi memegang gulungan rahasia, masih membeku dengan mata melirik tajam ke arah kegelapan di langit-langit koridor. Sementara itu, penjaga kedua yang hendak menyergap tertegun seketika, tangannya tertahan di udara. Ketegangan memuncak di titik nadir, menuntut reaksi instan.
Thwack!
Sebuah desingan tajam membelah keheningan malam—bukan desah angin, melainkan laju panah berbulu hitam pekat yang melesat dengan kecepatan mematikan. Algoritma Xu Jian secara otomatis memproses lintasan, kecepatan, dan potensi kerusakannya. Target: betis kanan penjaga pertama. Bukan mengenai area vital untuk merenggut nyawa, melainkan tembakan presisi yang melumpuhkan seketika.
Tubuh penjaga itu mendadak kaku, gulungan di tangannya terlepas dan menghantam lantai batu dengan bunyi tumpul. Jeritan tertahan lolos dari tenggorokannya yang tercekat. Keringat dingin membanjiri punggung Xu Jian, dipicu oleh kejut biologis atas insiden mendadak itu. AI di dalam dirinya mencatat: reaksi kaget, lonjakan adrenalin, denyut jantung 110 bpm.
Di sisi lain, penjaga kedua memekik ngeri. Ia melompat mundur dengan pedang terhunus, manik matanya bergerak liar memindai kegelapan. Darah segar mengalir deras membasahi celana kain biru tua milik rekannya yang terluka, menyebarkan bau anyir yang langsung memicu alarm biologis purba di dalam diri Xu Jian.
Xu Jian mengambil langkah refleks surut, punggungnya menabrak dinding koridor yang dingin. Gulungan rahasia itu kini tergeletak bisu hanya sejengkal dari sepatunya. Penjaga yang tertembak ambruk ke lantai, lututnya kehilangan daya topang, sementara jari-jarinya mencengkeram betis yang tertancap panah bergetar halus itu. Kekacauan menggantikan penyergapan yang semula tertata rapi. Penjaga kedua gemetar hebat, menatap bayangan di atas, panah di lantai, lalu berganti memandang Xu Jian seolah menuntut jawaban yang tak kunjung datang.
Perlahan, bayangan di ujung koridor mulai bergerak. Sesosok wanita melangkah maju, siluetnya menari anggun di bawah temaram cahaya lentera. Gaun sutra ungu tua menyapu lantai batu dengan gesekan lembut, kontras dengan napas terengah-engah yang masih menggantung di udara.
Xu Jian merasakan kejutan jenis lain—bukan rasa kaget, melainkan pengenalan instan. Consort Lihua.
Wajah sang selir yang biasanya dihiasi senyum tipis kini tampak keras, dingin, tanpa ekspresi. Bibir alaminya menipis tegas, dan matanya yang menyerupai obsidian mengilap tajam, menyapu koridor sebelum akhirnya mengunci pandangan pada Xu Jian. Tidak ada kehangatan di sana; yang ada hanya otoritas mutlak.
Penjaga kedua yang gemetar menyadari kehadiran sang selir. Pedangnya merosot turun, matanya membelalak ketakutan yang jauh melampaui rasa takut pada panah. Di istana ini, Lihua adalah sosok yang ditakuti: selir kesayangan Kaisar, pengendali jalur perdagangan garam, dan wanita yang tak ragu menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya.
Lihua bergeming tanpa suara. Kehadirannya sendiri seolah membekukan udara di sekeliling koridor, membawa hawa dingin pegunungan utara. Sanggulan tinggi berhias jepit giok sederhana semakin menegaskan aura anggun sekaligus kejam pada dirinya. Sensor internal Xu Jian mendeteksi kestabilan suhu tubuh wanita itu, detak jantungnya yang tenang, serta feromon kekuasaan yang samar menguar dari kulitnya. Dia adalah predator sejati yang baru saja mengklaim mangsanya.
Lihua mengangkat tangan kanannya—sebuah gestur sederhana yang langsung membungkam kedua penjaga.
"Pergi," ucap Lihua datar. Nadanya tanpa emosi, namun menggetarkan dinding batu koridor. "Kalian tidak melihat apa-apa malam ini."
"N-Nona Selir... kami hanya menjalankan perintah Kepala Kasim Liang..." penjaga kedua tergagap panik.
Kilatan amarah melintas di mata Lihua, cukup singkat namun sukses membuat sang penjaga tersentak mundur. "Kepala Kasim Liang," ulang Lihua, menekankan setiap suku kata dengan dingin. "Apakah Kasim Liang memerintahkan kalian untuk melukai pelayan istana?"
"Tidak, Nona Selir! Sama sekali tidak!" jawab penjaga itu dengan suara melengking karena teror. "Panah itu... bukan dari kami."
"Aku tahu," balas Lihua tenang, melirik sekilas ke arah betis yang tertancap panah. "Dan aku tidak peduli dari mana panah itu berasal. Yang kutau, kalian telah mengganggu Xu Jian."
Penyebutan nama Xu Jian itu terdengar mutlak, menyiratkan klaim kepemilikan teritorial yang tak terbantahkan. Xu Jian merasakan aliran aneh di tubuhnya—perpaduan antara rasa aman dan cengkeraman kendali yang semakin ketat.
"Bawa temanmu. Pergi," perintah Lihua final. "Jika hal ini sampai terdengar oleh Kaisar atau Kasim Liang... nyawa kalian adalah taruhannya."
Tanpa perlu peringatan kedua, penjaga yang sehat memapah rekannya yang terluka. Mereka beringsut mundur dalam kegelapan, meninggalkan jejak darah dan bau anyir di lantai.
Begitu suara langkah kaki itu lenyap, Lihua memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Xu Jian. Tatapannya begitu intens dan posesif, seolah hendak menelanjangi setiap lapisan pertahanan mental sang pemuda.
"Kau baik-baik saja, Xu Jian?" bisik Lihua, suaranya berubah lembut, nyaris menyerupai belaian.
"Saya... baik-baik saja, Nona Selir. Terima kasih. Anda telah menyelamatkan saya," jawab Xu Jian, mencoba menata kembali logikanya.
"Menyelamatkanmu?" Lihua melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya sehijab napas. Jemarinya yang ramping menangkup rahang Xu Jian. Kulitnya dingin, namun memancarkan gelombang energi yang kuat. "Bukan begitu, Xu Jian. Aku hanya melindungi apa yang menjadi milikku."
Kata milikku menghujam langsung ke pusat sistem kognitif Xu Jian. Ia bukan lagi sekadar sekutu atau pion; ia telah menjadi aset berharga yang berada dalam cengkeraman penuh sang selir.
Lihua menunduk, memungut gulungan rahasia yang tergeletak di lantai dengan gerakan anggun, lalu menyerahkannya kembali. "Simpan ini. Bukti adalah kekuasaan."
Xu Jian menerima gulungan itu, merasakan sisa kehangatan sentuhan Lihua menempel pada kain. Matanya kembali menatap gulungan laporan korupsi dari Kasim Liang yang ditujukan untuk menjebaknya melalui Permaisuri Mei Shuang. Jaring kekuasaan Lihua kini telah melilitnya erat dengan janji perlindungan sekaligus tuntutan loyalitas mutlak.
"Mari kita pergi dari sini," ajak Lihua dengan nada menggoda. "Koridor ini tidak aman untuk perbincangan rahasia."
Wanita itu memimpin jalan menyusuri labirin istana yang berselimut kabut malam, menuju sebuah paviliun tersembunyi di balik rimbunnya pohon willow. Begitu mereka masuk, Lihua menutup pintu rapat-rapat, mengunci dunia luar dari tempat perlindungan privat mereka.
Lihua berbalik, menatap Xu Jian lekat di bawah temaram cahaya lentera. "Kau aman di sini," bisiknya sembari merapat, jemarinya menyentuh kerah baju Xu Jian dan menggesernya perlahan. Sentuhan itu memicu kembali disonansi kognitif dalam diri Xu Jian—benturan antara rasa takut, bahaya, dan ketertarikan biologis yang tak logis.
"Nona Selir..." Xu Jian mencoba bersuara, namun terhenti saat Lihua menempelkan telapak tangannya tepat di atas dada kirinya, merasakan degup jantung yang memburu di balik kain.
"Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu," bisik Lihua serak.
Ia melangkah mundur selangkah, lalu dengan gerakan sensual, ia menyingkap sedikit jubah sutra ununya di bagian bahu. Tepat di dekat tulang selangka kirinya, tersingkap sebuah ukiran kuno yang menyatu sempurna dengan kulit—sebuah lambang asing yang memancarkan aura kegelapan, kuno, dan sangat berbahaya.