Chapter 11 of 28
Mei Lan: Kawat Berduri
1.7k words
Lin Fan melangkah ke dalam lorong sempit yang menjepit antara dinding bata usang dan tumpukan keranjang kosong. Udara malam Bianjing terasa dingin, membawa bau sisa makanan dan kelembaban dari selokan terdekat. Di atas, bulan sabit menggantung seperti kuku yang dipangkas, menumpahkan cahaya keperakan yang tipis ke lantai tanah.
"PERHATIAN: ANOMALI BIOMETRIK TERDETEKSI. LONJAKAN DETAK JANTUNG. Peningkatan Kortisol. Stimulasi Amigdala. Kategori: ERROR TIDAK TERKLASIFIKASI."
Lin Fan berhenti. Cahaya biru transparan dari HUD A.R.I.A. berkedip di retinanya, angka-angka melompat liar di sudut pandangannya. Dia tidak perlu peringatan itu. Kulitnya sudah merinding, bulu kuduknya berdiri. Aroma samar, campuran rempah dan wangi bunga yang memabukkan, menusuk indra penciumannya sebelum sosok itu muncul dari bayangan.
Mei Lan berdiri di sana, seperti bagian dari malam itu sendiri. Jubah sutra gelapnya membaur sempurna dengan kegelapan, hanya kilatan perak dari sesuatu yang dipegangnya yang membelah keheningan. Sebuah pedang. Ujungnya menunjuk ke arahnya, bukan mengancam, melainkan menunggu, memantulkan cahaya bulan di permukaannya yang diasah tajam.
"Nona Mei," suara Lin Fan tetap datar, meskipun ada resonansi aneh di dadanya. A.R.I.A. terus memproyeksikan data aneh. "Malam yang indah untuk sebuah penyergapan."
Mei Lan tidak bergerak. Hanya matanya yang menatap tajam, seperti dua obsidian yang memantulkan kegelapan. Dia tidak menyeringai, tidak menunjukkan emosi yang kentara, namun Lin Fan merasakan tarikan magnetik yang kuat dari keberadaannya. Bukan daya tarik, lebih seperti gravitasi yang mengancam, menariknya ke dalam pusaran yang tidak bisa ia hitung.
"Kawat berduri," pikir Lin Fan, tiba-tiba. Dia melihat Mei Lan seperti seuntai kawat berduri yang sangat halus, indah, namun mematikan di setiap sentuhannya. Sebuah gambaran yang aneh, tidak logis, dan A.R.I.A. tidak menawarkan interpretasi apa pun.
Udara di antara mereka menipis. Lin Fan bisa merasakan dinginnya bilah pedang Mei Lan, bukan secara fisik, tetapi sebagai sensasi mental yang menembus kulitnya. Sebuah peringatan. Perasaan itu bercampur dengan aroma parfumnya, menciptakan disonansi yang mengganggu.
"STATUS SISTEM: PERHATIAN. POTENSI KONFLIK FISIK TINGGI. AKTIVASI PROTOKOL DEFENSE DARURAT."
A.R.I.A. mulai memproyeksikan lintasan serangan potensial, skenario probabilitas cedera, dan jalur evakuasi optimal. Tetapi Lin Fan tidak bergerak. Ada sesuatu dalam tatapan Mei Lan yang membuatnya terpaku, sesuatu yang lebih kuno dari algoritma apa pun.
"Kau punya banyak hal untuk dijelaskan, Lin Fan," suaranya lembut, nyaris berbisik, namun setiap kata terasa seperti goresan pisau dingin di tenggorokan.
---
Mei Lan mengambil satu langkah ke depan, lalu satu lagi. Ujung pedangnya sedikit terangkat, tapi tetap mengarah pada Lin Fan. Gerakannya anggun, nyaris tak bersuara di tanah yang lembap. Aroma rempah dan melati yang khas darinya menguar lebih kuat, membanjiri indra penciuman Lin Fan. Data biomitrik A.R.I.A. berkedip lebih cepat, tetapi Lin Fan mengabaikannya.
"Jenderal Chang," Mei Lan memecah keheningan, suaranya kini lebih tegas. "Seorang pria yang dihormati, meskipun sedikit kolot. Dia tidak biasanya bertemu dengan seorang pemuda asing di markas rahasianya pada larut malam."
Lin Fan merasakan otot rahangnya mengencang. Informasi ini. Bagaimana Mei Lan tahu? Ia baru saja meninggalkan tempat itu. Kecepatan informasinya sungguh mencengangkan, menegaskan betapa luasnya jaring-jaring Rongzu Si.
"Kau menipunya, bukan?" Mei Lan melanjutkan, nadanya berubah tajam, seperti bilah yang bergesekan. "Dengan 'ramalan' dan 'pengetahuan' masa depanmu. Kau mencoba memanipulasi situasi yang sudah genting ini demi keuntunganmu sendiri."
Lin Fan melihat pantulan bulan di mata Mei Lan. Tidak ada keraguan di sana, hanya keyakinan dingin. Dia tidak menuduh, dia menyatakan fakta yang dia yakini.
"Manipulasi?" Lin Fan bertanya balik, mencoba menjaga suaranya tetap netral. "Atau menyelamatkan Dinasti Song dari kehancuran yang tak terelakkan?"
Mei Lan mendengus, tawa kering yang tidak menyenangkan. "Penyelamat? Kata-kata besar dari seorang pemuda yang baru beberapa bulan muncul dari balik bayangan. Kau pikir aku tidak tahu siapa kau, Lin Fan? Kau bukan seorang bangsawan, bukan seorang sarjana. Kau muncul dari udara tipis, membawa pengetahuan yang seharusnya tidak ada."
"PENILAIAN A.R.I.A.: SUBJEK MEMILIKI JARINGAN INTELIJENSI YANG SANGAT LUAS. PROBABILITAS TERBONGKARNYA IDENTITAS ASLI MENINGKAT 87%. REKOMENDASI: DEFLASI INFORMASI."
Lin Fan mengabaikan A.R.I.A. Dia sudah tahu Mei Lan berbahaya. Ancaman ini terasa lebih pribadi, lebih langsung daripada perhitungan apa pun.
"Aku hanya menawarkan solusi," Lin Fan menjawab. "Solusi untuk masalah yang Jenderal Chang sendiri akui tidak bisa ia pecahkan."
Mei Lan menggelengkan kepalanya pelan, ujung pedangnya sedikit bergetar, menangkap lebih banyak cahaya. "Solusi yang selalu datang dengan harga yang sangat tinggi. Harga apa yang kau minta dari Jenderal Chang? Kekuasaan? Pengaruh? Atau kau hanya ingin melihat kekacauan terjadi, lalu muncul sebagai pahlawan dari reruntuhan?"
Satu-satunya suara adalah detak jantung Lin Fan yang aneh, yang terus-menerus dilaporkan A.R.I.A. sebagai "ERROR". Lin Fan merasakan dorongan aneh untuk meredakan kekhawatirannya, untuk menjelaskan lebih dari sekadar logika. Itu adalah respons manusia, sesuatu yang asing baginya.
"Niatku jelas," Lin Fan akhirnya berkata, meluruskan bahunya. "Kelangsungan hidup. Untuk diriku. Untuk Song. Dua hal itu sekarang tidak bisa dipisahkan."
Mei Lan menyipitkan mata, seolah melihat melalui kulitnya, ke dalam inti kesadarannya. "Benarkah?" Suaranya menukik tajam. "Atau kau hanya ingin menciptakan sebuah dinasti baru, Lin Fan? Dinasti yang kau kendalikan?"
---
Lin Fan merasakan dingin menjalar dari bilah pedang Mei Lan, menembus ke dalam tulang. Tuduhan itu—menciptakan dinasti baru—adalah garis merah yang tidak bisa ia abaikan. A.R.I.A. segera memproyeksikan beberapa skenario politik, menyoroti risiko ekstrem dari tuduhan semacam itu di tengah istana yang penuh intrik.
"Dinasti baru?" Lin Fan mengulang, seolah kata-kata itu terasa asing di lidahnya. "Nona Mei, saya hanya seorang pemuda yang menyediakan solusi teknis. Saya tidak memiliki ambisi untuk mahkota, atau takhta. Infrastruktur politik dan birokrasi Dinasti Song jauh dari optimal, ya. Tetapi itu adalah masalah yang membutuhkan reformasi, bukan revolusi yang menghancurkan."
Mei Lan tertawa kecil, suara itu tidak sampai ke matanya. "Solusi teknis? Itu terdengar seperti cara yang sangat cerdas untuk mengatakan 'kontrol'. Bubuk mesiu yang kau buat. Baja yang kau janjikan. Itu bukan sekadar teknologi, Lin Fan. Itu adalah kekuatan. Dan kau memberikannya kepada Jenderal Chang, seorang pria yang kini berutang nyawa padamu, tepat sebelum invasi Jin."
Dia mengayunkan pedangnya sedikit ke samping, bilahnya memancarkan cahaya rembulan. Gerakannya terkontrol, tidak mengancam secara langsung, tetapi menunjukkan bahwa senjata itu siap beraksi.
"Jenderal Chang mengerti bahwa kelangsungan hidup Song adalah prioritas utama," Lin Fan menjelaskan, berusaha terdengar sabar. "Dia melihat data, nona. Data yang sama yang saya tunjukkan padanya. Pergerakan pasukan Jin, kapasitas militer mereka, kelemahan pertahanan kita. Itu bukan manipulasi. Itu adalah kalkulasi probabilitas."
"Kalkulasi probabilitas," Mei Lan mencibir. "Kau bicara seperti mesin. Apa yang terjadi pada perasaan, Lin Fan? Pada loyalitas? Pada ikatan darah? Apakah itu semua hanyalah 'data' bagimu?"
Lin Fan merasakan gelombang panas aneh menyapu tubuhnya, lalu mereda. "PERHATIAN: LONJAKAN DOPAMIN. AKTIVITAS PUSAT PENGHARGAAN. KATEGORI: ERROR TIDAK TERKLASIFIKASI." A.R.I.A. terus bersuara di benaknya, tetapi Lin Fan tidak menemukan respons yang logis untuk pertanyaan Mei Lan. Loyalitas? Ikatan darah? Ini adalah konsep yang tidak ada dalam direktif A.R.I.A.
"Saya hanya melihat fakta," Lin Fan menjawab, kata-kata itu terasa sedikit hampa bahkan baginya sendiri. "Dan fakta menunjukkan bahwa tanpa perubahan drastis, Dinasti Song akan jatuh dalam waktu kurang dari 72 jam."
Mei Lan melangkah lebih dekat, mengabaikan analisis Lin Fan. Jarak di antara mereka kini tinggal beberapa langkah. Dia mendekat, bukan untuk menyerang, tetapi untuk menekan.
"Dan kau adalah satu-satunya yang memiliki 'fakta' itu, bukan?" Mei Lan mencondongkan tubuh sedikit, suaranya kini lebih rendah, lebih intim, namun tetap dingin. "Satu-satunya yang memiliki kemampuan untuk 'menyelamatkan' kami. Ini adalah permainan berbahaya, Lin Fan. Permainan yang bisa menghancurkanmu jika kau salah langkah."
Lin Fan bisa merasakan napasnya sendiri memburu, meskipun A.R.I.A. melaporkan fungsi paru-parunya normal. Ini bukan ancaman fisik yang mengaktifkan sistem pertahanannya, tetapi sesuatu yang lain. Kawat berduri itu menekan.
"Saya tidak bermain," Lin Fan berkata, suaranya menjadi lebih keras. "Saya hanya berusaha bertahan hidup. Dan untuk itu, saya akan melakukan apa pun yang diperlukan. Termasuk bekerja sama dengan siapa pun yang bersedia melihat realitas."
Mei Lan tidak bergeming. Dia hanya menatapnya, seolah menimbang setiap kata, setiap denyut nadinya.
---
Mei Lan tidak menanggapi pernyataan Lin Fan. Dia hanya mengalihkan pandangannya dari mata Lin Fan, mengamati gang sempit itu, seolah memastikan tidak ada saksi. Bilah pedangnya yang tajam bergeser sedikit, menangkap lebih banyak cahaya dari bulan di atas.
"Kau bicara tentang kelangsungan hidup," Mei Lan berbisik, suaranya kini kembali lembut, berbahaya. "Tapi kelangsungan hidup di istana Bianjing bukanlah tentang fakta dan kalkulasi. Ini tentang siapa yang kau percayai. Siapa yang kau jadikan sekutu."
Dengan gerakan cepat dan tanpa peringatan, Mei Lan mengayunkan pedangnya ke samping. *Sreeeet!* Bilah baja itu membelah udara kosong dengan suara mendesing tajam, hanya berjarak beberapa inci dari telinga kiri Lin Fan. Udara di sekitarnya terasa dingin karena gerakan pedang itu. Sebuah helai rambut hitamnya jatuh perlahan ke tanah, terpotong sempurna oleh ketajaman bilah.
Lin Fan merasakan gelombang kejut yang murni, tanpa sensor, tanpa data A.R.I.A. yang menginterupsi. Itu adalah insting bertahan hidup yang paling primal, melonjak dari kedalaman jiwanya. Lehernya terasa gatal, dingin. Dia tahu, tanpa keraguan, bahwa Mei Lan tidak akan ragu untuk menusuknya jika dia melihat alasan untuk itu.
"PERHATIAN: PENGESAHAN ANCAMAN. TINGKAT RISIKO: EKSTREM. AKTIVASI PROTOKOL MELARIKAN DIRI."
A.R.I.A. kembali membanjiri retinanya dengan data, tetapi kali ini, Lin Fan melihatnya melalui lapisan ketakutan yang dingin. Ini bukan permainan, bukan negosiasi. Ini adalah garis batas. Mei Lan tidak memberinya pilihan.
Mei Lan menarik pedangnya kembali, ujungnya menunjuk ke tanah, seolah tidak pernah mengayunkannya sama sekali. Ekspresinya tenang, seolah memotong rambut seseorang adalah bagian dari percakapan biasa.
"Kau sudah melihat betapa kejamnya dunia ini, Lin Fan," suaranya kembali datar, seperti air danau di pagi hari. "Dan kau sudah memilih untuk bersekutu dengan kekuatan yang, mungkin, lebih besar dari yang kau kira. Jenderal Chang hanyalah permulaan. Ada banyak mata yang mengawasi. Banyak tangan yang menunggu untuk mencekik."
Lin Fan menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. Aroma parfum Mei Lan kini terasa memberatkan, menusuk. Dia telah masuk terlalu jauh. Tidak ada jalan kembali. Aliensinya dengan Mei Lan, dengan Rongzu Si, terukir dengan bilah pedang di gang gelap ini.
"Lalu apa yang kau inginkan dariku, Nona Mei?" Lin Fan bertanya, suaranya sedikit serak. "Jika aku sudah sejauh ini, apa harga yang harus kubayar untuk terus 'bertahan hidup'?"
Mei Lan mengangkat kepalanya, tatapannya sekali lagi mengunci mata Lin Fan. Ada senyum tipis di bibirnya, senyum predator yang menemukan mangsa yang menarik.
Mei Lan menyeringai tipis, "Kau pikir aku tidak tahu kau berbohong, Lin Fan? Aku bisa mencium kebohongan dari jarak sepuluh li."