Chapter 2 of 8

Chapter 2: Jebakan Wangi Parfum Mahal

1.7k words

Napas Ariel tercekat. Bibir lembut Aya yang baru saja menyentuhnya terasa seperti sengatan listrik, membakar seluruh syarafnya. Aroma parfum mahal wanita itu, campuran melati dan vanila eksotis, kini menyelimuti dirinya, menembus paru-parunya, memenuhi setiap sudut kesadarannya. Matanya terbelalak, menatap Aya yang kini menarik diri perlahan. Wajah Aya memerah tipis, senyum kecil terukir di bibirnya yang baru saja mencuri ciuman darinya. Pandangan wanita itu bertemu dengannya, penuh makna yang sulit diartikan. "Maaf," bisik Aya, suaranya serak, matanya berkilat nakal. "Aku tidak tahu apa yang merasukiku." Nada suaranya sama sekali tidak terdengar menyesal. Jantung Ariel berpacu gila-gilaan. Pikirannya kalut. Ini salah. Ini sangat salah. Aya adalah atasan langsungnya, seorang CEO yang dihormati, dan yang paling penting, istri orang lain. Pipinya memanas. Otaknya memerintahkannya untuk mundur, untuk lari. Namun, tubuhnya terasa terpaku di tempat, seolah medan magnet tak kasat mata menahannya di dekat wanita itu. Angin dingin berhembus melalui lorong, membuat bulu romanya meremang. Atmosfer di antara mereka terasa tebal, penuh ketegangan yang menyesakkan. Ariel menelan ludah, berusaha mencari kata-kata yang tepat, kata-kata yang bisa mengembalikan batas yang baru saja hancur. "Nona Aya..." suaranya tercekat. Ia bahkan tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Rasa malu dan kebingungan membanjirinya. Aya terkekeh pelan, suaranya rendah dan menggoda. "Terlalu kaku, Ariel. Panggil saja Aya." Matanya menari-nari, seolah menikmati setiap ketidaknyamanan yang ia ciptakan. Menarik napas dalam, Ariel memaksa dirinya untuk tenang. "Ini... ini tidak seharusnya terjadi, Nona Aya." Ia mencoba menjaga suaranya tetap tegas, walau dalam hati ia bergetar hebat. Aya mengernyitkan dahi, pura-pura sedih. "Apakah seburuk itu? Apakah aku membuatmu tidak nyaman?" Raut wajahnya begitu meyakinkan, membuat Ariel ragu sesaat. Namun, di balik mata berbinar itu, Ariel bisa melihat kilatan licik. Wanita ini bermain-main dengannya. Ia tahu itu, dan hal itu membuatnya semakin gelisah. Ia merasa seperti mangsa dalam jebakan yang tidak terlihat. "Aku harus kembali bekerja," ucap Ariel cepat, berbalik untuk melarikan diri dari situasi yang semakin canggung ini. Kakinya bergerak otomatis, menjauh dari aura memabukkan Aya. "Tunggu." Suara Aya menghentikannya. Kali ini, ada nada perintah yang tak terbantahkan. Ariel membeku, enggan menoleh, namun tubuhnya tak bisa menolak. Memutar badan perlahan, ia menemukan Aya berdiri di ambang pintu, kuncinya bergelayut di jemarinya yang lentik. Ruangan kerja Aya yang mewah terlihat di belakangnya, pintu sedikit terbuka, mengundang. "Aku... aku punya masalah," kata Aya, menghela napas panjang, seolah sedang menghadapi dilema besar. "Aku tidak bisa menemukan kunci ruang pribadi saya. Kunci yang satu lagi." Ia menunjuk ke arah pintu di ujung lorong, sebuah pintu kayu gelap yang terlihat sangat privat. Alis Ariel terangkat. Kunci? Bukankah ia baru saja melihat Aya memegang kunci di tangannya? Ia merasa ada yang aneh, namun otaknya belum bisa mencerna sepenuhnya. "Apa yang bisa saya bantu, Nona Aya?" tanya Ariel, berusaha terdengar profesional. Ia masih berharap bisa cepat pergi. "Ruangan itu terkunci dari dalam, dan kunci cadangannya entah di mana. Aku butuh akses ke dokumen penting di sana. Aku ingat meletakkannya di mejaku pagi ini, tapi sekarang..." Aya membiarkan kalimatnya menggantung, tatapan mata sendunya menatap Ariel. Sebuah firasat buruk merayapi punggung Ariel. Ini terasa seperti perangkap. "Apakah... apakah Anda yakin tidak tertinggal di suatu tempat lain?" tanyanya hati-hati. Aya menggelengkan kepala, bibirnya mengerucut. "Aku sudah mencari di seluruh ruangan kerjaku. Tidak ada." Ia menyilangkan tangannya di dada, pose yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah di balik blus sutra mahal yang ia kenakan. "Aku benar-benar membutuhkanmu, Ariel." Perasaan aneh muncul di benak Ariel. Perasaan dibutuhkan, di satu sisi. Perasaan dimanipulasi, di sisi lain. Ia adalah seorang OB, bukan ahli kunci. Tapi bagaimana ia bisa menolak CEO perusahaannya? "Saya... saya akan coba menghubungi bagian keamanan, Nona Aya," usul Ariel, mencari jalan keluar yang logis. Aya mendesah frustrasi. "Tidak ada waktu. Dokumen itu harus aku baca sekarang. Ada rapat penting sebentar lagi." Wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang meyakinkan. "Bisakah kau bantu aku mendobrak pintunya? Atau setidaknya... mencoba membukanya dengan cara lain? Aku tahu kau cukup kuat," kata Aya, matanya menelusuri bisep Ariel yang sedikit menonjol di balik seragamnya, membuat pipi Ariel kembali menghangat. Kegelisahan mencengkeram Ariel. Mendobrak pintu ruang pribadi CEO? Ini melanggar banyak aturan. Tapi Aya menatapnya dengan pandangan memohon, pandangan yang sulit ditolak. "Aku... aku akan mencoba, Nona Aya," jawab Ariel, suaranya nyaris tak terdengar. Ia melangkah mendekati pintu gelap itu. Bau parfum Aya semakin kuat, merasuk ke setiap pori-pori kulitnya. Berdiri di depan pintu, Ariel menyadari bahwa pintu itu memang kokoh. Ia mencoba memutar kenop, menekan, bahkan sedikit mengguncangnya. Tidak ada gunanya. Pintu itu terkunci rapat. Ia melihat sekeliling, mencari alat bantu, namun lorong itu sepi dan bersih. "Bagaimana?" tanya Aya, berdiri sangat dekat di belakangnya. Aroma napasnya yang segar menyapu tengkuk Ariel, mengirimkan getaran tak terduga ke seluruh tubuhnya. Ariel memejamkan mata sesaat. Pria berusia 18 tahun itu belum pernah berada dalam situasi seintim dan serumit ini. Ia merasakan tarikan aneh dari wanita di belakangnya, tarikan yang jauh melampaui rasa hormat kepada atasan. "Sepertinya terkunci sangat rapat, Nona Aya," lapor Ariel, suaranya serak. Ia mencoba menjaga jarak, namun Aya seolah sengaja mendekat, meminimalkan ruang di antara mereka. "Mungkin kau perlu bantuan dari dalam?" bisik Aya, suaranya rendah dan penuh makna. Tangan Aya melayang, menyentuh punggung Ariel dengan lembut, seolah tak sengaja. Sentuhan itu seperti percikan api, membakar kulit Ariel. Ariel merasakan napasnya tertahan. Jantungnya berdebar-debar seperti genderang perang. Sentuhan itu tidak sengaja. Ia tahu itu. Aura Aya terasa begitu kuat, begitu mendominasi, menekan setiap pertahanan yang coba ia bangun. "Aku... aku tidak mengerti, Nona Aya," kata Ariel, mencoba menyangkal, mencoba lari dari kebenaran yang mulai terlihat jelas di matanya. Aya tersenyum misterius. "Aku hanya bercanda, Ariel." Ia menarik tangannya, namun tatapannya tetap terpaku pada Ariel, seolah ingin membaca setiap pikiran di kepalanya. "Bagaimana kalau kita coba cara lain?" usul Aya, lalu berjalan menuju pintu ruang kerjanya yang tadi sedikit terbuka. "Ruangan ini terhubung dengan ruang pribadiku melalui sebuah pintu di dalamnya. Mungkin itu bisa dibuka dari sini." Ariel merasa seperti boneka yang ditarik talinya. Ia tahu ini aneh, ini terlalu kebetulan. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Menolak permintaan langsung dari CEO-nya? Itu sama saja mencari masalah. Ia mengikuti Aya masuk ke dalam ruangan. Seketika, udara dingin AC berpadu dengan aroma parfum Aya yang intens, menciptakan sensasi yang aneh, memabukkan, dan sedikit menyesakkan bagi Ariel. Ruangan kerja Aya terasa sangat pribadi. Rak buku-buku tebal berjajar rapi, sebuah sofa kulit hitam mewah teronggok di sudut, dan meja kerja kayu mahoni yang besar mendominasi ruangan. Aroma kopi bercampur dengan parfum Aya, menciptakan campuran unik yang akan selalu Ariel ingat. "Pintu itu," tunjuk Aya ke sebuah pintu kayu lain di sisi ruangan, lebih kecil dan lebih tersembunyi dari pintu utama. "Ini adalah pintu penghubung." Ia berjalan mendekati pintu itu, diikuti Ariel. Berdiri di depan pintu penghubung, Ariel merasakan tekanan yang semakin besar. Ruangan ini terasa seperti perangkap emas. Cahaya remang-remang dari jendela besar menyoroti debu yang menari di udara, membuat suasana terasa semakin intim. "Coba kau buka ini," pinta Aya, menatap Ariel dengan mata berbinar. Ada nada menantang dalam suaranya. Ariel mengulurkan tangan, memegang kenop pintu. Dingin. Kenop itu tidak berputar. "Terkunci juga," gumam Ariel, frustrasi. Ia bisa merasakan tatapan Aya di punggungnya, menganalisis setiap gerakannya. "Ah, sial," desah Aya, kali ini terdengar lebih tulus. Ia bersandar ke dinding di samping pintu, menatap Ariel dengan ekspresi yang tak terbaca. "Aku benar-benar butuh dokumen itu, Ariel." Situasi ini terasa semakin tidak nyata. Ariel merasa terjebak dalam jaring laba-laba yang tak terlihat. Ia mencoba berpikir logis, mencari solusi. "Mungkin... mungkin ada cara lain, Nona Aya?" ia bertanya, putus asa. "Aku rasa tidak," kata Aya, matanya menatap dalam ke mata Ariel. "Kecuali..." Ia berhenti, seolah berpikir keras. "Aku ingat pernah ada masalah dengan kunci ini sebelumnya. Terkadang, jika ditekan dengan sangat kuat saat diputar, ia bisa terbuka." Ariel menatap Aya, ragu. Ini terdengar seperti omong kosong. Tapi ia tidak punya pilihan. Ia harus mencoba. Ia meletakkan kedua tangannya di kenop, mencoba memutarnya dengan sekuat tenaga, sambil mendorong pintu. Otot-otot lengannya menegang. Keringat mulai membasahi dahinya. Ia bisa mendengar napasnya sendiri yang memburu. Tapi kenop itu tetap diam, seolah menertawakan usahanya. "Kau kurang tenaga?" bisik Aya, berdiri di sampingnya lagi, begitu dekat sehingga bahu mereka hampir bersentuhan. Suaranya penuh provokasi. "Atau kau takut?" Kata-kata itu menyulut sesuatu dalam diri Ariel. Takut? Ia tidak takut. Ia hanya bingung dan merasa terperangkap. Ia menekan lebih kuat, memutar lebih keras, seluruh tubuhnya menegang. "Butuh bantuan?" Aya menawarkan, dan sebelum Ariel bisa menjawab, tangan Aya ikut menekan kenop, jari-jari dinginnya menyentuh jari-jari Ariel. Sentuhan itu tidak sengaja, tapi terasa sangat disengaja. Listrik kembali menyambar kulit Ariel. Sensasi itu begitu kuat, begitu mengganggu, Ariel nyaris melepaskan pegangannya. Jantungnya berdegup kencang, memukul-mukul rusuknya dengan keras. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Aya di sampingnya, aroma parfumnya yang memabukkan kini bercampur dengan bau kulitnya yang lembut. "Terus dorong," bisik Aya, suaranya pelan, bibirnya nyaris menyentuh telinga Ariel. "Kau bisa." Napasnya yang hangat menggelitik kulit leher Ariel, mengirimkan gelombang merinding. Otak Ariel berteriak 'hentikan!', tapi tubuhnya tidak patuh. Ia terus mendorong, memutar, merasakan jari-jari Aya yang lembut bergesekan dengan jari-jarinya. Pikiran tentang moralitas, tentang batasan, semuanya mulai kabur, digantikan oleh sensasi yang membingungkan ini. Kenop itu akhirnya berputar sedikit, diiringi suara 'klik' pelan yang nyaris tak terdengar. Mata Ariel melebar. Terbuka? Ia berhasil? "Berhasil!" seru Aya, suaranya ceria, namun ada nada kemenangan yang tersembunyi. Ia melepaskan tangannya dari kenop, mundur selangkah, menatap Ariel dengan senyum lebar yang begitu menawan, begitu berbahaya. Pintu itu kini terbuka sedikit, memperlihatkan kegelapan di dalamnya, hanya diterangi sedikit cahaya rembulan yang masuk dari jendela. Aroma parfum Aya seolah menjadi lebih pekat di ruangan gelap itu, memanggil, menarik. "Masuklah, Ariel," perintah Aya, suaranya kini kembali tenang, namun mengandung otoritas yang tak terbantahkan. "Aku butuh kau membantuku mencari dokumen itu. Mungkin ada beberapa barang berat yang perlu kau pindahkan." Ariel ragu. Melangkah masuk ke ruangan gelap itu bersama Aya? Itu adalah jebakan yang jelas. Namun, ia tidak bisa menolak. Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia merasa tenggelam dalam pusaran yang diciptakan Aya. Ia melangkah masuk, melewati ambang pintu. Ruangan itu memang gelap, hanya beberapa siluet furnitur yang terlihat samar. Ia bisa merasakan tatapan Aya di punggungnya, mengawasinya setiap langkah. Ini adalah perangkap, ia tahu itu. Tapi ia sudah terlalu jauh masuk. Udara di dalam terasa dingin, namun sensasi panas membakar di dalam tubuh Ariel semakin kuat. Ia merasa gairah dan ketakutan beradu di dalam dadanya, menciptakan kegelisahan yang mematikan. Ia berbalik, ingin mengatakan sesuatu, namun Aya sudah berada tepat di belakangnya. ---

End of Chapter 2

Chapter 2: Chapter 2: Jebakan Wangi Parfum Mahal - SELINGKUH: Selingan Indah Keluarga Utuh | Novel AI Studio