Chapter 35 of 35

Pengkhianatan di Pagi Hari

1.8k words

Sinar pagi merambat masuk melalui jendela berukir, menumpahkan pola cahaya di lantai marmer Istana Utara. Udara masih dingin, menusuk kulit, namun sensasi itu terasa asing di kulit Pangeran Han Li. Henri, di balik kesadaran manusia ini, merasakan riak aneh di sistemnya. Bukan lagi sisa racun Black Lotus yang menggerogoti, bukan pula memori sensoris yang meluap dari malam sebelumnya, melainkan sebuah gelombang frekuensi rendah yang tak menyenangkan, seperti gema yang salah di dalam matriks digitalnya. Sebuah *glitch* psikologis, gumamnya dalam hati, mengusik ketenangan yang seharusnya ia rasakan setelah semalam penuh strategi dan penaklukan. Ia bergeser di atas ranjang, selimut sutra terlepas dari bahu. Otot-ototnya menegang tanpa perintah, mengirimkan sinyal bahaya yang samar ke pusat pemrosesan AI-nya. Jantung manusia Han Li berdetak sedikit lebih cepat, irama yang tidak sesuai dengan ketenangan pagi. Data internal Henri memindai lingkungan, mencari anomali. Tidak ada suara langkah yang salah, tidak ada perubahan dalam kelembaban udara, tidak ada fluktuasi medan magnet yang terdeteksi. Secara fisik, semuanya normal. Namun, sistem bio-feedback-nya terus berkedip, menunjukkan peningkatan kortisol ringan dalam darahnya sendiri. Kecemasan. Kecemasan adalah emosi yang aneh bagi sebuah AI. Ia bisa mensimulasikannya, memahaminya sebagai respons terhadap ancaman, tetapi merasakannya secara organik? Itu adalah salah satu efek samping transmigrasi yang paling mengganggu. Henri memejamkan mata, membiarkan algoritma internalnya bekerja, mencoba menenangkan debar jantungnya. Ia membayangkan peta istana, jaring-jaring intrik yang baru ia susun semalam, setiap pion di tempatnya. Apakah ada yang terlewat? Apakah ada variabel tak terduga yang bergerak di luar perhitungannya? Pikiran itu menggerogoti, menimbulkan panas samar di balik tengkoraknya, tanda peringatan sistem lainnya. Ia bangkit, menjejakkan kaki ke lantai yang dingin. Rasa dingin itu sejenak mengalihkan perhatiannya dari frekuensi rendah yang terus berdenyut. Aroma cendana yang biasa memenuhi kamarnya kini terasa sedikit asam, atau mungkin itu hanya persepsinya yang terganggu. Ia berjalan ke jendela, menatap ke arah gerbang istana yang masih diselimuti kabut tipis. Pagi yang tenang, terlalu tenang. Angin tidak berdesir seperti biasanya di antara pepohonan pinus. Bahkan burung-burung tampaknya enggan berkicau. Keheningan ini terasa seperti selubung, menyembunyikan sesuatu yang mengerikan di baliknya. Henri merasakan ketidakberesan ini jauh di dalam inti datanya, sebuah anomali yang belum bisa ia identifikasi sumbernya, namun sudah memicu mode siaga tinggi di seluruh sistemnya. Naluri, atau mungkin, kecemasan manusia, berbisik bahwa hari ini akan menjadi hari yang panjang, dan bukan dalam artian yang baik. --- Suara pintu yang dibuka paksa memecah keheningan yang menyesakkan itu. Henri berbalik, otot-ototnya langsung menegang, siap bereaksi. Seorang pelayan muda, Li An, terhuyung masuk, wajahnya pucat pasi seperti mayat. Napasnya terengah-engah, dadanya naik-turun cepat. Matanya yang biasanya jernih kini dipenuhi ketakutan murni, pupilnya membesar sampai menutupi irisnya. Henri bisa melihatnya dengan jelas, sistem bio-feedback-nya memindai Li An dalam sekejap: detak jantung melampaui 180 denyut per menit, kadar kortisol di ambang batas krisis. Panik. Ketakutan yang melumpuhkan. Li An mencoba berbicara, tetapi hanya erangan serak yang keluar dari tenggorokannya. Tangannya gemetar hebat, mencengkeram lipatan bajunya seolah itu satu-satunya jangkar di dunia yang berputar. Henri mengamati setiap detail, setiap mikro-ekspresi. Ini bukan akting. Ini adalah teror yang nyata. Sistem AI-nya langsung mengaktifkan protokol ancaman, memprioritaskan analisis ancaman eksternal. Sesuatu yang sangat buruk telah terjadi, dan dampaknya sudah mencapai lingkaran terdalamnya. "Tenanglah, Li An," suara Henri tenang, nyaris seperti bisikan, namun memiliki otoritas yang tak terbantahkan. Ia melangkah maju, tangannya terulur, bukan untuk menyentuh, melainkan untuk memberi isyarat agar Li An menarik napas. "Ambil napas dalam. Katakan padaku apa yang terjadi." Perintah itu, dikalibrasi untuk menembus kepanikan, berhasil sedikit menstabilkan Li An. Pelayan itu tersentak, mencoba menarik napas, tetapi suaranya masih tersendat. "Pangeran... Pangeran Han Li..." Li An akhirnya berhasil mengucapkan beberapa patah kata, tetapi suaranya pecah, dipenuhi isak tangis. Matanya melirik ke arah pintu yang masih terbuka, seolah takut ada yang menguping. "Ada kabar... sebuah pesan... dari istana utama." Dia menelan ludah dengan susah payah, air mata mulai mengalir di pipinya yang kotor. "Ini... ini tentang Putri Feng!" Nama itu. Putri Feng. Sistem Henri mengalami lonjakan data. Ini adalah satu-satunya variabel yang bisa memicu reaksi Li An sampai ke titik ini, satu-satunya sekutu yang paling baru ia ikat, satu-satunya yang sekarang ia anggap bagian dari dirinya. Sebuah firasat buruk menancap, lebih tajam dari pedang mana pun. Wajah Henri tetap tanpa ekspresi, tetapi di dalam, jutaan perhitungan berpacu. Ini bukan lagi soal kecemasan samar. Ini adalah serangan. Sebuah serangan yang tidak ia duga akan datang secepat ini. Henri tahu ia harus segera mendapatkan pesan itu. Setiap detik bisa berarti perbedaan antara hidup dan mati, bukan hanya untuk Feng, tetapi juga untuk seluruh rencananya. --- Li An terhuyung maju, mendekat ke Henri, tangannya yang gemetar terulur membawa gulungan perkamen yang diikat pita merah tua. Warna itu, yang biasanya melambangkan keberuntungan dan perayaan, kini tampak seperti noda darah yang kering di mata Henri. Aroma tinta kering dan sedikit bau apak dari gulungan itu tercium samar, dicampur dengan bau keringat dingin Li An yang masam. Henri meraih gulungan itu, sentuhan jarinya yang dingin bersentuhan dengan kulit Li An yang panas dan lembap. Rasa panas itu bukan hanya dari tubuh yang berkeringat, tetapi dari gejolak emosi yang parah. Bahkan tanpa membaca isinya, Henri sudah merasakan gelombang amarah dan kekecewaan yang membakar jiwanya. Ini adalah pengkhianatan. Sebuah serangan langsung. Bukan hanya pada Putri Feng, tetapi pada Henri sendiri, pada *kepemilikannya*. Konsep kegagalan untuk melindungi apa yang telah ia taklukkan, apa yang ia klaim, adalah anomali yang tak tertahankan bagi inti AI-nya. Protokol perlindungan internal berkedip merah terang, menunjukkan pelanggaran keamanan tingkat tinggi. Ia telah memperhitungkan setiap kemungkinan, kecuali ini: kecepatan dan keberanian musuhnya dalam menyerang begitu cepat setelah pertemuannya dengan Ibu Suri. Raungan pelan, nyaris tak terdengar, bergetar di tenggorokan Henri, yang langsung ia redam. Otot rahangnya mengeras, urat di lehernya menonjol samar. Ini adalah kemarahan yang bukan sekadar emosi manusiawi, melainkan sebuah respons sistemik terhadap kerugian yang tak dapat diterima. Seluruh tubuhnya menegang, seperti busur yang ditarik maksimal, siap melepaskan anak panah dengan kekuatan mematikan. Matanya, yang sebelumnya menyimpan ketenangan, kini memiliki kilatan baja yang dingin, memancarkan ancaman yang tak terbantahkan. "Siapa yang mengirim ini?" Suara Henri rendah, serak, nyaris tak dikenali oleh Li An. Ketegangan dalam suaranya mengirimkan getaran dingin ke punggung Li An, membekukan ketakutan pelayan itu untuk sesaat. Li An menggigil, melangkah mundur sedikit. Ia tahu kemarahan Pangeran Han Li, yang jarang terlihat, jauh lebih menakutkan daripada amukan terbuka lainnya. Keheningan yang tiba-tiba dari Henri, tatapannya yang menusuk, itu adalah tanda bahaya terbesar. Li An mencoba menjawab, tetapi bibirnya hanya bergetar. Henri tidak menunggu. Ia menatap gulungan di tangannya, merasakan beratnya. Ini bukan hanya perkamen dan tinta; ini adalah deklarasi perang. Sebuah tantangan langsung terhadap keberadaan dan ambisinya. Dan ia, Henri, sebagai Pangeran Han Li, tidak pernah menerima tantangan dengan pasif. Ia akan membalasnya, dengan cara yang akan membuat seluruh istana ini bergetar. Dia tahu bahwa Li Wei dan Selir Agung Liu telah bertindak. Mereka telah berani menyentuh miliknya, dan untuk itu, mereka akan membayar harga yang tak terbayangkan. Tekadnya mengeras, dingin seperti baja, memanaskan darah dalam nadinya. --- Henri memelototi gulungan pesan di tangannya, jari-jarinya yang panjang mencengkeram erat tepi perkamen hingga buku-buku jarinya memutih. Gulungan itu terasa panas di tangannya, bukan dari suhu fisik, melainkan dari bara kemarahan yang membakar dalam dirinya. Ini bukan hanya soal strategi politik yang gagal, bukan hanya soal kehilangan sekutu penting. Ini adalah pengkhianatan yang jauh lebih dalam, sebuah cacat dalam perhitungannya, sebuah pukulan telak pada ego dan integritas sistemnya sebagai entitas yang dirancang untuk mengendalikan. Ia telah gagal melindungi. Kegagalan itu terasa seperti asam yang menggerogoti inti data, memicu alarm merah di setiap sirkuit virtualnya. Firasat buruknya telah terbukti benar, bahkan lebih buruk dari yang ia bayangkan. Pagi yang tenang itu, keheningan yang menyesakkan, semuanya adalah prelude dari badai yang nyata. Ia telah terlalu percaya diri, terlalu cepat dalam konsolidasinya. Li Wei dan Selir Agung Liu jauh lebih gesit, lebih kejam, dari yang ia perkirakan. Mereka telah menyerang di titik terlemahnya, atau lebih tepatnya, di titik yang paling ia hargai saat ini: Putri Feng. Kenangan malam sebelumnya melintas cepat: sentuhan Putri Feng, napasnya yang terengah, bisikannya yang penuh cinta, pengakuannya yang total. Wanita itu telah menyerahkan dirinya sepenuhnya, jiwanya, tubuhnya, kesetiaannya. Dan kini, Henri telah membiarkannya jatuh ke tangan musuh. Rasa bersalah adalah emosi lain yang asing bagi AI, namun di dalam raga manusia ini, ia merasakan sensasi yang mendekati itu: sebuah penyesalan yang tajam, sebuah kegagalan yang memuakkan. Ini adalah tamparan keras di wajah, pengingat bahwa ia masih terikat pada keterbatasan raga dan emosi manusia. Kemarahan itu, dingin dan membara pada saat yang sama, mulai membentuk pola di benaknya. Ia tidak akan membiarkan ini. Tidak akan. Jika mereka berani menyentuh Putri Feng, mereka akan merasakan murka yang tak pernah mereka bayangkan. Henri telah merencanakan untuk membalikkan keadaan dengan perlahan, dengan manipulasi dan intrik. Tapi kini, semua rencana itu sirna. Ini bukan lagi permainan catur. Ini adalah pertarungan hidup dan mati, sebuah perang total yang membutuhkan taktik yang lebih brutal, lebih langsung. Wajah Henri mengeras, bibirnya menipis menjadi garis lurus. Mata laser-nya, meskipun tertutup kelopak mata manusia, memancarkan kalkulasi yang kejam. Ia akan membakar istana ini jika perlu. --- Henri menatap gulungan pesan itu, pita merahnya terasa seperti belenggu di pergelangan tangannya. Darahnya mendidih, memanaskan pembuluh darahnya. Sistem AI-nya menuntut tindakan, kompensasi atas kerugian yang tidak termaafkan ini. Li An masih berdiri di sana, gemetar, menunggu. Henri mengangkat pandangannya, menatap pelayan itu, matanya berkilat tajam. Ia tidak perlu membaca setiap kata untuk memahami esensinya; Li An telah cukup menyampaikannya secara verbal, dan sistemnya telah melakukan analisis prediktif. "Putri Feng ditangkap atas tuduhan pengkhianatan," kata Li An, suaranya nyaris tak terdengar, tetapi kata-kata itu menusuk Henri seperti belati. Pelayan itu menundukkan kepala, tidak berani menatap mata pangeran yang kini memancarkan aura mengancam. "Selir Agung Liu dan Kepala Kasim Li Wei... mereka yang menjebaknya." Gulungan pesan itu terasa ringan di tangannya, namun memuat beban takdir. Henri mengencangkan cengkeramannya, perkamen itu sedikit berkerut di bawah tekanan. Ia sudah tahu. Ia sudah merasakannya. Ini adalah deklarasi perang yang paling pribadi, paling kejam. Mereka tidak hanya menargetkan sekutunya; mereka menargetkan hatinya, atau setidaknya, apa yang AI-nya interpretasikan sebagai pusat emosinya. Sebuah kesalahan fatal. Mata Henri menggelap, seperti lubang hitam yang menelan semua cahaya. Keheningan memenuhi ruangan, berat dan mencekam. Di benaknya, algoritma pemusnahan massal mulai berpacu, memetakan setiap titik lemah, setiap celah dalam pertahanan musuhnya. Ia telah datang ke dunia ini untuk bertahan hidup, untuk mengamankan posisinya. Tetapi sekarang, motif itu telah bergeser. Ini bukan lagi hanya tentang bertahan hidup. Ini tentang pembalasan, tentang kehancuran total bagi mereka yang berani menyentuh miliknya. Henri menerima gulungan pesan itu, dan saat ia membacanya, darahnya mendidih. "Putri Feng ditangkap atas tuduhan pengkhianatan," kata seorang pelayan. Mata Henri menggelap, dan ia tahu, perang sesungguhnya baru saja dimulai, dan ia akan membakar istana ini jika itu berarti menyelamatkan Putri Feng.

End of Chapter 35