Peta holografis masih melayang di hadapan Phantom Cipher.
Jalur menuju bagian terdalam Arcana Conduit terlihat seperti urat raksasa yang menembus perut Eclipse.
FORGOTTEN CORE.
Tempat yang selama bertahun-tahun tersembunyi dari sistem kota.
Tempat yang kini menjadi pusat dari semuanya.
Shadow Blight.
Rencana Thorne.
Dan mungkin... nasib seluruh Eclipse.
Phantom Cipher menatap fragmen Arcana di tangannya.
Cahaya lembutnya masih berdenyut.
Tidak seperti pecahan yang pernah digunakan Thorne.
Tidak seperti energi Blight yang terasa menekan dan menggerogoti.
Fragmen ini terasa jernih.
Seolah-olah mengingatkan bahwa kekuatan tidak selalu harus digunakan untuk menghancurkan.
Phantom Cipher mengangkat pandangan.
“Kalau ini satu-satunya jalan...”
Ia mengepalkan tangan.
“...aku akan melakukannya.”
Sosok bermata violet berdiri diam.
“Kau mengerti risikonya?”
“Tidak sepenuhnya.”
Jawaban itu membuat sosok tersebut sedikit terdiam.
Phantom Cipher melanjutkan.
“Tapi aku tahu apa yang terjadi kalau aku tidak melakukan apa-apa.”
Ia menatap Eclipse.
Kota masih gelap.
Bangunan-bangunan hanya terlihat sebagai siluet di bawah langit malam.
Di beberapa tempat, cahaya merah dari keadaan darurat masih berkedip.
Suara sirene terdengar dari berbagai arah.
Dan jauh di balik kegelapan itu, Blighted masih bergerak.
Phantom Cipher teringat pada warga yang terjebak.
Arcana Guard yang meminta bantuan.
Pemuda yang memberinya data chip.
Semuanya.
Ia pernah berpikir bahwa bekerja sendirian adalah cara terbaik untuk melindungi orang lain.
Sekarang ia mulai memahami bahwa terkadang...
menolak bantuan justru bisa membuat lebih banyak orang berada dalam bahaya.
Namun ia tetap harus menghadapi bagian ini sendiri.
Bukan karena ia ingin menjadi pahlawan.
Melainkan karena hanya dirinya yang mampu mencapai Core.
Phantom Cipher kembali melihat hologram.
“Bagaimana cara masuk?”
Sosok bermata violet menggerakkan tangannya.
Salah satu bagian peta terbuka.
Sebuah lubang besar terlihat di bawah struktur Conduit.
Jalurnya menurun vertikal ke bawah.
“Pintu akses lama.”
Phantom Cipher memperhatikan jalur itu.
“Dan setelah masuk?”
“Turun.”
“Sesederhana itu?”
“Tidak.”
Jawaban tersebut terlalu cepat.
Phantom Cipher menatapnya.
Sosok itu menunjuk beberapa titik merah di sepanjang jalur.
“Blight telah menyebar sampai ke bagian bawah.”
“Makhluk?”
“Bukan hanya makhluk.”
Phantom Cipher terdiam.
“Lalu apa?”
“Jejak.”
“Jejak?”
“Blight akan mencoba menghentikan siapa pun yang mendekati Core.”
Phantom Cipher menarik napas.
“Bagus.”
Ia memasukkan fragmen Arcana ke dalam genggaman yang lebih aman.
“Berarti aku menuju tempat yang benar.”
Sosok bermata violet menatapnya beberapa detik.
“Kau terdengar terlalu tenang.”
Phantom Cipher sedikit mengangkat bahu.
“Panik tidak akan membuat jalan ini lebih pendek.”
Untuk sesaat, tidak ada jawaban.
Kemudian sosok itu berkata,
“Kalau begitu, bersiaplah.”
---
Beberapa menit kemudian, Phantom Cipher berdiri di tepi akses bawah tanah.
Sebuah pintu baja tua telah terbuka.
Di baliknya terdapat lorong yang hampir sepenuhnya gelap.
Tidak ada lampu.
Tidak ada sistem keamanan aktif.
Tidak ada suara manusia.
Hanya angin dingin yang naik dari kedalaman.
Phantom Cipher menyalakan sistem internalnya.
DESCENT ROUTE: CONFIRMED.
FORGOTTEN CORE DEPTH: UNKNOWN.
BLIGHT ACTIVITY: HIGH.
Ia melihat ke bawah.
Gelap.
Begitu gelap sampai cahaya dari atas hanya mampu menerangi beberapa meter pertama.
Namun Phantom Cipher tidak mundur.
Ia telah mengejar jawaban terlalu jauh untuk berhenti sekarang.
Ia teringat Thorne muda.
Foto itu.
Air mata.
Pecahan Arcana.
Seorang pria yang kehilangan keluarganya dan kemudian menghabiskan bertahun-tahun mencoba mengalahkan kematian.
Phantom Cipher memahami satu hal.
Ia tidak perlu membenci Thorne untuk menghentikannya.
Ia hanya perlu menghentikan apa yang sedang dilakukannya.
“Thorne...”
Namanya keluar sebagai bisikan.
“Kalau masih ada bagian dari dirimu yang mengingat siapa dirimu dulu...”
Phantom Cipher melangkah mendekati jurang.
“...aku akan menemukannya.”
Ia mengaktifkan bayangannya.
Kegelapan mulai berkumpul di sekeliling tubuhnya.
Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda.
Cahaya dari fragmen Arcana ikut mengalir melalui bayangannya.
Gelap dan terang.
Bukan saling menghancurkan.
Melainkan bergerak berdampingan.
Phantom Cipher menatapnya sesaat.
Mungkin itulah yang selama ini tidak dipahami Thorne.
Bahwa kekuatan tidak harus menghapus kehilangan.
Bahwa menerima kehilangan bukan berarti melupakannya.
Dan bahwa mencoba memaksa masa lalu kembali...
bisa menghancurkan masa depan.
Phantom Cipher akhirnya melangkah ke dalam lorong.
Satu langkah.
Kemudian langkah berikutnya.
Kegelapan perlahan menelannya.
Namun sebelum ia benar-benar turun, suara sosok bermata violet terdengar dari belakang.
“Phantom.”
Ia berhenti.
Tidak menoleh.
“Jangan lupakan satu hal.”
Phantom Cipher menunggu.
Suara itu menjadi lebih rendah.
Lebih serius.
“The Blight grows stronger with every life it consumes.”
Phantom Cipher menggenggam fragmen.
Sosok itu melanjutkan.
“If you fail, not only Eclipse, but your own Arcana will become its ultimate prize...”
Hening.
Kemudian kalimat terakhir terdengar seperti peringatan sekaligus ramalan.
“...leaving you a hollow echo in the shadows.”
Phantom Cipher akhirnya menoleh.
Namun sosok bermata violet sudah berdiri dalam kegelapan.
Wajahnya hampir tidak terlihat.
Hanya satu mata violet yang masih bersinar.
Phantom Cipher menatapnya sesaat.
Lalu kembali menghadap ke bawah.
“Kalau begitu...”
Bayangannya bergerak.
Fragmen Arcana menyala.
“...aku tidak akan gagal.”
Ia melompat turun.
Tubuhnya menghilang ke dalam kegelapan.
Jauh di bawah sana—
sesuatu membuka matanya.
Dan untuk pertama kalinya sejak Shadow Blight bangkit...
Forgotten Core merespons kehadiran Phantom Cipher.