Chapter 1

Chapter 1 of 2

Chapter 1: The Usual Commute

1.6k words

Udara Bandung pagi ini terasa lengket, uap knalpot bercampur aroma kopi tubruk dari warung seberang gang kost. Asep mengikat tali sepatu kanvasnya, warna abu-abunya sudah pudar dimakan waktu dan debu jalanan. Sejak kecil, debu ini bukan hanya debu baginya. Bagi Asep, partikel-partikel tak kasat mata itu kadang-kadang punya wajah. Bukan wajah yang menyeramkan, hanya wajah-wajah datar, bening, seolah dicetak dari tetesan embun. Kebanyakan mereka hanya lewat, menembus orang ramai, tergesa-gesa entah ke mana. “Pagi, Pak RT,” sapa Asep, setengah bergumam pada entitas transparan yang melayang di depan pintu kamarnya. Sosok itu, Bapak-bapak berkemeja batik lusuh, hanya membalas dengan anggukan pelan, bibir tipisnya sedikit tersenyum. Pak RT memang selalu di sini, menjaga, katanya. Asep tidak pernah tahu menjaga apa, sebab Pak RT sudah meninggal dua tahun lalu. Tapi Asep tidak keberatan. Kehadiran mereka sudah seperti bumbu sehari-hari. Dia meraih ransel jinsnya, isinya hanya buku-buku kuliah yang tebal dan sebatang rokok putih polos tanpa merek. Rokok itu bukan untuk dibakar. Itu hanya pegangan, kebiasaan. Dia mengantongi benda silinder itu di saku kemeja flanelnya. Langkahnya ringan menuruni tangga kayu yang berderit. Di lantai bawah, Bi Imas, pemilik kost, sedang menyiram bunga bugenvil. Aroma tanah basah menyeruak, menenangkan paru-paru dari polusi. "Pagi, Bi!" seru Asep, menepuk bahu wanita tua itu. Bi Imas menoleh, matanya mengerjap di balik kacamata tebalnya. Bi Imas selalu hidup, selalu nyata. Itu perbedaan yang jelas. Banyak dari mereka yang Asep sapa tidak akan pernah menoleh, atau bibir mereka tidak akan bergerak membentuk senyuman. "Pagi, Sep. Mau kuliah?" Bi Imas tersenyum, lalu pandangannya berpindah ke belakang Asep. Atau lebih tepatnya, menembus belakang Asep. "Oh, Pak RT sudah kerja pagi-pagi, ya?" Asep menahan seringai. Bi Imas selalu mengira Pak RT yang asli, hidup, masih tinggal di sini dan membantu membersihkan kost. Asep tak pernah sanggup menjelaskan bahwa yang dilihat Bi Imas hanyalah bayangan samar, sisa memori dari sosok yang pernah ada. Baginya, penampakan Pak RT yang nyata, transparan, dan bahkan bisa diajak bicara, adalah hal yang normal. Bukan hal yang perlu dijelaskan. Itu hanya akan membuat Bi Imas bingung. Dia melangkah keluar, langsung disambut hiruk pikuk gang. Sepeda motor meraung, tukang bubur keliling memekikkan dagangannya. Asep berjalan santai menuju pangkalan angkot di ujung jalan. Di sana, sudah ada antrean panjang. Sebagian manusia, sebagian lagi… ya, begitulah. Ada Kakek-kakek dengan baju pangsi yang bolong di sana-sini, selalu mencoba menyela antrean. Dan ada Nona-nona rambut panjang yang sibuk berselfie, meski hasil fotonya pasti kosong. “Permisi, Neng,” ujar Asep pada Nona rambut panjang yang kini melayang di depannya. "Antre, dong. Nanti nggak dapat tempat duduk." Nona itu berbalik, wajahnya yang cantik keruh dan berbayang. Ia mengerucutkan bibirnya, lalu menembus Asep begitu saja, terus melayang ke depan angkot. Asep menghela napas. Sebagian dari mereka memang punya sopan santun, sebagian lagi tidak. Angkot hijau tujuan Dago datang, segera diserbu penumpang. Asep berhasil menyambar tempat duduk di dekat jendela. Di sampingnya, seorang wanita paruh baya sibuk bermain ponsel. Di depannya, seorang mahasiswa dengan kemeja rapi membaca buku. Tapi di antara mereka, ada juga penumpang lain. Beberapa pasangan tua yang berpegangan tangan, seorang anak kecil yang terus menunjuk-nunjuk ke luar jendela padahal tidak ada apa-apa di sana. Dan ada bapak-bapak berkumis tebal yang menatap Asep. Wajahnya pucat, tembus pandang, tapi tatapannya tajam. Bapak itu duduk tepat di kursi paling belakang, tersenyum kecil. Asep membalas senyumnya. "Pak, kok tumben nggak di pos ronda?" tanyanya, suaranya pelan, bercampur bising knalpot angkot. Bapak itu, Pak Bambang, tetangga Asep yang meninggal karena serangan jantung di pos ronda, tertawa hambar. "Mau lihat-lihat Bandung, Sep. Bosan di sana terus." Dia menghela napas, asap rokok hantu mengepul tipis dari bibirnya. "Harga seblak sekarang berapa, ya? Dulu cuma lima ribu." Asep tersenyum, menggelengkan kepala. Dunia berubah, bahkan untuk mereka yang sudah tak lagi di dunia. Angkot melaju, membelah macetnya jalan. Pemandangan Bandung yang padat, penuh kehidupan, dan penuh dengan mereka yang sudah tidak hidup, terus bergulir di luar jendela. --- Kampus terlihat ramai seperti biasa. Mahasiswa lalu-lalang, bergegas ke kelas atau nongkrong di kantin. Asep berjalan menyusuri lorong Gedung A, telinganya menangkap gumaman obrolan teman-temannya. Ia juga menangkap bisikan-bisikan lain, suara-suara yang hanya dia dengar. Di sudut lorong, dua sosok transparan sedang berdebat sengit. Satu mengenakan jaket almamater usang, satunya lagi memakai seragam SMA putih abu-abu. "Sudah kubilang, materi UTS tahun ini beda!" kata yang berjaket almamater, suaranya melengking. "Dosennya ganti, Bro!" "Tapi di modul tahun kemarin kan masih sama!" balas si anak SMA, memegang buku kimia yang tembus pandang. Mereka berdua, Asep tahu, adalah hantu mahasiswa yang tewas dalam kecelakaan motor di depan gerbang kampus beberapa tahun lalu. Mereka entah kenapa masih suka ‘kuliah’ dan 'mengerjakan tugas' di sini. Asep hanya menghela napas, mencoba melewati mereka tanpa terlibat. Percuma saja, mereka tidak akan mendengarkan. Mereka terlalu sibuk dengan urusan ‘akademis’ mereka sendiri. Dia terus berjalan, menuju ruang kelasnya di lantai dua. Di sana, Dosen Pak Heru sudah memulai mata kuliah Manajemen Proyek. Ruangan penuh sesak, dan hawa gerah mulai terasa. Seperti biasa, ada beberapa ‘mahasiswa’ tambahan di kelas. Salah satunya, seorang gadis berambut panjang dengan bando pita merah, duduk di barisan paling depan. Kepalanya mengangguk-angguk seolah mengerti setiap penjelasan Pak Heru. Padahal, Asep tahu, dia sudah meninggal karena sakit saat semester dua. Namanya Laras. Dia selalu duduk di sana, mendengarkan, seolah ingin menuntaskan kuliahnya yang tertunda. Asep mengeluarkan buku catatannya, mencoba fokus. Tapi bisikan dari Laras, yang kini melayang sedikit lebih dekat ke arah Pak Heru, mengganggu konsentrasinya. "Salah, Pak! Itu bukan metode CPM yang benar!" bisik Laras, wajahnya mengerut. Asep menahan tawa. Laras memang pintar, tapi dia tidak perlu mengoreksi dosen dari alam baka. Dia melirik teman sebangkunya, Risa, yang sibuk mencatat dengan pena pulpen warna-warni. Risa tidak menyadari apa-apa. Tidak ada yang pernah menyadari. Hanya Asep. Ia terbiasa mengabaikan mereka, tapi kadang sulit. Terutama saat mereka berkomentar atau berargumen tentang hal-hal yang benar-benar tidak relevan lagi bagi mereka. Tapi, ya, begitulah mereka. Selalu punya argumen. Saat kelas selesai, Asep membereskan bukunya. Laras masih di depan, menatap Pak Heru yang kini sibuk menghapus papan tulis. "Harusnya proyeknya pakai Agile, Pak! Lebih efisien!" bisiknya lagi. Asep buru-buru keluar, sebelum Laras mulai presentasi dadakan. Di koridor, keramaian mahasiswa sudah membubarkan diri. Hanya tinggal beberapa kelompok yang masih berdiskusi. Dan seperti biasa, beberapa hantu juga masih berdiskusi. Dia melihat sepasang ‘mahasiswa’ yang selalu pacaran di bangku taman dekat fakultas. Mereka sudah meninggal bersama dalam kecelakaan mobil setahun yang lalu. Sekarang, mereka tetap pacaran, melayang-layang di antara pohon kamboja, sesekali bertabrakan satu sama lain karena tak sengaja saling menembus. Asep tersenyum tipis. Cinta memang abadi, bahkan setelah kematian. Namun, senyum Asep luntur saat ia melangkah keluar dari gerbang kampus. Sesuatu terasa berbeda. Udara yang tadi pagi terasa lengket, kini terasa lebih berat, seperti ada beban tak kasat mata yang menekan. Langit mendung, awan kelabu menggantung rendah. Bau aspal basah yang biasanya menenangkan, kini bercampur dengan aroma aneh. Bukan bau sampah, bukan juga bau got. Lebih seperti bau jelaga, bau gosong yang samar, namun menusuk hidung. Dan di ujung jalan, di antara kerumunan orang yang pulang kerja, ada sesuatu yang tidak biasa. Sesuatu yang Asep belum pernah lihat sebelumnya. --- Jalanan sudah mulai padat, lautan motor dan mobil bergerak merayap. Lampu-lampu jalan mulai menyala, menerangi jejak-jejak asap knalpot yang mengepul di udara. Asep mempercepat langkahnya, perasaannya tidak enak. Bau gosong itu semakin kuat, menusuk hidung, membuat tenggorokannya kering. Orang-orang di sekitarnya tampak biasa saja, sibuk dengan ponsel mereka atau mengobrol. Tidak ada yang terlihat terganggu oleh bau atau hawa aneh ini. Tapi Asep melihatnya. Di tengah keramaian, di antara bus-bus kota yang berhenti dan pedagang kaki lima yang menjajakan dagangan, ada gumpalan asap hitam yang bergerak. Bukan asap knalpot biasa. Gumpalan itu lebih pekat, lebih gelap, seperti bayangan yang terlepas dari kegelapan malam. Ia bergerak melawan arus, bukan melayang mengikuti angin, melainkan seperti punya tujuan sendiri. Gumpalan itu melewati beberapa hantu yang biasa Asep lihat. Nona-nona berselfie, Kakek-kakek tukang sela antrean. Mereka semua menghindar, bahkan terhuyung mundur, seolah merasakan ancaman dari gumpalan hitam itu. Mata mereka yang biasanya datar kini memancarkan ketakutan, sesuatu yang jarang Asep lihat pada mereka. Ini bukan sekadar arwah yang kebingungan atau terikat pada tempat. Ini adalah sesuatu yang lain. Perasaan dingin merayap di punggung Asep. Dingin yang menusuk, bukan dinginnya angin malam Bandung. Ini adalah rasa dingin yang mati, yang menyerap kehangatan di sekitarnya. Gumpalan asap hitam itu terus bergerak, semakin besar, semakin pekat. Asep bisa merasakan getaran di udara, tekanan yang tidak terlihat tapi nyata. Dia merogoh saku kemejanya, jari-jarinya menyentuh rokok putih polos itu. Sebuah insting, sebuah reflek yang tidak dia sadari. Gumpalan asap itu kini berjarak tidak lebih dari sepuluh meter darinya. Bentuknya terus berubah, bergolak seperti awan badai mini yang hidup. Asep melihatnya dengan jelas sekarang. Ada sesuatu di dalamnya, sebuah inti yang lebih gelap, lebih padat. Seolah-olah semua jelaga, semua kotoran kota, semua energi negatif telah berkumpul dan membentuk satu entitas. Sebuah wajah. Sebuah topeng abu-abu yang terbentuk dari debu jalanan, dari sisa-sisa polusi yang mengambang di udara. Mata cekung, kosong, menatap lurus ke arah Asep. Ia tahu ini bukan hantu biasa. Ini adalah sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Topeng abu-abu itu tampak seperti seringai, dan gumpalan asap hitam itu mulai bergerak lebih cepat, membelah kerumunan orang yang tidak menyadari apa-apa. Jantung Asep berdebar kencang, bunyi darahnya bergemuruh di telinganya. Dia tidak pernah merasakan ancaman seperti ini dari arwah-arwah yang biasa dia sapa. Ini adalah predator. Dan kini, topeng abu-abu itu menoleh sepenuhnya ke arahnya, dan gumpalan asap itu melesat, menembus keramaian, langsung menuju Asep.

End of Chapter 1

Previous
Next Chapter