Chapter 1 of 5

SISTEM YANG TERBANGUN

1.2k words

Hujan turun deras malam itu. Langit Desa Arvendell dipenuhi awan hitam. Kilatan petir sesekali menerangi rumah-rumah kayu yang berdiri di antara ladang gandum. Di ujung desa, seorang pemuda berjalan sendirian membawa keranjang kayu di punggungnya. Namanya Arka. Usianya delapan belas tahun. Rambut hitamnya basah karena hujan. Pakaiannya sederhana, hanya kemeja cokelat tua dan celana hitam yang sudah beberapa kali ditambal. Di tangannya terdapat sebuah lentera kecil. "Kalau aku tidak mengumpulkan tanaman obat malam ini, besok pasti dimarahi lagi." Arka menghela napas. Sejak kecil, hidupnya memang tidak mudah. Di dunia Eldoria, setiap anak akan menjalani Upacara Kebangkitan Jiwa ketika berusia lima belas tahun. Upacara tersebut menentukan kemampuan seseorang. Ada yang mendapatkan Jiwa Pendekar. Ada yang mendapatkan Jiwa Penyihir. Ada yang mendapatkan Jiwa Pemanah. Dan yang paling populer... Jiwa Penjinak Monster. Mereka yang memiliki Jiwa Penjinak dapat membentuk kontrak dengan monster dan bertarung bersama mereka. Semakin kuat monster yang mereka miliki, semakin tinggi status seorang penjinak. Sayangnya... Arka tidak mendapatkan apa pun. Menurut pendeta desa, tubuhnya memiliki energi jiwa yang sangat lemah. Karena itu, selama tiga tahun terakhir Arka hanya menjadi bahan ejekan. "Arka si Sampah." Begitulah julukan yang diberikan kepadanya. Namun Arka tidak pernah menyerah. Dia percaya bahwa seseorang tidak ditentukan hanya oleh bakat. Malam ini pun dia tetap bekerja. "Aku harus mendapatkan uang." Arka mempercepat langkahnya. Hutan di depan semakin gelap. Itulah Hutan Kelam Arvendell. Tempat itu biasanya dilarang dimasuki warga desa. Tetapi tanaman obat tertentu hanya tumbuh di dalamnya. Arka sudah terbiasa masuk ke sana. Dia berjalan melewati pepohonan tua. Krek! Sebuah ranting patah di belakangnya. Arka berhenti. Dia menoleh. Tidak ada apa-apa. "Hanya suara ranting." Dia kembali berjalan. Namun beberapa detik kemudian... BOOOM! Tanah tiba-tiba bergetar. Arka hampir terjatuh. "Apa?!" Dia melihat ke arah langit. Sebuah cahaya hitam melesat dari balik awan. Benda itu semakin besar. Semakin dekat. Kemudian— BRAAAK! Sebuah ledakan mengguncang seluruh hutan. Tanah bergetar hebat. Burung-burung beterbangan. Arka menatap dengan mata melebar. "Apa yang jatuh?" Rasa penasaran mengalahkan ketakutannya. Dia mengambil lentera lalu berlari menuju lokasi ledakan. Beberapa menit kemudian, Arka tiba di sebuah tanah lapang. Di tengahnya terdapat sebuah kawah besar. Asap hitam mengepul dari dalam kawah. Arka menelan ludah. "Apa itu...?" Dia perlahan mendekat. Di dasar kawah terdapat sebuah batu hitam besar. Namun bukan batu biasa. Benda itu memiliki retakan berwarna merah keemasan. Arka belum pernah melihat sesuatu seperti itu. "Kristal?" Ketika dia hendak menyentuhnya— KRAK! Sebuah suara terdengar dari balik semak. Arka langsung mundur. "Ada monster?" Tangannya meraih pisau kecil di pinggang. Dari balik semak muncul seekor makhluk kecil. Tubuhnya hanya sebesar anak kucing. Bulu hitamnya basah. Telinganya panjang. Dan sebuah luka terlihat jelas di kaki belakangnya. Makhluk itu menatap Arka dengan ketakutan. "Monster?" Arka terdiam. Biasanya monster kecil seperti itu akan langsung menyerang manusia. Tetapi makhluk ini tidak menyerang. Ia justru gemetar. Arka perlahan menurunkan pisaunya. "Kamu terluka?" Makhluk itu mundur. Arka mengambil beberapa daun obat dari keranjangnya. "Aku tidak akan menyakitimu." Makhluk itu tetap waspada. Arka kemudian duduk di tanah. Dia meletakkan obat di sampingnya. "Kalau mau, ambil sendiri." Beberapa saat berlalu. Makhluk kecil itu akhirnya bergerak. Perlahan. Selangkah demi selangkah. Ia mendekati obat tersebut. Kemudian menjilatnya. Arka tersenyum. "Bagus." Tanpa disadari Arka... makhluk kecil itu mulai memperhatikannya. Tatapan ketakutannya perlahan berubah. Menjadi kepercayaan. Arka mengambil perban dari tasnya. "Ayo sini." Makhluk itu ragu. Namun akhirnya mendekat. Arka membalut lukanya. Saat tangannya menyentuh kepala makhluk itu— DING! Suara aneh tiba-tiba terdengar. Arka membeku. Di depannya muncul sebuah layar transparan berwarna biru. Tidak ada orang lain di sana. "Apa..." Tulisan muncul satu demi satu. [DING!] [Syarat telah terpenuhi.] [Makhluk dengan garis keturunan langka telah mendeteksi jiwa Anda.] [Kecocokan jiwa: 100%.] [Sistem Penjinak Monster Legendaris sedang diaktifkan...] Arka tidak mampu berkata-kata. "Apa ini?" Layar tersebut berubah. [Aktivasi sistem: 1%... 10%... 50%... 99%...] [100%!] [Sistem Penjinak Monster Legendaris berhasil diaktifkan.] Arka berdiri dengan wajah pucat. Selama delapan belas tahun hidupnya, tidak pernah ada sesuatu seperti ini. Kemudian sebuah layar baru muncul. [STATUS] Nama: Arka Usia: 18 Level: 1 Kelas: Tidak Ada Energi Jiwa: 10 Kekuatan: 5 Kelincahan: 5 Pertahanan: 4 Keberuntungan: 3 Kemampuan: [Penjinakan Monster Lv.1] [Analisis Monster Lv.1] [Ruang Kontrak Lv.1] Arka membaca semuanya berkali-kali. "Ini... sistem?" Tangannya gemetar. Dia kemudian melihat makhluk kecil di depannya. Sebuah perintah muncul. [Apakah Anda ingin menggunakan Analisis Monster?] Arka berpikir sejenak. "Ya." Informasi langsung muncul. [ANALISIS MONSTER] Nama: Tidak Diketahui Spesies: ??? Ras: ??? Level: 1 Kualitas: LEGENDARIS Potensi Evolusi: ??? Garis Keturunan: Terkunci Kemampuan: Terkunci Status: Terluka Kesetiaan: 7/100 Arka terdiam. Matanya melebar. "Legendaris?" Monster kecil itu terlihat sangat biasa. Bahkan lebih lemah daripada monster liar yang sering diburu para pemburu desa. Tetapi sistem mengatakan kualitasnya... LEGENDARIS. Arka belum sempat berpikir lebih jauh ketika tiba-tiba monster itu menatap batu hitam di dalam kawah. Tubuh kecilnya gemetar. "Hei?" Monster itu mulai berjalan menuju batu. Arka segera mengikutinya. Begitu makhluk itu mendekati batu hitam— BOOM! Energi merah keluar dari kristal. Makhluk kecil tersebut terangkat ke udara. "APA?!" Arka mencoba menariknya. Namun sebuah penghalang energi membuatnya terpental. DUAAAR! Arka jatuh beberapa meter. "Ugh!" Dia mengangkat kepala. Tubuh monster kecil itu mulai bercahaya. Bulu hitamnya berdiri. Matanya berubah menjadi merah terang. Retakan pada batu hitam semakin melebar. KRAK... KRAK... Arka menatap dengan ketakutan. Sebuah pesan sistem muncul. [Peringatan!] [Garis keturunan monster terdeteksi.] [Segel kuno sedang mengalami kerusakan.] [Kemungkinan evolusi paksa: 3%.] [5%...] [10%...] Arka terbelalak. "Evolusi?" Angka tersebut terus meningkat. 20%. 30%. 40%. Kemudian... 50%! Tiba-tiba seluruh hutan menjadi sunyi. Tidak ada suara burung. Tidak ada suara serangga. Bahkan angin pun berhenti. Lalu terdengar suara yang membuat bulu kuduk Arka berdiri. GRAAAAAAAHHH! Raungan besar mengguncang hutan. Arka menatap monster kecil itu. Cahaya merah menghilang. Makhluk yang tadi hanya sebesar anak kucing kini berdiri di hadapannya. Tubuhnya masih kecil. Namun sebuah simbol kuno bercahaya muncul di dahinya. Matanya merah menyala. Dan aura mengerikan memenuhi seluruh hutan. Arka mundur selangkah. Kemudian sistem mengeluarkan suara. [DING!] [Monster Legendaris telah memilih seorang calon Master.] Arka membeku. [Apakah Anda ingin membentuk Kontrak Jiwa?] Di bawah tulisan tersebut terdapat dua pilihan. [YA] [TIDAK] Arka menatap makhluk itu. Monster tersebut tidak menyerang. Sebaliknya... ia berjalan perlahan ke arah Arka. Kemudian duduk di depannya. Kepalanya menunduk. Seolah-olah sedang menunggu jawaban. Arka tersenyum kecil. "Kalau begitu..." Tangannya menyentuh kepala monster tersebut. "Aku akan menjadi partner-mu." Arka memilih— [YA] DING! Cahaya keemasan meledak dari tubuh mereka. [Kontrak Jiwa berhasil dibuat!] [Selamat!] [Anda telah mendapatkan monster pertama.] [Monster pertama Anda memiliki kualitas LEGENDARIS.] [Hadiah pemula telah diberikan.] [Skill: Evolusi Monster Lv.1 telah terbuka.] Arka belum sempat membaca semuanya. Karena dari kejauhan... terdengar suara langkah kaki. Banyak sekali. Tap... Tap... Tap... Arka menoleh. Di antara pepohonan terlihat beberapa bayangan. Satu. Dua. Lima. Sepuluh. Puluhan. Monster-monster liar mulai bermunculan. Namun mereka tidak melihat Arka. Mereka melihat monster kecil di sampingnya. Dan semuanya... berlutut. Arka membeku. "Apa yang sebenarnya kau..." Monster kecil itu menoleh kepadanya. Untuk pertama kalinya, Arka melihat senyum tipis di wajahnya. Kemudian sistem menampilkan satu pesan terakhir. [PERINGATAN BESAR!] [Kebangkitan Garis Keturunan Raja Monster telah terdeteksi.] [Lokasi Anda telah terdeteksi oleh beberapa monster tingkat tinggi.] Arka menatap hutan yang dipenuhi monster. Tangannya mengepal. Senyumnya perlahan menghilang. Malam yang awalnya hanya dimulai sebagai pencarian tanaman obat... telah berubah menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar. Dan Arka belum mengetahui satu hal. Monster yang baru saja dijinakkannya bukan sekadar monster legendaris. Ia adalah makhluk yang selama ribuan tahun dianggap telah punah. RAJA MONSTER YANG TERSEGEL. —BERSAMBUNG KE BAB 2—

End of Chapter 1

Previous
Next Chapter
Chapter 1: SISTEM YANG TERBANGUN - SISTEM PENJINAK MONSTER LEGENDARIS | Novel AI Studio