Chapter 2 of 2
Chapter 2: Sang Predator
1.5k words
“Anjir!” teriak Asep, paru-parunya seperti kemasukan es dingin. Kakinya bergerak mundur secara otomatis, namun jalanan sempit di gang itu seolah memendek, menjebaknya. Topeng abu-abu itu meluncur tanpa suara, tanpa jejak, hanya massa asap hitam yang bergelung semakin padat di depannya.
Asep teringat sesuatu. “Ayat Kursi!” desisnya, bibirnya bergerak cepat, melafalkan setiap kata yang ia ingat, berharap keajaiban. Ia pernah melihat arwah-arwah gentayangan memudar atau setidaknya menjauh saat ia membaca doa. Kali ini berbeda. Asap hitam itu tidak bergeming. Ia terus melaju, kecepatannya tidak melambat sedikit pun.
Keringat dingin membasahi punggung Asep. Ia mencoba doa lain, apa saja yang muncul di kepalanya. Doa tidur, doa makan, bahkan lagu anak-anak yang ia ingat dari SD. Tidak ada yang mempan. Entitas itu seperti tembok yang bergerak, tak terpengaruh oleh apa pun yang ia lempar. Rasa panik memuncak. Ini bukan hantu yang hanya numpang lewat atau terikat pada kebiasaan lamanya. Ini adalah sesuatu yang aktif, berburu.
Asep berbalik. Langkahnya jadi tidak beraturan, berlari mundur dengan pandangan terpaku pada bayangan hitam itu. Ia menabrak tong sampah, kaleng-kaleng plastik bergulingan dengan bunyi gaduh. Bunyi itu menarik perhatian Bi Imas, yang sedang menyiram bunga di teras rumah kost. Wanita itu menoleh, alisnya bertaut. “Asep, kenapa lari-lari?” serunya, suaranya sedikit terkejut.
Asep tidak menjawab. Ia tidak bisa. Lidahnya kelu. Bagaimana ia bisa menjelaskan bahwa ada makhluk asap hitam pekat mengejarnya? Bi Imas hanya akan melihatnya berbicara sendiri, atau lebih buruk, mengira ia gila. Entitas itu sekarang hanya beberapa meter di belakangnya. Rasa dinginnya bukan lagi sekadar hawa, melainkan seperti jari-jari tak terlihat yang merayapi kulitnya.
Ia memutar tubuh, berlari sekencang mungkin menuju gerbang kost. Gerbang besi itu terlihat begitu jauh. Setiap langkah terasa berat, otot betisnya menegang. Ia mendengar suara *shhh* yang samar, seperti desiran angin melewati dedaunan kering, namun di gang yang sempit ini, tidak ada pohon. Itu suara entitas itu, suara pergerakannya, yang memenuhi udara.
Laras, arwah mahasiswi yang biasa nongkrong di depan gerbang, kini tidak ada di sana. Mungkin ia merasakan sesuatu yang tidak enak, atau mungkin ia juga takut. Bahkan Pak RT, arwah bapak-bapak berkemeja batik lusuh yang biasanya setia menjaga, menghilang dari posnya. Keadaan sepi itu terasa lebih menakutkan daripada keramaian arwah yang biasa Asep lihat. Mereka semua menghilang, seolah diusir oleh kehadiran yang lebih gelap.
Asep mencapai gerbang. Tangan gemetar meraih gagang besi, mendorongnya terbuka. Engsel berderit protes. Ia melesat masuk, mencoba menutup gerbang itu kembali. Namun entitas asap itu sudah terlalu dekat. Ia meluncur masuk melalui celah sempit, seperti kabut yang mencari jalan. Asep terhuyung, nyaris jatuh, jantungnya berpacu seperti drum yang dipukul bertalu-talu.
Ia berlari melewati halaman, menuju pintu kamarnya. Pikirannya kosong, hanya ada satu insting: lari. Tangannya merogoh saku celana, mencari kunci. Keringat membasahi dahinya, mengaburkan pandangan. Kunci-kunci itu terasa licin di ujung jarinya. Ia menjatuhkannya. Suara dentingan logam di paving block terdengar nyaring di tengah keheningan yang mencekam. Sebuah pengkhianatan kecil dari tubuhnya sendiri.
Entitas itu sudah berada di tengah halaman. Bentuknya semakin jelas sekarang, pusaran asap pekat dengan topeng abu-abu itu menatap lurus ke arahnya. Bukan tatapan mata, melainkan lubang kosong di balik ukiran topengnya, namun Asep merasakan kengerian yang tak terlukiskan. Ini adalah predator. Predator yang tidak punya belas kasihan, tidak punya tujuan selain menghancurkan.
Asep membungkuk cepat, mengambil kunci yang terjatuh. Jemarinya gemetar hebat saat mencoba memasukkan kunci ke lubang gembok. Lubang itu seolah mengecil, menolak kerja samanya. Ia mengerang frustrasi. Asap dingin di belakang lehernya semakin terasa nyata. Ia bisa merasakan tarikan energi, seperti ada yang mencoba menarik napas dari paru-parunya.
Ia memutar kunci. Suara “klik” terdengar seperti musik terindah yang pernah ia dengar. Pintu terbuka. Asep mendorongnya, lalu melompat masuk ke dalam kamar. Tanpa menoleh, ia membanting pintu hingga tertutup rapat. Bunyi gedebuk pintu itu memantul di dalam kamar yang gelap. Ia bersandar di pintu, terengah-engah, tubuhnya bergetar hebat. Ia tahu, di balik pintu itu, entitas itu masih ada. Ia tidak akan menyerah begitu saja.
---
Napas Asep tersengal, dadanya naik turun dengan cepat. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri bergemuruh di telinganya. Dingin merayap di bawah pintu, menembus celah-celah kecil, seolah entitas itu mencoba meresap masuk. Ia menelan ludah, tenggorokannya kering kerontang. Kepalanya berdenyut-denyut. Ia sudah mencoba semua doa yang ia tahu, semua ayat suci yang ia hafalkan sejak kecil. Tidak ada yang bekerja. Ini bukan arwah biasa yang bisa diusir dengan bacaan.
Frustrasi bercampur amarah mulai mendidih di dalam dirinya. Entitas ini, apapun itu, telah membuatnya lari seperti pengecut. Ia tidak suka perasaan itu. Asep teringat sebuah kejadian beberapa tahun lalu. Saat itu ia masih SMP, sendalnya disembunyikan oleh gendruwo iseng di balik pot bunga raksasa di depan rumah tetangga. Ia kesal sekali, sudah mencari setengah jam.
“Balikin sendal gue, kampret!” teriak Asep waktu itu, mengabaikan tatapan aneh dari ibu-ibu yang lewat. Gendruwo itu, bentuknya tinggi besar dan berbulu, hanya terkikik geli, asapnya mengepul dari hidung. Asep yang sudah habis kesabaran, melompat dan menjitak kepala gendruwo itu. Bunyi “tak!” terdengar, meski hanya Asep yang bisa mendengarnya. Kepala gendruwo itu benjol seketika, dan ia langsung melemparkan sendal Asep kembali dengan cemberut.
Kenangan itu membakar semangat Asep. Ia bukan orang yang hanya bisa lari. Ia pernah memukul makhluk tak kasat mata, dan itu berhasil. Meski itu hanya gendruwo yang lebih sering iseng daripada mengancam. Tapi prinsipnya sama, kan? Jika doa tidak mempan, mungkin kekerasan bisa. Ia bukan ahli bela diri, tapi pukulan insting bisa jadi solusi. Ia akan mencoba cara lama, cara yang primitif.
Asep mendorong tubuhnya menjauh dari pintu. Ia mengamati sekeliling kamar yang minim cahaya. Jaketnya tergeletak di kursi, ranselnya di lantai. Tidak ada apa-apa yang bisa ia gunakan sebagai senjata. Hanya tangan kosong. Ia mengepalkan tangannya, merasakan otot-otot di lengannya menegang. Sensasi dingin di pintu semakin intens, seolah entitas itu semakin tak sabar.
“Sialan,” gumam Asep. Ia menarik napas dalam, memejamkan mata sesaat, mencoba mengumpulkan keberanian yang tersisa. Ini mungkin gila, tapi ia tidak punya pilihan lain. Bersembunyi di kamar tidak akan menyelesaikan apa-apa. Entitas ini berbeda, ia bisa meresap, ia bisa masuk. Kuncinya tidak akan menahannya selamanya.
Ia membuka mata. Tekad terpancar di wajahnya. Ia tidak akan membiarkan dirinya menjadi mangsa begitu saja. Kalaupun ia harus melawan dan kalah, setidaknya ia sudah mencoba. Kakinya melangkah pasti menuju pintu. Setiap langkah terasa berat, seperti ia sedang berjalan di dasar laut. Ia mencapai pintu. Hawa dingin menusuk tulangnya.
Ia memegang gagang pintu yang dingin. Jemarinya memutarnya perlahan. Suara engsel yang berdecit terdengar lagi. Asep menarik napas terakhir, membusungkan dada, dan membuka pintu lebar-lebar. Asap hitam itu, dengan topeng abu-abunya, langsung memenuhi ambang pintu. Lebih dekat dari yang ia bayangkan. Tidak ada ruang untuk berpikir. Hanya insting.
---
Asep mengayunkan tinjunya sekuat tenaga. Ia membidik tepat ke tengah topeng abu-abu itu, ke arah di mana seharusnya ada wajah. Pukulan itu melesat cepat, seluruh tenaganya ia kerahkan, berharap dentuman keras seperti saat ia menjitak gendruwo. Ia berharap entitas itu akan terhuyung, berteriak, atau setidaknya menunjukkan reaksi sakit.
Namun, tidak ada apa-apa. Tangannya melesat menembus asap hitam itu, tidak menemukan hambatan apa pun, seolah ia memukul udara kosong. Tidak ada kontak. Tidak ada rasa sakit bagi entitas itu. Hanya sensasi dingin yang menusuk hingga ke tulang, seperti ia baru saja memasukkan tangannya ke dalam freezer yang terbuka. Asap itu bergemuruh, berputar, seolah mengejek usahanya.
Kecepatan ayunan tangannya yang kosong membuat tubuh Asep kehilangan keseimbangan. Ia terhuyung ke depan, kakinya tersandung ambang pintu, dan ia jatuh terjerembap ke lantai yang dingin. Punggungnya menghantam paving block dengan bunyi keras, mengempaskan napasnya keluar dari paru-paru. Rasa sakit menjalar di sekujur tulang belakangnya, namun itu tidak seberapa dibandingkan kengerian yang tiba-tiba melandanya.
Ia mencoba bangkit, tangannya meraba-raba lantai, mencari tumpuan. Namun ia terlalu kaget, terlalu sakit, terlalu takut. Entitas asap itu kini berada tepat di atasnya, mengambang setinggi pinggang, topeng abu-abu itu menunduk, seperti sedang mengamati mangsanya. Lubang-lubang di topeng itu terasa seperti mengisap semua cahaya, semua harapan dari sekelilingnya. Dinginnya menusuk, bukan lagi di kulit, tapi di dalam jiwanya.
Asap hitam itu mulai berputar lebih cepat di atasnya, membentuk pusaran kecil, semakin gelap, semakin pekat. Asep merasakan tekanan di dadanya, seperti ada beban berat yang menindihnya. Ia tidak bisa bernapas. Paru-parunya seolah mengecil, menolak untuk bekerja. Pandangannya mulai kabur, titik-titik hitam menari-nari di depannya. Ia mencoba berteriak, namun suaranya hanya berupa desahan lemah yang tercekat di tenggorokannya. Ia tahu ini adalah akhirnya.
Topeng abu-abu itu, yang tadinya hanya ukiran statis, kini tampak bergeser, seolah membentuk seringai tipis. Sebuah tawa tanpa suara, tawa kematian yang membekukan. Asep merasakan tangannya mati rasa, kakinya kebas. Ia tidak bisa bergerak. Ia hanya bisa menatap pusaran asap hitam itu, yang kini mulai merambat turun, memeluk tubuhnya. Dingin yang absolut, kegelapan yang menelan segalanya. Asap itu semakin tebal, menutupi pandangannya, mengisi setiap celah. Ia tidak bisa melihat apa-apa lagi. Ia merasa seolah ditarik ke dalam jurang tak berdasar, tak berujung.
Dalam kepanikan yang mendalam, saat napasnya semakin menipis, Asep teringat sesuatu. Sesuatu yang tersembunyi jauh di saku celananya, selalu ada di sana, rokok putih polos tanpa merek yang ia sentuh setiap kali bahaya mendekat. Ini bukan bahaya mendekat lagi. Ini sudah di sini, di atasnya, di sekitarnya, menelannya hidup-hidup. Jemarinya yang mati rasa mencoba menggapai, mencari, harapan terakhirnya. Ia harus meraih rokok itu.