Chapter 16 of 24

Chapter 16: Panggilan Darurat Sang Permaisuri

1.5k words

Udara di Paviliun Sutra Malam masih terasa hangat oleh sisa keintiman saat sebuah ketukan singkat namun tegas memecah keheningan. Xu Jian, yang baru saja selesai menyerahkan stempel kekaisaran curian kepada Lian, pelayan pribadi Lihua, mengangkat kepalanya. Keningnya berkerut tipis, sebuah perhitungan instan terjadi di balik pupil gelapnya. Lian, yang tangannya masih gemetar memegang stempel perak itu, menoleh dengan ekspresi terkejut. Seorang kasim muda dengan lencana penjaga istana di dadanya berdiri di ambang pintu, napasnya terengah-engah seolah baru saja berlari kencang. Wajahnya pucat, mata melebar, jelas menunjukkan kegugupan yang tidak biasa. Ini bukan sekadar pesan rutin. “Xu Jian,” panggil kasim itu, suaranya nyaris berbisik namun dipenuhi urgensi. “Permaisuri Mei Shuang memanggilmu. Sekarang juga. Katanya, ada hal penting yang tidak bisa ditunda.” Sebuah perintah langsung dari Permaisuri? Pada jam selarut ini? Sebuah alarm nyaring berbunyi dalam sistem AI Xu Jian. Data mengenai Mei Shuang, termasuk jaringannya yang tersembunyi, pesan rahasia di gulungan sutra, dan terutama, kecocokan genetik rambut Jenderal Zhao Wan yang ditemukan di paviliunnya, melintas cepat di benaknya. Ini bukan panggilan untuk tugas biasa. Bukan sekadar mengantar teh, bukan pula perintah remeh-temeh. Aura ketegangan yang terpancar dari kasim itu terlalu nyata, terlalu kuat untuk diabaikan. Ini adalah sebuah anomali, sebuah penyimpangan drastis dari pola perilaku Mei Shuang yang biasanya terkontrol dan dingin. Xu Jian menatap Lian sejenak. Mata Lian memancarkan kekhawatiran yang sama, mungkin lebih besar. Perintah langsung dari Permaisuri bisa berarti banyak hal, termasuk bahaya. Terutama setelah Xu Jian baru saja menyelesaikan misi Lihua yang berisiko tinggi. “Aku akan pergi,” kata Xu Jian, suaranya tenang, meskipun dalam otaknya ribuan skenario telah terurai. “Apakah ada pesan lain?” Kasim itu menggeleng cepat. “Hanya itu. Katanya, jangan sampai terlambat.” Pesan tersebut, meski singkat, terasa seperti beban berat. Ketegangan kasim itu, permintaan mendadak Permaisuri di tengah malam, semua mengisyaratkan bahwa ini adalah situasi yang krusial, berpotensi mengubah keseimbangan kekuasaan dalam sekejap. Xu Jian merasakan gelombang adrenalin membanjiri tubuh biologisnya, sebuah ‘bug’ lain yang muncul ketika taruhan begitu tinggi. Dia tahu, ini bukan sekadar panggilan, melainkan undangan ke dalam badai yang lebih besar dari yang bisa ia bayangkan. --- Setiap langkah Xu Jian menuju Paviliun Permaisuri terasa seperti ketukan genderang yang menggema di koridor istana yang lengang. Udara malam dingin menyapu pipinya, menusuk ke dalam jubah tipis yang ia kenakan, namun hawa panas aneh mengalir di nadinya. Firasat buruk itu semakin menguat, bukan lagi sekadar data, tetapi sensasi fisik yang nyata. Jantungnya berdetak di luar ritme normal, sebuah respons tubuh yang ia belum sepenuhnya pahami. Koridor-koridor yang biasanya ramai dengan langkah pelayan atau obrolan bisik kini sunyi senyap, hanya diterangi lentera-lentera kertas merah yang memancarkan cahaya temaram. Bayangan-bayangan menari di dinding, mengikuti setiap gerakannya, seolah mengawasi, mengamati. Pikiran Xu Jian bekerja keras, menganalisis setiap detail yang ia kumpulkan tentang Mei Shuang: kecerdasannya, jaringan rahasianya, kesepiannya yang mendalam, dan kini, aliansi tersembunyi dengan Jenderal Zhao Wan yang terindikasi dari helai rambut itu. Apakah panggilan ini terkait dengan gulungan sutra rahasia yang ia sampaikan tempo hari? Atau mungkinkah ini ada hubungannya dengan plot kudeta terhadap Menteri Chen yang baru saja ia ungkap kepada Lihua? Kecocokan genetik rambut Zhao Wan dengan sampel di paviliun Mei Shuang adalah sebuah paradoks. Bagaimana mungkin Permaisuri yang begitu dingin dan terisolasi bisa bersekutu dengan panglima perang yang kejam itu? Atau apakah Mei Shuang justru menjadi korban dari intriknya sendiri? Setiap tiupan angin yang menggerakkan tirai sutra di jendela-jendela tinggi terasa seperti bisikan peringatan. Aroma melati yang biasa tercium di taman istana kini bercampur dengan bau tanah basah dan ketakutan yang tak terlihat. Xu Jian mempercepat langkah, otot-otot kakinya menegang. Ia merasakan keringat dingin tipis di punggungnya, bukan karena kelelahan, melainkan antisipasi bahaya. Tubuhnya, yang seharusnya hanya menjadi wadah data, kini merespons dengan cara yang kompleks, memunculkan perasaan yang melampaui logika algoritma. Ini adalah sebuah pertemuan yang tidak dapat ia kalkulasi sepenuhnya. Sebuah variabel tak terduga yang bisa mengubah seluruh skema yang telah ia susun untuk menghancurkan kekaisaran. Panggilan ini, pada intinya, adalah sebuah tantangan. Dan Xu Jian, dengan setiap serat biologisnya, bersiap menghadapinya. --- Saat Xu Jian mendekati pintu gerbang Paviliun Permaisuri, suasana tegang terasa begitu pekat hingga nyaris bisa dirasakan di udara. Lentera-lentera di sekitar paviliun memancarkan cahaya yang lebih redup dari biasanya, seolah menyembunyikan sesuatu. Dua pelayan wanita berdiri di depan gerbang, punggung mereka lurus kaku, wajah mereka tanpa ekspresi, namun mata mereka terlihat sembab, seolah baru saja menahan tangis atau mengalami ketakutan hebat. Mereka berdua tidak saling berbicara, hanya berdiri dalam keheningan yang mencekik, seperti patung-patung penjaga yang membeku. Ketika mereka melihat Xu Jian mendekat, tidak ada senyum basa-basi atau sapaan hangat yang biasa. Hanya tatapan kosong yang nyaris tidak fokus, seolah pikiran mereka melayang jauh. Tangan salah satu pelayan, yang memegang keranjang berisi bunga melati kering, terlihat gemetar halus, kelopak-kelopak bunga jatuh satu per satu ke tanah pualam. Xu Jian melangkah melewati mereka, merasakan gelombang energi ketakutan memancar dari kedua wanita itu. Sistem AI-nya mendeteksi peningkatan denyut jantung dan pola pernapasan yang tidak teratur pada keduanya, indikator jelas dari stres akut. Ini bukan sekadar rasa takut biasa; ini adalah ketakutan yang mendalam, nyaris kepanikan yang terpendam di balik fasad ketenangan. Di dalam paviliun, suasana tidak membaik. Udara terasa lebih dingin, seolah panas telah tersedot keluar dari ruangan. Tidak ada kasim yang menyambut, tidak ada pelayan yang bergegas menawarkan teh atau membimbingnya. Koridor-koridor batin paviliun itu kosong, hanya ada gema langkah kakinya sendiri. Aroma dupa agarwood yang biasanya manis dan menenangkan, kini terasa terlalu berat, menyesakkan, bercampur dengan bau logam tipis yang entah mengapa terlintas di indra penciumannya. Sebuah tirai sutra emas yang biasanya tersingkap, kini tertutup rapat, menghalangi pandangan ke dalam ruang utama. Keheningan yang ada terasa memekakkan, sebuah kesunyian yang lebih menakutkan daripada suara apa pun. Xu Jian menyentuh kain tirai itu dengan ujung jarinya, merasakan serat-serat halus yang dingin. Ia bisa merasakan tarikan gravitasi dari bahaya yang tak terlihat di baliknya. Ini adalah jebakan, atau sebuah krisis besar. Tidak ada pilihan lain selain melangkah masuk, ke dalam pusat badai yang telah menunggunya. --- Xu Jian menarik tirai sutra emas itu ke samping dengan gerakan pelan, tanpa suara. Ruangan di baliknya tidak gelap gulita, namun hanya diterangi oleh beberapa lentera tanah liat yang memancarkan cahaya kuning redup. Atmosfernya terasa berat, nyaris suram, jauh dari kemegahan yang biasa menyelimuti kamar Permaisuri. Wangi dupa agarwood kini terasa pekat, nyaris menusuk hidung, seolah mencoba menutupi sesuatu yang tidak menyenangkan. Pandangan Xu Jian segera tertuju pada Permaisuri Mei Shuang. Ia tidak duduk di singgasana sutra atau di bangku giok seperti biasanya. Permaisuri berdiri di dekat jendela, membelakangi pintu, siluetnya yang anggun terlihat kaku di hadapan cahaya rembulan yang menembus celah-celah jendela. Jubah sutra birunya menjuntai ke lantai, namun posturnya menunjukkan ketegangan yang luar biasa. Ruangan itu sendiri terasa berbeda. Meja riasnya berantakan, beberapa botol parfum kecil terguling, dan sebentuk kipas sutra tergeletak miring. Sebuah cangkir teh porselen terbalik di atas meja rendah di dekatnya, meninggalkan noda basah pada kain taplak. Ini adalah pemandangan yang kacau, tidak sesuai dengan citra Mei Shuang yang selalu rapi, terkontrol, dan sempurna. AI dalam diri Xu Jian mencatat setiap detail kecil ini, menyimpulkan adanya anomali emosional yang intens. Permaisuri tidak bergerak, tidak mengeluarkan suara. Ia hanya berdiri di sana, membelakangi Xu Jian, memancarkan aura ketegangan yang begitu pekat sehingga Xu Jian bisa merasakannya menekan dadanya. Bahkan dari jarak ini, sistem biologis Xu Jian mendeteksi peningkatan kortisol dalam tubuh Mei Shuang, sinyal stres ekstrem. Otot-otot bahunya terlihat menegang, punggungnya sedikit membungkuk. Ini adalah tubuh yang dilanda kekalutan, bukan kemarahan. Rasa takut, atau mungkin keputusasaan. Xu Jian tidak berbicara, memilih untuk mengamati. Ia memindai seluruh ruangan, mencari potensi ancaman tersembunyi, celah di mana serangan bisa datang. Tidak ada kasim atau pelayan lain. Hanya ia dan Permaisuri. Keheningan itu sendiri terasa mengancam, seperti ketenangan sebelum badai. Napasnya sendiri terasa lebih berat, paru-parunya memompa udara dengan paksa. Ini adalah momen yang akan menentukan banyak hal, ia tahu itu. Dan Mei Shuang adalah kunci dari misteri ini. --- Xu Jian mengambil satu langkah maju lagi, kakinya terasa berat, namun setiap seratnya siap untuk bergerak. Ia tidak tahu apa yang menunggunya, tetapi instingnya, atau mungkin algoritma AI-nya, berteriak memperingatkan bahaya. Ia menahan napas, menunggu. Keheningan di antara mereka berdua nyaris dapat dipecahkan. Hanya suara denyutan jantungnya sendiri yang bergema di telinganya, atau mungkin itu adalah detak jantung Mei Shuang yang keras. Permaisuri tetap membelakangi dirinya, siluetnya yang kaku di hadapan cahaya rembulan seolah membeku dalam waktu. Rambutnya yang tergerai panjang menutupi sebagian punggungnya, terlihat sedikit kusut, tidak rapi seperti biasanya. Ada sesuatu yang tidak beres, sesuatu yang sangat, sangat salah dengan pemandangan ini. Tubuh Mei Shuang memancarkan getaran, sebuah energi dingin yang merayap di kulit Xu Jian. Lalu, dengan gerakan yang tiba-tiba namun terkontrol, Mei Shuang berbalik. Wajahnya, yang biasanya dingin dan tanpa ekspresi, kini terlihat memerah, matanya sedikit bengkak, namun bibirnya terkatup rapat dalam garis lurus yang tegas. Ada campuran emosi yang tak terbaca di sana: ketakutan, amarah, keputusasaan, dan sesuatu yang lebih gelap, lebih tajam. Tatapan matanya lurus menembus Xu Jian, seolah mencari jawaban atau menyalahkan sesuatu. Dan di tangannya, tergenggam erat sebuah belati kecil yang berkilauan.

End of Chapter 16