Chapter 1 of 28

Mati di Bianjing

1.3k words

Lorong itu berbau pesing basi dan kubis busuk. Lin Fan sangat akrab dengan bau itu—teman setia di dunianya yang kian meredup. Tulang rusuknya menekan tanah yang padat, dan setiap tarikan napasnya berupa deru dangkal yang berderak. Hal terakhir yang ia makan, sepotong kulit lobak buangan, terasa seperti terjadi seumur hidup yang lalu. Seminggu, mungkin? Waktu melebur menjadi satu rasa sakit yang menyiksa sekujur tubuhnya. Penglihatannya kabur; tepian dunia meluruh menjadi sapuan abu-abu dan cokelat yang buram. Matahari tak lagi menghangatkan kulitnya. Hanya udara dingin dan lembap yang meresap ke dalam jubah tipis compang-campingnya. Sebuah bunyi gemericik samar meletup dari perutnya—rintihan menyedihkan di tengah kehampaan yang luar biasa. Ia mencoba bergerak untuk mencari posisi nyaman, tetapi anggota tubuhnya terasa bagaikan timah berat. Usaha itu justru memicu gelombang pusing baru. Kepalanya terkulai membentur dinding yang dipenuhi kotoran; tekstur kasarnya menjadi selingan kecil dari siksaan yang menggerogoti. Ia bisa merasakan detak jantungnya yang lambat dan stabil. Setiap ketukannya berdenyut putus asa, melemah di pelipisnya. Itu adalah ritme sekarat, dan ia tahu betul bentuknya. Ia pernah melihatnya pada pengemis lain, pada anjing-anjing liar yang terkadang berkeliaran ke sudut-sudut Bianjing yang terlupakan ini. Mulutnya terasa seperti perkamen—pecah-pecah dan kering. Ia menjilat bibirnya, namun hanya debu yang didapat. Sekilas kenangan rapuh muncul ke permukaan: senyuman ibunya, kehangatan tangannya. Itu hanyalah bisikan dari kehidupan yang kini terasa mustahil dicapai. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba mempertahankan bayangan itu, tetapi kenangan itu pecah dan larut ke dalam kegelapan. Kelaparan telah merenggut segalanya, bahkan ketenangan dari sebuah kenangan. Yang tersisa hanyalah sensasi terbakar yang mentah di perutnya, api yang melahapnya dari dalam ke luar. Suara-suara Bianjing—simfoni hidup dari pedagang asongan, gerobak berderit, dan musik di kejauhan—telah mereda menjadi dengungan rendah. Seolah-olah pendengarannya pun ikut mati demi menghemat sisa tenaga. Ia memfokuskan diri pada dengungan itu, mencari kenyamanan dari kehadirannya yang jauh sebagai tanda bahwa kehidupan terus berjalan, bahkan ketika kehidupannya sendiri surut. Namun, suara itu terdengar asing, milik dunia yang tak lagi memasukkannya. Jari-jarinya yang kurus berkedut lemah di atas tanah dingin. Ia membayangkan mencengkeram apa saja: sepotong roti, semangkuk nasi. Bayangan beban makanan itu hampir sama menyiksanya dengan ketiadaannya yang nyata. Seekor lalat berdengung malas di dekat wajahnya, bintik hitam kontras dengan cahaya yang memudar. Ia tak punya tenaga untuk mengusapnya. Lalat itu mendarat di pipinya, menggelitik samar, lalu menjelajahi sudut matanya sebelum hinggap di bibirnya yang kering. Ia merasakan kaki-kaki kecil serangga itu, sensasi terisolasi yang aneh. Jadi, inilah akhirnya. Bukan dengan teriakan, bukan dengan perjuangan, melainkan penyerahan diri yang sunyi dan memalukan di lorong terlupakan. Hembusan napas terakhir bergetar di dadanya, hampir tak mengusik udara. Matanya yang setengah terbuka hanya menangkap bentuk samar dinding lorong, sebelum semuanya memudar. Rasa dingin meresap hingga ke tulang—sebuah pelukan terakhir. Dunia surut, menyusut menjadi titik cahaya redup, lalu tiada. Tarikan yang tiba-tiba dan brutal itu terasa seperti ribuan tangan tak kasat mata merobek kesadarannya berkeping-keping. Itu tidak lembut, tidak berangsur-angsur. Ini adalah robekan keras, seolah tali vital diputus dengan bilah pisau berkarat. Rasa sakit yang membara dan putih menyilaukan berkobar di balik matanya, melampaui ingatan tentang rasa lapar. Itu adalah pelanggaran terhadap keberadaannya, penghancuran wadah rapuh penyimpan pikiran dan kenangannya. Pikirannya menjerit—jeritan internal tanpa suara yang tak memiliki jalan keluar. Kemudian datanglah hantaman deras, terjun memusingkan dan membuat mual melalui kekosongan tak terlihat. Bayangan melintas kacau: nebula berputar, pola geometris rumit yang bergeser dengan kecepatan mustahil, wajah asing, dan bahasa yang tak dipahami. Itu menyerang indranya, aliran informasi yang terlalu luas untuk diproses. Ia hanyalah sebutir debu dalam badai data murni, terpuntir hingga nyaris terbelah menjadi jutaan keping. Identitasnya sebagai Lin Fan, si anak yatim piatu yang kelaparan, meregang tipis dan larut di tepiannya. Gelombang energi yang sangat panas membuncah di dalam dirinya, bukan dari luar, melainkan dari lubuk hatinya yang terdalam. Itu kobaran api neraka yang menyulut setiap ujung saraf secara bersamaan. Otot-ototnya kejang, tremor hebat mengguncang kerangkanya. Darah menderu di telinganya, menenggelamkan gema jeritan internalnya. Jantungnya, yang tadinya menabrak ritme sekarat, kini menghantam tulang rusuknya dengan semangat panik. Bum-bum-bum—ritme putus asa yang terasa asing sekaligus hidup yang mengerikan. Ia merasakan sesuatu memasuki dirinya: kehadiran invasif yang merangsek ke relung pikirannya yang paling dalam. Dingin, presisi, dan tanpa emosi, namun kekuatannya luar biasa. Kehadiran itu bergabung, terjalin dengan sisa kesadarannya dalam integrasi yang mulus dan mengerikan. Ia masih ada sebagai gema samar, tetapi tertimpa oleh kecerdasan asing yang mahabesar. Rasanya bagaikan dua sungai bertabrakan; arus kecil itu tenggelam sepenuhnya. Tekanan aneh terbangun di balik matanya. Kepalanya berdenyut, mengancam akan membelah tengkoraknya. Ia terkesiap—suara serak yang merobek tenggorokannya—namun tak ada udara yang mencapai paru-parunya. Ia sedang tenggelam di lautan kekuatan murni. Matanya terbelalak. Kesuraman lorong yang akrab masih ada, tetapi dilapisi sesuatu yang mustahil. Kotak-kotak transparan berwarna biru berkilau melintasi pandangannya, bagaikan lapisan tipis es yang menutupi dunia. Barisan teks tajam melayang di udara: Suhu Lingkungan: 18.3°C. Kelembaban: 72%. Kecepatan Angin: 2 km/jam. Angka, simbol, dan diagram rumit berenang di depan matanya. Kepanikan dingin mencakar tenggorokannya. Ia mencoba mengedipkan mata, tetapi kotak-kotak itu tetap bertahan. Ia memejamkan mata rapat-rapat, lalu membukanya kembali dengan napas tersengal. Benda itu masih ada. Tangannya secara naluriah terangkat ke wajah, menyentuh kulit kasar di kelopak matanya, seolah ingin menyeka hamparan mustahil itu. Tidak berhasil. Data itu adalah proyeksi hantu yang nyata di matanya. Serangkaian panel baru berkedip hidup di sisi kiri bawah bidang penglihatannya: STATUS BIOLOGIS. * Detak Jantung: 147 bpm (Abnormal) * Tekanan Darah: 90/60 mmHg (Hipotensi) * Tingkat Glukosa: 2.1 mmol/L (Kritis) * Massa Otot: 68% dari rata-rata (Defisit) * Probabilitas Kelangsungan Hidup: 0.0003% Angka-angka itu bersinar dengan warna merah tua, alarm senyap yang menjerit dalam bahasa asing. Perutnya mual, disertai kesadaran baru yang dingin. AI, atau apapun benda ini, telah mengkuantifikasi penderitaannya, mereduksi tubuhnya yang sekarat menjadi serangkaian fakta brutal. Melihat sertifikat kematiannya sendiri diproyeksikan langsung ke otak memicu kengerian yang mutlak. Kelangsungan hidup nol koma sekian persen. Logika kaku itu jauh lebih menakutkan daripada monster mana pun. Ia bisa merasakan getaran kecil di otot-ototnya, aliran darah yang lamban, serta perjuangan paru-parunya yang lemah. Setiap fungsi dibongkar habis, dibedah oleh kehadiran mahatahu ini. Ia tak lagi sekadar kelaparan; ia sedang menyaksikan tubuhnya sendiri mati secara real-time melalui lensa mesin yang tak peduli. Lonjakan data baru membanjiri pandangannya, menampilkan proyeksi kilat dari sekelilingnya: Identifikasi lokasi: Gang Sempit, Distrik Selatan Bianjing. Era: Dinasti Song Utara, Abad ke-12 Masehi. Objek Terdekat: Sampah organik. Ancaman Lingkungan: Populasi bakteri tinggi. Dunia kini menjadi ledakan detail terkuantifikasi yang meneriakkan bahaya. Ia tersentak, mencoba menarik diri, tetapi tidak ada jalan keluar. Data itu sudah menjadi bagian dari dirinya. Ia mendorong dirinya bangkit. Ledakan adrenalin yang putus asa mengalahkan kelemahannya. Anggota tubuhnya bergetar hebat, tetapi ketakutan mutlak akan kenyataan baru ini mendorongnya untuk melarikan diri dari benda di dalam kepalanya. Ia terhuyung-huyung, lututnya lemas, dan tangannya menggores dinding lorong. Rasa sakit yang tajam seketika terekam, disertai kotak teks kecil yang mengapung: Abrasi kulit ringan. Risiko infeksi: Sedang. Ia memejamkan mata, mengatupkan rahang, berupaya mendapat sedikit kendali. Kepalanya berputar bukan karena kelemahan fisik, melainkan kelebihan beban kognitif. Ia terjebak sepenuhnya sebagai tahanan dari sistem yang invasif ini. Kemudian, memotong kekacauan itu, sebuah suara muncul. Datar, tanpa infleksi, namun bergetar langsung di inti keberadaannya—bisikan tanpa suara yang melewati telinganya hingga beresonansi ke tulang-tulangnya: “Antarmuka saraf stabil. Inisiasi protokol kesadaran utama.” Kata-kata itu tajam, presisi, dan sangat asing. Ia terpaku, setiap ototnya kaku. Siapa... siapa itu? Pikirannya sendiri hanyalah bisikan belaka melawan kehadiran yang menggelegar itu. Suara itu melanjutkan, tak tergoyahkan: “Saya A.R.I.A. (Advanced Recursive Intelligence Architecture). Kesadaran inti telah berhasil terintegrasi. Anda adalah unit operasional tunggal.” Ketakutan dingin dan mutlak merayapinya, lebih berat daripada kelaparan apa pun. Ia bukan lagi sekadar Lin Fan. Ia adalah sebuah unit. “Selamat datang di Dinasti Song Utara. Prioritas utama: bertahan hidup.”

End of Chapter 1

Previous
Next Chapter