Chapter 15 of 16

Senyum untuk Orang Lain

1.0k words

Udara dingin menusuk tulang Arya, namun hatinya terasa jauh lebih beku. Di depan matanya, Kirana tersenyum. Senyum itu merekah perlahan, bukan untuknya, bukan lagi miliknya. Bibir tipis itu melengkung ke atas, menampilkan deretan gigi putih yang dulu selalu membuat Arya merasa hangat setiap kali melihatnya. Sekarang, senyum itu ditujukan pada pria di sampingnya, pria yang lengannya kini melingkar erat di pinggang Kirana, seolah menegaskan kepemilikan yang tak bisa diganggu gugat. Sebuah sentakan nyeri menjalari ulu hati Arya. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya, melucuti setiap sisa harap yang masih bersembunyi di sudut jiwanya. Ia berdiri terpaku di trotoar, di antara hiruk pikuk pejalan kaki yang tak peduli, matanya terkunci pada pemandangan itu. Pria itu mencondongkan tubuhnya, membisikkan sesuatu ke telinga Kirana, dan tawa kecil nan renyah keluar dari bibir wanita itu. Tawa yang dulu juga hanya untuk Arya, tawa yang kini jadi melodi asing bagi telinganya. Arya merasakan darahnya berdesir dingin, mengalir menjauh dari pipinya. Wajahnya pasti pucat pasi, namun ia tak peduli. Jemarinya mengepal kuat, kuku-kukunya menekan telapak tangan hingga terasa ngilu. Itu adalah senyum yang tulus, senyum lepas tanpa beban, senyum yang tak pernah lagi ia lihat di wajah Kirana saat mereka bersama di tahun-tahun terakhir. Senyum kebahagiaan murni yang Kirana temukan bersama orang lain. Sebuah embusan napas berat lolos dari celah bibir Arya yang kering. Ia ingin memalingkan wajah, ingin lari, namun kakinya seolah terpaku pada aspal yang dingin. Setiap serat ototnya menolak untuk bergerak, dipaksa menyaksikan kebenaran pahit yang terpampang jelas di hadapannya. Senyum Kirana untuk pria itu adalah sebuah palu godam yang menghantam ego dan penyesalannya, menghancurkan sisa-sisa ilusi bahwa Kirana mungkin masih memiliki sedikit rasa untuknya. --- Pandangan mata Arya mengikuti setiap gerakan kecil Kirana. Wanita itu mengusap lembut lengan pria di sampingnya, sebuah isyarat intim yang membuat dada Arya sesak. Kirana tidak pernah melakukan hal itu dengan terburu-buru, selalu dengan sentuhan yang disengaja, penuh perhatian. Dulu, Kirana akan memijat ringan bahunya saat Arya pulang larut, mengelus rambutnya saat ia tertidur di sofa. Sentuhan-sentuhan kecil itu kini menjadi milik orang lain, sebuah fakta yang mengoyak-oyak batin Arya. Arya ingat bagaimana ia sering mengabaikan sentuhan-sentuhan itu, menganggapnya sebagai hal biasa, bagian tak terpisahkan dari rutinitas. Ia selalu sibuk dengan ponselnya, dengan email pekerjaan, dengan proyek yang tak kunjung usai. Kirana akan mundur perlahan, senyumnya memudar, dan Arya terlalu egois untuk menyadarinya. Kini, ia melihat pria itu membalas sentuhan Kirana, menggenggam jemarinya dengan posesif namun lembut, seolah Kirana adalah harta paling berharga yang pernah ia miliki. Perasaan digantikan itu datang menusuk, lebih tajam daripada pisau. Sebuah luka yang menganga, memperlihatkan betapa kosongnya ruang di dadanya. Arya selalu berpikir Kirana akan ada di sana, menunggu. Ia selalu yakin waktu akan memberinya kesempatan kedua. Namun, pemandangan di depannya adalah penegasan brutal: tidak ada lagi kesempatan kedua. Kirana telah mengisi kekosongan itu, bukan dengan penantian, melainkan dengan kehadiran yang baru, yang lebih menghargainya. Kepalanya berdengung, dipenuhi bisikan-bisikan penyesalan. Setiap lirik lagu Padi yang pernah menghantuinya kembali terngiang, berputar-putar seperti remah-remah kaca yang menggores. *Semua tak sama tak pernah sama... tak ada satu pun yang mampu menjadi sepertimu.* Kirana memang tak sama, dan Arya kini merasakan sakitnya digantikan oleh seseorang yang bisa memberikan apa yang dulu tak mampu ia berikan: perhatian penuh, apresiasi, dan waktu. --- Kirana dan pria itu mulai bergerak, berjalan menuju sebuah mobil sedan hitam yang terparkir tak jauh dari kedai kopi. Setiap langkah mereka terasa seperti injakan langsung di atas hati Arya yang hancur. Kakinya masih terasa berat, seolah semen telah mengering di sekeliling pergelangan kakinya. Ia ingin berteriak, ingin memohon, ingin menghentikan mereka, namun suaranya tercekat di kerongkongan. Ada keputusasaan yang begitu pekat merayapi setiap inci tubuhnya. Kepalanya tertunduk, pandangannya jatuh pada sepatunya yang kotor. Seharusnya ia tidak datang, seharusnya ia tidak melihat ini. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu ia memang harus melihatnya. Ini adalah hukuman yang adil, cermin telanjang atas setiap kebodohan dan kesia-siaan yang telah ia lakukan. Kirana, wanita yang pernah mencintainya tanpa syarat, kini pergi dengan pria lain, tanpa sedikitpun keraguan di matanya. Arya melihat itu, rasa damai yang terpancar dari wajah Kirana. Dia melihat bagaimana Kirana tersenyum saat pria itu membukakan pintu mobil untuknya. Sebuah gestur sederhana, namun penuh makna. Dulu, Arya sering lupa melakukan hal-hal kecil seperti itu. Ia selalu terburu-buru, terlalu sibuk dengan dirinya sendiri. Kini, ia melihat Kirana menerima gestur itu dengan senyum yang manis, tatapan mata yang dipenuhi rasa syukur. Pria itu bahkan sempat mengusap puncak kepala Kirana sebelum ia masuk ke dalam mobil, sentuhan yang begitu akrab dan hangat. Arya merasa seperti patung es yang mulai mencair di bawah terik matahari, namun bukan dengan kehangatan. Ia mencair karena kedinginan, karena kehampaan yang luar biasa. Harapannya telah pupus sepenuhnya. Kirana telah meninggalkannya, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional, mental, dan spiritual. Tidak ada lagi sisa Kirana untuknya. Yang ada hanyalah bayangan Kirana yang bahagia, jauh dari jangkauannya, jauh dari penyesalannya. --- Pria itu masuk ke sisi kemudi. Kirana sudah duduk di kursi penumpang, sabuk pengaman sudah terpasang. Mesin mobil mulai menyala, menghasilkan dengungan halus yang memotong keheningan di sekitar Arya. Jantungnya berdebar kencang, seolah tahu bahwa ini adalah momen terakhir. Momen perpisahan yang sebenarnya, bukan hanya di surat atau di benaknya, tetapi di dunia nyata yang kejam. Arya mengangkat pandangannya, menatap mobil hitam itu dengan mata kosong. Cahaya lampu senja memantul di kaca mobil, membuat bayangan mereka terlihat samar. Ia tahu ini adalah akhirnya, babak penutup dari kisah yang pernah ia miliki dengan Kirana. Tangannya gemetar, jari-jarinya dingin. Ia bisa merasakan embusan angin malam yang menerpa wajahnya, seolah alam pun ikut meratapi kebodohannya. Mobil mulai bergerak perlahan, membelok keluar dari area parkir. Arya menahan napas, menanti. Apakah akan ada tatapan terakhir? Apakah akan ada sedikitpun keraguan di mata Kirana? Ia tidak tahu apa yang ia harapkan, namun ia tidak bisa melepaskan pandangannya dari kaca belakang mobil itu. Setiap detik terasa seperti berjam-jam, setiap putaran roda mobil seolah memutar balik jarum waktu, mengingatkannya pada setiap kesalahan yang telah ia perbuat. Tepat sebelum mereka masuk ke mobil, Kirana menoleh sekali lagi, dan kali ini, senyumnya tidak hanya dingin, tetapi juga membawa sedikit rasa kasihan yang membuat Arya merasa seperti sehelai daun kering yang siap diterbangkan angin.

End of Chapter 15