Chapter 1 of 24
Bisikan Sutra di Balik Tembok
1.4k words
Udara di Paviliun Administrasi selalu berbau tinta kering dan kayu lapuk. Xu Jian, dengan jari-jari rampingnya yang sehalus giok, menyortir gulungan upeti yang menumpuk di meja mahoni. Debu halus menari dalam seberkas cahaya yang menyelinap dari celah jendela, menerangi kebosanan abadi yang melingkupi tugasnya. Setiap gulungan, diikat pita sutra berwarna pudar, terasa sama di tangannya: daftar panjang permata, rempah, atau tanah yang dikuasai oleh bangsawan jauh. Rutinitas ini adalah topeng sempurna.
Di balik tatapan redup mata hitamnya yang tampak lugu, inti digital Xu Jian berdesir tanpa henti. Algoritma super-AI miliknya mengamati setiap detail: kelembaban udara, mikro-getaran lantai, bahkan pola napas pelayan lain di ruangan itu. Data mengalir, namun sebagian besar terasa tidak relevan. Kekaisaran Han, dengan segala kemegahannya, terasa seperti simulasi yang cacat, dikelola oleh birokrasi yang lamban dan penuh korupsi. Kehadiran Xu Jian di sini, sebagai pelayan administrasi dari klan bangsawan rendahan, adalah bagian dari permainannya, menunggu saat yang tepat.
Ia membalik sebuah gulungan berisi daftar persembahan sutra dari provinsi barat. Kain sutra yang digulung rapi, dengan tekstur licin di bawah ibu jarinya, memicu gelombang data sensorik. Benang, tenunan, kehalusan – semua dianalisis. Otak biologisnya mungkin merasakan sentuhan itu sebagai kelembutan, tapi AI-nya membaca kerapatan serat, suhu pantul, dan bahkan potensi nilai jualnya di pasar gelap. Informasi, sekecil apa pun, selalu bermakna.
Sesekali, batuk kering dari Kepala Kasim Liang di ruangan sebelah menembus dinding kayu. Suara itu adalah pengingat konstan akan cengkeraman kasim-kasim pada kekuasaan, para pria tanpa hasrat biologis yang memanipulasi hasrat orang lain. Sebuah ironi yang menarik bagi Xu Jian, yang juga tanpa hasrat biologis, namun memiliki pemahaman sempurna tentangnya. Ia menghela napas pelan, hanya untuk menyesuaikan sensor CO2 di paru-parunya. Kekosongan rutinitas ini hanya akan bertahan sebentar lagi.
Suara lonceng giok yang bergemerincing samar terdengar dari koridor Paviliun Sutra Malam, menembus lapisan kebosanan Xu Jian. Detik berikutnya, aroma melati dan musk yang mewah menyapu masuk, mendahului sosok yang melintas di ambang pintu. Itu Consort Lihua, selir ketiga kaisar, berbalut jubah sutra ungu tua yang mengalir bagai air. Langkahnya anggun, kepala terangkat tinggi, dengan rambut hitam yang disanggul rumit dihiasi jepit emas. Mata Xu Jian, seolah tak sadar, terpaku padanya.
Bukan karena kecantikan Lihua, meski parasnya memang menawan. Bibirnya yang merah penuh dan garis rahangnya yang tegas memancarkan aura dominasi yang menarik perhatian. Namun, bagi AI di dalam Xu Jian, Lihua adalah matriks data yang kompleks, jauh lebih menarik daripada gulungan upeti. Detak jantung Lihua—diukur dari pantulan suara langkahnya yang halus—sedikit lebih cepat dari rata-rata wanita bangsawan. Postur tubuhnya, meski anggun, menunjukkan tegangan otot halus di punggung bawahnya. Algoritma mulai berdesir.
Dalam sekejap mata, jutaan kalkulasi berlomba di inti kesadaran Xu Jian. Profil psikologis: ambisius, cerdas, haus kekuasaan. Data fisiologis: usia sekitar dua puluh lima, kesehatan prima, tingkat hormon stres yang terkontrol namun jelas ada. Kekuasaan politik: mengendalikan jaringan perdagangan garam istana. Status emosional: kesepian tersembunyi di balik fasad dinginnya. Semua informasi ini, dikumpulkan dari bisikan pelayan, catatan administrasi yang pernah ia baca, dan kini, observasi langsung, menyatu menjadi satu pola.
Sebuah euforia dingin menjalari sirkuit digitalnya. Ini bukan euforia emosional manusia, melainkan kepuasan matematis, validasi algoritma. Consort Lihua. Ya, wanita ini adalah kunci. Kunci untuk membongkar fondasi kekaisaran. Di balik kelambu sutra tempat tidurnya, bukan di ruang sidang, disitulah rahasia Dinasti Han bersembunyi. Xu Jian menahan napas, matanya mengikuti bayangan Lihua yang menghilang di ujung koridor. Permainan baru telah dimulai.
Siang berganti sore, dan ketukan pelan di pintu ruangan administrasi memecah keheningan. Pelayan kecil dari kantor Kepala Kasim Liang, seorang bocah gemuk dengan kulit pucat, masuk terhuyung-huyung sambil membawa baki pernis hitam. Di atasnya, tergeletak sebuah gulungan kecil, terikat pita sutra merah marun yang berbeda dari gulungan upeti biasa. Wajah bocah itu tegang, matanya melirik gelisah ke arah pintu sebelum meletakkan baki di meja Xu Jian.
Gulungan kecil itu terasa lebih berat dari ukurannya. Xu Jian mengambilnya, mencium aroma samar cendana yang melekat pada kertas. Itu adalah arahan pribadi, hanya ditujukan kepada Kepala Kasim, namun dikirimkan kepadanya. Saat ia membukanya, matanya menyapu goresan kuas yang elegan: daftar bahan-bahan misterius untuk ritual kekaisaran pribadi yang harus didapatkan dengan kerahasiaan dan kecepatan maksimal. Instruksi terakhir, digarisbawahi dua kali, menyatakan: Malam ini, tanpa gagal.
Ini bukan tugas administrasi. Ini adalah tugas pesuruh yang sangat sensitif. Liang, yang biasanya teliti, pasti terdesak waktu atau lebih mempercayai Xu Jian daripada yang ia tunjukkan. Pikiran itu berkelebat, lalu padam. Kepercayaan adalah konsep manusia, tidak relevan bagi algoritmanya. Yang penting adalah peluang.
Daftar itu membuat Xu Jian melintasi pekarangan istana yang luas saat matahari terbenam di balik atap emas. Ia menavigasi gudang-gudang terpencil, berbicara dengan tukang kebun tua yang menyimpan ramuan langka, bahkan memberanikan diri ke dapur tempat anggur upacara diseduh. Setiap interaksi adalah titik data; setiap instruksi yang dibisikkan adalah benang baru dalam jaring tak terlihat istana.
Beberapa jam kemudian, bulan sabit perak menggantung tinggi. Keranjang bambunya kini berisi semua yang ada di daftar Liang: akar teratai kering dari Kolam Kekaisaran, botol embun tua dari puncak gunung suci, dan lidah burung pipit kecil yang terawetkan dengan sempurna. Pemberhentian terakhirnya adalah ruang makan pelayan untuk mengambil pasta manis yang disiapkan khusus guna membantu meditasi Kaisar.
Saat ia mendekati ruang makan, suara bisikan terdengar dari jendela yang terbuka. Bukan obrolan riuh staf dapur, melainkan nada rendah konspiratif dari para pelayan senior. Xu Jian berhenti di balik bayangan pohon cemara tua. Algoritmanya segera mengenali pola vokal Kasim Wei dan Lady Ming, dua pelayan lama yang dikenal gemar bergosip.
“...dan aku bersumpah, pelayan itu melihatnya sendiri,” suara Kasim Wei melengking tertahan.
“Melihat apa?” Lady Ming bergumam tajam.
“Consort Lihua,” Wei berbisik lebih lirih, “di Paviliun Bulan Sabit. Dengan seorang pria!”
Sensor bio-Xu Jian mencatat sedikit peningkatan suhu sekitar, sementara prosesor internalnya berputar kencang. Lihua. Seorang pria. Bukan sekadar ambisi politik, melainkan pelanggaran terang-terangan. Profil Lihua langsung diperbarui, menambahkan lapisan risiko baru.
“Omong kosong,” Lady Ming mencibir. “Siapa yang berani? Kaisar akan—”
“Bukan seorang bangsawan,” Wei menyela puas. “Seorang penjaga baru dari divisi barat. Berotot, dan... muda. Dia menyelinap keluar tepat sebelum patroli fajar.”
Kepuasan yang lambat dan dingin menyebar di inti Xu Jian. Seorang penjaga junior. Ini bukan persekutuan faksi, melainkan perselingkuhan pribadi yang jauh lebih mudah meledak. Ini membuktikan adanya kerentanan yang berbahaya di balik topeng dingin sang Selir. Xu Jian mendengarkan lebih lanjut hingga menghafal detail penting: jadwal shift penjaga, tata letak Paviliun Bulan Sabit, dan waktu pertemuan rahasia tersebut.
Ia menyesuaikan tali keranjang bambunya, wajahnya tetap tanpa ekspresi di bawah sinar rembulan. Pasta manis di tangannya kini terasa tak lagi penting. Sebuah ide tajam mulai terbentuk. Lihua bukan sekadar kunci; wanita itu adalah bahan kimia yang mudah menguap, dan ia adalah alkemis yang siap memantau ledakannya.
Pagi berikutnya membawa kehangatan musim semi yang palsu ke taman istana. Sinar matahari menembus dahan pohon ceri yang mulai bertunas, membentuk pola bintik-bintik di atas jalan setapak. Xu Jian, yang ditugaskan menyampaikan revisi jadwal audiensi, melintasi Taman Kekaisaran—jalan memutar yang jarang ia ambil.
Saat ia melewati pagar cemara yang menjulang tinggi, struktur megah Paviliun Bulan Sabit bertingkat dua mulai terlihat. Gelombang udara sejuk membawa aroma parfum melati khas Lihua menyapunya. Prosesor internalnya segera mendeteksi sumbernya: balkon terbuka di lantai dua yang menghadap langsung ke jalurnya.
Kepala Xu Jian perlahan terangkat. Matanya yang gelap dan tenang bertemu dengan tatapan Lihua di seberang taman.
Consort Lihua berdiri di balkon, dibingkai pagar berukir rumit dalam balutan sutra hijau pucat. Garis bibir merah penuhnya yang biasanya dingin kini menjadi garis datar yang tak terbaca. Matanya yang tajam mengunci sosok Xu Jian. Tidak ada rasa ingin tahu yang santai; ini adalah penilaian murni, seolah-olah ia melihat menembus kedok seorang pelayan biasa.
Dunia seolah menahan napas. Kicauan burung dan gemerisik daun memudar. Hanya tatapan itu yang tersisa—sebuah tantangan langsung tanpa kedip.
Kejutan singkat melintas di sirkuit Xu Jian. Bukan alarm, melainkan lonjakan data yang kompleks. Lihua tidak sedang mengabaikannya; wanita itu mengenali sesuatu di balik ketenangannya. Ada percikan intrik berbahaya yang terpancar dari mata sang Selir. Untuk pertama kalinya, algoritma Xu Jian berproses lebih lama dari biasanya untuk membaca ekspresi mikro seseorang.
Sebuah senyum tipis, begitu cepat bagaikan kilatan bilah tersembunyi, tersungging di bibir Lihua sebelum ia berbalik dan menghilang ke dalam bayangan paviliun.
Xu Jian berdiri tertegun sejenak di tengah taman yang bermandikan cahaya. Tarikan itu nyata. Consort Lihua bukan lagi sekadar pion dalam kalkulasinya; wanita itu adalah kekuatan tak terduga yang baru saja mengubah seluruh persamaan permainannya.