Chapter 3 of 14

Chapter 3: Langkah Pertama di Lantai Pasar

226 words

Gedoran keras itu masih menggema di benak Arsyad. Bayangan wajah Bu Tejo yang memerah, teriakan ancaman di ambang pintu, semua itu membakar tekadnya. Dia tidak akan membiarkan adiknya menderita seperti dulu ibunya. Kemiskinan adalah musuh, dan dia akan menghancurkannya. Ini bukan lagi soal resep keluarga, ini soal bertahan hidup. Ini soal masa depan keluarga Soemarta. Mereka butuh Arsyad. Fajar menyingsing, membasuh wajahnya dengan cahaya keemasan. Arsyad sudah berada di jalan, ponsel bututnya digenggam erat. Layar retaknya menampilkan peta digital usang, menunjuk ke sebuah titik di pinggir kota. Gudang grosir Pak Danu. Pilihan terakhirnya. Atau mungkin, satu-satunya pilihan yang rasional. Informasi yang Arsyad kumpulkan semalam sangat jelas. Pak Danu, seorang pedagang grosir independen yang pernah berjaya, kini terseok-seok di bawah cengkeraman Grup Mahendra. Mahendra memotong jalur pasokan, menekan harga, dan memonopoli distribusi. Danu adalah korban sempurna dari sistem yang ingin Arsyad hancurkan. Kakinya melangkah cepat, melewati lorong-lorong sempit yang dipenuhi gerobak pedagang sayur. Aroma bawang dan cabai menusuk hidung. Pikirannya melaju lebih cepat dari langkah kakinya, merangkai setiap angka, setiap probabilitas. Rencana sudah matang di kepalanya, terpatri dengan presisi absolut. Satu jam kemudian, Arsyad tiba di depan sebuah bangunan tua dengan cat mengelupas. Papan nama 'Grosir Danu Jaya' hampir tak terbaca. Pintu rolling door sebagian tertutup, menyingkap interior yang remang-remang. Debu tebal menyelimuti rak-rak kosong, hanya menyisakan beberapa karung beras dan mie instan yang tampak tak laku.

End of Chapter 3