Chapter 4 of 14
Chapter 4: Sabotase di Balik Asap Dapur
1.3k words
Aroma jahe merah memenuhi udara sempit dapur belakang Pak Danu. Uap panas mengepul dari belasan panci besar yang berjajar di atas kompor gas, mengeluarkan esensi pedas yang menusuk hidung. Inilah langkah pertama. Inilah awal segalanya.Cici, adiknya yang paling cekatan, dengan hati-hati mengaduk cairan kental dalam panci aluminium. Gerakannya lincah, matanya awas mengawasi setiap gelembung yang pecah di permukaan. Tangannya terampil, terlatih sejak kecil membantu Ibu di dapur.Bayu, si bungsu, fokus memarut tumpukan jahe segar di sudut. Keringat membasahi dahinya, menempelkan beberapa helai rambut ke pelipis. Sesekali ia melirik Arsyad, mencari validasi, mencari arahan.Arsyad berdiri di tengah, matanya menyapu setiap sudut ruangan. Tidak ada satu detail pun yang luput dari pengawasannya. Kalkulasinya sudah matang, meminimalkan biaya operasional hingga titik terkecil. Setiap gram jahe, setiap tetes minyak, adalah investasi berharga.Pagi buta mereka sudah tiba. Meminjam dapur ini adalah satu-satunya pilihan. Menyewa pabrik mini terlalu mahal. Menggunakan dapur rumah terlalu berisiko. Pak Danu, pemilik warung makan langganan keluarga, bersedia membantu dengan biaya sewa minimal.Enam pekerja upahan ikut membantu, dipilih dari kenalan Pak Danu. Mereka bekerja dalam diam, mengikuti instruksi Arsyad yang singkat dan padat. Arsyad tidak pernah sepenuhnya percaya. Otaknya terus menganalisis, mencari anomali."Cici, suhu api stabil?" Arsyad mendekat, menunjuk termometer yang tergantung di sisi panci."Stabil, Bang. Tiga puluh derajat," Cici menjawab, suaranya tenang.Arsyud mengangguk. Suhu adalah kunci. Resep warisan keluarga menuntut presisi mutlak. Ekstraksi jahe merah untuk minyak esensial, bukan sekadar rebusan jamu.Bayu menggerutu pelan. "Kapan selesainya, Bang? Tanganku pegal."Arsyad menatap adiknya. "Kita harus cepat. Setiap jam adalah uang. Setiap rupiah kita perjuangkan." Kata-kata itu terdengar lebih seperti mantra bagi dirinya sendiri.Pandangannya beralih ke salah satu pekerja di pojok. Pria itu, bertubuh jangkung, memiliki tato naga di lengan kanannya. Gerakannya agak kaku, tidak sealami pekerja lain yang terbiasa dengan pekerjaan dapur. Pria itu sesekali melirik jam tangannya, lalu pandangannya melesat ke arah pintu belakang.Firasat buruk menyergap Arsyad. Rasa tidak nyaman yang sudah lama bersarang di perutnya kini mencengkeram. Kecemasan paranoidnya bukanlah hal baru. Ia terbiasa mengabaikannya sebagai overthinking. Namun, kali ini terasa berbeda.Melangkah perlahan, Arsyad mendekati kompor utama yang menopang tiga panci terbesar. Kompor ini baru kemarin diperiksa teknisi. Kondisinya seharusnya prima.Menunduk sedikit, ia memeriksa selang gas. Normal. Kemudian, ia menyentuh katup regulator. Dingin. Namun, ada yang salah.Sedikit longgar. Tidak sekencang seharusnya.Jantung Arsyad berdesir dingin. Otaknya memutar ulang gambar pekerja bertato naga tadi, tatapannya ke arah pintu, gerakannya yang mencurigakan. Sabotase. Ini bukan kecelakaan.Pria bertato itu kini berdiri di dekat pintu, punggungnya menghadap mereka. Tangannya memegang gagang pintu, siap membuka.Mata Arsyad melebar. Bau gas. Samar, tapi ada. Ia tidak menciumnya tadi karena aroma jahe yang terlalu kuat. Tapi sekarang, ia bisa merasakannya. Tekanan gas berfluktuasi."Cici! Bayu! Mundur!" Arsyad berteriak, suaranya parau.Adik-adiknya terkesiap, menatapnya bingung. Mereka tidak mengerti."Sekarang!" Arsyad membentak, jari telunjuknya menunjuk ke arah pintu belakang, menjauh dari kompor.Cici dan Bayu, terkejut oleh nada suaranya, otomatis melangkah mundur. Para pekerja lain juga ikut berhenti, menatap Arsyad dengan ekspresi campur aduk.Pria bertato itu panik. Ia mendorong pintu, siap kabur.Arsyad tahu ia tidak punya waktu. Detik-detik ini adalah penentu. Ledakan. Jika itu terjadi, semuanya akan hancur. Bukan hanya panci dan jahe, tetapi harapan mereka, masa depan adik-adiknya.Menyambar karung goni bekas yang tergantung di dinding, Arsyad bergerak secepat kilat. Karung itu terasa berat di tangannya, kasar dan berbau apek."Air!" Arsyad berteriak lagi, lebih ke dirinya sendiri. Ia mencari ember air di dekatnya. Sial, kosong.Tidak ada waktu.Melompat ke depan, Arsyad membasahi karung goni di bak cuci piring yang penuh air kotor. Tangannya gemetar tapi gerakannya presisi.Gas bocor. Api kompor berkedip-kedip tidak stabil. Sebuah percikan kecil saja bisa menyulut petaka.Menutup hidungnya dengan satu tangan, Arsyad melempar karung basah itu ke atas kompor. Bunyi szzztt nyaring terdengar saat air memadamkan api. Asap putih tebal mengepul, menyesakkan napas.Keheningan melanda dapur. Hanya suara batuk Arsyad yang memecah kesunyian.Pria bertato itu, melihat rencananya gagal, kini membuka pintu sepenuhnya. Ia melesat keluar, tidak menoleh ke belakang."Tangkap dia!" Arsyad berteriak, suaranya serak karena asap.Salah satu pekerja, pria paruh baya bernama Jono, mencoba mengejar. Tapi pria bertato itu sudah terlalu cepat. Hilang di balik gang sempit.Arsyad terhuyung, bersandar pada meja stainless steel. Jantungnya berdebar kencang, memukuli tulang rusuknya dengan ganas. Rasa takut, murni dan mencekam, masih menjalari setiap serat tubuhnya.Napasnya memburu. Kemejanya basah oleh keringat dan air. Ia baru saja lolos dari maut. Dan lolos dari kehancuran total.Cici dan Bayu berlari ke arahnya, mata mereka memerah. "Bang Arsyad! Abang tidak apa-apa?" Cici meraih lengannya, suaranya bergetar.Bayu menatap sisa-sisa api yang masih berasap. "Apa yang terjadi, Bang?"Arsyad hanya bisa menggeleng. Tenggorokannya tercekat.Setengah dari bahan baku jahe merah, yang sudah setengah proses ekstraksi, kini gosong. Bau hangus bercampur aroma jahe yang semula harum.Kerugian yang tidak terhitung. Modal mereka, waktu mereka, harapan mereka.Ia melihat ke panci-panci yang selamat. Untungnya, tiga panci besar di kompor utama yang paling parah terkena dampaknya. Cairan di dalamnya berubah warna menjadi kehitaman, hangus tak bisa diselamatkan."Kalian tidak apa-apa?" Arsyad balas bertanya, suaranya nyaris berbisik. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya.Cici dan Bayu mengangguk, ekspresi mereka masih syok.Para pekerja lain berkerumun, menatap Arsyad dengan hormat bercampur ketakutan. Mereka tahu apa yang baru saja terjadi. Ledakan gas bisa meratakan seluruh bangunan."Siapa pria itu, Jono?" Arsyad menatap pria paruh baya yang tadi mencoba mengejar.Jono menggeleng. "Saya tidak tahu, Den. Baru kali ini saya lihat dia. Pak Danu bilang dia pekerja lepas dari kenalan temannya." Jono terlihat cemas.Arsyad mengepalkan tangannya. Sebuah jebakan. Sebuah sabotase yang direncanakan dengan matang.Siapa? Siapa yang berani bermain-main dengan nyawa adik-adiknya?Kemarahan membara di dadanya, membakar rasa takut yang tadi sempat menguasai. Ini bukan lagi tentang bisnis. Ini adalah ancaman pribadi."Bersihkan kekacauan ini," Arsyad memberi perintah, suaranya kembali dingin dan penuh perhitungan. "Yang masih bisa diselamatkan, pisahkan."Matanya menyapu lantai. Di dekat pintu yang terbuka lebar, ada sesuatu yang berkilau.Sosok pria bertato itu menghilang dengan cepat, terlalu cepat. Seolah-olah dia memang ahli dalam melarikan diri. Arsyad merasa ada yang lebih besar di balik ini.Melangkah mendekat, Arsyad membungkuk. Sebuah lencana kecil tergeletak di lantai keramik, memantulkan cahaya redup.Lencana itu terbuat dari perak, dengan ukiran detail yang rumit. Di tengahnya, sebuah huruf 'M' besar terukir dengan gaya kaligrafi yang elegan. Bentuknya seperti mahkota, atau mungkin sayap.Arsyad mengambilnya. Dingin dan berat di telapak tangannya."Ini..." Suaranya tercekat. Ia pernah melihat lambang ini sebelumnya. Di mobil-mobil mewah yang melintas di jalanan kota. Di plakat-plakat gedung pencakar langit. Di iklan-iklan korporasi.Grup Mahendra.Lencana itu adalah simbol dari sayap keamanan internal Grup Mahendra. Mereka tidak hanya menguasai pasar. Mereka juga punya mata-mata. Mereka punya kaki tangan.Perusahaannya, usahanya yang baru seumur jagung, sudah terdeteksi. Mereka sudah melihatnya. Dan mereka tidak akan ragu untuk menghancurkannya.Arsyad menggenggam lencana itu erat-erat. Rasa takut kembali menyergap, kali ini jauh lebih dingin, lebih nyata. Mereka tahu keberadaan kami. Mereka sudah datang. Dan mereka tidak akan berhenti sampai kami musnah.Sebuah peringatan. Sebuah ancaman yang sangat jelas.Ia menatap lencana 'M' di telapak tangannya, kemudian ke wajah Cici dan Bayu yang masih pucat.Grup Mahendra kini resmi menyadari keberadaan mereka.