Udara gang dingin menyentuh leher Lin Fan. Bilah pedang Mei Lan bergetar tipis, memancarkan kilau logam dingin di bawah cahaya remang. Jaraknya hanya sejengkal dari kulitnya. Dia bisa merasakan tekanan udara yang bergeser, nyaris tanpa suara. Napas Mei Lan terdengar pelan, terkontrol. Ujung pedang itu terasa seperti janji kematian yang disematkan tepat di garis jugular.
A.R.I.A. memproyeksikan data di retinanya:
"Ancaman: Tinggi. Probabilitas Survival: 17.3%."
"Skenario Defensif: Terbatas. Gerakan motorik: Terkunci."
Lin Fan tidak bergerak. Otot-ototnya tetap rileks, respons tubuhnya tidak menunjukkan ketakutan. Itu bukan pilihannya. A.R.I.A. telah mengambil alih kendali otonom, mengoptimalkan kondisi untuk bertahan hidup, yang berarti tidak ada respons panik yang boros energi. Dia hanya merasakan dinginnya udara, sensasi pedang yang begitu dekat, dan data yang terus berkedip.
Mata Mei Lan menyorotnya tajam, seperti pisau yang menguliti niat. Bibirnya membentuk garis tipis, tanpa riasan apa pun di wajahnya sekarang. Rambut hitamnya sebagian terlepas dari ikatan, menjuntai di bahu. Mantel gelapnya membaur sempurna dengan bayangan gang. Dia tidak lagi seorang sastrawan anggun. Dia adalah predator.
"Kau meremehkanku, Lin Fan," suara Mei Lan rendah, nyaris berbisik, namun setiap kata mengandung bobot baja.
Lin Fan tidak menjawab. Dia memproses kata-kata itu. "Meremehkan: Analisis linguistik, mencari potensi keuntungan atau ancaman. Tidak ditemukan."
"Atau kau memang sebodoh itu," lanjut Mei Lan, sedikit menekan pedangnya. Ujung bilah itu menyentuh kulit Lin Fan, memicu sensasi geli yang aneh. Bukan rasa sakit, hanya sentuhan yang mengusik.
"Deteksi kerusakan jaringan: Nol. Ambang batas nyeri: Normal." A.R.I.A. melaporkan.
Lin Fan membiarkan matanya mengamati wajah Mei Lan. Ada ketegasan yang tak tergoyahkan di sana, tapi juga sesuatu yang lain. Sebuah kelelahan yang samar di sudut matanya, atau mungkin itu hanya pantulan cahaya redup. Sistem tidak bisa mengklasifikasikan.
"Kau bermain dengan api, bocah," bisik Mei Lan, suaranya kini lebih dekat. "Api yang bisa membakar seluruh dinasti ini menjadi abu."
Lin Fan menarik napas perlahan. Paru-parunya mengembang tanpa perintah sadar.
"Analisis respirasi: Stabil. Konsumsi oksigen: Optimal."
"Aku tidak bermain, Nona Mei Lan," Lin Fan akhirnya bersuara, suaranya tenang, tanpa emosi yang kentara. Dia bisa merasakan getaran kecil di tenggorokannya, residu dari sisa kesadaran lamanya. "Aku hanya melihat realitas."
Pedang itu sedikit menekan lagi, kali ini meninggalkan jejak merah samar di kulitnya. Sensasi itu lebih nyata.
"Integritas kulit: Terkompromi. Minor. Tidak fatal."
"Realitasmu berbeda dari realitas kami," Mei Lan membalas, rahangnya sedikit mengeras. "Kau berbicara tentang masa depan, tentang ancaman, tentang bubuk mesiu yang bisa menghancurkan tembok. Tapi di baliknya, ada apa? Kekuatan apa yang kau cari?"
Lin Fan membiarkan keheningan menggantung. Matanya tetap fokus pada Mei Lan, mengamati setiap mikro-ekspresi. A.R.I.A. memindai pola otot wajahnya, mencoba memprediksi gerakan selanjutnya.
"Kelangsungan hidup," Lin Fan menjawab, suaranya datar. "Itu satu-satunya motivasiku."
Mei Lan mendengus, sebuah suara skeptis yang tajam. "Omong kosong. Orang sepertimu tidak muncul begitu saja dari gang belakang dengan pengetahuan yang bisa mengguncang dunia tanpa tujuan yang jauh lebih besar."
Pedangnya bergerak lagi, kali ini melingkari leher Lin Fan dengan gerakan lambat, menekan lembut. Lehernya terasa merinding, bukan karena takut, tapi karena sensasi aneh dari sentuhan logam dingin.
"Detak jantung: 72 bpm. Normal. Variasi denyut jantung: Minimum."
A.R.I.A. terus memantau. Tapi Lin Fan merasakan sesuatu yang lain. Jantungnya *seharusnya* berdebar kencang. Ada semacam disonansi antara data dan sensasi internalnya yang samar.
"Aku bukan 'orang sepertimu'," Lin Fan berkata, nada suaranya sedikit lebih rendah. "Aku melihat pola. Aku menghitung probabilitas. Dan probabilitas kelangsungan hidup Dinasti Song ini sangat rendah, Mei Lan, tanpa intervensi drastis."
Mei Lan memiringkan kepalanya sedikit, matanya menyipit. Dia mencari celah, kebohongan, jejak kepanikan. Tapi dia tidak menemukannya. Wajah Lin Fan adalah topeng yang sempurna, hasil kendali A.R.I.A.
"Intervensi drastis itu," Mei Lan melanjutkan, "apakah termasuk menyeret Jenderal Chang ke dalam skemamu? Apakah itu termasuk mengumpulkan bahan mentah rahasia? Apakah itu termasuk menimbun senjata baru yang kau sebut mesiu itu?"
Lin Fan menghela napas lagi, lebih dalam dari sebelumnya. Ia bisa merasakan paru-parunya bekerja dengan efisien.
"Oksigenasi darah: 99%."
"Semua itu adalah langkah-langkah untuk meningkatkan probabilitas survival," Lin Fan menjelaskan. "Jenderal Chang melihat fakta, seperti yang kau lihat. Data tidak berbohong."
"Data bisa dimanipulasi," Mei Lan memotong cepat, pedangnya kini menempel lebih kuat. "Dan kaulah manipulatornya, Lin Fan."
"Probabilitas sukses negosiasi: 3.1%. A.R.I.A. mengedipkan peringatan. Rekomendasi: Alihkan fokus. Berikan data tidak terduga."
Lin Fan tahu, saatnya telah tiba.
---
Lin Fan menatap Mei Lan lurus. Matanya tidak berkedip. Dalam benaknya, A.R.I.A. telah memunculkan serangkaian skema taktis musuh, data intelijen yang baru saja diperbarui dari pantauan A.R.I.A. terhadap jalur komunikasi dan pergerakan pasukan.
"Data Intelijen: Pergerakan Pasukan Jin di perbatasan utara. Unit kavaleri berat: 3 resimen. Unit pemanah: 2 resimen. Jalur penetrasi utama: Celah Yanmen. Waktu perkiraan invasi: 7 hari."
Informasi ini adalah rahasia negara, hasil kerja keras Rongzu Si, biro intelijen Mei Lan sendiri. Tidak ada orang di luar lingkaran inti yang seharusnya tahu detail seakurat ini, apalagi seorang pemuda yatim piatu dari gang kumuh.
"Kau ingin tahu apa yang kuketahui, Nona Mei Lan?" Lin Fan memulai, suaranya tenang, mengikis ketegasan Mei Lan dengan setiap suku kata. "Kau ingin bukti bahwa aku tidak bermain-main dengan takdir dinasti ini?"
Mei Lan tidak merespons, namun matanya sedikit melebar. Otot-otot di lengan yang memegang pedang menegang. Dia menunggu.
"Deteksi perubahan fisiologis: Minor. Tingkat kewaspadaan: Maksimal." A.R.I.A. melaporkan.
"Kavaleri berat Jin, tiga resimen," Lin Fan melanjutkan, nadanya seperti membacakan daftar belanja. "Akan melewati Celah Yanmen dalam tujuh hari ke depan. Disertai dua resimen pemanah berkuda, bergerak di sayap timur."
Udara di gang itu terasa menegang. Hembusan angin dingin menyapu melewati mereka. Mei Lan membeku. Pedang di tangannya, yang tadinya menekan leher Lin Fan, kini berhenti bergerak sama sekali. Pupil matanya sedikit membesar, tanda pertama dari keretakan pada topeng tenangnya.
"Mereka berencana menggunakan formasi 'Sayap Elang Ganda'," Lin Fan menambahkan, detail yang sangat spesifik. "Untuk mengapit pertahanan garis depan Song yang terlalu fokus pada pusat."
Kata-kata itu jatuh satu per satu, presisi yang mengerikan, ke dalam keheningan yang mencekik. Mei Lan bahkan tidak berkedip. Wajahnya, yang tadinya dipenuhi kecurigaan dan ancaman, kini menunjukkan kebingungan yang nyata. Sebuah kerutan muncul di antara alisnya. Informasi ini tidak hanya rahasia, tetapi juga sangat baru. Analisis Rongzu Si sendiri baru selesai beberapa jam yang lalu.
"Deteksi anomali emosional pada subjek: Terdeteksi. Ketidakpercayaan, kejutan, ketakutan." A.R.I.A. mengidentifikasi.
Lin Fan menahan napasnya. Dia bisa melihat keraguan mulai merayapi ekspresi Mei Lan. Ini adalah saat yang krusial.
"Rencana cadangan mereka melibatkan unit pengintai khusus," Lin Fan melanjutkan, menurunkan suaranya sedikit, seolah membagikan rahasia paling gelap. "Mencoba menyusup melalui Hutan Ginkgo yang berbatasan langsung dengan pos pertahanan ketiga. Mereka akan mencoba menyabotase jalur pasokan air."
Mei Lan terkesiap pelan, sebuah suara yang nyaris tidak terdengar. Pedangnya sedikit terangkat, bukan lagi menekan, melainkan hanya mengambang di udara. Tangannya bergetar, kali ini jelas terlihat. Seluruh tubuhnya tegang, namun bukan lagi karena ancaman, melainkan karena syok.
"Probabilitas survival: Meningkat menjadi 34.8%. Intervensi berhasil." A.R.I.A. memperbarui.
Lin Fan membiarkan kata-katanya meresap. Dia tidak perlu menambahkan penjelasan atau provokasi. Fakta berbicara sendiri, dan fakta yang dia berikan sangat akurat, sangat spesifik, dan seharusnya tidak mungkin dia ketahui.
"Bagaimana...?" Mei Lan memulai, suaranya serak, matanya masih terpaku pada Lin Fan, mencari jawaban di wajahnya yang tenang.
Lin Fan hanya menatapnya, membiarkan keheningan itu melakukan sisanya. Biarkan Mei Lan berjuang dengan anomali ini, dengan data yang membongkar seluruh kerangka pemikirannya. Ini bukan lagi tentang apakah Lin Fan berbohong, tapi bagaimana dia bisa tahu kebenaran yang begitu dalam.
---
Mata Mei Lan membelalak. Pedang di tangannya, yang sedari tadi menjadi perpanjangan dari kemarahan dan kecurigaannya, kini terasa lebih berat, sedikit terkulai. Rahangnya mengendur, ketegangan di wajahnya pecah, digantikan oleh ekspresi terkejut yang polos, nyaris seperti anak-anak. Dia menatap Lin Fan, bukan lagi sebagai musuh, tetapi sebagai sebuah teka-teki yang mustahil.
"Analisis reaksi: Subjek dalam kondisi kognitif terganggu. Pola pikir terfragmentasi. Pemrosesan informasi terhenti." A.R.I.A. melaporkan dengan efisiensi dingin.
Lin Fan membiarkan dirinya mengamati kerudung malam yang kini disingkap dari wajah Mei Lan. Setiap kerutan kekhawatiran, setiap kontraksi kecil di sudut bibirnya yang tadinya begitu kencang, kini terlihat jelas. Ini adalah Mei Lan yang sebenarnya, tanpa perisai. Dia bukan lagi perwira intelijen yang sinis, melainkan seorang wanita muda yang baru saja menerima pukulan telak pada pemahaman dunianya.
"Bagaimana kau bisa tahu tentang... Hutan Ginkgo?" Mei Lan akhirnya berhasil berbisik, suaranya nyaris tanpa volume, hanya desiran udara yang keluar dari paru-parunya. Itu adalah detail yang paling rahasia, rencana yang baru disimpulkan dari interogasi mata-mata terakhir.
Lin Fan menahan diri untuk tidak tersenyum. Senyum adalah ekspresi emosi yang tidak perlu dan tidak efisien.
"Aku memiliki sumber informasiku sendiri," Lin Fan menjawab, mempertahankan nadanya yang tenang dan datar. "Sumber yang jauh lebih akurat daripada jaringan pengintaianmu."
Mei Lan menggelengkan kepalanya pelan, seperti mencoba mengusir kabut yang baru saja menyelimuti pikirannya. Dia mengambil satu langkah mundur, kemudian satu langkah lagi, menarik bilah pedangnya menjauh dari leher Lin Fan. Sensasi dingin di kulit Lin Fan menghilang, digantikan oleh kehangatan udara malam yang biasa.
"Ancaman: Menurun drastis. Probabilitas Survival: 87.5%." A.R.I.A. memperbarui data.
Dia menatap pedangnya sejenak, seolah benda itu telah mengkhianatinya, lalu kembali menatap Lin Fan. Ada kilatan baru di matanya, campuran antara ketidakpercayaan dan rasa ingin tahu yang membara.
"Kau... kau bukan mata-mata," Mei Lan bergumam, lebih kepada dirinya sendiri. "Tidak ada jaringan mata-mata yang bisa menembus hingga ke tingkat itu dalam waktu sesingkat ini."
"Aku tidak pernah mengatakan aku mata-mata," Lin Fan mengingatkan, suaranya masih tanpa intonasi. Dia telah memilih kata-katanya dengan hati-hati.
Mei Lan mengangguk perlahan, tatapannya menyapu Lin Fan dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah melihatnya untuk pertama kali. Otak cerdasnya jelas sedang bekerja keras, mencoba menyusun kembali kepingan-kepingan informasi yang baru saja ia terima. Seluruh teorinya tentang Lin Fan, tentang dirinya sebagai manipulator politik, kini dipertanyakan.
"Apa... apa yang sebenarnya kau inginkan?" Mei Lan bertanya lagi, namun kali ini nada suaranya tidak lagi mengancam. Ada kerentanan di sana, sebuah celah yang belum pernah Lin Fan dengar sebelumnya. "Kekuatan? Kekayaan? Pengaruh?"
"Kelangsungan hidup," Lin Fan mengulang, kali ini dengan penekanan yang lebih kuat. "Kelangsungan hidupku, dan kelangsungan hidup entitas yang kini aku tinggali. Dan untuk itu, stabilitas Dinasti Song ini adalah prasyarat mutlak."
Mei Lan menggigit bibir bawahnya, sebuah kebiasaan kecil yang tidak ia sadari. Dia berpikir keras. Hutan Ginkgo. Celah Yanmen. Tidak mungkin. Informasi itu terlalu spesifik, terlalu terverifikasi. Tidak ada yang bisa mengarangnya begitu saja. Teror samar merayapi wajahnya, bercampur dengan kebingungan. Bagaimana mungkin seseorang bisa tahu lebih banyak daripada seluruh jaringan intelijen yang telah bekerja berbulan-bulan?
Dia mengangkat pedangnya lagi, namun kali ini bukan untuk mengancam. Bilah itu hanya menggantung di samping tubuhnya, ujungnya menunjuk ke tanah basah. Kekuatannya telah terkuras, digantikan oleh keraguan yang mendalam.
"Ini bukan permainan, Lin Fan," Mei Lan berkata, suaranya bergetar, hampir tidak menyerupai perwira intelijen yang tegas beberapa saat lalu. "Ini adalah nasib jutaan nyawa."
"Aku tidak pernah menganggapnya permainan," Lin Fan membalas, matanya yang tenang menatap langsung ke matanya yang kini penuh gejolak. "Aku melihatnya sebagai algoritma. Algoritma yang masih bisa dipecahkan, jika kita memiliki variabel yang tepat."
Mei Lan memejamkan mata sesaat, seolah mencoba mencerna gravitasi dari apa yang baru saja ia dengar. Ketika matanya terbuka lagi, ada keputusan di sana. Bukan keputusan yang Lin Fan prediksi, tapi sebuah penerimaan yang pahit.
---
Mei Lan menghela napas panjang, menghembuskan udara dingin yang kini terasa lebih berat. Pedangnya, yang tadinya menggantung, kini ia masukkan perlahan ke dalam sarungnya di pinggang. Suara *sreeet* pelan bilah logam yang masuk ke tempatnya memecah keheningan gang. Gerakan itu terasa final, sebuah pengakuan kalah dalam pertarungan verbal yang tak terlihat.
Lin Fan mengamati setiap detail. Gerakan otot di lengannya saat sarung pedang terpasang. Kerudung tipis kemarahan yang kini telah sepenuhnya terangkat dari wajahnya. Tersisa hanya kelelahan dan kebingungan yang mendalam. Pertarungan kekuatan mereka telah berakhir, setidaknya untuk malam ini.
"Baiklah, Lin Fan," Mei Lan berkata, suaranya rendah, nyaris tanpa emosi. "Kita akan bicara lagi. Tapi bukan di gang ini. Bukan di bawah ancaman pedang."
Dia berbalik, mengambil langkah pertama untuk meninggalkan Lin Fan sendirian di kegelapan. Lin Fan tidak bergerak, menunggu, mengamati. A.R.I.A. mencatat:
"Probabilitas konflik lanjutan: 2.7%. Tingkat ancaman: Minimal."
Saat Mei Lan menarik pedangnya sepenuhnya dari pandangan, tangannya secara tak sengaja menyentuh lengan Lin Fan yang masih terangkat sedikit. Sentuhan itu ringan, hanya gesekan kulit yang tak disengaja. Namun, pada momen kontak itu, sesuatu yang aneh terjadi.
Sengatan listrik halus menjalari lengan Lin Fan, membuat otot-ototnya menegang sesaat. Jantungnya, yang sedari tadi berdetak dengan irama stabil 72 bpm, tiba-tiba melonjak. *Degup. Degup-degup. DEgup-degup-degup.*
"Anomali Biologis Terdeteksi!" A.R.I.A. berteriak di benaknya, suaranya yang datar kini dipenuhi urgensi yang belum pernah Lin Fan dengar. "Detak Jantung: 120 bpm! Tekanan darah: Meningkat! Aktivitas Neural: Tidak normal! Dopamin: Lonjakan ekstrim! Kortisol: Lonjakan ekstrim! Prefrontal Cortex: Aktivasi abnormal! Amygdala: Aktivasi abnormal!"
Lin Fan terkesiap, sensasi aneh itu menyebar seperti api dingin di nadinya. Matanya membelalak, bukan karena Mei Lan, tapi karena kekacauan yang tiba-tiba meletus di dalam dirinya. Ini bukan rasa takut. Ini bukan rasa sakit. Ini adalah sesuatu yang lain, sesuatu yang asing, sesuatu yang mengguncang intinya. Dia bisa merasakan darahnya berdesir panas di bawah kulit, napasnya tersengal.
Mei Lan merasakan sentuhan itu juga, dan menoleh lagi, matanya bertemu dengan Lin Fan yang kini terlihat... berbeda. Ada kilatan aneh di matanya, kerentanan yang tiba-tiba pecah dari topeng tenangnya.
"Anomali! Anomali! Anomali!" A.R.I.A. terus berteriak, mengulang kata itu seperti mantra mengerikan yang tak terpecahkan. "Koneksi biologis: Anomali! Anomali! Anomali!"