"Ritualnya selesai."
Suara Kael membelah udara steril, yang dipenuhi aroma logam ozon dan ketakutan. Matanya, yang dahulu dipenuhi bayang-bayang kesedihan, kini menyala dengan cahaya yang tidak wajar dan nyaris euforia. Di belakangnya, makhluk Penumbra berdenyut—sebuah mimpi buruk yang tersusun dari kehampaan yang terus berubah dan cakar-cakar setajam silet. Sulur-sulurnya menjalar menuju inti energi kolosal Project Chimera.
Celestia membeku. Tangannya yang masih terulur ke arah inti yang tadi hendak dihancurkannya gemetar. Makhluk itu bukan lagi sekadar entitas terpisah. Wujudnya yang gelap mulai menyatu ke dalam struktur kristal bercahaya milik ciptaan Dr. Aris.
"Apa yang kau lakukan?" Suara Celestia berubah menjadi bisikan parau. Keputusasaan mencengkeram tenggorokannya. Kini dia mengerti. Ini bukan sekadar tentang memperkuat Penumbra. Ini adalah... integrasi.
Kael tertawa. Suara hampa tanpa kegembiraan yang menggema dalam kehampaan tujuan barunya.
"Project Chimera adalah wadahnya. Sumber bahan bakar yang tak akan pernah habis. Dan sekarang, waktunya telah tiba."
Tatapannya terkunci pada mata Celestia, membuat darahnya terasa membeku.
"Mata itu telah Bangkit."
Gelombang ketakutan dingin menyapu Celestia. Mata itu. Artefak kosmik tersebut. Bukan sekadar aktif, tetapi menyatu.
Menyatu dengan upaya putus asa umat manusia untuk menyelamatkan diri, mengubahnya menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Project Chimera, yang dirancang untuk mengubah energi kehidupan manusia menjadi energi, kini telah menjadi saluran sekaligus inang parasit bagi entitas yang seharusnya mereka lawan.
Benar-benar kewalahan, Celestia merasakan lututnya melemah. Setiap nalurinya berteriak agar dia melarikan diri, agar dia melawan, tetapi tubuhnya seakan lumpuh. Inilah dia. Manifestasi terakhir dari ketakutan terdalamnya.
Campur tangan manusia, dalam kecemerlangan yang keliru, bukan hanya gagal, tetapi justru memperburuk kiamat.
Mereka sedang membangun kehancuran mereka sendiri, bata demi bata yang menyakitkan.
Inti energi yang sebelumnya merupakan sumber kekuatan destruktif yang terkendali kini berdenyut mengikuti irama asing. Sulur-sulur hitam dari makhluk Penumbra bukan sekadar menyentuhnya; sulur-sulur itu menyatu dan melebur ke dalam struktur kristal itu sendiri. Urat-urat kegelapan menyebar melalui jantungnya yang bercahaya.
Dengungan rendah bergetar di seluruh lantai, semakin lama semakin kuat, berubah menjadi geraman dalam yang menggema.
Partikel-partikel debu menari di bawah cahaya lampu yang menyilaukan, menangkap cahaya ungu menyeramkan yang memancar dari struktur yang sedang menyatu itu.
Celestia bisa merasakan distorsi di udara, seolah-olah jalinan realitas menipis dan meregang. Retakan dimensional itu ternyata bukan sekadar kejadian spontan.
Retakan-retakan itu sedang ditarik.
"Kau tidak mengerti, Celestia," kata Kael, suaranya dipenuhi rasa iba sekaligus fanatisme. Dia melangkah mendekat, sementara makhluk Penumbra di belakangnya menjadi bayangan hidup yang bernapas.
"Kita tidak bisa melawan alam semesta. Kita harus menjadi bagian darinya."
Kata-katanya menghantam saraf Celestia.
Menjadi bagian darinya?
Asimilasi?
Itu adalah penyerahan diri. Itu adalah akhir dari segala sesuatu yang membuat mereka menjadi manusia.
Rahangnya mengeras, getaran menjalar di seluruh otot tubuhnya. Dia tidak akan menerimanya. Dia tidak bisa menerimanya.
Celestia memaksa tubuhnya bergerak dari posisi yang membeku. Energi Celestial meledak di sekitar kedua tangannya. Cahaya biru berkilauan berdenyut, siap menyerang, siap memusnahkan.
"Ini bukan solusi, Kael! Ini kehancuran!"
Kael hanya tersenyum, dengan ekspresi yang begitu tenang hingga terasa mengerikan.
"Kehancuran adalah permulaan. Project Chimera adalah jembatan. Jembatan antara alam kita dan alam yang lain."
Makhluk Penumbra mengeluarkan suara rendah dan parau. Bukan suara kesakitan, melainkan... kepuasan.
Wujudnya mengeras mengelilingi inti, menjadi tak terpisahkan dari kristal di beberapa bagian, namun tetap jelas terlihat sebagai sesuatu yang asing.
Seluruh ruangan mulai melengkung. Dinding-dinding steril tampak kabur, sementara lantai retak akibat tekanan besar yang terus meningkat.
Celestia merasakan lonjakan kekuatan mentah—bukan berasal darinya, melainkan dari monstrositas hibrida di hadapannya.
Kekuatan itu mencabik batas persepsinya, sebuah energi kacau yang mengancam untuk mengurai pikirannya.
Skala kekuatannya begitu besar hingga melampaui apa pun yang pernah dia saksikan.
Itu bukan sekadar makhluk.
Itu adalah sebuah gerbang.
Inilah Chimera yang sesungguhnya.
Perpaduan mengerikan antara ambisi manusia dan horor kosmik. Senjata yang ditempa oleh tangan-tangan putus asa, kini berada di tangan pikiran yang juga putus asa dan kehilangan kewarasan.
Pengetahuan bahwa dia telah melihat semua ini, telah melihat sekilas akhir dunia, tetapi tetap tidak mampu menghentikannya, menjadi beban yang menghancurkan.
Kegagalannya di masa lalu untuk menyelamatkan adiknya kembali bergema dalam pikirannya, diperkuat oleh kehancuran yang kini mengancam seluruh dunia.
"Kau bisa melihat masa depan, kan?" Suara Kael hampir seperti bisikan, namun menggema keras di dalam ruangan yang terus meluas.
"Kau melihat kehancuran. Tapi kau tidak melihat ini. Kau tidak melihat pengorbanan yang diperlukan."
Kael salah mengartikan keputusasaan Celestia sebagai ketidaktahuan. Dia mengira Celestia hanya belum melihat jalan yang telah dipilihnya.
Namun Celestia telah melihat kehancuran.
Dia telah melihat dunia terbakar, langit terkoyak, dan sekarang dia melihat para arsitek kehancuran itu berdiri di hadapannya, meyakini diri mereka sebagai penyelamat.
Hibrida Penumbra-Chimera berdenyut dengan intensitas yang mengkhawatirkan. Pita-pita energi gelap menjalar keluar, mencapai langit-langit ruangan dan meretakkan beton yang diperkuat.
Udara menjadi berat, dipenuhi listrik statis, membuat bulu-bulu halus di lengan Celestia berdiri.
Getaran mengguncang fasilitas.
Alarm meraung, urgensinya menjadi kontras tajam dengan ketenangan Kael. Lampu darurat berkedip-kedip, menyelimuti horor yang sedang menyatu itu dalam nuansa merah dan hitam.
Sebuah pemandangan mengerikan.
Kelahiran yang menyimpang.
Celestia menerjang.
Energi Celestial melonjak, membentuk tombak cahaya terkonsentrasi yang diarahkan tepat ke dada Kael.
Dia tidak akan membiarkan Kael menyelesaikan ini, apa pun sebenarnya "ini" yang sedang terjadi.
Bahkan jika dia tidak bisa menghentikan artefak tersebut, dia masih bisa menghentikan Kael.
Kael tidak bergeming.
Namun makhluk Penumbra bergerak dengan kecepatan yang mustahil. Bayangan terlepas dari inti dan menghadang serangannya.
Wujud itu mengeras menjadi penghalang bercakar, menyerap benturan serangan Celestia dengan jeritan energi yang terdistorsi.
Serangannya lenyap tanpa meninggalkan jejak.
Kedua tangan Celestia mengepal.
Makhluk itu kuat, tetapi sekarang terasa... berbeda.
Lebih menyatu.
Tidak lagi seperti entitas terpisah, melainkan perpanjangan dari Mata itu sendiri.
Ini bukan lagi makhluk Penumbra.
Ini adalah pecahan artefak tersebut yang telah dijadikan senjata.
Kael mengamatinya, dengan sedikit sesuatu yang dingin dan kuno terpancar dari tatapannya.
"Kau pikir kau bisa menghentikannya? Kita hanyalah debu di hadapan keagungan ini, Celestia. Ini adalah evolusi. Penumbra bukan musuh; ia adalah katalis."
Kata-katanya seperti racun, memutarbalikkan kebenaran.
Katalis untuk apa?
Kehancuran mutlak.
Penyatuan dimensi.
Pemusnahan realitas mereka sendiri.
Bayangan Jakarta yang telah hancur kembali muncul di benak Celestia, lebih jelas daripada sebelumnya—sebuah akibat langsung dari tindakan yang sedang terjadi di hadapannya.
Dengungan semakin kuat, berubah menjadi raungan yang memekakkan telinga.
Hibrida kristal dan bayangan itu kembali berdenyut.
Semburan cahaya ungu yang menyilaukan meledak dari intinya.
Struktur seluruh kompleks bawah tanah mulai runtuh.
Dinding-dinding melengkung dan retak. Pipa-pipa pecah. Uap panas mendesis keluar.
Celestia terhuyung mundur sambil melindungi matanya.
Energi yang luar biasa itu terasa seperti gelombang pasang yang mengancam menelannya.
Energi Celestial miliknya secara naluriah meledak, membentuk perisai pelindung.
Namun bahkan perisai itu terasa tidak cukup untuk menghadapi kekuatan kosmik ini.
Kael mengulurkan tangan.
Bukan untuk menyerang, melainkan hampir seperti sebuah ajakan.
"Bergabunglah dengan kami, Celestia. Rasakan kekuatannya. Pahami takdir Bumi 12."
Fanatismenya mutlak.
Dia benar-benar percaya bahwa semua ini adalah keselamatan, bukan pemusnahan.
Wajahnya dipenuhi ekstase kelam, sepenuhnya tersesat dalam horor kosmik yang telah dia lepaskan.
Keputusasaan umat manusia telah melahirkan seorang dewa.
Dan kini, dewa itu menuntut pengorbanan.
Ruangan itu semakin larut ke dalam kehancuran.
Udara menjadi tak bisa dihirup, dipenuhi ozon dan energi mentah.
Celestia merasakan tanah berguncang di bawah kakinya, getaran dalam yang beresonansi hingga ke tulang-tulangnya.
Ini bukan lagi kejadian yang terlokalisasi.
Ini sudah menjadi sesuatu yang berskala global.
Mata itu benar-benar telah terbangun.
Ia menarik dan menyerap kekuatan, bukan hanya dari energi kehidupan yang telah dikonversi oleh Project Chimera, tetapi juga dari jalinan planet itu sendiri.
Celestia bisa merasakannya.
Sebuah pengurasan yang sangat dalam.
Rasa haus yang menggema, menjangkau jauh melampaui ruangan ini, melampaui benua ini, hingga jauh ke dalam inti Bumi 12.
Rasa sakit membakar meledak di balik mata Celestia ketika sebuah penglihatan baru menerobos masuk ke dalam pikirannya.
Bukan firasat.
Bukan ramalan.
Melainkan sebuah transfer langsung berupa pecahan simbol-simbol kuno dan peta bintang yang terfragmentasi.
Semuanya menunjuk pada inti Bumi 12.
Sebuah pengungkapan mengejutkan yang mengubah pemahaman tentang rahasia terbesar dunia.