Chapter 3 of 10

Chapter 3: Jebakan Hadiah: Obsesi Baru

1.6k words

Raka membuka mata. Langit-langit kamar kos Lani yang kusam terlihat asing, namun aroma sabun dan parfum yang samar di seprai memberikan jejak keintiman semalam. Lani masih terlelap di sampingnya, napasnya teratur dan tenang. Punggung telanjang wanita itu melengkung memunggunginya, rambut hitamnya menyebar di bantal putih. Raka meraih ponselnya dari meja nakas, jemarinya terasa sedikit kaku. Sebuah getaran singkat dari notifikasi rekening bank yang masuk pagi-pagi buta. Rp 5.000.000. Angka itu terpampang jelas di layar aplikasi bank digitalnya, di bawah tulisan "Reward Sistem Kompensasi Takdir". Sebuah senyum tipis sempat terukir di bibirnya. Ini uang nyata. Uang yang bisa membayar sewa kosnya, mengisi perutnya, dan bahkan membeli beberapa pakaian baru yang sudah lama ia impikan. Lima juta rupiah. Nominal yang cukup besar untuk seseorang sepertinya. Namun, senyum itu cepat memudar. Raka mulai menghitung. Sewa kos dua juta. Makanan harian, jika berhemat, sekitar satu juta lima ratus ribu per bulan. Transportasi, pulsa, dan kebutuhan tak terduga lainnya bisa mencapai satu juta lagi. Sisa lima ratus ribu. Sebuah desahan tertahan meluncur dari bibirnya. Uang ini hanya cukup untuk satu bulan. Paling lama, satu setengah bulan jika ia benar-benar menekan pengeluaran hingga ke titik ekstrem. Perasaan pahit merayapi kerongkongannya. Semalam, ia telah menyerahkan dirinya sepenuhnya, merasakan sensasi luar biasa yang belum pernah ia alami. Tubuhnya seolah dimodifikasi untuk tujuan ini, memicu respons liar dari Lani yang tak terbantahkan. Sebuah pengalaman yang membuat dinding-dinding kos Lani bergetar, dan suara rintihan mereka berdua menjadi orkestra gairah. Namun, imbalannya hanya setara dengan gaji UMR Jakarta. Sistem memang tidak berbohong. Ia hanya memberikan uang "cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sederhana." Raka menatap angka itu lagi, pikirannya berputar cepat. Jika ia ingin sedikit saja melonggarkan ikat pinggang, atau bahkan sekadar menikmati makanan enak di luar, uang ini akan habis lebih cepat. Ia tidak bisa hanya berpuas diri dengan satu target. Sistem ini memaksa dia untuk terus bergerak, untuk terus "berburu." Sebuah bisikan tak terlihat berdesir di benaknya, mengingatkannya pada notifikasi awal. *Tingkat Dasar (Gadis / Wanita Lajang): Memberikan uang yang hanya cukup untuk bayar kosan, makan harian, dan kebutuhan pokok bulanan.* Lani adalah gadis lajang. Lani adalah target tingkat dasar. Dan ini berarti, ia harus mencari target baru. Lebih banyak target. Atau, target yang berbeda. Ponselnya terasa dingin di genggamannya. Raka membalikkan tubuhnya, menatap punggung Lani. Ia tidur pulas, seolah tidak ada beban. Di satu sisi, ia merasakan kehangatan dari keintiman mereka. Di sisi lain, sebuah dorongan kuat yang dingin mulai tumbuh di dalam dirinya. Dorongan untuk mendapatkan lebih. Bukan hanya lebih banyak uang, tapi sensasi yang lebih besar, tantangan yang lebih memuaskan. Ia perlu uang. Lebih dari sekadar lima juta yang hanya cukup untuk bertahan hidup. Ia ingin bisa membeli ponsel baru, sepatu bagus, mungkin bahkan motor. Ia ingin melampaui "kebutuhan dasar." Sebuah tekad baru, bercampur frustrasi, mulai mengeras di rahangnya. Ia tidak akan kembali ke kehidupan pas-pasan yang pernah menolaknya. --- Raka beringsut dari tempat tidur, melilitkan handuk di pinggangnya. Suara gemericik air dari kamar mandi menarik perhatian Lani. Ia menggeliat pelan, mengerjapkan matanya, lalu tersenyum saat melihat Raka. Senyum itu polos, hangat, dan tanpa beban. Raka membalasnya dengan senyum tipis, perasaannya campur aduk. "Sudah bangun?" Suara Lani terdengar serak, khas orang baru bangun tidur. Ia menarik selimut hingga menutupi dadanya. "Baru saja." Raka mengangguk, menjatuhkan diri di sisi ranjang, tidak terlalu dekat. Aroma tubuh Lani yang masih menempel di seprai menusuk indra penciumannya, memicu kembali ingatan semalam. Kilasan tubuh mereka yang menyatu, desahan yang memburu, dan cengkeraman erat jemari Lani di punggungnya. Lani menopang dagunya dengan tangan, menatap Raka dengan mata berbinar. Ada kilau yang berbeda di sana, sesuatu yang lebih dari sekadar gairah. Ia bergerak sedikit, mendekat, punggung tangannya menyentuh lengan Raka. Kulit Lani terasa lembut dan hangat. "Aku... aku senang sekali semalam," bisiknya, suaranya pelan nyaris tak terdengar, namun setiap kata itu terasa berat. Tatapan matanya lurus ke mata Raka, mencari sesuatu. "Aku... tidak pernah merasakan yang seperti itu sebelumnya." Raka menelan ludah. Ia merasakan desakan di dadanya. Sebuah reaksi dari tubuhnya terhadap pujian itu, atau mungkin dari pengakuan tulus Lani. "Aku juga," jawab Raka, berusaha membuat suaranya terdengar meyakinkan. Ia menghindari tatapan langsung Lani, mengalihkan pandangannya ke dinding yang agak mengelupas. "Raka..." Lani memanggil namanya lagi, dengan intonasi yang lebih dalam. Ia membiarkan jeda sejenak, seolah mengumpulkan keberanian. Lani meraih tangan Raka, menggenggamnya perlahan. Jemarinya melingkari punggung tangan Raka. Sensasi kulitnya yang hangat membuat darah Raka sedikit berdesir. "Aku... aku rasa aku... menyukaimu," katanya, suaranya nyaris bergetar. Sebuah rona merah tipis menyebar di pipinya. "Bukan hanya karena semalam. Tapi... kau berbeda. Kau membuatku nyaman." Tangan Raka mengencang tanpa sadar di genggaman Lani. Ia merasakan sesuatu yang menekan di dalam dadanya. Perasaan Lani tulus. Itu terlihat dari mata, dari rona wajah, dari cara suaranya bergetar. Namun, di dalam kepalanya, suara sistem berbisik. *Target Tingkat Dasar. Reward: Kebutuhan Pokok.* Bisikan itu dingin, kalkulatif, kontras dengan kehangatan tangan Lani. Ia menoleh, menatap wajah Lani yang penuh harap. Matanya yang indah, bibirnya yang sedikit terbuka. Di sana ada kebahagiaan, kerentanan, dan sebuah janji akan sesuatu yang lebih. Sebuah hubungan. Sebuah komitmen. Namun, komitmen itu tidak ada dalam daftar imbalan sistem. Bahkan, ia bisa jadi penghalang. "Lani..." Raka memulai, namun suaranya tercekat. Bagaimana ia harus menjawab? Bagaimana ia bisa mempertahankan kepura-puraan ini? Ia tidak bisa berbohong sepenuhnya, tetapi ia juga tidak bisa mengungkapkan kebenaran yang kejam. Jemarinya perlahan mengusap punggung tangan Lani, memberikan sebuah sentuhan yang ambigu. Sebuah sentuhan yang bisa berarti apa saja. --- Lani menarik tangan Raka lebih dekat, membenamkan wajahnya ke bahu Raka. Aroma sabun Raka yang maskulin memenuhi indra penciumannya, menenangkan. "Aku ingin kita... lebih sering seperti ini," bisiknya, suaranya teredam. Tubuhnya bergeser lebih dekat, paha mereka bersentuhan. Raka merasakan tubuh Lani yang lembut menekan pahanya. Sensasi itu familiar, baru semalam mereka berbagi keintiman. Namun, kini ada lapisan emosi yang lebih tebal di balik sentuhan itu. Lapisan yang tidak bisa diuangkan oleh sistem. Perasaan ini, yang tidak ada dalam daftar hadiah, justru terasa seperti sebuah beban. "Tentu," jawab Raka, kata itu keluar begitu saja dari bibirnya. Ia membiarkan tangannya melingkari bahu Lani, membalas pelukannya. Tapi matanya menerawang, menembus dinding kamar kos yang sempit. Ia melihat Kirana, gadis yang menolaknya, bayangan kemewahan yang dulu terasa begitu jauh. Sebuah konflik batin mulai meruncing di dalam dirinya. Lani ini baik. Ia cantik, hangat, dan memberikan sesuatu yang Raka butuhkan. Tetapi sistem tidak pernah peduli pada kebaikan. Sistem hanya peduli pada hasil. Pada 'reward'. Dan untuk mendapatkan 'reward' yang lebih besar, ia harus mencari 'target' yang lebih tinggi, lebih sulit, atau bahkan 'terlarang'. Suara notifikasi dari sistem seolah bergaung di kepalanya, meskipun ponselnya hening. *Tingkat Dasar. Kebutuhan Pokok. Tingkat Tertinggi: Istri Orang. Reward: 100 Juta.* Seratus juta. Angka itu jauh lebih besar daripada lima juta yang ia miliki sekarang. Seratus juta bisa mengubah segalanya. Bukan hanya bertahan hidup, tapi hidup dengan nyaman. Lani mengangkat kepalanya dari bahu Raka, menatapnya dengan senyum. "Kamu... tidak apa-apa?" tanyanya, menangkap sedikit kekosongan di mata Raka. Raka tersentak. Ia menggelengkan kepala, memaksakan senyum yang lebih lebar. "Aku baik-baik saja. Hanya... memikirkan pekerjaan." Ia berbohong. Pekerjaan yang ia pikirkan adalah 'pekerjaan' dari sistem. "Oh," Lani mengangguk, menerima alasan itu. Ia meraih tangan Raka lagi, mengusapnya dengan ibu jarinya. "Aku harap kita bisa menghabiskan waktu lebih banyak. Aku... benar-benar nyaman denganmu." Rasa panas merayapi pipi Raka. Nyaman. Kata itu terdengar manis, namun juga seperti sebuah belenggu. Ia tidak bisa terlalu nyaman. Kenyamanan berarti stagnasi. Stagnasi berarti kembali ke nol. Sistem tidak mengizinkannya. Ia harus pergi. Ia harus memikirkan langkah selanjutnya. Bagaimana cara melepaskan diri dari kehangatan Lani tanpa menghancurkan hatinya? Atau, lebih tepatnya, bagaimana ia bisa menggunakan kehangatan itu sebagai jembatan menuju target selanjutnya? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar dalam benaknya, terasa seperti duri yang menusuk di antara kelembutan pelukan Lani. --- Raka akhirnya berhasil melepaskan diri dari Lani dengan alasan ada urusan mendadak. Lani sempat menunjukkan kerutan tipis di dahinya, ekspresi kekecewaan yang tak bisa disembunyikan. Namun, ia tidak protes terlalu banyak. Raka membalasnya dengan ciuman lembut di kening, sebuah janji kosong yang terasa pahit di lidahnya. "Aku akan menghubungimu," kata Raka, suaranya terasa dipaksakan. "Janji?" Lani menatapnya dengan mata memohon, jemarinya masih mencengkeram lengan kemeja Raka. "Janji." Raka mengangguk, lalu berbalik, melangkah menuju pintu. Ia bisa merasakan tatapan Lani menembus punggungnya, mengikuti setiap gerakannya. Rasa bersalah mulai merayapi ulu hatinya. Namun, itu cepat tertutup oleh dorongan lain yang lebih kuat, dorongan untuk maju, untuk memenuhi tuntutan sistem. Suara tarikan napas Lani terdengar samar saat Raka membuka pintu. Ia melangkah keluar ke lorong kos yang remang, cahaya kuning bohlam yang redup menciptakan bayangan panjang. Udara di luar terasa lebih dingin, kontras dengan kehangatan di dalam kamar Lani. *Klik.* Pintu kamar kos Lani tertutup di belakangnya, menciptakan suara pelan namun final. Raka berdiri sendirian di lorong remang, mendengar detak jantungnya sendiri yang berdegup cepat. Ia mengeluarkan ponselnya. Layar yang gelap tiba-tiba menyala, dihiasi sebuah notifikasi baru. Sebuah ikon kecil berkedip di sudut atas, di samping logo sistem yang familiar. Raka mengetuknya. *Notifikasi Sistem Kompensasi Takdir:* *Target Baru Teridentifikasi: Ibu Amelia (40 tahun)* *Status: Istri seorang pejabat pemerintah daerah.* *Potensi Reward: Rp 100.000.000 (Seratus Juta Rupiah) + Skill: 'Pesona Sosial Tingkat Tinggi'.* *Risiko: Sangat Tinggi.* Raka membaca tulisan itu, matanya melebar. Seratus juta rupiah. Angka itu berputar di kepalanya, memabukkan. Sebuah jurang pemisah antara dirinya yang sekarang dan Raka yang ia impikan. Dan di bawahnya, kata 'Risiko: Sangat Tinggi' berkedip-kedip, menggodanya dengan janji-janji kekayaan yang lebih besar jika ia berani melangkah lebih jauh, ke dalam wilayah yang lebih terlarang.

End of Chapter 3