Chapter 4 of 10
Chapter 4: Tarif Tinggi: Godaan Tak Terbendung
1.4k words
Raka masih merasakan sisa kehangatan Lani yang meresap di kulitnya, seperti jejak aroma sabun mandi minimarket yang tertinggal samar. Lima juta rupiah sudah masuk ke rekeningnya, angka yang dulu terasa seperti impian liar, kini nyata, mengendap di ponselnya. Jari-jemarinya mengusap layar, membuka antarmuka Sistem Kompensasi Takdir yang memancarkan cahaya lembut di kegelapan kamar kosnya yang sempit.
"Selamat, Pengguna. Misi pertama berhasil diselesaikan," suara mekanis sistem berbisik, langsung ke dalam benaknya, tanpa getar.
Raka menelan ludah. Kemeja putihnya terasa sedikit lengket di punggung, bukan karena panas, melainkan sensasi yang masih menjalar dari pertemuan tadi. Matanya menyapu deretan opsi baru yang muncul di layar virtual, tabel tingkatan hadiah yang diperbarui, seolah sistem tahu persis apa yang ingin ia lihat.
*Tingkat Dasar (Gadis / Wanita Lajang):*
*Hadiah: Rp 5.000.000 (Telah dicairkan)*
*Deskripsi: Cukup untuk kebutuhan pokok bulanan. Memaksa Pengguna aktif mencari target baru.*
Raka mengangguk pelan. Itu benar. Lima juta terasa banyak, tapi ia tahu betul harga sewa kos, biaya makan, pulsa, dan sedikit hiburan akan mengikisnya dalam hitungan minggu. Angka itu tidak akan mengubah hidupnya. Hanya menunda kembalinya ia ke titik awal.
Jari telunjuknya bergerak ke bawah, meluncur di atas holografik.
*Tingkat Tinggi (CEO Dingin, Artis Terkenal, Janda Kaya):*
*Hadiah: Rp 20.000.000 - Rp 50.000.000*
*Bonus: Skill Karisma Instan (Level 1)*
*Deskripsi: Meningkatkan status sosial dan membuka akses ke lingkungan kelas atas.*
Sebuah desiran dingin menjalari punggungnya. Dua puluh hingga lima puluh juta. Itu... itu jauh lebih besar. Cukup untuk membeli laptop baru yang ia impikan, membayar kursus bahasa Inggris, mungkin bahkan deposit untuk motor bekas. Sebuah senyum tipis merekah di bibirnya. Ini baru awal.
Matanya terus turun, seperti ditarik oleh gravitasi tak terlihat.
Ada satu baris lagi, paling bawah, disorot dengan warna emas yang berkedip samar.
*Tingkat Tertinggi (Istri Orang):*
*Hadiah: Rp 100.000.000*
*Bonus: Pecah Batas Limit (Infinite Wealth)*
*Deskripsi: Satu-satunya jalan pintas menuju kekayaan tanpa batas. Membuka semua potensi sistem. Target berisiko tinggi, hadiah sepadan.*
Napas Raka tertahan di paru-parunya. Seratus juta. Kata itu berputar di kepalanya, seperti mantra, seperti melodi yang memabukkan. Seratus juta. Angka itu bukan lagi sekadar uang. Itu kebebasan. Itu harga diri. Itu semua yang tidak ia miliki saat Kirana menolaknya dengan tatapan datar. Sebuah kehangatan asing menyebar dari dadanya, bukan kehangatan Lani, melainkan panas dari ambisi yang baru terbangun. Otot-otot di rahangnya mengencang sendiri.
"Pecah Batas Limit... Kekayaan Tanpa Batas?" bisiknya, suaranya serak dan tidak dikenalinya sendiri. Holografik sistem berkedip, mengonfirmasi tanpa suara. Seolah-olah sistem tersenyum padanya.
---
Seratus juta. Konsep itu terasa berat, nyata, dan sekaligus fiksi. Raka memejamkan mata, kepalanya bersandar di dinding semen yang kasar. Bau apek bantal kosnya tiba-tiba terasa lebih tajam, lebih menyengat, kontras dengan bayangan aroma parfum mahal yang melintas di pikirannya.
"Tidak mungkin," ia berbisik lagi, kali ini untuk dirinya sendiri. Bukan tidak mungkin sistemnya, tapi tidak mungkin ia. Ia tidak pernah berpikir untuk melakukan hal sejauh itu. Meniduri istri orang? Sebuah pukulan telak pada moralitas yang selama ini ia pegang teguh.
Ibunya selalu mengajarkan tentang kejujuran, tentang batasan. Kata-kata ibunya, "Jangan pernah mengambil apa yang bukan hakmu, Nak. Apalagi merusak milik orang lain," menggema di telinganya. Rasa panas menjalari pipinya, seolah ditampar. Tangannya mengepal, kuku-kuku jarinya menekan telapak tangan hingga meninggalkan bekas.
Pikirannya melayang pada sosok Bapak Chandra, pemilik warung kelontong di ujung gang. Pria itu selalu menyapa ramah, istrinya yang berjilbab juga sering tersenyum padanya. Bagaimana jika ia yang menjadi target? Sebuah sensasi mual muncul di tenggorokannya. Hawa dingin dari lantai merambat naik ke kakinya, membuatnya bergidik.
Tapi seratus juta... Angka itu kembali menari di benaknya, menyingkirkan bayangan Bapak Chandra. Ia ingat bagaimana Kirana menatapnya saat ia mengatakan tidak punya cukup uang untuk mengajaknya ke kafe mahal. Tatapan yang mengikis harga dirinya, membuatnya merasa kecil, tak berarti. Lima juta dari Lani hanya cukup untuk menutupi beberapa minggu. Itu bukan solusi. Itu hanya penangguhan hukuman.
Ia membuka matanya. Jantungnya berdetak lebih cepat, memompa darah panas ke seluruh tubuh. Bukankah sistem ini tanpa efek samping, tanpa karma buruk, tanpa beban moral sedikit pun? Itu yang dikatakan sistem. *100% murni memberikan keuntungan tanpa efek negatif.* Suara mekanis itu kembali terngiang, seperti bisikan iblis yang membenarkan. Jika tidak ada karma, jika tidak ada penyesalan, lalu apa yang harus ia takutkan?
Raka mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Garis kerutan muncul di dahinya. Rasa lapar akan kemewahan, akan pengakuan, mulai mendesak keluar dari setiap pori-porinya. Keterbatasan hidup yang ia jalani selama ini terasa seperti rantai yang membelenggunya. Seratus juta bukan sekadar uang; itu adalah kunci untuk membuka rantai itu, untuk terbang.
---
Sebuah mobil sport merah melaju mulus di jalanan ibu kota yang ramai. Raka duduk di kursi pengemudi, tangannya memegang kemudi berlapis kulit, aroma mewah interiornya memanjakan indra penciumannya. Matahari sore memantul dari kaca spion, menampilkan pantulan senyum puas di wajahnya. Ini bukan lagi kamar kosnya yang sempit. Ini adalah jalan tol, dengan gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi di kejauhan. Sebuah apartemen mewah dengan pemandangan kota terhampar di depannya, menantinya pulang.
Raka membuka mata, kembali ke realitas dinding kos yang kusam. Namun, bayangan itu begitu nyata, begitu kuat, hingga ia bisa merasakan getaran mesin di bawah kakinya. Rasanya ia bisa menyentuh kemudi itu, menghirup aroma kulitnya. Sebuah desahan panjang lolos dari bibirnya. Hidup seperti itu... bukankah itu yang ia inginkan?
Ia bangkit dari tempat tidur, kakinya melangkah tanpa sadar menuju jendela kamar. Kain tirai tipis tersingkap, memperlihatkan pemandangan atap-atap rumah kumuh dan jemuran pakaian. Itu bukan pandangan yang ia inginkan. Ia membayangkan pemandangan dari lantai atas gedung pencakar langit, lampu-lampu kota yang berkelip seperti bintang di bawahnya.
"Aku bisa memiliki itu semua," gumamnya, suaranya kali ini penuh tekad. Bibirnya melengkung tipis. Kirana. Gadis itu tidak akan lagi bisa menolaknya. Ia bahkan bisa membeli kafe yang dulu Kirana sebutkan, menjadikannya miliknya sendiri. Pikiran itu terasa manis, memabukkan, seperti madu yang perlahan menetes di lidahnya.
Tangan Raka menyentuh kaca jendela yang dingin. Sebuah gambaran lain muncul di benaknya: ruang makan yang luas, meja makan penuh hidangan lezat, dan di sana, duduk seorang wanita. Bukan Lani yang sederhana, bukan Kirana yang sombong, tapi seorang wanita dengan gaun sutra yang anggun, perhiasan berkilauan di leher dan pergelangan tangannya. Rambutnya tergerai indah, menari mengikuti cahaya. Wajahnya memancarkan aura kemewahan, matanya yang tajam menatap Raka, seolah mengundangnya untuk mendekat.
Wanita itu tersenyum, senyum yang menjanjikan segalanya, senyum yang mematikan. Sebuah panggilan. Dia adalah kunci menuju dunia itu, dunia yang selama ini hanya bisa ia impikan. Darahnya berdesir, memanas. Batasan moral yang ia pegang sebelumnya terasa menipis, seperti benang rapuh yang akan putus kapan saja.
---
Dinding moral yang dulu kokoh kini terasa seperti lembaran kaca retak, siap pecah dengan sentuhan paling ringan. Raka memandangi pantulan wajahnya di kaca jendela yang berembun. Matanya tampak lebih tajam, ada kilatan baru di sana, kilatan ambisi yang belum pernah ia kenali sebelumnya. Dahinya berkerut, bukan karena ragu, tetapi karena perhitungan.
"Tapi... istri orang," bisiknya lagi, kata-kata itu terasa asing di lidahnya. Ada sedikit sisa perlawanan di sudut terdalam benaknya, seperti bara api yang nyaris padam. Apakah ia bisa benar-benar melakukannya? Mengambil risiko sejauh itu? Apa yang akan terjadi jika ketahuan?
Sistem telah berjanji tanpa karma, tanpa efek negatif. Bisakah ia mempercayai itu sepenuhnya? Sebuah keraguan kecil muncul, menari di antara bayangan ambisi yang menjulang. Namun, keraguan itu cepat tenggelam di bawah gelombang kebutuhan dan keinginan yang lebih besar. Perutnya terasa bergejolak, bukan karena lapar, tetapi karena lonjakan adrenalin.
Ia memutar telapak tangannya, menekan kaca yang dingin. Rasa dingin itu seolah menyadarkannya pada kenyataan. Realitas hidupnya yang sekarang, dan janji hidup yang bisa ia miliki. Pilihan itu terasa begitu jelas, begitu memanggil. Tidak ada jalan tengah.
"Ini bukan tentang merusak," Raka bergumam, suaranya lebih tegas sekarang. "Ini tentang mengambil kesempatan. Sistem ini memilihku. Ini takdirku." Dia mulai membenarkan tindakannya sendiri, memutarbalikkan logika demi memuaskan dorongan yang semakin kuat. Sebuah seringai tipis muncul di sudut bibirnya.
Ia bisa belajar. Ia akan menjadi lebih pintar, lebih licik. Dia akan mencari target yang tepat, yang tidak akan menimbulkan masalah. Mungkin seseorang yang juga kesepian, yang mencari sesuatu yang hilang dalam hidupnya. Pikiran itu membuatnya merasa sedikit lebih nyaman, sebuah pembenaran yang ia butuhkan.
Raka menatap pantulan dirinya di jendela kos yang berembun, siluet seorang wanita bergaun mewah melintas di benaknya, memanggilnya untuk melewati garis merah yang tak bisa ditarik kembali—sebuah langkah yang menjanjikan segalanya, namun juga mengancam semua yang ia kira ia pahami tentang dirinya.