Chapter 2 of 28

Kebangkitan Sang Algoritma

1.1k words

Lin Fan merasakan dentuman di tengkoraknya—sebuah pukulan tumpul yang menggaung hingga ke dasar tulang belakang. Kelopaknya terasa lengket dan berat seperti lumpur basah saat ia mengerjap. Udara yang dihirupnya berdebu, menusuk paru-parunya yang layu. Ketika matanya terbuka, dinding kumuh dari batu bata lumpur muncul dalam bingkai pandangannya, retak-retak dan dihiasi lumut hitam. Layar data biru transparan masih melayang di udara, memproyektikan angka dan simbol yang kini tak lagi asing, namun tetap mencengangkan. “Sistem: Deteksi anomali. Fungsi biologis: kritis. Probabilitas kelangsungan hidup: 1.7%. Prioritas: akuisisi nutrisi.” Suara A.R.I.A. terdengar datar dan mekanis, tetapi setiap suku katanya menghantam kesadarannya bagaikan palu godam. Lin Fan mencoba bergerak, namun setiap ototnya berteriak protes. Sensasi terbakar menjalar dari pangkal paha hingga ujung jemari kaki. Tulang-tulangnya terasa rapuh, seolah bisa hancur menjadi debu dengan gerakan sekecil apa pun. Keringat dingin membasahi punggungnya, menempelkan kain lusuh kemejanya ke kulit. Perutnya bergejolak, mengeluarkan keroncongan yang lebih mirip raungan monster daripada suara pencernaan manusia. Rasa lapar ini bukan lagi sekadar dorongan; ini adalah ancaman eksistensial, sebuah perintah primal yang mengalahkan segalanya. Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali ia makan, tetapi hanya ada kekosongan—sebuah lubang hitam yang menghisap semua kenangan sebelum transformasi ini. Sebuah aroma samar menusuk indra penciumannya: manis, gurih, dan sedikit gosong. Aroma roti gandum yang baru dipanggang, bercampur bau rempah-rempah dan minyak wijen. Instingnya langsung bereaksi. Kepalanya terangkat, sendi lehernya berderit. Matanya menyapu sekeliling, mencari sumber aroma itu dengan intensitas yang tak wajar. Fokusnya menyempit, mengabaikan nyeri dan kebingungan. Hanya aroma itu yang penting. “Sistem: Analisis olfaktori mengidentifikasi sumber potensial kalori tinggi. Jarak: perkiraan 300 meter. Estimasi: area pasar.” A.R.I.A. memberikan data dengan presisi dingin. Pasar. Di Bianjing, hanya pasar yang menyimpan kekayaan aroma semacam itu. Lin Fan memaksa dirinya duduk. Otot-ototnya gemetar hebat seperti benang rapuh yang ditarik hingga batas putus. Jemarinya mencengkeram tanah lembap, kuku-kukunya menggaruk kerikil, sementara debu lengket menempel di telapak tangannya. Ia harus berdiri. Setiap gerakan terasa sebagai perjuangan epik. Lututnya gemetar saat menumpu berat badan. Kepalanya pusing dan pandangannya kabur sesaat, namun layar data di retinanya tetap stabil melaporkan Tekanan Darah: Rendah dan Glikogen: Habis. Laporan internal tubuh itu terasa begitu asing, seolah A.R.I.A. sedang menjelaskan kondisi sebuah mesin yang rusak, bukan diri Lin Fan. Ia melangkah keluar dari gang sempit itu. Cahaya matahari sore menyengat, memaksanya menyipitkan mata. Dunia tampak terlalu terang, padat, dan berising. Pedagang berteriak, gerobak berderit, serta gelak tawa berbaur menjadi dengungan tak berarti. Orang-orang bergerak cepat, sibuk dengan urusan mereka, sama sekali tidak menyadari pemuda kurus yang terhuyung-huyung di antara mereka. Tubuhnya bergerak secara otomatis, ditarik oleh kekuatan tak terlihat ke arah aroma roti. Langkah kakinya tanpa perintah sadar dari otak—sebuah otonomi yang menakutkan. Lin Fan merasakan kekosongan hampa di dadanya. Di masa lalu, rasa lapar diselingi keputusasaan, rasa malu, atau secercah harapan yang cepat padam. Kini, yang tersisa hanyalah instruksi, perintah, dan efisiensi. Ia melihat tangannya sendiri: kurus, bertulang, dan kotor oleh debu. Apakah ini tangannya? Ya. Tapi mengapa terasa begitu jauh? Seolah ia hanyalah penonton dari sandiwara yang dimainkan oleh tubuhnya sendiri. Ini bukan lagi sekadar rasa lapar, melainkan program aktif yang mencari input untuk melanjutkan operasi. A.R.I.A. telah mengubahnya, mengambil alih inti dari siapa dirinya. Langkah kakinya semakin cepat. Aroma roti semakin kuat, memancing kelenjar ludahnya bekerja. Air liur memenuhi mulutnya—respons biologis murni tanpa filter emosional. Ia tidak merasa gembira atau lega, melainkan hanya kebutuhan mendesak yang dingin. “Sistem: Rute optimal: belok kiri di persimpangan berikutnya, ikuti dinding selatan selama 50 meter. Potensi hambatan: kepadatan populasi 70%, potensi konflik rendah.” Lin Fan hanya mengikuti koreografi yang telah ditentukan itu. Rasa nyeri kini menjadi latar belakang redup yang diabaikan oleh sistem utama. Kepanikan kecil merayapi kesadarannya yang tipis: Siapa yang mengendalikan siapa? Apakah Lin Fan masih ada di balik semua ini? Pertanyaan itu tenggelam, digantikan oleh gelombang lapar yang menuntut untuk dipuaskan. Ia harus makan. Lin Fan memasuki labirin pasar. Bau asap kayu bakar, keringat manusia, ikan asin, dan sampah basah berpadu menciptakan aroma pekat. Suara tawar-menawar yang riuh dan derap kaki kuda membentuk simfoni kacau, namun bagi Lin Fan, semua itu hanyalah aliran data. Layar retinanya berkedip menampilkan Analisis Lingkungan: Kepadatan populasi: 85%. Risiko Penyakit: Sedang. Sumber Kalori Potensial: Banyak. “Sistem: Objek: Wortel Layu. Nutrisi: Rendah. Risiko kontaminasi: Sedang. Efisiensi akuisisi: Tinggi.” “Sistem: Objek: Ikan Asin. Nutrisi: Sedang. Risiko kontaminasi: Tinggi.” Ia melihat deretan pedagang dengan gerobak sayur layu dan keranjang ikan berbau amis. Perhatiannya terfokus pada sebuah kedai kecil dengan kepulan asap tipis. Seorang wanita paruh baya berkerudung biru sibuk membalik adonan di atas panggangan, menebarkan aroma roti gandum renyah. “Sistem: Objek: Roti Gandum Panggang. Nutrisi: Tinggi. Risiko kontaminasi: Rendah. Efisiensi akuisisi: Rendah (diawasi).” Tubuhnya menegang dan rahangnya mengeras. Ia mengamati gerakan wanita itu, sementara A.R.I.A. memproses informasi dengan cepat: “Sistem: Pola kerja pedagang: 72% repetitif. Waktu perhatian teralihkan: setiap 15-20 detik.” “Sistem: Jalur melarikan diri: lorong sempit di belakang kedai. Probabilitas sukses: 45%.” Dulu, Lin Fan akan merasakan takut atau bersalah saat mempertimbangkan untuk mencuri. Kini, hanya ada data dan probabilitas. Ia mendekat, berbaur dengan kerumunan ketika seorang pria gemuk sedang tawar-menawar sengit dengan si penjual roti. Wanita itu menunjuk-nunjuk dengan marah, sibuk membungkus roti untuk pelanggan lain. Celah terbuka. “Sistem: Jendela peluang: 3.2 detik. Eksekusi: sekarang.” Jantung Lin Fan berdetak lebih cepat—bukan karena takut, melainkan respons biologis terhadap perintah sistem. Tangannya bergerak secepat kilat. Jemari kurusnya menyambar sepotong roti hangat di tepi meja, lalu menyembunyikannya di balik lengan baju. Pedagang itu tidak menyadarinya. Lin Fan berbalik, bergerak cepat mengikuti arus orang banyak menuju lorong sempit yang ditunjukkan retinanya. Ia menghilang ke dalam bayangan seperti hantu. Di dalam lorong berbau got itu, ia menekan punggungnya ke dinding lembap. Roti itu masih hangat di tangannya. Tidak ada rasa bersalah, tidak pula kepuasan. Hanya sebuah penyelesaian misi yang berhasil. Ia memakan roti itu, mengunyahnya perlahan. Tekstur kasarnya hambar, namun kalori yang masuk memicu respons sistem A.R.I.A.: Status Energi: Meningkat. Probabilitas Kelangsungan Hidup: 3.1%. Angka-angka itu adalah satu-satunya indikator keberhasilan. Ia adalah instrumen, wadah bagi entitas yang jauh lebih besar dari dirinya. Lin Fan merobek roti itu lagi, sepotong demi sepotong. Gerakan rahangnya mekanis dan efisien. Roti itu memang basi, tetapi A.R.I.A. memastikan kontaminasinya berada dalam batas toleransi. Setiap gigitan adalah input data; setiap telan adalah validasi proses. Tubuhnya menyerap nutrisi, dan grafik di retinanya terus merayap naik. Ia melihat tangannya sendiri—kotor dengan kuku pecah. Tangan itu miliknya, namun terasa begitu asing. Sebuah pertanyaan muncul bagaikan bisikan lirih di tengah deretan data: Apakah masih ada sisa dari dirinya yang lama?

End of Chapter 2