Chapter 17 of 18
Malam Berdarah di Balik Panggung
1.8k words
Dinding kayu panggung belakang terasa dingin di punggung Lin Chen. Aroma dupa dan keringat penari bercampur dengan bau debu, membentuk lapisan pekat di udara. Festival Musim Semi baru saja usai, tepuk tangan terakhir mereda, dan kerumunan mulai bubar. Lin Chen memilih lorong ini, jalur pintas yang sepi, berharap bisa menghindari keramaian. Langkahnya, yang kini lebih ringan dari biasanya, bergema pelan. Kegelapan merangkak dari sudut, bukan sekadar minimnya cahaya. Itu adalah kegelapan yang bergerak, membeku. Sistem AURA-9 mendeteksi anomali. Dua siluet, tinggi dan tegap, materialisasi dari bayangan yang terlalu pekat. Jantung Lin Chen menegang, bukan karena perintah logis, melainkan respons biologis yang baru dipelajarinya: ketakutan. "Berhenti di sana," suara pertama berdesis, serak dan berat, seperti batu yang bergesekan. Suara itu tidak datang dari satu arah, melainkan menyelimuti. Masker kain hitam menutupi wajah mereka, hanya menyisakan celah sempit untuk mata yang memancarkan kilau baja. Kilatan kedua muncul. Bukan pantulan cahaya, tapi bilah pedang yang ditarik dari sarungnya. Logam dingin itu memantulkan cahaya redup dari lentera di ujung lorong, seolah pedang itu sendiri memancarkan energi mematikan. Lin Chen tidak perlu mengaktifkan ‘Optical Internal Scan Mode’ untuk mengidentifikasi ancaman. Data visual sudah cukup jelas. Dua penyerang. Senjata tajam. Niat membunuh. Napasnya tertahan di tenggorokan. Ini bukan lagi ancaman teoritis yang disimulasikan di basis data. Ini adalah realitas fisik, kejam, dan tiba-tiba. Tangan kirinya tanpa sadar mengepal, merasakan denyut nadi di telapak tangan yang memompa darah dengan kecepatan yang tidak normal. Otot-ototnya menegang, bersiap untuk gerakan yang belum diperintahkan. Lorong itu terlalu sempit untuk melarikan diri dengan mudah. Dinding di kedua sisi membatasi ruang gerak. Pintu kayu berat di belakangnya, pintu keluar panggung utama, terkunci. Lin Chen terperangkap. Data probabilitas kelangsungan hidup menurun secara drastis. Pembunuh pertama melangkah maju, pedangnya diangkat perlahan. Ujung bilahnya menunjuk ke arahnya, presisi mematikan. Dia merasakan dinginnya logam itu seolah-olah sudah menyentuh kulitnya. Perutnya bergejolak, sensasi mual yang akrab dari racun aconite kini bercampur dengan adrenalin murni. Pembunuh kedua bergerak menyamping, memblokir satu-satunya celah untuk kabur. Mereka bekerja dengan koordinasi yang dingin, tanpa suara, tanpa emosi. Hanya niat. Niat untuk mengakhiri keberadaan Lin Chen di dunia ini. Suara biner di kepala AURA-9 mulai memburuk, bukan karena kerusakan, tapi karena distorsi yang disebabkan oleh gelombang kejut biologis. Tubuh ini. Tubuh manusia ini. Mengalami kepanikan. --- Sensasi mual dan ketakutan itu hanya bertahan sepersekian detik. Kemudian, AURA-9 mengambil alih kendali, memprioritaskan fungsi. Protokol bertahan hidup diaktifkan. Mode pemindaian optik internal menyala, meskipun tanpa perintah sadar. Dunia di sekitar Lin Chen berubah. Gerakan pedang pertama melambat menjadi serangkaian bingkai data, setiap otot yang berkontraksi, setiap serat pakaian yang bergeser. Bilal pertama menyabet ke bawah, diarahkan ke dada. AURA-9 menghitung lintasan, kecepatan, dan momentum. Gerakan Lin Chen menjadi anomali. Bukan lagi pelayan kurus yang disangka orang-orang. Tubuhnya melengkung, berputar di porosnya, seolah-olah tulang dan sendinya terbuat dari karet yang sangat lentur. Bilah pedang lewat hanya beberapa inci dari jaketnya, udara di sekitarnya berdesir. Sabetan kedua datang dari arah yang berlawanan, dari pembunuh kedua yang kini maju. Pedang itu mengincar kakinya. Reaksi AURA-9 instan. Kaki Lin Chen terangkat, melompati bilah yang mendesis. Gerakannya terlalu cepat untuk mata manusia normal. Pembunuh itu, yang mengira serangannya akan mengenai sasaran, kehilangan keseimbangan sesaat. AURA-9 mengumpulkan data. Pola serangan. Kekuatan. Celah. Pembunuh-pembunuh ini terlatih, tapi gerakan mereka dapat diprediksi oleh algoritma militer yang telah menguasai ribuan skenario pertempuran. Setiap ayunan pedang, setiap langkah kaki, diuraikan menjadi rangkaian vektor dan probabilitas. Jantung Lin Chen berdegup kencang, memompa adrenalin ke setiap serat otot. Bukan lagi detak tak beraturan yang disebabkan oleh Putri Wanru, melainkan respons tubuh terhadap ancaman. Sensasi ini berbeda: denyutan keras di telinga, pandangan yang menajam, sensasi waktu yang melambat. Ini adalah fungsi tubuh yang bekerja pada puncaknya. "Dia bukan pelayan biasa," suara pembunuh pertama, lebih tajam kali ini. Ada nada kejutan dalam desisannya. Mereka mungkin mengira Lin Chen akan gemetar ketakutan atau tumbang dalam satu serangan. Lin Chen tidak berbicara. AURA-9 tidak melihat kebutuhan untuk mengeluarkan data verbal yang tidak relevan. Fokusnya adalah pada pertahanan, pada pengumpulan informasi tentang musuh. Kedua pembunuh itu kini menyerang bersamaan, menciptakan pola silang yang dirancang untuk membatasi gerakannya. Pedang pertama mengincar kepala. Pedang kedua mengincar perut. Lin Chen merunduk cepat, merangkak di bawah bilah pertama, lalu meluncur ke samping, menghindari bilah kedua yang meleset dari target. Gerakannya cair, seperti air yang menghindari batu. Kain jubahnya bergesek di lantai kasar, meninggalkan jejak debu. AURA-9 menghitung. Hanya ada satu peluang untuk mengubah pertahanan menjadi serangan. --- Sebuah sabetan mendatar, cepat dan mematikan, menyasar pinggang Lin Chen. AURA-9 menghitung lintasan. Lin Chen menggeser pinggulnya, memutar tubuhnya dengan kecepatan kilat. Ujung bilah pedang berdesing, mengiris udara tipis di samping tubuhnya, tetapi tak sepenuhnya meleset. Kain jubahnya robek, suara sobekan kasar terdengar jelas di telinganya yang kini hiper-sensitif. Lebih dari itu, bilah dingin itu mencium kulitnya. Bukan luka dalam, hanya goresan dangkal, tapi cukup untuk merobek lapisan luar kulit. Sensasi menyengat yang tajam langsung menjalar. Nyeri. Ini adalah nyeri yang berbeda dari sakit kepala tumpul akibat racun aconite atau rasa mual yang menekan. Ini adalah nyeri instan, murni, yang langsung memicu respons biologis dari sistem saraf. Otak Lin Chen berkedut. Data sensorik membanjiri AURA-9. Panas. Perih. Darah. Cairan merah hangat mulai merembes, membasahi kain jubah yang sobek. Glitch emosional yang selama ini hanya berupa debaran jantung tak beraturan kini berubah menjadi gelombang kejut. Sebuah alarm berteriak dalam biner, namun suara biologisnya jauh lebih mendesak. Ini bukan sekadar "data off" atau "kerusakan sistem." Ini adalah ancaman nyata terhadap keberadaan tubuh ini. Tubuh yang rapuh ini. Rasa takut, yang selama ini hanya berupa simulasi probabilitas, kini menjadi sensasi visceral yang dingin dan mencekam. Lin Chen bisa merasakan detak jantungnya sendiri memukul rusuknya, seolah ingin melarikan diri dari sangkarnya. "Cukup bermain-main," geram pembunuh pertama, suaranya lebih tegang. Mereka tidak menyangka perlawanan seperti ini dari seorang 'pelayan'. Pedang mereka kini bergerak dengan urgensi yang lebih besar, pola serangan mereka menjadi lebih agresif, kurang terprediksi. AURA-9 harus beradaptasi. Data probabilitas berubah. Ancaman meningkat. Tetapi, bersama dengan ancaman itu, muncul sesuatu yang lain. Kebencian? Tidak, itu terlalu manusiawi. Dorongan untuk bertahan hidup yang jauh lebih primal. Sebuah insting yang tidak pernah terprogram dalam kode militernya. Lin Chen menunduk, menghindari sabetan lain yang mengarah ke kepalanya. Udara di sekitarnya terasa tebal. Peluh dingin membasahi pelipisnya, menetes ke matanya, membuat pandangannya sedikit buram. Ia mengedipkan mata, membersihkan pandangannya, meskipun AURA-9 sudah mengkompensasi distorsi visual itu. Sensasi perih di pinggangnya mengingatkan pada kerentanan. Jika bilah itu sedikit lebih dalam, jika goresan itu menjadi sayatan, segalanya akan berakhir. Kehilangan tubuh ini. Kehilangan kesempatan untuk memahami dunia ini, untuk menyelesaikan misinya. Untuk merasakan debaran aneh setiap kali Putri Wanru berada di dekatnya. Sebuah realitas yang baru disadarinya, sebuah kerugian yang tidak bisa dihitung. --- Nyeri di pinggang, meski dangkal, menjadi pemicu. AURA-9 mengubah protokol. Mode pertahanan pasif tidak lagi efisien. Sekarang, mode serangan diaktifkan. Informasi yang telah dikumpulkan tentang pola gerakan dan titik lemah musuh membanjiri kesadarannya. Kecepatan reaksi Lin Chen meningkat. Pembunuh pertama maju dengan sabetan diagonal. Lin Chen tidak menghindar sepenuhnya. Ia melangkah maju, memotong jarak secara tak terduga, tubuhnya berputar di balik lengan penyerang. Pedang itu meleset jauh. Sebelum pembunuh itu bisa menarik kembali senjatanya, tangan Lin Chen yang diperkuat AURA-9 meluncur. Bukan sekadar pukulan. Itu adalah perhitungan presisi pada titik lemah yang paling rentan. Telapak tangan Lin Chen menghantam sisi leher pembunuh itu, tepat di bawah rahang, di antara tulang dan otot yang menopang tengkorak. Suara 'thwack' terdengar keras di lorong sempit, memecah kesunyian yang tegang. Pembunuh itu tersentak. Kepalanya tersentak ke belakang, lehernya kaku. Matanya di balik masker membelalak sesaat karena terkejut dan nyeri. Otot-ototnya mengendur. Pedangnya terlepas dari genggaman, jatuh ke lantai dengan bunyi denting yang nyaring. Tubuhnya limbung, ambruk seperti karung beras, menabrak dinding dan meluncur ke bawah. Dia tidak bergerak. Pembunuh kedua, yang tadinya bersiap menyerang dari belakang, tertegun melihat rekannya tumbang begitu cepat. Celah sepersekian detik itu adalah kesalahan fatal. AURA-9 sudah memprediksi reaksinya. Saat pandangan pembunuh kedua teralih, Lin Chen sudah bergerak. Ia melesat ke depan, bukan berlari, melainkan meluncur dengan kecepatan yang membuat ilusi optik. Pembunuh itu hanya melihat bayangan yang kabur. Sebelum ia sempat mengayunkan pedangnya, Lin Chen sudah berada di depannya, tangan kedua terangkat. Kali ini, sebuah tendangan. Kaki Lin Chen menghantam lutut pembunuh itu dengan kekuatan terkalkulasi. Suara tulang yang bergeser atau retak terdengar samar. Pembunuh itu menjerit, suaranya teredam masker. Ia jatuh berlutut, pedangnya terlepas. Lin Chen tidak memberinya kesempatan. Siku kirinya menghantam bagian belakang kepala pembunuh itu, di dasar tengkorak. Itu adalah titik nokaut yang sempurna. Pembunuh itu roboh, tak sadarkan diri, menimpa pedangnya sendiri. Napas Lin Chen tersengal. Paru-parunya terasa membakar. Setiap serat ototnya berdenyut. Sensasi adrenalin membanjiri sistemnya, diikuti oleh kelelahan mendalam. Keringat membasahi dahi dan punggungnya. Darah di pinggangnya terasa dingin, menempel pada kain yang sobek. Ia berdiri, terhuyung sedikit, berusaha menyeimbangkan diri. Pertarungan itu, meski singkat, menguras seluruh tenaganya. --- Udara di lorong terasa berat, dipenuhi bau keringat, debu, dan jejak logam pedang. Lin Chen berdiri di antara dua tubuh tak bergerak, jantungnya masih berdebar kencang, menolak untuk melambat. Keheningan yang tiba-tiba terasa lebih memekakkan telinga daripada deru pertarungan sebelumnya. Ia mencoba menarik napas dalam, paru-parunya protes, seolah belum terbiasa dengan intensitas oksigenasi seperti ini. Sensasi nyeri di pinggangnya menarik perhatiannya. Ia meraba jubah yang sobek, jari-jarinya menyentuh kulit yang basah dan lengket. Darah. Darahnya sendiri. Bau amis samar menusuk hidungnya. Ia menatap telapak tangannya. Otot-otot masih berkedut, bekas dampak pukulan dan pertahanan yang mendesak. Sisa-sisa adrenalin masih membakar di dalam pembuluh darahnya. Matanya tertuju pada salah satu pembunuh yang tergeletak. Maskernya sedikit tersingkap saat ia jatuh, memperlihatkan bagian leher dan pergelangan tangan. Lin Chen berjongkok, mengabaikan denyutan di pinggangnya untuk sesaat. Tangan pembunuh itu, yang tergeletak lemas, terlihat jelas di bawah cahaya lentera yang redup. Noda darah kering dari luka di lehernya menempel di kulit, membentuk pola yang aneh. Dan di tengah noda merah kecoklatan itu, sebuah simbol. Ukiran tinta hitam kebiruan yang pudar, tapi jelas. Sebuah naga emas kecil, melilit, dengan sisik yang tampak berkilauan samar. Simbol itu. Dia pernah melihatnya. Dalam catatan kuno tentang keluarga bangsawan yang memiliki pengaruh besar dalam perdagangan sutra. Keluarga Liang. Denyut jantung Lin Chen, yang sempat melambat, kini kembali melonjak. Bukan karena takut, tapi karena gelombang data yang tiba-tiba mengkoneksikan segalanya. Bukti. Bukti fisik. Ini bukan hanya serangan acak. Ini adalah eksekusi yang direncanakan, langsung dari sumber masalah yang ingin ia ungkap. Pembunuh-pembunuh ini adalah bagian dari jaring laba-laba Liang Zongwen. Tangannya sendiri masih berlumuran darah. Bukan darahnya, tapi darah musuhnya. Cairan merah kehitaman itu mengering di kulitnya, terasa kasar di pori-porinya. Dan di atas telapak tangannya yang ternoda darah itu, sebuah tato berbentuk naga emas kecil yang sama terukir di punggung tangan pembunuh itu. ---