Chapter 17 of 21
Struktur Anggaran: Mata-Mata Angka
1.1k words
Udara di Aula Keheningan terasa dingin, bahkan bagi Lin Changzhi yang sudah terbiasa dengan hawa lembap di akademi. Jubah sutra ungu yang ia kenakan—peninggalan dari pejabat sebelumnya yang entah bagaimana pas di tubuh kurusnya—terasa seperti belenggu berat, bukan tanda kemuliaan. Setiap gerakannya memicu gemerisik pelan, kontras dengan keheningan khidmat para pejabat senior yang berbaris rapi di hadapan takhta Kaisar Zhao Heng. Changzhi berdiri di barisan paling belakang, bahunya sedikit membungkuk, kebiasaan lama yang sulit hilang meski kini ia menyandang gelar Petugas Peninjau Kebijakan di Kementerian Ritus.
Kaisar Zhao Heng, dengan jubah naga kuning keemasan yang berkilau, mengamati barisan itu. Tatapannya berhenti sejenak pada Changzhi, seolah menimbang sesuatu. Jantung Changzhi berdebar keras di balik tulang rusuknya yang menonjol. Sebuah bisikan samar terdengar di benaknya, bukan lagi suara yang mengancam, melainkan dengungan rendah yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari dirinya. Guang selalu ada, mendengarkan, dan menganalisis.
“Para Aiqing sekalian,” suara Kaisar bergema, datar namun penuh otoritas. “Inflasi harga beras telah mereda, dan kekacauan di pasar bahan pangan berhasil diredam. Ini berkat kerja keras dan kebijakan cemerlang dari Lin Changzhi.”
Sebuah gelombang bisikan merayap di antara para pejabat. Changzhi merasakan panas menjalar ke telinganya. Pujian Kaisar terasa seperti pisau bermata dua. Ia bisa merasakan tatapan mencurigai dari para birokrat konservatif, terutama Ouyang Xiang yang berdiri tegak di barisan depan, janggut abu-abunya bergerak sedikit. Ouyang tidak menolak, namun Changzhi tahu ia sedang mengamati.
“Namun,” Kaisar melanjutkan, mengabaikan bisikan-bisikan itu, “perbendaharaan negara masih kering. Ada lubang-lubang yang tidak saya mengerti. Oleh karena itu, saya menugaskan Lin Changzhi untuk meninjau kembali seluruh anggaran tahunan. Cari tahu di mana setiap koin perak mengalir, dan berikan saya laporan yang jujur.”
Sekali lagi, bisikan itu menguat, kali ini lebih condong ke arah cemoohan terselubung. Meninjau anggaran? Itu adalah tugas kasar, membosankan, dan tidak bergengsi yang biasanya diserahkan kepada juru tulis rendahan, bukan kepada seorang pejabat muda yang baru dipromosikan. Mereka melihatnya sebagai hukuman terselubung, atau setidaknya cara untuk menyibukkan ‘anak ajaib’ ini dengan pekerjaan administratif yang melelahkan agar tidak mengganggu tatanan yang sudah mapan.
Changzhi menundukkan kepalanya dalam-dalam, menghela napas yang tak terdengar. Tugas ini, di mata mereka, adalah sebuah pelecehan. Namun, di dalam benaknya, Guang sudah mulai beresonansi. “Analisis data. Deteksi anomali. Optimalisasi distribusi sumber daya. Potensi keberhasilan skandal: Tinggi.”
Gulungan tebal dari buku besar kekaisaran terasa kasar di bawah jemari Changzhi. Kertas tua itu beraroma samar debu dan tinta lampau. Ia duduk membungkuk di atas meja rendah di ruang kerjanya yang sempit, dikelilingi tumpukan dokumen yang seolah siap menelannya. Malam semakin larut, hanya deru angin dan panggilan samar pedagang jalanan di kejauhan yang memecah sunyi. Tugas ini, seperti yang sudah diduga, sangat melelahkan. Halaman demi halaman berisi catatan cermat, kolom-kolom angka yang mewakili pengiriman beras, pendapatan pajak, pengeluaran militer, dan proyek pekerjaan umum.
Matanya memindai angka-angka tersebut, awalnya hanya menemukan kenyataan yang suram dari kas negara yang menipis. Selama berjam-jam, ia melacak aliran perak dan alokasi sumber daya. Dengungan samar Guang mengalir sebagai getaran stabil di dalam pikirannya, menyaring, mengkatalogkan, dan mencocokkan silang data. “Anomali minor terdeteksi. Pengeluaran untuk pemeliharaan jalan distrik Xifeng 30% lebih tinggi dari rata-rata regional selama tiga tahun terakhir. Tidak ada peningkatan aktivitas transportasi yang tercatat.”
Changzhi tertegun sejenak, keningnya berkerut. Xifeng? Ia ingat distrik itu; wilayah berbukit tandus dengan populasi jarang yang jarang membutuhkan perbaikan jalan besar-besaran. Ia mencatatnya di atas sebilah bambu bersih. Awalnya ia mengira itu hanya kesalahan administrasi atau kasus korupsi kecil tingkat lokal, hal biasa di sudut-sudut kekaisaran yang jauh.
Namun, saat ia melanjutkan pekerjaannya, noda tinta menempel di jemarinya dan semakin banyak ketidakcocokan yang muncul. Biaya material bangunan yang membengkak secara konsisten di prefektur selatan—selalu dari pemasok yang sama, Brightstone Holdings. Disusul oleh subsidi pertanian yang digelontorkan ke provinsi-provinsi dengan hasil panen di bawah rata-rata, di mana dana tersebut disalurkan melalui ‘Dana Kesejahteraan Pedesaan’ bentukan baru yang dikelola oleh sepupu Menteri Pertanian.
Setiap catatan jika dilihat terpisah mungkin tampak seperti inefisiensi biasa. Tetapi Guang bekerja tanpa henti. “Korelasi terdeteksi. Pola pengeluaran berlebihan terkonsentrasi pada proyek yang diawasi oleh pejabat tertentu. Tingkat penyimpangan: meningkat.”
Sebuah simpul dingin terbentuk di perut Changzhi. Ia menarik tumpukan buku besar lainnya dan mencocokkan nama-nama pejabat yang menandatangani proyek-proyek mencurigakan tersebut. Nama yang sama muncul berulang kali. Bukan sekadar pegawai rendahan, melainkan para tokoh yang stempel jabatannya sangat dihormati di istana: Wakil Menteri Pekerjaan Umum, Kepala Lumbung Kekaisaran, bahkan kerabat jauh Sensor Kekaisaran yang dianggap bersih dari cela.
Ia membentangkan peta kekaisaran, melacak hubungan-hubungan itu dengan jarinya yang gemetar. Proyek-proyek yang tampak terpisah itu ternyata membentuk jaringan labirin yang luas. Uang perak mengalir ke perusahaan bayangan dan proyek hantu. Perbaikan jalan di Xifeng, subsidi di selatan, pasokan militer fiktif untuk perbatasan utara—semuanya menyedot dana ke dalam wadah rahasia yang sama. Jumlahnya mencengangkan, ratusan ribu hingga jutaan tael perak. Cukup untuk mendanai pasukan kecil atau meringankan penderitaan jutaan petani.
Napasnya tertahan. Ia memang menduga ada korupsi, tetapi bukan skala sebesar ini. Ini bukan pencurian kecil-kecilan, melainkan penjarahan sistematis terhadap kekayaan kekaisaran yang dilakukan dengan presisi tinggi. Skala itu membuat kepalanya pusing. Orang-orang yang berbisik di dekat takhta Kaisar, yang bersumpah setia di bawah panji naga, ternyata secara sistematis mengeringkan darah negara ini. “Prediksi dampak ekonomi jangka panjang: kolaps finansial dalam 10-15 tahun jika pola ini berlanjut. Tingkat keterlibatan: Elit politik tingkat tinggi.”
Changzhi mendorong kursinya hingga berderit keras di lantai batu. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena takut, melainkan karena kemarahan yang membakar.
Ini bukan lagi soal angka di atas kertas. Ini adalah pengkhianatan terhadap rakyat jelata, para prajurit di perbatasan yang bertahan dengan ransum pas-pasan, dan anak-anak yang kelaparan sementara para pejabat mempertebal kantong mereka sendiri. Ia teringat wajah-wajah putus asa di pasar saat krisis beras lalu. Semua itu adalah akibat langsung dari keserakahan ini.
Suara Guang, yang biasanya dingin dan analitis, kini beresonansi dengan nada mendesak. “Tingkat risiko pribadi: ekstrem. Pejabat yang terlibat memiliki pengaruh politik dan militer yang signifikan. Potensi pembalasan: tinggi.”
Changzhi mengabaikan peringatan itu. Ketakutan telah sirna, digantikan oleh tekad baja yang membara. Ia berhenti di dekat jendela, menatap malam tanpa bintang di luar. Lampu-lampu kota berkilauan bagaikan janji palsu. Ia mengatupkan rahangnya erat-erat.
Mereka melemparkan tugas pengarsipan ini padanya karena mengira ia akan tenggelam dalam detail kecil dan menyerah, atau terlalu takut untuk bertindak. Mereka tidak memperhitungkan keberadaan Guang, keteguhannya sendiri, dan betapa busuknya akar kekuasaan yang kini terungkap di hadapannya.
Ia tidak akan tinggal diam. Laporan ini bukan lagi sekadar audit keuangan—ini adalah deklarasi perang. Changzhi mengambil bilah bambu baru, mencelupkan kuasnya ke dalam tinta, dan mulai menulis rencana perlawanan yang disusun secara cermat. Ia siap merobohkan tirai korupsi itu, bahkan jika seluruh istana kekaisaran harus runtuh menimpanya.