Chapter 16 of 16
Di Bawah Hujan Deras
934 words
Kaki Arya terasa terpaku pada aspal basah di depan kedai "Surya Kencana". Gambar Kirana tersenyum lepas, senyum yang dulu hanya miliknya, masih terukir tajam di retina. Hatinya mencelos, hancur berkeping-keping. Udara sore yang sebelumnya tenang, kini terasa mencekik. Langit mendadak berubah gelap, awan kelabu tebal menggantung rendah, seolah alam turut meratapi kehancuran yang dirasakannya. Sebuah guntur berat menggelegar di kejauhan, membelah keheningan yang menyesakkan.
Percikan air pertama jatuh, membasahi ujung hidungnya. Dingin. Arya tidak bergerak. Ia membiarkan tetesan-tetesan itu mendarat di pipinya, di rambutnya yang kini terasa lengket. Semakin banyak, semakin deras, hingga dalam hitungan detik, tirai air langsung mengguyur jalanan dan tubuhnya. Kemeja linennya yang tipis langsung melengket ke kulit, menonjolkan setiap lekuk tubuhnya yang menegang.
Ia bisa merasakan air dingin meresap sampai ke tulang. Bunyi gemuruh hujan yang menderu memekakkan telinga, menenggelamkan setiap suara lain, bahkan bisikan keputusasaan dalam benaknya sendiri. Namun, dinginnya air itu tidak seberapa dibandingkan kekosongan yang menjalar dari ulu hati. Kakinya masih berdiri kokoh, menolak menyerah pada gravitasi, seolah ada rantai tak kasat mata yang mengikatnya di sana, tepat di depan kedai yang dulunya hanya mimpi Kirana.
Matanya menatap kosong ke genangan air yang mulai terbentuk di trotoar. Siluet lampu-lampunya memantul, menari-nari dalam distorsi. Setiap tetesan yang jatuh terasa seperti jarum-jarum es yang menusuk kulitnya, membangunkan saraf-saraf mati dalam jiwanya. Ia tidak peduli. Biarkan saja. Mungkin rasa sakit fisik ini bisa mengalihkan perhatian dari nyeri yang jauh lebih akut di dadanya, nyeri yang menusuk saat ia melihat Kirana tertawa lepas bersama pria lain.
Air hujan membasahi wajahnya, menutupi jejak-jejak emosi yang mulai tergambar jelas di sana. Rahang Arya mengeras, mencoba menahan gemetar yang merambat dari ujung jari hingga ke bibir. Kehilangan Kirana kini bukan lagi sekadar kiasan; ini adalah realitas yang menggigit, pahit, dan menusuk jantungnya setiap kali ia mengingat senyum dingin Kirana tadi. Senyum yang penuh kasihan, seolah Arya adalah bayangan usang yang tak lagi punya arti.
---
Dinginnya air hujan terasa menusuk hingga ke sumsum tulang, namun Arya bahkan tidak berkedip. Ia membiarkan dirinya basah kuyup, membiarkan setiap tetesan air yang jatuh seolah mencuci bersih lapisan-lapisan kepura-puraan yang selama ini ia pakai. Topeng rasionalitasnya telah lama runtuh, kini yang tersisa hanyalah kerapuhan yang telanjang, diterpa dinginnya hujan dan kenyataan yang menyakitkan. Ia merasakan setiap ototnya menegang, punggungnya sedikit membungkuk, menahan beban penyesalan yang begitu berat.
Kaki Arya terasa terpaku pada aspal basah di depan kedai "Surya Kencana". Gambar Kirana tersenyum lepas, senyum yang dulu hanya miliknya, masih terukir tajam di retina. Hatinya mencelos, hancur berkeping-keping. Udara sore yang sebelumnya tenang, kini terasa mencekik. Langit mendadak berubah gelap, awan kelabu tebal menggantung rendah, seolah alam turut meratapi kehancuran yang dirasakannya. Sebuah guntur berat menggelegar di kejauhan, membelah keheningan yang menyesakkan.Percikan air pertama jatuh, membasahi ujung hidungnya. Dingin. Arya tidak bergerak. Ia membiarkan tetesan-tetesan itu mendarat di pipinya, di rambutnya yang kini terasa lengket. Semakin banyak, semakin deras, hingga dalam hitungan detik, tirai air langsung mengguyur jalanan dan tubuhnya. Kemeja linennya yang tipis langsung melengket ke kulit, menonjolkan setiap lekuk tubuhnya yang menegang.Ia bisa merasakan air dingin meresap sampai ke tulang. Bunyi gemuruh hujan yang menderu memekakkan telinga, menenggelamkan setiap suara lain, bahkan bisikan keputusasaan dalam benaknya sendiri. Namun, dinginnya air itu tidak seberapa dibandingkan kekosongan yang menjalar dari ulu hati. Kakinya masih berdiri kokoh, menolak menyerah pada gravitasi, seolah ada rantai tak kasat mata yang mengikatnya di sana, tepat di depan kedai yang dulunya hanya mimpi Kirana.Matanya menatap kosong ke genangan air yang mulai terbentuk di trotoar. Siluet lampu-lampunya memantul, menari-nari dalam distorsi. Setiap tetesan yang jatuh terasa seperti jarum-jarum es yang menusuk kulitnya, membangunkan saraf-saraf mati dalam jiwanya. Ia tidak peduli. Biarkan saja. Mungkin rasa sakit fisik ini bisa mengalihkan perhatian dari nyeri yang jauh lebih akut di dadanya, nyeri yang menusuk saat ia melihat Kirana tertawa lepas bersama pria lain.Air hujan membasahi wajahnya, menutupi jejak-jejak emosi yang mulai tergambar jelas di sana. Rahang Arya mengeras, mencoba menahan gemetar yang merambat dari ujung jari hingga ke bibir. Kehilangan Kirana kini bukan lagi sekadar kiasan; ini adalah realitas yang menggigit, pahit, dan menusuk jantungnya setiap kali ia mengingat senyum dingin Kirana tadi. Senyum yang penuh kasihan, seolah Arya adalah bayangan usang yang tak lagi punya arti.--- Dinginnya air hujan terasa menusuk hingga ke sumsum tulang, namun Arya bahkan tidak berkedip. Ia membiarkan dirinya basah kuyup, membiarkan setiap tetesan air yang jatuh seolah mencuci bersih lapisan-lapisan kepura-puraan yang selama ini ia pakai. Topeng rasionalitasnya telah lama runtuh, kini yang tersisa hanyalah kerapuhan yang telanjang, diterpa dinginnya hujan dan kenyataan yang menyakitkan. Ia merasakan setiap ototnya menegang, punggungnya sedikit membungkuk, menahan beban penyesalan yang begitu berat.Sebuah cahaya kuning menyala menembus tirai hujan, membelah pandangan Arya yang kabur. Itu lampu depan taksi, sebuah Avanza biru tua yang melaju perlahan, melambat di depannya. Tidak, bukan di depannya, melainkan tepat di depan kedai Surya Kencana, beberapa meter dari tempatnya berdiri. Jantung Arya berdegup kencang, memompa darah dingin ke seluruh tubuhnya. Sebuah firasat buruk mencengkeramnya.Taksi itu berhenti. Pintu belakang sisi penumpang terbuka dengan derit pelan. Arya melihatnya. Siluet ramping itu, dengan gaun putih yang baru saja ia lihat, melangkah keluar. Kirana. Rambutnya sedikit basah, menempel di pipinya, namun kecantikannya tetap menyengat, bahkan di bawah guyuran hujan. Arya tak bisa bernapas. Apa yang Kirana lakukan di sini? Apakah ia kembali? Apakah ia mencarinya?Sekilas harapan, begitu rapuh dan bodoh, melintas di benaknya. Mungkin ini adalah kesempatan kedua. Mungkin ia datang untuk menjelaskan. Mungkin ia menyesal. Kakinya terasa ingin melangkah, memanggil namanya, namun suara tertahan di kerongkongan, terkunci rapat oleh rasa takut.Arya menatap Kirana, mencoba membaca ekspresi di wajahnya. Wajah itu tampak dingin, netral, tanpa emosi berarti. Kirana tidak melihatnya. Matanya terpaku pada papan nama kedai