Chapter 7 of 21

Chapter 7: Panggilan Istana

1.6k words

Punggung Changzhi terasa nyeri, pergelangan tangannya perih memegang kuas. Debu halus menempel di ujung hidungnya, aroma kertas usang dan tinta murahan sudah seperti napasnya sendiri. Ia sedang menyalin satu halaman dari *Chunqiu*, sebuah tugas rutin yang membosankan di perpustakaan Akademi Angsa Liar. Jemarinya kaku, membentuk aksara demi aksara dengan ketelitian yang nyaris mekanis, setiap garis adalah pengulangan dari ratusan ribu garis yang pernah ia goreskan. Perutnya bergemuruh pelan, protes yang sudah akrab. Sisa bubur jagung kemarin pagi masih terasa tipis di lidahnya, seperti janji yang tak pernah tertepati. Cahaya sore merambat masuk dari jendela kayu yang keropos, mewarnai gulungan-gulungan tua dengan semburat jingga. Para shutong lain di sekelilingnya sibuk dengan pekerjaan masing-masing, suara kuas bergesekan dengan kertas, helaan napas letih, dan batuk kering sesekali mengisi keheningan. Bagi mereka, ini adalah kehidupan. Bagi Changzhi, ini adalah penantian, sebuah jembatan rapuh menuju hari esok yang selalu terasa jauh. Sebuah bayangan tiba-tiba jatuh menimpa gulungan di hadapannya. Changzhi mengangkat kepala, matanya yang lelah mengerjap. Berdiri di ambang pintu, siluetnya kontras dengan cahaya senja, adalah seorang pria dalam jubah sutra biru tua yang rapi, dengan lencana bordir burung phoenix di dadanya—sebuah simbol utusan kekaisaran. Suasana di perpustakaan membeku. Suara kuas berhenti. Semua mata tertuju pada sosok asing itu, lalu bergeser ke arah Changzhi, seolah dia adalah magnet bagi tatapan penasaran. Jantung Changzhi berdesir, bukan karena kagum, melainkan karena alarm yang mendadak berteriak di otaknya. Utusan kekaisaran? Di Akademi Angsa Liar, untuknya? Otot-otot di rahangnya mengencang tanpa sadar. Pria itu menyapukan pandangannya, tatapannya berhenti pada Changzhi, tajam seperti ujung tombak. “Lin Changzhi?” Suaranya dalam dan tenang, namun bagi Changzhi terdengar seperti guntur yang membelah keheningan. Changzhi merasakan lidahnya menjadi kelu. Ia menelan ludah, tenggorokannya serasa kering kerontang. Ia mencoba berdiri, tetapi kakinya terasa seperti jeli. Meja rendah berukir naga itu bergetar sedikit saat ia menopang diri, tangannya tanpa sadar meremas ujung jubahnya yang lusuh. “Hamba, Tuan,” bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. Ia membungkuk dalam, punggungnya yang biasanya agak bungkuk kini semakin melengkung, seolah mencoba mengecilkan diri, menyatu dengan lantai batu yang dingin. Tatapan utusan itu tetap tak bergeming, mengamati setiap gerakannya dengan seksama, seperti seorang hakim yang menilai terdakwa. Sebuah ketegangan tak terlihat menyebar di antara mereka, membuat udara di perpustakaan terasa tebal dan berat. Changzhi bisa merasakan napas para shutong lain tertahan, menunggu. Ini bukan kunjungan biasa. Ini adalah panggilan yang bisa mengubah segalanya, entah menuju kehancuran atau, entah bagaimana, kebangkitan. --- Gelombang kepanikan menghantam Changzhi, dingin dan tajam seperti pisau es. Apa yang telah ia lakukan? Kegagalan? Penghinaan? Atau lebih buruk, pengkhianatan? Tangannya gemetar begitu hebat hingga pena kuas di tangannya terjatuh, menghasilkan bunyi *klak* yang terdengar memekakkan telinga dalam keheningan yang tegang. Ia membayangkan surat dari rumah, wajah ibunya yang keriput, ayahnya yang membungkuk di ladang. Mereka telah mempertaruhkan segalanya, menggadaikan tanah sepetak demi ambisinya. Jika ia telah melakukan kesalahan, jika ia telah mempermalukan nama keluarga, maka kehancuran akan lebih dari sekadar pribadi; itu akan menjadi malapetaka bagi mereka semua. Keringat dingin membasahi punggungnya, menembus lapisan kain jubahnya yang tipis. Kakinya terasa mati rasa, seolah menolak perintah untuk bergerak. Ia ingin berlari, bersembunyi di balik tumpukan gulungan, menjadi tak terlihat. “Kaisar memanggil Anda ke istana,” kata utusan itu, suaranya tanpa emosi, sebuah dekrit dingin yang tak terbantahkan. Tidak ada senyuman, tidak ada keramahan. Hanya pernyataan fakta yang mematikan. Panggilan ke istana? Sebuah jurang kegelapan terbuka di benak Changzhi. Ia pernah mendengar cerita para cendekiawan muda yang dipanggil, hanya untuk dicambuk, dipenjara, atau bahkan diasingkan karena suatu pelanggaran tak terduga. Otaknya berputar liar, mencoba mencari setiap kesalahan yang mungkin ia lakukan. Apakah esainya terlalu berani? Terlalu jujur tentang korupsi dan pajak yang mencekik rakyat? Apakah Kanselir Ouyang Xiang, sosok yang terkenal dengan konservatismenya yang keras, menemukan jejak 'bid'ah' dalam argumennya tentang kebijakan fiskal yang efisien? Udara di sekelilingnya terasa menipis. Setiap tarikan napas terasa dangkal, tidak cukup mengisi paru-parunya yang terasa sesak. Pandangannya kabur, menatap lantai yang berdebu. Ia merasakan jantungnya memukul-mukul rusuknya dengan irama tak beraturan, sebuah genderang perang yang mengumumkan kehancuran. Panggilan ini, bagi shutong rendahan sepertinya, tidak mungkin menjadi kabar baik. Orang-orang sepertinya tidak pernah dipanggil ke istana kecuali untuk diadili atau dihukum. Wajah utusan itu, yang terpahat tanpa ekspresi, semakin memperburuk ketakutannya. Tidak ada celah untuk harapan, tidak ada bisikan kebaikan. Hanya sebuah tuntutan, sebuah perintah yang mengharuskan ia menyerahkan diri pada takdir yang tak diketahui, takdir yang ia yakini pasti gelap. --- *Relaksasi pernapasan. Detak jantung Anda menunjukkan anomali yang tidak efisien. Probabilitas hukuman adalah 0.003%.* Suara Guang terdengar di benak Changzhi, tenang dan tanpa cela, sebuah oasis logika di tengah badai kepanikannya. Changzhi berkedip, mencoba fokus. Ia telah lupa bahwa Guang selalu bersamanya, bahkan di momen paling mengerikan ini. Keterkejutannya terhadap panggilan itu begitu besar, sampai-sampai ia mengabaikan bisikan internal yang biasanya menenangkan itu. Ia mencoba menarik napas dalam-dalam, paru-parunya terasa sedikit lebih lega. Namun, tubuhnya masih gemetar, seperti daun di angin. *Panggilan ke istana setelah Ujian Kekaisaran, terutama bagi seorang kandidat yang tidak dikenal, memiliki probabilitas 97.8% mengindikasikan pengakuan atas pencapaian luar biasa atau kebutuhan untuk evaluasi lebih lanjut terhadap bakat yang tidak konvensional,* lanjut Guang, analisisnya berjalan begitu cepat, begitu presisi, seolah Guang telah mengantisipasi momen ini sejak awal. *Tidak ada catatan sejarah Dinasti Song Utara yang menunjukkan hukuman langsung untuk esai yang hanya 'terlalu berani' tanpa bukti konspirasi atau pengkhianatan langsung. Esai Anda memiliki struktur logis yang tak terbantahkan, bukan 'bid'ah' dalam pengertian tradisional. Ouyang Xiang mungkin merasa 'tidak nyaman', namun data menunjukkan ketidaknyamanan tersebut lebih condong pada kebingungan intelektual daripada niat untuk menghukum.* Kata-kata Guang memecah kabut ketakutan yang menyelimuti Changzhi, sedikit demi sedikit. Sebuah celah cahaya muncul. Ia bukan dihukum? Ia bukan telah menghina Kaisar? Jantungnya masih berdegup kencang, tetapi frekuensinya terasa sedikit lebih teratur, tidak lagi seperti genderang yang ingin meledak. Ia merasakan hawa dingin yang sedikit menusuk di ujung jari kakinya, sisa dari kepanikan tadi. *Apa… apa maksudnya pengakuan?* tanya Changzhi dalam benaknya, suaranya terasa serak bahkan di pikiran. Ia tidak bisa membayangkan dirinya diakui. Ia hanya seorang shutong, anak petani miskin yang beruntung bisa mengikuti ujian. *Analisis data menunjukkan bahwa esai Anda, dengan argumen makroekonomi dan probabilitas yang presisi, merupakan anomali signifikan yang menarik perhatian penguji tingkat tinggi. Kanselir Ouyang Xiang, meskipun konservatif, adalah seorang sarjana yang menghargai kecerdasan. Ini adalah kesempatan untuk validasi, bukan hukuman, Lin Changzhi. Kendalikan emosi Anda. Ini adalah langkah pertama menuju tujuan Anda,* Guang menjelaskan dengan sabar, setiap kata adalah batu bata yang membangun kembali fondasi kepercayaan diri Changzhi yang rapuh. Harapan, yang tadinya terasa mustahil, kini mulai bersemi, kecil namun nyata. Sebuah sensasi aneh. Kekuatan dingin dan jernih dari Guang selalu mampu menenangkan badai dalam dirinya. Fajar di tengah malam. Meskipun begitu, ia masih merasakan getaran di tangannya. Ketakutan itu belum sepenuhnya hilang, hanya berganti rupa menjadi kecemasan yang lebih lembut, sebuah antisipasi terhadap hal yang tidak terduga. --- Langkah kaki Changzhi terasa berat, seolah setiap pijakan adalah sebuah keputusan yang tak bisa ditarik kembali. Di sampingnya, utusan kekaisaran berjalan dengan langkah mantap, jubah sutranya berkibar pelan. Mereka menyusuri lorong-lorong batu Akademi Angsa Liar, melewati halaman-halaman sepi dan bangunan-bangunan yang mulai gelap ditelan senja. Aroma tanah basah bercampur dengan wangi bunga osmanthus dari taman yang tersembunyi. Changzhi melihat bayangannya sendiri terpantul di genangan air hujan yang belum mengering; sosok kurus dengan jubah lusuh. Ia merasa seperti berjalan di antara dua dunia: dunia lamanya yang penuh kemiskinan dan penantian, serta dunia baru yang entah apa bentuknya, terbentang di depan gerbang istana. *Ingat, Lin Changzhi. Setiap langkah ke depan adalah kesempatan. Setiap interaksi adalah data,* bisik Guang, suaranya kini lebih seperti resonansi yang menenangkan, sebuah ritme konstan di benak Changzhi. Changzhi mengangguk kecil, gerakannya nyaris tak terlihat. Ia mencoba menyerap setiap kata Guang, menjadikannya perisai terhadap ketakutan yang masih menyelinap di sudut pikirannya. Otot-otot di kakinya terasa tegang, perutnya kembali bergejolak, bukan karena lapar lagi, melainkan karena campuran kegelisahan dan harapan yang membuncah. Harapan itu rapuh, terasa seperti gelembung sabun yang bisa pecah kapan saja. Gerbang utama Akademi Angsa Liar, yang biasanya hanya dilewati para shutong dan pedagang kecil, kini terbuka lebar. Di luar, sebuah kereta kuda kekaisaran menanti, dihiasi ukiran naga perak dan tirai sutra gelap. Dua penjaga bersenjata tombak berdiri tegak di sampingnya, tatapan mereka tajam dan tak ramah. Changzhi menelan ludah. Ini nyata. Ini bukan mimpi buruk ataupun fantasi. Ia melangkah masuk ke dalam kereta, merasakan bantalan empuk yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Aroma kayu cendana yang mahal memenuhi indra penciumannya, kontras dengan bau apak yang biasa ia hirup. Jantungnya berdebar, kali ini bukan hanya karena takut, tetapi juga karena sensasi asing dari kemewahan dan bahaya yang tak terduga. Kereta mulai bergerak, roda-rodanya berderit pelan di atas jalanan batu. Pemandangan Bianjing melintas di luar jendela: rumah-rumah penduduk, kedai teh yang ramai, jembatan-jembatan berukir. Semua tampak begitu kecil, begitu jauh, seolah ia telah terangkat dari dunianya sendiri. Akhirnya, setelah perjalanan yang terasa seperti selamanya, kereta berhenti. Changzhi menoleh, menatap ke luar. Di hadapannya menjulang Gerbang Meridian, gerbang utama Istana Kekaisaran, sebuah mahakarya arsitektur yang menjulang tinggi, dengan atap genteng berlapis emas yang berkilauan di bawah rembulan yang mulai menampakkan diri. Gerbang itu tampak seperti mulut naga raksasa yang siap menelannya. Ia keluar dari kereta, tubuhnya masih terasa sedikit kaku, tetapi tatapannya kini lebih tegas. Utusan kekaisaran menyerahkan gulungan sutra kepadanya. Changzhi menelan ludah, menatap gulungan dekrit kekaisaran di tangannya, tulisan aksara emas itu seolah menari-nari di depannya, sebuah gerbang menuju dunia yang sama sekali baru, dan mungkin berbahaya.

End of Chapter 7