Chapter 1 of 8

Chapter 1: Bisikan Terlarang di Lorong Gelap

1.7k words

Pukul tujuh malam. Helaan napas lelah keluar dari bibir Ariel. Ruang kantor yang semula hiruk-pikuk kini senyap, hanya menyisakan dengungan AC dan ketukan jari-jari Ariel di keyboard usang. Ia masih di sana, magang delapan belas tahun yang selalu mencoba membuktikan diri, bahkan ketika semua orang sudah pulang. Ada setumpuk laporan keuangan yang harus disortir sebelum esok pagi. Tanggung jawab kecil, namun terasa begitu berat di pundak remajanya. Kemeja putihnya terasa lengket di punggung. Udara malam Jakarta tetap menyimpan gerah, bahkan di dalam gedung ber-AC sekalipun. Rambut hitamnya jatuh menutupi dahi, basah oleh keringat tipis. Ia mengusapnya kasar. Pekerjaan ini membosankan, repetitif, tapi ini adalah langkah pertamanya di dunia korporat yang kejam. Ariel butuh bertahan. Ariel butuh belajar. Ia butuh lebih dari sekadar nama di daftar kehadiran. Setiap harinya, Ariel melihatnya. Aya. Sang CEO. Wanita berusia awal tiga puluhan itu adalah dewi yang tak terjamah, berkuasa, memesona. Siluet tubuhnya selalu sempurna, langkah kakinya anggun dan penuh otoritas. Matanya tajam, bibirnya merah, dan aromanya... aroma yang selalu membuat Ariel menahan napas setiap kali Aya lewat di dekatnya. Campuran melati, musk, dan sesuatu yang tajam, eksotis. Aroma seorang wanita yang tahu apa yang diinginkannya, dan bagaimana mendapatkannya. Memimpikan Aya adalah dosa. Ariel tahu itu. Aya sudah menikah, cincin berlian melingkar manis di jari manisnya, berkilauan setiap kali ia menggerakkan tangan untuk memberi perintah. Suaminya adalah seorang pengusaha sukses, jauh lebih mapan, lebih pantas. Ariel hanyalah seorang magang, perjaka lugu dengan impian besar dan dompet tipis. Sebuah jurang menganga di antara mereka, tak mungkin terseberangi. Deretan angka di layar komputer mulai kabur di mata Ariel. Ia memijat pelipisnya. Selesai. Akhirnya. Laporan-laporan itu sudah tersusun rapi dalam folder digital. Kini, hanya tinggal mencetak beberapa dokumen penting dan membawanya ke ruang arsip di lantai eksekutif, lantai dua puluh tujuh. Sebuah tugas yang biasanya dilakukan oleh staf senior, namun hari ini, semua orang sudah pulang. 'Hati-hati, ya, Ariel,' kata Bu Indah tadi sore, menyerahkan kunci ruang arsip. 'Ini dokumen rahasia. Jangan sampai salah letak.' Napas Ariel tercekat. Mengapa ia? Mungkin karena ia satu-satunya yang tersisa. Atau mungkin karena Bu Indah tahu ia bisa diandalkan. Atau, mungkin, ini takdir. Langkahnya ringan, membawa map tebal berisi dokumen, menuju lift pribadi yang hanya melayani lantai eksekutif. Jantungnya berdebar, bukan karena takut, melainkan sensasi aneh dari keheningan yang menyelimuti. Gedung ini terasa berbeda setelah jam kerja usai, seperti makhluk raksasa yang tertidur, menyimpan rahasia dalam setiap lorong gelapnya. Lift berdesing pelan, mengantar Ariel naik. Angka-angka berkedip di atas pintu, melaju cepat melewati lantai demi lantai. Ketika pintu terbuka di lantai dua puluh tujuh, kegelapan menyambutnya. Hanya ada lampu darurat yang remang-remang, menciptakan bayangan panjang dan aneh dari setiap pilar dan ornamen dinding. Lorong panjang membentang di hadapannya, karpet tebal meredam setiap langkah. Sunyi. Terlalu sunyi. Ruang arsip ada di ujung koridor, di balik pintu kayu gelap tanpa jendela. Ariel melangkah pelan, matanya menyapu sekeliling, mencari saklar lampu. Tidak ada. Ia harus puas dengan pencahayaan seadanya. Kunci di tangannya terasa dingin, berat. Ia memasukkannya ke lubang kunci, memutar. Klik. Pintu terbuka dengan decitan pelan, memamerkan tumpukan lemari arsip baja yang menjulang tinggi, seperti makam-makam raksasa yang menyimpan sejarah perusahaan. Masuk ke dalam, Ariel meraba dinding, mencari saklar di sana. Akhirnya, sentuhan jemarinya menemukan tonjolan kecil. KLIK. Lampu neon di langit-langit berkedip-kedip sebentar sebelum menyala, membanjiri ruangan dengan cahaya putih pucat yang dingin. Ia meletakkan map di meja di tengah ruangan, mulai menyusun dokumen sesuai dengan kode arsip yang tertera di label. Fokusnya terpecah antara tugas dan perasaan tidak nyaman yang mulai merayapinya. Ia merasa tidak sendirian. Jantung Ariel berdegup, berirama cepat. Ia berbalik, matanya menembus bayangan di antara lemari-lemari arsip. Kosong. Hanya rak-rak tinggi, penuh berkas. Mungkin hanya perasaannya saja. Mungkin ia terlalu lelah. Ia kembali ke pekerjaannya, berusaha mengabaikan sensasi aneh di tengkuknya. --- Suara langkah kaki. Bukan langkah kakinya. Langkah itu ringan, teratur, namun jelas. Mengarah ke sini. Ariel menegang, seluruh otot tubuhnya menegang. Siapa? Satpam? Atau… “Ariel? Sedang apa di sini selarut ini?” Suara itu. Merdu, rendah, seperti bisikan sutra yang membelai telinga. Suara yang Ariel kenali. Suara yang selalu berhasil membuat jantungnya berdebar lebih kencang. Ia memutar tubuhnya perlahan, seperti adegan lambat dalam film. Matanya membelalak. Di ambang pintu, berdiri Aya. Dengan blazer hitam yang tergerai, kemeja sutra berwarna gelap yang membalut lekuk tubuhnya, dan rambut yang diikat tinggi, memperlihatkan jenjang lehernya. Siluet tubuhnya membentuk lekuk sempurna, memantulkan cahaya redup koridor yang menyelinap masuk. Aroma melati dan musk menusuk indra, memabukkan. Lebih kuat dari biasanya. Ia seperti patung dewi yang tiba-tiba hidup, melangkah masuk ke dalam realitasnya yang biasa. Wajahnya cantik tanpa cela, dengan mata cokelat gelap yang menatap lurus ke arah Ariel, penuh rasa ingin tahu dan… sesuatu yang lain, yang Ariel tak bisa artikan. 'Bu Aya,' suara Ariel serak, nyaris tak terdengar. Tenggorokannya terasa kering kerontang. Ia menunduk sopan, berusaha menyembunyikan getaran di tubuhnya. 'Saya... saya diminta Bu Indah untuk mengarsipkan dokumen ini.' Ia menunjuk map di meja, tangannya gemetar sedikit. Aya melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan suara pelan. Kunci berputar. KLIK. Suara itu terasa seperti gembok yang mengunci mereka berdua di dalam ruangan sempit itu. Jantung Ariel berpacu seperti drum yang dipukul tergesa. Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia merasa terjebak, terperangkap. Wanita itu kini berdiri hanya beberapa langkah di depannya. Dekat sekali. Ariel bisa merasakan kehangatan tubuhnya, menghirup aroma parfumnya yang memabukkan. Ia tidak berani mengangkat pandangannya lebih dari ujung sepatu Aya yang mahal. Pikirannya kosong, kecuali satu hal: kabur. Tapi kakinya terpaku di lantai, tak mampu bergerak. 'Dokumen rahasia, ya,' bisik Aya, suaranya lebih rendah dari sebelumnya, mengalun lembut. Langkahnya maju, menyempitkan jarak di antara mereka. Sebuah sentuhan lembut mendarat di lengan Ariel, tepat di bisepnya. Sensasinya seperti sengatan listrik, menjalar ke seluruh tubuh Ariel, membangunkan setiap sarafnya yang tertidur. Mata Ariel terangkat, bertemu pandang dengan Aya. Matanya menyiratkan sesuatu yang gelap, misterius, dan… menggoda. Terdesak. Punggung Ariel menyentuh dinginnya lemari arsip baja. Ia tak bisa mundur lagi. Aya kini begitu dekat, tubuhnya nyaris menempel. Panas. Di antara tubuh mereka, udara terasa tipis, penuh ketegangan. Bibir merah Aya melengkung tipis, membentuk senyum kecil yang tak terbaca. Ada hasrat yang tersembunyi di balik tatapan matanya, sesuatu yang terlalu dewasa, terlalu berbahaya, bagi Ariel. 'Kau tahu, Ariel,' bisiknya lagi, suaranya kini diwarnai nada yang lebih dalam, lebih sensual. Tangannya yang semula di lengan, kini merayap perlahan ke bahunya, lalu ke leher belakang Ariel. Jemari lentiknya membelai kulitnya, mengirimkan gelombang merinding ke seluruh tubuh Ariel. 'Aku selalu tahu kau punya potensi.' Potensi apa? Otak Ariel berputar, mencoba memahami. Potensi dalam pekerjaan? Dalam karier? Atau… Matanya tanpa sadar menatap ke bawah, ke arah dada Aya yang terbungkus rapi di balik kemeja sutra. Lekuk tubuhnya terasa begitu dekat, begitu nyata. Napas Ariel tercekat. Potensi apa yang dimaksudnya? 'Bukan potensi yang terlihat di laporan keuanganmu, sayang,' bisik Aya, seolah membaca pikiran Ariel. Senyumnya melebar, lebih gelap, lebih liar. Ia menekan tubuhnya lebih erat ke Ariel, dadanya menempel di dada Ariel, perutnya menekan pinggul Ariel. Kehangatan tubuh Aya membakar Ariel, menembus kemejanya, meresap ke kulitnya. Ariel merasakan sesuatu yang lain, sesuatu yang keras dan panas, mendesak di antara pangkal pahanya. Otot-ototnya menegang. Ia merasakan gairah yang belum pernah ia alami sebelumnya, membuncah, membakar. Panas menjalar di sekujur tubuh Ariel, memusatkan diri di selangkangannya. Penisnya yang sejak tadi bereaksi, kini terasa membesar dan menegang. Darah berdesir kencang, memenuhi setiap inci. Ia merasa malu, terhina, tapi juga tergoda. Ini gila. Ini salah. Tapi tubuhnya bereaksi di luar kendalinya. Ia adalah perjaka, polos, dan sentuhan seorang wanita dewasa seperti Aya adalah ledakan bagi setiap indra yang baru terbangun dalam dirinya. 'Kau tahu, ada banyak hal di dunia ini yang tidak tertulis dalam buku panduan perusahaan,' kata Aya, suaranya semakin rendah, semakin intim. Jari-jarinya kini membelai rambut Ariel, menyelipkan anak rambut di belakang telinganya. 'Dan potensi yang kumaksud adalah… sesuatu yang lebih dasar. Lebih primal.' Napas Ariel terengah-engah. Matanya menatap Aya, mencari jawaban, mencari penolakan. Tapi yang ia temukan hanyalah mata Aya yang berkilauan, penuh janji dan bahaya. Wajah Aya mendekat, bibirnya yang merah merekah kini berada hanya beberapa sentimeter dari bibir Ariel. Ariel bisa merasakan napas hangatnya di wajahnya, aroma melati semakin pekat. Kepala Ariel pusing, duniaputra seperti berputar. 'Lihatlah dirimu, Ariel,' bisik Aya, matanya menelusuri wajah Ariel, turun ke lehernya, lalu ke dadanya. 'Kau muda, belum terjamah. Dan ada energi luar biasa yang tersembunyi di dalam dirimu. Sebuah kekuatan yang bisa menghancurkan… atau membangun.' Jari Aya kini meluncur turun ke perut Ariel, lalu lebih jauh lagi, melingkari pinggang Ariel, menariknya lebih dekat. Tidak ada ruang di antara mereka. Ariel bisa merasakan setiap lekuk tubuh Aya, setiap napasnya, setiap detak jantungnya yang berpacu kencang, menyaingi detak jantung Ariel sendiri. Lutut Ariel terasa lemas, nyaris ambruk. Ia mengerti sekarang. Potensi yang dimaksud Aya bukanlah tentang angka-angka atau laporan. Ini tentang dirinya. Tentang tubuhnya. Tentang nalurinya yang baru terbangun. Ketakutan melanda Ariel, bercampur aduk dengan gelombang nafsu yang panas. Ini adalah dosa yang mengintai. Ia tahu Aya adalah istri orang. Ini bisa menghancurkan segalanya. Reputasinya, masa depannya, bahkan mungkin hidupnya. Tapi desakan tubuh Aya, bisikan sensualnya, dan sentuhan jari-jemarinya yang nakal, terlalu kuat untuk ditolak oleh seorang perjaka sepertinya. 'Kau takut?' Aya bertanya, suaranya berubah menjadi ejekan lembut. 'Atau penasaran?' Bola mata Ariel bergerak gelisah. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Kedua emosi itu bertarung sengit di dalam dirinya. Takut akan konsekuensinya, tapi penasaran akan rasanya. Rasa penasaran itu kini mendominasi, membakar setiap keraguan. Tubuhnya merespons secara naluriah, desakan di celananya semakin kuat, seolah ingin membebaskan diri. 'Jangan khawatir, Ariel,' bisik Aya, mengusap pipi Ariel dengan ibu jarinya. Sentuhan itu terasa seperti api dingin, membakar namun menenangkan. 'Ini akan menjadi rahasia kita. Sebuah selingan indah… untuk keluarga yang utuh.' Kata 'selingan indah' diucapkan dengan penekanan aneh, mengandung makna ganda yang Ariel tangkap namun tak berani ia artikan sepenuhnya. Kata-kata itu, 'selingan indah,' menggema di benak Ariel, terdengar begitu manis dan berbahaya secara bersamaan. Keluarga yang utuh. Keluarga Aya. Dan ia, Ariel, akan menjadi 'selingan indah' itu. Sebuah peran yang tak pernah terbayangkan, sebuah takdir yang terasa begitu keliru namun begitu menggoda. Matanya memejam sejenak, membayangkan apa yang mungkin terjadi jika ia menyerah pada bisikan terlarang ini. Bibir Aya bergerak, semakin mendekat. Ariel menahan napas, menantikan sentuhan bibir mereka yang pasti akan membakar. Ia bisa merasakan kehangatan napasnya di bibirnya sendiri. Detak jantungnya menggila. Ia siap. Siap untuk jatuh, siap untuk terbakar. Namun, bibir itu berhenti. Hanya berjarak sehelai rambut. Lalu, bisikan terakhir, yang bukan lagi sebuah pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan. Sebuah ultimatum. Detik itu, bibir Aya menuntut, bukan sebuah ciuman, melainkan janji bisu akan sebuah rahasia yang akan menghancurkan atau membangun mereka.

End of Chapter 1

Previous
Next Chapter