Wei Chen duduk tegak, punggungnya terasa kaku di kursi kayu berukir. Aroma teh melati yang pekat bercampur dengan bau rempah manis dari cerutu Menteri Shen, memenuhi ruangan kecil itu. Cahaya temaram dari lentera kertas menari di wajah sang menteri, menonjolkan kerutan licik di sudut matanya yang sipit. Menteri Shen menyesap tehnya perlahan, cangkir porselen putih itu nyaris menghilang di antara jari-jarinya yang gemuk.
"Jadi, Pendekar Bayangan," suara Menteri Shen terdengar seperti gesekan sutra tua, halus namun menyimpan tajam, "dunia ini jauh lebih rumit daripada medan perang di perbatasan. Di sini, musuh tidak selalu memakai baju zirah atau membawa pedang."
Wei Chen diam, bibirnya rapat. Ia merasakan bilah pedangnya di punggung, dingin dan berat, seolah Unit-Logika-04 juga mendengarkan, menganalisis setiap frekuensi suara yang keluar dari tenggorokan pria di depannya. Matanya mengamati detail kecil: cincin giok hijau lumut di jari kelingking Shen, simpul sutra di jubahnya yang mahal, dan tatapan mata yang tak pernah menetap lama.
"Musuh di sini," lanjut Shen, mencondongkan tubuh sedikit, "adalah mereka yang bersembunyi di balik kertas-kertas hukum, di balik senyum palsu di istana. Mereka yang berbisik di telinga Kaisar, meracuni setiap keputusan dengan ambisi busuk mereka sendiri."
Wei Chen merasakan dorongan internal dari Unit-Logika-04. *Analisis bahasa. Deteksi pola manipulasi. Probabilitas penipuan: 78%.* Suara itu dingin, tanpa emosi, sebuah kontras tajam dengan panasnya kemarahan yang mulai mendidih di perut Wei Chen. Mengingat Jenderal Huo, pengkhianatan di Lembah Serigala.
"Aku bisa memberimu akses," Shen melanjutkan, matanya berkedip dengan kilatan perhitungan, "akses ke informasi yang tidak akan pernah bisa dijangkau oleh prajurit biasa. Nama-nama. Lokasi. Kelemahan mereka."
Wei Chen menaikkan dagunya sedikit. "Dan apa yang Tuan inginkan sebagai imbalan?" Suaranya serak, jarang digunakan untuk percakapan selain perintah militer.
Senyum Menteri Shen melebar, menampakkan deretan gigi putih yang terlalu sempurna. "Sederhana. Aku ingin tanganmu. Pedangmu. Untuk 'membersihkan' jalan bagi kekuasaan yang lebih stabil. Kekuasaan yang, kebetulan, akan menguntungkan kita berdua." Ia berhenti, membiarkan kata-katanya mengendap. "Bayangkan, Pendekar. Jenderal korup seperti Huo tidak akan pernah bisa bersembunyi dariku. Dari kita."
Mendengar nama Huo, rahang Wei Chen mengeras. Jemarinya tanpa sadar menggenggam gagang pedang di balik jubahnya. Sensasi dingin logam itu mengalir ke nadinya, menenangkan sedikit gejolak dalam dirinya. *Suhu tubuh inang biologis meningkat 2.3 derajat Celsius. Deteksi respons emosional: kemarahan.* Unit-Logika-04 tidak pernah melewatkan detail sekecil apa pun.
"Aku punya daftar," Shen berbisik, suaranya kini lebih rendah, lebih intim, seolah membagikan rahasia besar. "Daftar orang-orang yang perlu 'diatur ulang'. Beberapa hanya perlu dihilangkan dari jalur. Yang lain, perlu dihilangkan *selamanya*."
Wei Chen membayangkan pisau yang masuk ke tenggorokan tanpa suara, darah yang membasahi lantai istana, bayangan yang melintas di malam hari. Tugas seorang pembunuh. Ia telah membunuh di medan perang, dalam kepanikan bertahan hidup, namun membunuh atas perintah orang lain, dalam dinginnya perhitungan politik, adalah hal yang berbeda. Perutnya bergejolak.
"Aku tidak bisa melakukan hal kotor seperti itu, Tuan," kata Wei Chen, mencoba menjaga suaranya tetap datar. "Aku bukan algojo."
Menteri Shen terkekeh pelan, tawa kecil yang terdengar seperti kerikil bergesekan. "Semua orang adalah algojo dalam caranya sendiri, Pendekar. Bedanya, aku punya target yang jelas, dan kau punya bakat yang luar biasa. Ini bukan kotor, ini efisien. Sebuah *pembersihan*." Ia melambaikan tangannya seolah mengusir lalat. "Birokrasi ini sudah terlalu membusuk. Darah segar kadang diperlukan untuk mengobati luka lama."
Wei Chen tidak menjawab, hanya menatap mata Menteri Shen. Mata itu tidak menunjukkan simpati, tidak ada belas kasihan, hanya perhitungan dingin dan ambisi yang tak terbatas. Ia adalah predator di antara predator.
---
Rasa jijik itu melonjak, pahit di pangkal lidah Wei Chen. Ia membayangkan dirinya menjadi alat di tangan pria gemuk ini, pisau yang siap menghunjam siapa pun yang ditunjuk. Ibunya tidak membesarkannya untuk menjadi pembunuh berdarah dingin. Ia hanya ingin bertahan hidup, mencari nafkah, melindungi orang-orangnya. Tapi dunia tidak pernah memberinya pilihan yang mudah.
"Aku bukan pembunuh bayaran," kata Wei Chen lagi, kali ini dengan nada yang lebih tegas, meskipun ia tahu ketegasan itu rapuh.
Menteri Shen hanya tersenyum tipis, tidak sedikit pun gentar. Ia meraih cangkir tehnya lagi, jari-jarinya yang tebal membelai porselen. "Tentu saja bukan. Kau seorang Pendekar. Pahlawan. Kau hanya akan memberantas korupsi. Menghilangkan parasit yang menggerogoti kekaisaran dari dalam." Nada suaranya penuh bujukan, seperti madu yang dioleskan pada racun.
Dalam benak Wei Chen, suara Unit-Logika-04 tiba-tiba membanjiri kesadarannya, mengabaikan percakapan di luar. *Analisis struktur kekuasaan. Menteri Shen: posisi strategis di Dewan Penasihat Kekaisaran. Kendali atas jaringan intelijen domestik: 67%. Kontrol atas jalur perdagangan penting: 42%. Afiliasi dengan faksi militer tertentu: 35%. Total pengaruh sistemik: tinggi.*
Data itu mengalir deras, seperti sungai es yang membekukan darah di pembuluh nadinya. Ia melihat diagram-diagram rumit, panah-panah yang menghubungkan nama-nama, lokasi-lokasi, dan jumlah kekayaan yang diperkirakan. Kekuasaan Menteri Shen bukanlah omong kosong. Itu adalah jaring laba-laba raksasa yang membentang di seluruh kekaisaran, setiap benangnya terhubung pada ujung jari pria ini.
*Probabilitas keberhasilan menolak tawaran ini: 0.05%. Probabilitas kelangsungan hidup jika menolak dan mencoba bersembunyi: 0.008% dalam satu bulan.* Suara Unit-Logika-04 tetap tenang, informatif, tanpa menghakimi. Namun, angka-angka itu terasa seperti palu godam yang menghantam dadanya.
Wei Chen merasakan keringat dingin membasahi punggungnya. Jaringan Menteri Shen tidak hanya mencakup tentara atau pejabat. Data Unit-04 menunjukkan koneksi ke serikat pedagang, informan di setiap kota besar, bahkan kuil-kuil tertentu. Menolak tawaran ini berarti menjadi target buruan di setiap sudut kekaisaran.
"Sistem mengindikasikan: penolakan akan memicu tindakan eliminasi. Prioritas Menteri Shen: mempertahankan kendali atas aset yang terdeteksi, atau menetralisirnya jika tidak dapat dikendalikan," bisik Unit-Logika-04, nadanya kini sedikit lebih mendesak. *Identifikasi ancaman: sangat tinggi.*
Wei Chen menelan ludah. Ia memejamkan mata sesaat, mencoba menjernihkan pikiran dari banjir data yang memusingkan. Gambaran wajah ibunya muncul, kurus dan pucat, menunggu dirinya kembali. Jika ia mati, siapa yang akan merawatnya? Rasa jijik itu masih ada, namun kini ia bercampur dengan rasa takut yang dingin dan perhitungan yang brutal.
Menteri Shen mengamati reaksinya, senyumnya tidak pernah pudar. "Aku bisa melihat keraguan di matamu, Pendekar. Itu adalah tanda kebijaksanaan. Dunia ini bukan tentang benar atau salah. Ini tentang bertahan hidup, dan membuat pilihan yang paling menguntungkan."
Wei Chen membuka matanya, menatap lurus ke arah Shen. Pilihan ini terasa seperti terjerumus ke dalam rawa yang gelap, namun menolaknya berarti melompat ke jurang yang tak berdasar.
---
Menteri Shen menyadari keraguan Wei Chen sebagai celah. Ia tidak lagi berbicara tentang kekuasaan atau membersihkan korupsi. Sebaliknya, ia menjentikkan jarinya. Seorang pelayan wanita muda, dengan gaun sutra ungu yang anggun, masuk membawa sebuah nampan kayu berukir. Nampan itu dihiasi dengan kain beludru merah tua.
Di atas beludru itu, berjejer tumpukan koin emas murni, berkilauan di bawah cahaya lentera. Di sebelahnya, beberapa permata berukuran ibu jari, safir biru laut dan rubi merah darah, memancarkan cahaya dingin yang memikat. Kilauan itu memantul di dinding ruangan, menciptakan pantulan cahaya yang menari. Wei Chen, yang seumur hidupnya hanya mengenal kemiskinan dan koin tembaga, menatap pemandangan itu dengan mata sedikit melebar.
"Ini," kata Menteri Shen, menunjuk tumpukan emas dengan jemarinya yang gemuk, "adalah sedikit contoh dari apa yang bisa kau miliki. Ini untuk satu misi. Hanya satu."
Wei Chen tidak bisa melepaskan pandangannya dari emas itu. Bukan karena ia tamak, tapi karena ia melihat kebebasan di sana. Kebebasan untuk membeli obat bagi ibunya, untuk membeli tanah kecil, untuk hidup tanpa dihantui kelaparan atau utang. Kebebasan dari cambuk Mandor Li, dari wajib militer yang kejam. Semua hal yang tidak pernah ia impikan.
*Analisis nilai moneter. Perkiraan daya beli: 15 tahun tanpa bekerja, dengan gaya hidup sederhana. Potensi investasi: tinggi. Peningkatan kualitas hidup inang biologis: signifikan.* Unit-Logika-04 menyajikan data secara objektif, namun ada sedikit resonansi yang aneh dalam suaranya, seolah ia juga mengakui daya tarik angka-angka tersebut.
"Ini hanya permulaan, Pendekar," bujuk Shen, suaranya kini lebih lembut, hampir seperti seorang ayah yang membujuk anaknya. "Dengan setiap tugas yang kau selesaikan, kekayaanmu akan bertambah. Statusmu akan naik. Kau bisa memiliki apa pun yang kau inginkan. Rumah. Tanah. Nama baik." Ia berhenti sejenak, membiarkan imajinasi Wei Chen bekerja.
Wei Chen membayangkan rumah kecil di desa, ibunya duduk di teras, tidak perlu khawatir tentang makanan atau musim dingin. Ia membayangkan dirinya sendiri, tidak lagi kurus dan ketakutan, tetapi memiliki martabat. Gambaran itu begitu kuat, begitu memikat, sehingga rasa jijik yang ia rasakan sebelumnya mulai sedikit memudar, tertelan oleh godaan kenyamanan dan keamanan.
"Apakah uang ini sepadan dengan jiwa seseorang?" Wei Chen berbisik, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Shen.
Menteri Shen tertawa pelan. "Jiwa? Jiwa itu mewah, Pendekar. Hanya mereka yang punya waktu luang yang bisa memikirkannya. Bagiku, uang ini adalah alat. Sebuah cara untuk mencapai tujuan. Dan tujuanmu, kurasa, adalah kelangsungan hidup dan kebahagiaan orang-orang terdekatmu. Bukankah begitu?"
Pertanyaan itu menghantam Wei Chen. Ya, itu tujuannya. Tapi dengan cara ini? Dengan menjadi pembunuh untuk kepentingan seorang politikus kejam? Hatinya bergejolak antara keinginan untuk menolak keras dan bisikan Unit-04 yang membanjiri otaknya dengan data kelangsungan hidup. Pedang di punggungnya terasa semakin dingin, seolah mengingatkannya pada realitas yang brutal.
Menteri Shen mendorong nampan itu sedikit ke depan, koin-koin emasnya bergeser dengan suara *kling* yang merdu. Aroma logam dingin bercampur dengan bau teh dan rempah. "Ambillah waktu. Pikirkan baik-baik. Tapi ingat, setiap pilihan memiliki konsekuensinya."
Wei Chen merasakan tangan kanannya gatal, ingin meraih koin itu. Namun, tangan itu tetap terkepal di samping tubuhnya, menolak godaan yang menggiurkan sekaligus mengerikan ini.
---
Wei Chen menatap Menteri Shen. Senyum licik itu masih tersemat di wajahnya, namun kini mata Shen tampak jauh lebih tajam, lebih dingin. Tawaran itu bukanlah sebuah permintaan, melainkan sebuah ultimatum yang dibungkus dengan janji kemewahan. Menolak berarti mengklaim diri sebagai musuh. Musuh Menteri Shen.
Dalam hitungan detik, pikiran Wei Chen kembali dipenuhi oleh data yang diproyeksikan Unit-Logika-04. *Jaringan intelijen Menteri Shen terdeteksi memiliki unit operasional di 83% dari seluruh prefektur kekaisaran. Estimasi jumlah agen aktif: 12.000. Probabilitas deteksi lokasi inang biologis dalam 24 jam setelah penolakan: 99.8%.*
Angka-angka itu tidak berbohong. Ini bukan hanya tentang melarikan diri dari satu pria gemuk. Ini tentang menghilang dari pandangan ribuan mata dan telinga yang tersebar di setiap sudut kekaisaran. Tidak ada tempat persembunyian. Tidak ada desa terpencil yang cukup aman. Bahkan di lembah terasing sekalipun, informan Menteri Shen mungkin bisa menemukannya.
Wei Chen merasakan tenggorokannya tercekat. Ia sudah menjadi buronan Jenderal Huo. Sekarang, ia akan menjadi buronan seorang menteri paling berkuasa di kekaisaran. Beban itu terlalu berat untuk dipikul oleh seorang pemuda kurus seperti dirinya. Ia tidak punya sekutu, tidak punya perlindungan, kecuali pedang dingin di punggungnya dan suara di kepalanya.
"Tuan Shen," Wei Chen memulai, suaranya bergetar sedikit, "aku tidak tahu apa-apa tentang intrik istana. Aku hanya seorang prajurit."
Menteri Shen tertawa, suara rendah yang tidak menyenangkan. "Jangan merendah, Pendekar. Keahlianmu di medan perang, kecepatanmu, presisimu—itu adalah bakat langka. Sebuah anugerah. Dan aku bisa mengajarimu intrik. Kau akan belajar cepat. Kecuali jika kau lebih suka menghabiskan sisa hidupmu berlari, bersembunyi di lubang tikus, dihantui oleh bayang-bayangku."
Wei Chen merasakan kulitnya merinding. Kata-kata Shen bukanlah ancaman kosong. Itu adalah janji. Janji yang mengerikan, namun nyata. Ia melihat di mata Menteri Shen tekad yang dingin, kemauan untuk menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Tidak ada negosiasi. Hanya ada dua jalur: tunduk atau binasa.
*Analisis risiko. Konflik langsung dengan Menteri Shen: probabilitas eliminasi inang biologis 99.9%. Konflik tidak langsung: probabilitas eliminasi 98%. Melarikan diri: probabilitas eliminasi 97%.* Unit-Logika-04 menyajikan statistik dengan kejujuran brutal, tidak meninggalkan ruang untuk optimisme yang salah.
Pedang di punggungnya terasa semakin dingin, seolah menyerap panas tubuhnya. Wei Chen bisa merasakan detak jantungnya sendiri, berdebar kencang di dadanya. Ia tidak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir seperti ini, dihadapkan pada pilihan antara menjadi pembunuh dan menjadi mangsa.
Ia memikirkan ibunya lagi. Jika ia menolak dan mati, ibunya akan sendirian, tanpa siapa pun untuk merawatnya. Mungkin dijual lagi, hidup dalam penderitaan. Pikiran itu lebih menakutkan daripada prospek membunuh atas perintah.
"Aku..." Wei Chen mencoba berbicara, tetapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya. Ia membutuhkan informasi, ia membutuhkan akses. Ia membutuhkan jalan untuk membalaskan dendamnya pada Jenderal Huo. Dan Menteri Shen adalah satu-satunya yang bisa memberikannya.
---
Wei Chen menunduk, matanya menatap cangkir teh di depannya. Aroma melati yang tadinya menenangkan kini terasa menyesakkan, seolah setiap kelopak bunga mengandung racun. Tangan kanannya bergetar, mencengkeram lututnya sendiri. Ia adalah alat. Tidak lebih. Sebuah bidak di papan catur kekuasaan yang kejam.
"Apakah ada jalan lain?" Wei Chen berbisik, suaranya hampir tak terdengar, sebuah pertanyaan putus asa yang dialamatkan pada kekosongan, atau pada suara dingin di kepalanya.
Menteri Shen menghela napas panjang, seolah ia sudah bosan dengan keraguan Wei Chen. "Selalu ada jalan lain, Pendekar. Tapi tidak semua jalan menuju tempat yang sama. Atau dengan konsekuensi yang sama. Pikirkanlah, seorang prajurit seperti kau, dengan bakatmu, bisa menjadi siapa saja yang kau inginkan. Atau kau bisa menjadi mayat yang terlupakan di parit, tanpa nama, tanpa kehormatan."
Kata-kata itu menghantam Wei Chen, menusuk tepat di ulu hatinya. Ia tidak ingin menjadi mayat yang terlupakan. Ia ingin hidup. Ia ingin membalas dendam pada Jenderal Huo. Ia ingin memastikan ibunya aman. Semua itu memerlukan kekuasaan, atau setidaknya, akses pada kekuasaan.
*Analisis: penolakan akan memicu skenario konfrontasi langsung. Peluang bertahan hidup inang biologis: minimal. Penerimaan tawaran: memberikan akses ke data operasional internal sistem kekuasaan. Potensi pengumpulan informasi: maksimal.* Unit-Logika-04 membanjiri kesadarannya dengan analisis data yang tanpa henti, memetakan setiap skenario, setiap probabilitas.
"Ini bukan tentang keinginanmu, Pendekar," Menteri Shen menambahkan, nadanya kini lebih lembut, seolah ia bisa membaca gejolak dalam diri Wei Chen. "Ini tentang kebutuhan. Kebutuhanmu untuk bertahan hidup, untuk maju. Dan kebutuhanku untuk 'membersihkan' kekaisaran dari elemen-elemen yang merusak. Kita bisa saling menguntungkan."
Wei Chen mengangkat kepalanya, matanya bertemu dengan mata Menteri Shen yang penuh perhitungan. Ia membenci ide ini. Ia membenci pria ini. Tapi ia tahu, di dasar hatinya, Unit-Logika-04 benar. Ini adalah satu-satunya jalan. Jalan yang gelap, kotor, namun satu-satunya yang menawarkan peluang.
Ia bisa merasakan bilah pedangnya di punggung bergetar halus, seolah Unit-Logika-04 juga menunggu keputusannya, menghitung setiap milidetik yang berlalu. Keheningan di ruangan itu terasa tebal, dipenuhi dengan ketegangan yang nyaris meledak.
Saat Wei Chen menatap tawaran Menteri Shen, Unit-04 berbisik, *'Probabilitas kematian jika menolak: 89%. Probabilitas kematian jika menerima: 72%. Analisis: menerima lebih optimal untuk pengumpulan data.'*
Wei Chen merasakan dinginnya logika Unit-04 menembus kepanikannya. Angka-angka itu adalah palu godam, menghancurkan sisa-sisa idealismenya. Kesempatan untuk hidup, meski kecil, ada di jalur yang paling ia benci. Unit-04 menyarankan, 'Terima tawaran. Akses informasi. Mengidentifikasi kelemahan sistem.' Suara itu, tanpa emosi, namun sarat dengan perintah, bergaung di benaknya. Terima tawaran. Kata-kata itu terasa pahit di lidahnya, seperti ia menelan segenggam tanah. Bagaimana ia bisa tunduk pada pria yang melambangkan segala yang ia benci? Menteri Shen, dengan senyum liciknya, dengan kekuasaannya yang busuk, kini akan menjadi tuannya. Jantung Wei Chen berdetak kencang, memukul-mukul rusuknya seolah ingin melarikan diri dari sangkarnya. Ia membayangkan dirinya di bawah kendali Shen, melakukan perintah-perintah kotor, tangannya berlumuran darah orang-orang yang mungkin tidak bersalah. Apakah ini harga untuk kelangsungan hidup? Apakah ini jalan untuk membalaskan dendamnya pada Jenderal Huo? Ia menatap Menteri Shen. Pria itu masih duduk tegak, matanya menembus, menunggu. Ada ketidaksabaran tipis di sudut bibirnya, seolah ia bisa merasakan pergulatan batin Wei Chen. Keheningan di antara mereka memanjang, setiap detik terasa seperti satu jam. Wei Chen menelan ludah, tenggorokannya kering. Aroma melati di cangkir teh di depannya tiba-tiba terasa seperti bau kematian. Ia tidak punya pilihan. Tidak benar-benar. Jika ia menolak, ia mati. Ibunya sendirian. Dendamnya tidak terbalas. Jika ia menerima, ada peluang, sekecil apa pun, untuk bertahan hidup, untuk mengumpulkan kekuatan, untuk membalikkan keadaan. Tangannya mengepal erat, kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri. Ia merasakan sakitnya, namun itu adalah sakit yang nyata, jangkar di tengah badai keputusan ini. Ia akan melakukannya. Ia akan menerima. Tapi ia tidak akan pernah menyerahkan jiwanya. Ia akan menjadi serigala yang menyamar sebagai anjing, menunggu waktu untuk menerkam. "Aku..." Wei Chen memulai, suaranya serak. Ia memaksakan setiap suku kata keluar. "Aku menerima tawaranmu, Tuan Shen." Ekspresi Menteri Shen berubah. Senyum liciknya melebar, menjadi seringai puas. Matanya, yang tadinya tajam dan dingin, kini memancarkan kilau kemenangan. Ia bersandar di kursinya, santai, seolah beban berat baru saja terangkat dari pundaknya. "Pilihan yang bijaksana, Pendekar," kata Shen, suaranya kini lebih hangat, namun Wei Chen bisa merasakan lapisan madu dan racun di dalamnya. "Kau tidak akan menyesalinya. Atau, setidaknya, kau akan hidup untuk merenungkan pilihanmu." Kata-kata itu bukan lagi ancaman, melainkan pernyataan fakta. Wei Chen merasakan perutnya mual. Ia telah menjual dirinya. Atau, lebih tepatnya, ia telah menyewakan dirinya. Dengan satu syarat: ia akan mencari jalan keluar. Ia akan mencari kelemahan sistem ini, seperti yang disarankan Unit-04. Menteri Shen mengangkat cangkir tehnya, menyesapnya perlahan. "Sekarang, mari kita bicarakan detailnya. Mulai besok, kau akan bergabung dengan salah satu unit intelijen khususku. Kau akan menjadi 'bayangan' yang bergerak tanpa terlihat, melakukan tugas-tugas yang tidak bisa dilakukan orang lain." Wei Chen hanya mengangguk, tidak bisa bicara. Bayangan. Ya, itu cocok. Ia akan menjadi bayangan yang mengintai, menunggu. "Kau akan diberikan akses ke beberapa data, tentu saja dengan batasan," lanjut Shen, meletakkan cangkirnya dengan bunyi pelan. "Identitas barumu akan diatur. Rumah tinggal disediakan di kompleks bawah tanah yang aman. Kau akan dilatih, jika ada aspek yang perlu diperbaiki, dan kau akan bertemu dengan beberapa individu kunci di organisasiku." Rumah tinggal. Keamanan. Akses. Semua hal yang ia inginkan, namun datang dengan harga yang mengerikan. Wei Chen merasakan pedang di punggungnya bergetar lagi, bukan karena ketakutan, melainkan karena antisipasi. Unit-04 mungkin melihatnya sebagai sebuah alat, tapi ia tidak akan pernah hanya menjadi itu. Ia akan menjadi pemburu yang menyamar, dan mangsanya adalah sistem ini sendiri. "Pekerjaan pertamamu akan sangat sederhana," Menteri Shen menambahkan, suaranya menurunkan volume, menciptakan aura konspirasi. "Ada seorang pedagang rempah-rempah di Distrik Barat yang tampaknya memiliki koneksi tidak sah dengan faksi pemberontak. Aku ingin kau... meyakinkannya untuk berhenti." Wei Chen mengangkat pandangannya, matanya bertemu dengan tatapan Shen. Meyakinkan. Kata itu bisa berarti banyak hal. Dari ancaman verbal hingga... eliminasi. Ia tahu apa yang diharapkan Shen. Ia menelan ludah lagi. "Bagaimana aku... meyakinkannya?" Menteri Shen tersenyum tipis. "Gunakan keahlianmu, Pendekar. Beri dia alasan yang sangat kuat untuk tidak lagi terlibat. Alasan yang akan ia ingat. Atau yang akan diingat orang lain setelahnya." Dingin menjalar di tulang punggung Wei Chen. Ini bukan lagi tentang bertahan hidup. Ini adalah tentang mengambil nyawa. Ia telah menyeberangi garis. Dan tidak ada jalan kembali.