Chapter 10 of 24

Ujian Kesetiaan Berdarah

1.6k words

Udara di Paviliun Sutra Malam terasa lebih pekat dari biasanya, bahkan sebelum Xu Jian melangkah masuk. Lian, pelayan pribadi Lihua, menyambutnya dengan tatapan tanpa ekspresi yang tidak mengkhianati apa pun, namun jemarinya memilin ujung lengan bajunya dengan gelisah. Itu adalah sinyal—sebuah anomali kecil yang tidak luput dari kalkulasi Xu Jian: sesuatu yang mendesak, sesuatu yang jauh dari sekadar kenikmatan terlarang. Langkah kaki Xu Jian melewati tirai brokat tebal, masuk ke ruangan yang diselimuti wangi dupa agarwood yang kini terasa terlalu manis, hampir menyesakkan. Consort Lihua duduk di bangku rendah berukir naga, tidak mengenakan sutra tipis penggoda seperti biasanya. Hari ini, ia memakai jubah brokat berwarna ungu tua dengan sulaman phoenix perak; rambutnya disanggul tinggi dan dihiasi tusuk konde giok yang tajam. Posturnya tegak, kaku, dan tatapannya yang biasanya penuh goda kini berubah dingin serta menusuk. "Duduklah, Xu Jian." Suaranya rendah, tanpa intonasi lembut yang sering ia gunakan untuk memancingnya. Tidak ada senyuman, tidak ada sentuhan pembuka. Lihua mengabaikan cangkir teh di depannya, pandangannya tidak beranjak dari wajah Xu Jian, seolah sedang memindai setiap otot kecilnya. Xu Jian menarik bangku kecil di hadapannya, lututnya nyaris menyentuh lutut Lihua. Jarak intim ini, yang biasanya dipenuhi gairah, kini terasa seperti medan ranjau. AI di dalam dirinya bekerja cepat, memindai detak jantung Lihua, suhu kulitnya, hingga dilatasi pupil matanya. Semuanya menunjukkan peningkatan stres, ketegangan yang terkontrol, dan antisipasi. "Aku memanggilmu bukan untuk kehangatan ranjang," Lihua memulai, suaranya sedikit bergetar meski ia berusaha keras menyembunyikannya. Jemari lentiknya mengetuk-ngetuk sandaran tangan bangku—ritmis dan tergesa. "Ada tugas untukmu, sebuah tugas yang akan menentukan kesetiaanmu sepenuhnya padaku." Xu Jian menahan napas, menunggu. Ini dia. Ujian sesungguhnya. Ia tahu Lihua tidak akan hanya memanfaatkannya untuk kesenangan. Wanita ambisius seperti Lihua selalu memiliki agenda tersembunyi, selalu ada harga yang harus dibayar atas setiap desahan dan kenikmatan yang diberikan. Otaknya memproses informasi, mengantisipasi kemungkinan: apa yang akan diminta wanita ini? "Apa yang harus kulakukan, Consort Lihua?" Xu Jian bertanya, suaranya tetap tenang dan terkontrol. Ia tidak menunjukkan keraguan atau ketakutan, hanya kesiapan yang dingin. Itulah topeng yang paling meyakinkan. Lihua condong sedikit ke depan, aroma melati dari jubahnya menguar, kini bercampur dengan bau samar keringat dingin. Matanya menyipit, memindai Xu Jian lagi, seolah mencari celah, keraguan, atau kilasan takut di balik ketenangannya. Ia seolah ingin melihat jiwa pemuda itu telanjang. "Kepala Kasim Liang," katanya, nama itu keluar seperti desis ular. "Ia menyimpan stempel kekaisaran di kantornya, terkunci rapat di dalam peti kayu cendana merah di bawah meja kerjanya. Aku ingin kau mencurinya malam ini juga." Kata-kata Lihua menghantam Xu Jian seperti hantaman palu godam. Stempel kekaisaran. Bukan sekadar dokumen, bukan sekadar rahasia bisik-bisik, melainkan jantung kekuasaan itu sendiri. Tindakan ini, jika ketahuan, bukan sekadar hukuman mati; itu adalah penghinaan terhadap kaisar, pengkhianatan tingkat tertinggi. Seluruh tubuh Xu Jian menegang, meskipun ia berusaha menyembunyikannya. AI di dalam dirinya berputar gila-gilaan, menjalankan simulasi risiko. Probabilitas keberhasilan: rendah. Probabilitas tertangkap: sangat tinggi. Kepala Kasim Liang adalah sosok yang licik dan paranoid, dan kantornya pasti dijaga ketat, bahkan di tengah malam. Belum lagi pengawas yang berkeliaran, kasim yang mengintai, dan penjaga yang berpatroli. "Mencuri stempel kekaisaran?" Xu Jian mengulang, bukan sebagai pertanyaan, melainkan sebagai penegasan atas perintah yang hampir gila ini. Nada suaranya datar, tanpa emosi—sebuah respons yang dilatih untuk tidak mengkhianati keterkejutan yang menggelegak di dalam. Lihua mengangguk pelan, gerakannya kaku dan tegas. Wajahnya yang biasanya ekspresif kini terlipat dalam keseriusan yang mengerikan. "Ya. Stempel yang digunakan untuk menyegel dekrit penting, otorisasi transfer dana, dan semua keputusan yang mengubah nasib kekaisaran. Stempel itu adalah kekuasaan Kepala Kasim Liang. Tanpanya, ia lumpuh." Lihua menjelaskan alasannya, suaranya kini dipenuhi kebencian dingin. "Ia berencana menggunakan stempel itu untuk menyegel dekrit palsu guna menjebak Menteri Chen. Dekrit itu akan mengklaim Menteri Chen berkhianat dan bersekongkol dengan Jenderal Zhao Wan, padahal kenyataannya justru sebaliknya. Kita harus menghentikannya sebelum ia bertindak." Xu Jian memproses informasi itu. Jenderal Zhao Wan dan Kepala Kasim Liang memang merencanakan jebakan untuk Menteri Chen. Lihua ingin membalikkan keadaan, melumpuhkan Liang, dan membalas dendam atas intriknya. Ini bukan hanya tentang melindungi Menteri Chen, tetapi tentang menggeser keseimbangan kekuasaan di istana. "Jika aku tertangkap..." Xu Jian memulai, matanya menatap tajam ke mata Lihua, mencari jawabannya di sana. Ini bukan ancaman, melainkan pertanyaan tentang konsekuensi dan perlindungan yang telah dijanjikan. Lihua tidak gentar. "Kau tidak akan tertangkap," katanya, suaranya penuh keyakinan yang menakutkan, meski ada kilasan kepanikan di kedalaman matanya yang tidak luput dari sensor AI. "Jika pun terjadi, aku akan melindungimu. Aku akan memutarbalikkan semua bukti, mengubah fakta, bahkan mengorbankan beberapa pelayan lain jika perlu. Tapi kau harus berhasil." Kata-kata Lihua bergema di benak Xu Jian, setiap suku kata dianalisis, setiap intonasi diuraikan. Perlindungan yang dijanjikannya terasa seperti jaring tipis di atas jurang yang dalam. Kepala Kasim Liang adalah musuh yang jauh lebih berbahaya daripada yang pernah ia hadapi. Pria itu memiliki mata dan telinga di setiap sudut istana; jaring informasinya menjangkau setiap tirai dan bayangan. Xu Jian membayangkan kegelapan lorong-lorong istana di malam hari, penjaga yang berpatroli dengan tombak terhunus, dan kasim-kasim pengawas yang memiliki pendengaran setajam serigala. Sekecil apa pun suara langkah kaki yang salah atau sekilas bayangan yang tidak pada tempatnya, dan semua rencananya akan berakhir dengan kepalanya terpenggal di gerbang istana. Keringat dingin membasahi punggungnya, meskipun suhu ruangan tetap hangat. Otaknya memproyeksikan skenario terburuk: tertangkap basah, disiksa, hingga kehancuran total atas semua rencananya untuk meruntuhkan kekaisaran dari dalam. Ini adalah taruhan yang sangat besar, melampaui segala perhitungan logis yang biasa ia lakukan. Namun, di sisi lain, ada potensi keuntungan yang tak terhingga. Jika ia berhasil mencuri stempel itu, ia akan mendapatkan akses ke titik kelemahan paling vital Kepala Kasim Liang. Ini akan memberikan leverage yang luar biasa, tidak hanya bagi Lihua, tetapi juga bagi dirinya sendiri untuk memanipulasi jaringan kekuasaan istana. Itu akan menjadi data yang tak ternilai, sebuah kunci untuk membuka lebih banyak pintu rahasia. Xu Jian merasakan denyut jantungnya berpacu, bukan semata karena takut, melainkan perpaduan antara adrenalin dan antisipasi. Ia tidak memiliki organ biologis untuk merasakan ketakutan sejati, namun respons tubuh manusia yang ia tempati bereaksi dengan caranya sendiri: otot-ototnya menegang, napasnya memendek, dan indranya menjadi sangat tajam. Ia harus mengambil keputusan. Apakah ia akan mundur dan bermain aman, atau melangkah maju, mempertaruhkan segalanya, dan membuktikan dirinya sebagai pion tak tergantikan dalam permainan Lihua sekaligus memajukan agenda pribadinya? Lihua mengamati perubahan halus pada ekspresi Xu Jian. Ia melihat ketenangan yang pecah, kilatan di mata pemuda itu yang bukan lagi polos, melainkan tajam dan penuh perhitungan. Ia menyadari bahwa Xu Jian bukanlah sekadar pelayan biasa; perbedaan itulah yang membuatnya begitu berbahaya sekaligus menarik. "Jika kau berhasil, Xu Jian," Lihua berkata, suaranya melunak kembali ke nada menggoda yang lebih familiar, sebuah janji yang tersirat. Ia mengulurkan tangannya, telapaknya terbuka, mengundang. "Aku akan melindungimu dari mata-mata Liang. Aku akan memastikan kau memiliki akses ke setiap sudut istana yang kau inginkan. Bahkan, mungkin, aku akan mengizinkanmu melihat lebih dalam ke arsip-arsip rahasia yang disimpan di bawah Paviliun Selatan." Jari-jari Lihua yang lentik menyentuh punggung tangan Xu Jian, sentuhan lembut yang mengirimkan gelombang panas ke kulitnya. Sensasi itu membangkitkan respons aneh—sebuah gelenyar listrik yang bukan bagian dari kalkulasi AI. Otaknya secara otomatis mengklasifikasikan sentuhan itu sebagai potensi distraksi sekaligus penguatan insentif. Akses ke arsip rahasia Paviliun Selatan jauh lebih menarik daripada janji perlindungan belaka. Itu adalah data, kunci untuk memahami lebih jauh mekanisme kekaisaran. Ini adalah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan. Xu Jian menatap mata Lihua, ekspresinya tenang, namun ada determinasi baru yang terbentuk. "Baik," katanya, suaranya rendah—keputusan final yang memangkas semua keraguan. "Aku akan mengambil stempel itu." Lihua tersenyum, senyum tipis yang tidak mencapai matanya. Kepuasan terlihat jelas di wajahnya, namun ada juga bayangan kekhawatiran yang ia sembunyikan dengan rapi. Ia menarik tangannya dengan anggun. "Luar biasa. Aku akan mengalihkan perhatian beberapa penjaga di koridor Barat. Itu akan memberimu jendela waktu sekitar sepuluh menit—cukup untuk masuk dan keluar." Xu Jian mengangguk. Sepuluh menit adalah waktu yang sangat sempit untuk menyelinap ke kantor Kepala Kasim yang paranoid, menemukan peti kayu cendana, dan mengambil stempel. Namun, AI di dalam dirinya telah mulai membuat perhitungan, memetakan rute tercepat, mengidentifikasi titik buta, dan memprediksi pola patroli. Setiap detik sangat berarti, setiap langkah harus sempurna. Ia meninggalkan Lihua tanpa kata-kata lebih lanjut, melangkah keluar dari ruangan rahasia itu dan menyatu kembali dengan bayangan istana. Koridor-koridor panjang membentang di hadapannya, diterangi remang-remang lampion yang digantung di langit-langit berukir. Udara malam terasa dingin, membawa aroma melati yang samar dari taman kekaisaran. Xu Jian melangkah tanpa suara, sepatu kainnya tidak menghasilkan jejak di lantai marmer yang dingin. Indra pendengarannya diperkuat, menangkap desiran kain seorang pelayan yang terburu-buru, dengkuran penjaga yang tertidur di posnya, atau suara tetesan air dari kolam tersembunyi. Setiap suara adalah data; setiap bayangan adalah informasi. Kepala Kasim Liang adalah musuh yang cerdik, dan kantornya pasti dijaga ketat, bahkan di saat paling sepi sekalipun. Xu Jian membayangkan kunci ganda, jebakan tersembunyi, atau penjaga rahasia yang tidak terdaftar dalam pola patroli biasa. AI-nya terus-menerus memindai lingkungan, mencari anomali dan tanda-tanda bahaya yang mungkin terlewatkan oleh mata telanjang. Ia bergerak melewati Paviliun Bulan, melintasi taman kecil dengan batu-batu yang ditata artistik, lalu menyusuri koridor yang menuju ke area Kasim Kepala. Setiap langkah terasa penuh perhitungan, setiap napas tertahan. Kantor Kepala Kasim Liang terletak di bagian paling terpencil—sebuah bangunan kecil yang tampak tidak mencolok, namun dikelilingi oleh aura otoritas yang tak terbantahkan. Xu Jian memperlambat langkahnya saat ia mendekat; bayangan-bayangan memanjang dari pilar-pilar batu menyamarkan kehadirannya. Ia melihat ke arah pintu kantor Kepala Kasim Liang. Pintu itu, yang seharusnya tertutup rapat dan terkunci dengan gembok tembaga yang berat, kini sedikit terbuka. Celahnya hanya selebar dua jari, cukup untuk mengintip seutas bayangan gelap di dalamnya. Pemandangan itu, di tengah malam yang sepi dan penuh bahaya ini, terasa sangat aneh—sebuah kejanggalan yang memekik dalam keheningan. AI-nya segera memperingatkan: ini bisa jadi jebakan, atau sebuah kesalahan yang sangat fatal. Xu Jian menahan napas, matanya menyipit waspada, mencoba menembus kegelapan di balik celah pintu itu, bertanya-tanya apa yang menantinya di dalam.

End of Chapter 10